
Posisi Adinda yang telah semakin jauh dari rumah sakit, membuatnya berhenti sejenak untuk beristirahat . Dirabanya perutnya yang terasa lapar, ia baru ingat sejak sadar dari pingsannya ia belum makan sama sekali. Bahkan sejak ia disekap, ia belum makan sama sekali. Dilihatnya tak jauh dari tempatnya duduk banyak orang-orang berjualan makanan. Adinda meneguk ludahnya kasar, dia sudah merasa sangat kelaparan dan kehausan, tapi ia tidak memiliki uang sama sekali untuk membeli makanan ataupun minuman. Semua uang ia tinggalkan di dalam tasnya yang masih tergeletak di nakas rumah sakit. Ia sengaja meninggalkannya sebab ia tak ingin lagi menggunakan uang itu sama sekali karena uang itu bukan miliknya, bukan haknya.
Panas matahari kian terik membakar kulit, namun Adinda tidak memiliki tempat untuk berteduh. Ia hanya bisa termangu di pinggir jalan sambil meratapi nasibnya.
Tiba-tiba terdengar gemuruh riuh para pedagang di tempat itu yang lari tunggang langgang kesana-kemari. Tetapi karena sibuk melamun Adinda tak menyadarinya hingga tiba-tiba tangannya dipegang oleh seseorang membuatnya tersentak dari lamunannya.
"Ayo ikut kami!" tukas seorang pria berseragam coklat seperti Azam, tetapi ada tulisan pol-PP di dadanya.
Adinda terkejut luar biasa. Ia ditarik paksa menaiki mobil patwal Satpol-PP. Kakinya yang sakit membuatnya meringis kesakitan hingga tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Aarkh ..."
Pria itu lantas menoleh ke arahnya. Matanya membelalakkan saat melihat darah merembes dari celana yang dikenakan Adinda.
"Kakimu ..."
"Tidak ... tidak ... aku tidak apa-apa." sahut Adinda pelan karena ia sudah benar-benar tak bertenaga.
Petugas satpol PP itu merasa bersalah lalu ia membantunya naik ke mobil patwal.
Kini Adinda sedang dalam perawatan petugas medis. Kakinya segera diobati dan ia juga diberi makan. Adinda tampak makan dengan sangat lahap, membuat salah satu petugas perempuan mendekatinya.
"Sudah sejak kapan kamu tidak makan?" tanya petugas wanita itu.
"Sudah sejak kemarin siang, Bu. Maaf ..." Adinda menundukkan kepalanya karena malu.
"Sudah, tidak apa."
Setelah Adinda selesai makan, ia pun diinterogasi oleh petugas wanita itu. Ia mengaku sebagai tunawisma yang sudah tak memiliki rumah. Semua identitasnya hilang membuat petugas wanita itu iba. Karena Adinda mengaku sebagai tunawisma, ia pun diserahkan ke pihak dinas sosial untuk diberikan pembinaan agar kelak mereka bisa memberdayagunakan diri mereka agar lebih berguna bagi masyarakat.
Saat Adinda telah diserahkan ke dinas sosial, di saat yang sama pihak rumah sakit mendapat interogasi dari Azam karena tidak bisa menjaga pasien yang merupakan saksi. Tapi hal itu tak berlangsung lama, setelah Azam tau Adinda pergi dengan kemauannya sendiri, ia tak mempermasalahkannya lagi.
.
.
.
Pagi ini, Lea dan Adam sudah mulai melaksanakan pekerjaan barunya. Pukul 6.30 Adam sudah tiba di Angkasa Mall. Dari rumah ia berpakaian seperti biasa, namun setelah tiba di Angkasa Mall barulah ia berganti pakaian sesuai pekerjaannya. Adam merahasiakan tentang turunnya jabatannya. Ia tak mau menambah beban pikiran 2 orang kesayangannya.
Adam sudah siap melaksanakan pekerjaannya. Dengan membawa alat tempurnya berupa sapu, kain pel, dan seember air, ia pun mulai melaksanakan tugasnya dengan baik. Baru kali ini ia mengerjakan segala sesuatu dengan ikhlas dan tanpa mengeluh. Ia menyadari, mungkin inilah hukuman yang pantas untuknya. Dulu, Anggi-lah yang menemaninya dari 0, namun saat ia sukses ia malah mengabaikan Anggi. Dan kini, semenjak ia kehilangan Anggi, ia seperti kembali ke titik 0. Mungkin benar kata orang, dibalik suksesnya seorang suami, ada doa seorang istri yang selalu mengiringi. Dan kini, istri yang senantiasa mendoakan itu telah tiada di sisi, perlahan tapi pasti, kesuksesan itu pun ikut surut dan pergi.
Berbeda dengan Adam yang melaksanakan tugasnya dengan baik, Lea justru tampak bermalas-malasan. Ia bahkan datang lebih siang dari biasanya.
"Sstt ... itu bukannya Bu Lea ya! Kok dia pakai seragam OG sih? Tadi aku liatbpak Adam juga, kenapa ya?" tanya salah satu OG.
"Iya ya, bukannya dia itu yang tempo hari mendapat predikat karyawan terbaik, kok bisa tiba-tiba menjadi OG? Pasti dia udah buat kesalahan fatal nih. Lho , pak Adam kan manager supermarket, kok bisa jadi OB juga?" timpal OG lain.
"Mungkin itu hukuman buat orang sombong. Makanya, jangan sombong jadi orang." cibir OG lain yang pernah jadi sasaran amukan Lea. Ia sengaja memperbesar volume suaranya agar di dengar Lea.
"Apa loe? Loe sengaja mau nyindir gue? Berani loe nantangin gue?" sinis Lea seraya menaikkan satu sudut bibirnya.
__ADS_1
"Kalo berani, kenapa? Kita udah sama sekarang, sama-sama OG jadi loe nggak usah sombong di sini." cibir
"Ck ... ini hanya pelatihan sementara aja, bukan selamanya kayak loe. Jadi OG aja sombong dan bangga. Kerja sana, gue mau tidur." omel Lea lalu beranjak ke ruang istirahat para OG.
"Dih, dia sendiri sekarang juga OG masih mau sombong. Mana pemales lagi, gue laporin Bu Gina, baru tau rasa loe."
Saat Lea sedang merebahkan dirinya di sofa, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselnya
"Jangan lupa awasin terus pergerakan mereka , kalau ada kesempatan, lekas kasi tau Daddy! Okey .
"Okay, Dad! Thank you , Dad udah mau bantuin balas sakit hati, Lea.
"No problem, honey. You're my daughter, jadi sudah kewajiban Daddy membantu dan membahagiakanmu."
Lea tersenyum puas saat membalas pesan tersebut.
'Sebentar lagi, kau akan merasakan pembalasanku, jalang. Selama aku hidup, *ak*u takkan pernah membiarkanmu hidup tenang dan bahagia, ingat itu.' gumam Lea dengan smirk devilnya.
.
.
.
"Jadi gimana loe bisa jadi super model gini, Ken? Terus terang, gue bener-bener penasaran sampai nggak bisa tidur tau nggak sih loe!" delik Luna.
"Penasaran banget kenapa gue bisa jadi super model atau penasaran kok gue jadi makin cakep, Lun?" goda Kentaro seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Makin lama makin gemesin aja sih, kamu Lun. Jadi pingin jadiin gantungan hp aja biar bisa dibawa kemana-mana." ujar Kentaro sambil tersenyum simpul.
Luna memutar bola matanya malas.
"Enak aja, yang ada gue tergencet dalam kantong celana loe kalo gue dijadiin gantungan hp. Udah ah, godain mulu, buruan cerita ih, atau gue balik aja nih!" ancam Luna seraya memukul bahu Kentaro. Kentaro hanya terkekeh karena berhasil menganggu sahabat cantiknya itu. Sahabat yang sejak lama memenuhi hatinya Sahabat yang tak pernah memilih-milih teman. Kentaro masih ingat bagaimana ia saat SMA sering dibully karena penampilannya yang cupu , hanya Luna yang selalu membelanya dan hanya Luna juga yang mau berteman dengannya.
Tak ingin Luna makin kesal dan pergi, Kentaro pun mulai menceritakan awal perjalanannya menjadi model.
"Pas lulus SMA kan gue liburan tuh ke rumah Tante gue di Bali, ternyata dia itu punya agency model. Nah, ntah dapat hidayah dari mana gue minta tolong Tante gue make over penampilan gue. Jadilah dibantu para stafnya yang udah berpengalaman, penampilan gue dari rambut, kaca mata, cara berpakaian, pokoknya semua dirombak, Tante gue terkejut donk ternyata ponakan kesayangannya ini cakep banget, jadi ditawarinlah gue jadi model di sana eh taunya nama gue langsung laris manis dipakai buat peragaan busana designer terkenal , iklan barang-barang branded, dll. Akhirnya, tepat sebulan yang lalu gue berhasil dinobatin super model untuk new comer. Hebat kan, gue!" jelas Kentaro panjang lebar dengan penuh rasa bangga.
"Whoa, pasti yang dulu suka bully loe pada nggak nyangka loe bisa jadi cakep dan sehebat ini, ya!" ucap Luna yang tanpa sadar memuji Kentaro.
"Wah, akhirnya my princess memuji gue juga! Jarang-jarang lho seorang Luna mau muji seseorang."
"Siapa yang muji? Gue? Nggak ada tuh. Loe salah denger kali." Luna berkilah sambil menyeruput jus mangga yang ada di hadapannya.
"Udah deh, nggak usah berkilah. By the way, lie juga pernah jadi model kan? Gue pernah liat loe di katalog pakaian gitu. Itu beneran elo kan, Lun? Gimana kalau loe jadi partner gue aja? Gue yakin, dengan kecantikan dan talenta elo, loe bisa cepat sukses. Tante gue juga pernah muji-muji model-model di katalog itu, katanya mereka cantik-cantik dan segar. Termasuk model khusus pakaian muslimahnya itu, tante gue sampai terpesona. Bayangin aja, tante gue yang udah biasa liat cewek cantik bisa terpesona, artinya emang orang-orang yang meragain pakaian itu bener-bener cantik dan bertalenta. "
"Oh, itu katalog toko pakaian kakak angkat gue dan yang jadi modelnya itu ya gue sama temen-temen sepanti gue. Tapi kami nggak minat kalo sengaja mau jadi model. Kalo yang cowok, nah ada, si Aji, dia emang pingin jadi model deh kayaknya."
"Kalau dia minta, kasi nomor ponsel gue aja, Lun. Ntar gue coba kenalin ke tante gue. Trus sekarang kegiatan loe apa?"
"Gue sedang memperdalam keahlian make up gue, kan gue pingin jadi MUA ternama, jadi gue ikutan kursus sembari bantuin mbak Anggi control cabang Anggrek Fashion."
__ADS_1
"Loe mau cari pengalaman sambil jadi MUA gue? Kerjaan loe cuma khusus make up gue aja. " tawar Kentaro.
"Beneran?" tanya Luna dengan wajah berbinar.
"Beneran, ntar loe selain bisa dapat pengalaman, loe juga bisa dapat gaji, kenalan dengan model-model ternama, terus bisa jalan-jalan terus sampai ke luar kota. Mau ya?" bujuk Kentaro. 'Mau ya mau ya, please! Biar gue bisa liat loe tiap hari. Loe itu ibarat mood booster gue, Lun. Semoga loe mau.'
"Gue minta saran sama mbak Anggi dulu, ya! Kalau katanya oke, gue langsung hubungi loe."
"Oke sweety!" Jawab Kentaro dengan tersenyum lebar. Luna mengerutkan keningnya saat mendengar panggilan tak biasa dari sahabatnya itu. Tapi ia abaikan itu sebab ia tau sahabatnya ini memang sedari dulu suka usil padanya.
.
.
.
"Mas ..." panggil Anggi yang sedang uring-uringan di tempat tidur.
"Apa sayang? Kamu laper?"
"Ish, tiap dipanggil pasti nawarinnya makan. Bisa-bisa baru 1 bulan nikah, badan Anggi udah gendut kayak gentong , dikit-dikit ditawarin makan." cibir Anggi.
Diwangga terkekeh mendengar protesan istrinya. "Jadi kenapa, hm?"
"Bosen, udah 4 hari cuma ngurung diri di kamar aja. Mana anak-anak nggak ada. Makin bosen deh. Ajak jalan-jalan kek." sindir Anggi pada Diwangga. Ya, selama 4 hari berturut-turut setelah hari pernikahannya, mereka memang tidak kemana-mana. Mereka hanya mengurung diri di kamar dan melakukan hal yang biasanya dilakukan pasangan pengantin baru.
"Owh, kirain mau makan. Kan maklum , tenaga kamu habis mas kuras jadi mas mikirnya Anggi pingin makan lagi." ujar Diwangga sambil terkekeh.
Merasa malu dengan ucapan absurd suaminya, Anggi segera melempari Diwangga dengan bantal.
Diwangga tergelak melihat muka istrinya yang sudah merah padam karena malu.
"Ya udah, buruan kamu mandi, ntar kita nonton, mau kan!"
"Nonton? Di bioskop?" tanya Anggi antusias.
Diwangga mengangguk. Anggi yang merasa senang langsung melompat dari kasur dan memeluk suaminya yang sedang duduk tak jauh dari tempat tidur.
"Astaga sayang, jangan godain mas lagi deh! Bisa-bisa kita nggak jadi nonton kalau kamu godain mas terus kayak gini." cibir Diwangga.
Anggi yang awalnya tak paham mencoba mencerna apa yang dimaksud suaminya itu. Namun baru pada saat ia merasakan dinginnya udara langsung bersentuhan dengan kulitnya, seketika ia sadar, ia sedang dalam keadaan polos. Anggi segera berteriak dan berlari mengambil selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Anggi merasa malu luar biasa. Ingin rasanya ia masuk ke dalam lubang semut untuk bersembunyi karena terlampau malu.
"Udah, nggak usah malu-malu kucing gitu, mas suka kok liatnya." goda Diwangga sambil tergelak.
'Astaga kok mas Angga jadi kayak kerasukan setan mesum kayak gitu.'
.
.
.
__ADS_1
Good Night and happy reading.🥰