
Luna tampak sedang asik mengobrol, baik menceritakan kisah-kisah konyol mereka di zaman SMA maupun tentang hal-hal yang berkaitan dengan dunia pemodelan.
Namun, tiba-tiba Luna terkesiap saat dia merasakan ada sebuah tangan yang merangkul tepat di pundaknya.
Begitu pun Kentaro yang wajahnya sudah tampak memerah karena menahan kesal saat melihat sosok laki-laki itu yang lagi-lagi hadir diantara dia dan Luna.
Luna segera menolehkan wajahnya menghadap ke samping, tepat ke wajah sosok yang merangkul pundaknya, seketika matanya membulat.
"Mas Lian ..." ucapnya kaget. Bagaimana ia tak kaget bila lagi-lagi Aglian muncul tiba-tiba di hadapannya.
"Hai, sorry Mas ganggu kencan kalian." sapa Aglian menggoda tetapi ada nada penekanan pada kata kencan membuat Luna mengerutkan dahi.
"Kencan? Siapa yang kencan? Kami cuma dinner aja berdua, ya nggak, Tang?" tukas Luna sambil meminta pembenaran dari Kentaro.
Dengan terpaksa Kentaro mengangguk sebagai jawaban. Tanpa Luna sadari rona wajah Kentaro sudah berubah yang awalnya cerah bak mentari pagi yang memancarkan sinarnya, menjadi malam yang kelam tanpa bintang. Namun tidak dengan Aglian, ia menyadari perubahan rona wajah itu sehingga ia pun mengeluarkan smirk mengejeknya pada Kentaro. Kentaro yang menyadari senyuman mengejek itu sontak tercengang. 'Apa maksud dari senyum itu?' batin Kentaro.
"Tuh kan! Awas ya kalo Mas Lian cerita macem-macem sama mbak Anggi!" ancam Luna. Ia sangat takut bila ada yang melaporkan hal yang aneh-aneh tentangnya pada Anggi. Ia takut Anggi salah paham dan menjadi tidak menyukainya. Apalagi ia sudah menganggap Anggi bukan hanya sebagai saudara, tapi sudah seperti ibu pengganti baginya. Anggi bukan hanya selalu menjaga dan melindunginya sejak kecil, tapi juga ia selalu mendukung dan membantu hidupnya agar bisa menjadi lebih baik seperti saat ini.
"Awas apa? Kamu mau ngancem Mas, hm?" goda Aglian seraya menjepit hidungnya dengan jari telunjuk dan jempolnya hingga memerah.
"Ish, sakit Mas! Doyan bener deh gangguan orang mulu." ucap Luna sambil mengerucutkan bibirnya membuat Aglian terkekeh geli.
Begitulah mereka, bila sudah berjumpa selalu saja ada yang diperdebatkan bahkan sampai mereka lupa tempat dan ada siapa saja di dekat mereka. Seperti saat ini, karena terlalu asyik bercanda berdua mereka bahkan sampai lupa ada sosok lain di meja itu ia yang bahkan sudah lebih dulu duduk di sana.
Kentaro sampai mengetatkan rahangnya dan mengepalkan tangannya erat karena menahan emosi. Bagaimana mereka seakan lupa diri saat bertemu? Padahal dirinya ada di situ tapi ia sudah seperti makhluk tak kasat mata yang tak terlihat oleh mereka. Yang makin membuatnya emosi adalah posisi tangan Aglian yang tampak masih setia merangkul bahu Luna. Bahkan Luna pun seakan merasa sangat nyaman dengan rangkulan itu. Ia saja selama ini sangat sulit untuk menyentuh Luna walau hanya menggenggam tangan, apalagi untuk merangkul, pasti Luna akan segera menepisnya.
__ADS_1
"Lun ..." panggil Kentaro.
Luna terkesiap, seakan nyawanya baru saja kembali ke raganya setelah berpetualang.
"Duh, sorry Tang, gue sampai lupa loe masih di sini." seru Luna dengan cengiran khasnya. Ia merasa tak enak hati karena sempat mengacuhkan Kentaro.
Aglian pura-pura melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu berseru, "Ayo pulang! Udah malam. Kamu nggak mau kan Anggi marah karena pulang telat."
Luna ikut melirik jam tangannya, sudah pukul 9 malam. Memang sudah cukup larut, Luna melirik Kentaro merasa tak enak hati. Tapi memang sudah saatnya dia pulang. Lagi pula ia tak mau mengecewakan Anggi dengan tingkahnya yang pulang larut malam apalagi dengan seorang lelaki. Dengan terpaksa Luna pun berpamitan dengan Kentaro.
"Ken, dah malam nih, gue balik duluan,ya!" pamit Kentaro. Ditatapnya lekat wajah Kentaro, terukir jelas rasa kesal yang pria itu tahan. Namun, ia tak dapat berbuat banyak. Ini bukan siang hari. Ia harus segera pulang sekarang.
"Gue antar, yuk!" Kentaro berdiri hendak menggamit lengan Luna, namun dengan gerakan kilat Aglian menarik tubuh Luna yang saat itu masih duduk agar segera berdiri dan menempel pada tubuhnya, sehingga lengan itu pun tak teraih oleh Kentaro membuat Kentaro mendengus kesal. "Lun, loe kan datang bareng gue jadi udah kewajiban gue anterin loe balik dengan aman dan selamat sampai ke rumah." tegas Kentaro dengan sorot mata kesal.
Namun sorot mata Aglian justru berkali-kali lebih tajam saat menatap mata Kentaro. "Yakin loe bakal anterin dia sampai ke rumah dengan aman dan selamat?" sarkas Aglian .
"Sorry ya, Tang. Tadi kan gue datang sama loe, sekarang gue harus balik sama mas Lian. Mbak Anggi suka nelfon soalnya buat ngecek posisi kami. Mbak Anggi emang selalu khawatirin kami. Gue cuma nggak mau mbak Anggi kecewa saat tau gue keluar malam sama orang yang nggak dia kenal." jelas Luna.
Kentaro mendesah pelan. "Okelah kalau kayak gitu. Hati-hati, ya!" Kentaro hendak mengusap puncak kepala Luna namun, ia lebih dahulu bergeser hingga membuat tangan Kentaro menggantung di udara. Entah mengapa , sekarang reaksi tubuhnya selalu ingin menghindar dari sentuhan Kentaro.
"Bye , Tang. See you." ucap Luna sambil menolehkan kepalanya karena tubuhnya sudah ditarik Aglian keluar dari cafe.
"Mas, jangan narik-narik, bisa nggak sih!" Rajuk Luna membuat Aglian terkekeh.
"Kenapa? Nggak suka kamu Mas jauhin dari si Tang, Tang, apa itu? Tanggul? Tangan ? " ucapnya asal.
__ADS_1
"Kentang. Panggilan dia itu Kentang." Luna mendelik. Lalu ia segera masuk ke dalam mobil Aglian saat pintunya telah dibukakan. Luna tersenyum melihat cara Aglian memperlakukannya. Bahkan Aglian juga membantu memasangkan seat belt-nya sesaat setelah duduk di bangku kemudi. "Kenapa mesti marah? Luna cuma nggak enak hati aja sama dia , mas . Luna datang sama dia , tapi tanpa sadar Luna malah mengacuhkannya." ucapnya tulus .
"Itu artinya kamu lebih nyaman sama Mas dibanding sama dia." ucap Aglian sambil tersenyum manis.
"Idih, kepedean banget deh! Siapa yang bilang? "
"Fakta , fakta yang membuktikannya. Mas nggak perlu jelasin panjang lebar, kamu sendiri pasti merasakannya kan!" tukas Aglian seraya mengemudikan mobilnya menuju kediaman Luna.
Luna termenung dalam diam. Ia memikirkan perkataan Aglian barusan. Ia akui ia merasa sangat nyaman saat bersama Aglian. Bahkan ia yang biasanya risih dirangkul orang lain, justru merasa nyaman saat pria yang tampak sedang fokus mengemudi itu merangkulnya.
Diam-diam Luna melirik Aglian tampak sangat fokus mengemudi itu, dapat ia lihat betapa bersih dan mulusnya kulit pria itu, hidungnya yang mancung, sorot matanya yang tegas dan tajam, pun tubuh yang kekar dan kencang, sungguh paduan yang sangat indah. Luna sampai menelan ludahnya sendiri saat mengingat bagaimana hangatnya tubuh Aglian saat memeluknya di mobil. Sungguh dada yang pelukable . Seumur hidupnya, baru kali ini ia memuji kesempurnaan dari seorang pria dan sosok itu ada di sampingnya.
Diam-diam, Aglian melirik Luna yang mematung menatapnya. Seulas senyum terukir di bibir Aglian. Beruntung tadi anak buahnya mengabarkan Luna pergi dengan Kentaro ke sebuah cafe, bila tidak, ia khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Luna. Aglian sudah menyelidiki tentang semua hal yang berkaitan dengan Kentaro, termasuk hubungannya dengan model bernama Jelita. Oleh sebab itulah, ia memperketat penjagaan Luna tanpa ia sadari.
Mobil Aglian akhirnya telah sampai di depan pagar rumah Anggi yang ditempati Luna. Aglian segera mematikan mobil dan membantu Luna melepaskan seat belt-nya. Sebelum keluar, Luna mengarahkan pandangannya ke Aglian. Ia berniat menanyakan pertanyaan yang sejak tadi mengganggunya.
"Mas ..." panggil Luna membuat mereka akhirnya saling bertatapan.
"Boleh Luna nanya sesuatu?" Aglian pun mengangguk sebagai jawaban.
"Kenapa Mas tiba-tiba ada di cafe? " Akhirnya pertanyaan itu pun meluncur.
"Karena Mas cuma mau jagain kamu dari hal-hal yang tak diinginkan." jawab Aglian ambigu. Luna mengernyitkan dahinya karena tak paham apa yang dimaksud Aglian. 'Hal-hal yang tak diinginkan. Apa itu?' batin Luna bertanya-tanya. Namun ia sepertinya Aglian sudah menapak apa yang ingin ditanyakan Luna.
"Kamu akan segera tau nanti. Mas cuma harap kamu lebih menjaga diri dan waspada dimana pun berada. Tak selamanya yang kau lihat baik itu baik ." Lagi-lagi ucapan Aglian ambigu.
__ADS_1
Luna hendak beranjak turun dari mobil tapi tiba-tiba tangannya di tarik hingga membuatnya sontak menoleh, hingga tiba-tiba saja Aglian mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahinya, membuat Luna mematung seakan jiwanya baru saja terlepas dari raganya.
"Good night, sleep tight." ucap Aglian tepat di depan wajah Luna hingga aroma nafas Aglian menerpa tepat di wajahnya hingga masuk ke indra penciumannya membuat nafas Luna seketika tercekat. Wajahnya pun sudah memerah membuat Aglian makin tersenyum lebar.