
"Wuih, pak bos kok datang-datang muka ditekuk gitu? Nggak dapat jatah semalam ya pak, bos!" ledek Robi sambil terkekeh.
Setibanya Aglian di kantor Angkasa Grup, wajah Aglian memang tampak selalu ditekuk. Bahkan Robi melihat, Aglian tampak mendesah berkali-kali.
Kesal diledek Robi, Aglian segera mengambil botol minyak angin yang beberapa hari ini selalu dikantonginya lalu melemparkannya ke arah Robi hingga mengenai dadanya.
"Awww, sakit pak bos!" bibir Robi mencebik dengan tangan mengusap-usap dadanya yang sakit karena terkena botol minyak angin. "Tambah hari tambah sensitif aja si pak bos kayak cewek lagi PMS aja." gerutu Robi sambil membungkukkan badannya memungut minyak angin freshpeduli yang terkapar di lantai.
Dalam hati Robi membatin, 'Kapan sih bisa jadi bos? Pingin banget gantian balas nimpuk tuh kepala pak bos. Demen banget lempar-lempar barang ke gue. Kalau yang dilemparin tuh duit , enak juga. Dengan senang hati gue menerima.' Robi terkekeh dalam hati membayangkan setiap marah Aglian akan melemparinya dengan banyak uang. 'Bisa cepat kaya kalau kayak gitu.'
Aglian tampak tak mempedulikan gerutuan Robi sebab moodnya sedang anjlok karena kejadian habis subuhan tadi.
Flashback
Sehabis subuh Luna kembali membaringkan tubuhnya di ranjang. Melihat Aglian yang tampak gagah dengan baju Koko dan sarung yang dikenakannya, membuat Luna tersenyum-senyum sendiri.
"Kenapa, hm? Kagum sama kegantengan, mas?" goda Aglian seraya menjawil hidung Luna.
"Cih, sok kegantengan!" kilah Luna padahal wajahnya telah memerah.
Lalu Aglian membuka baju Koko dan sarungnya menyisakan celana bokser yang menutupi area pusaka saktinya.
Entah mengapa, akhir-akhir ini Luna tampak selalu berg*irah. Wajahnya cepat memanas bila melihat tubuh topless Aglian. Aglian yang sadar sedang diperhatikan, segera mendekati Luna bermaksud menggodanya.
"Kenapa lihat-lihat? Tuh, sampe ileran gitu. Kayaknya badan mas udah jadi candu Na, ya?" ujar Aglian seraya memainkan alisnya naik turun.
"Makin hari kayaknya tingkat kepercayaan diri, Mas makin gede ya? " kilah Luna lagi
"Udah, nggak usah bohong. Kalau pingin pegang, ya pegang aja, kan udah halal juga." ucap Aglian. Lalu ia menarik tangan Luna dan menyentuhkannya pada dada bidangnya.
Sepertinya dugaan Aglian, Luna memang sedang tergoda pada tubuhnya. Padahal hampir tiap malam juga Aglian tidur tanpa pakaian alias hanya memakai celana boxer saja.
Tanpa sadar Luna memainkan jari-jarinya di atas dada bidang itu. Membuat pola-pola abstrak yang tidak dimengerti Aglian hingga membuat adik kecil Aglian pun terbangun.
Aglian mengumpat, padahal ia hanya ingin menggoda Luna, malah dirinya yang tergoda. Tanpa ba bi bu , Aglian segera merebahkan tubuh Luna dan menguncinya pergerakannya.
"Mas, ..." pekik Luna karena Aglian menyerangnya tiba-tiba.
Aglian pun menc*mbu mesra bibir pucat Luna lalu perlahan bergerilya kesana kemari mendaki gunung, melewati lembah, tapi baru saja Aglian hendak maju ke tahap selanjutnya, Luna malah merengek karena mengantuk. Hanya dalam hitungan detik, Luna malah tertidur nyenyak bahkan saat Aglian hendak pergi kerja pun Luna masih setia memejamkan matanya.
__ADS_1
Flashback off
Luna yang sedang bosan di rumah merasa senang saat melihat Anggi dan trio bocil datang ke rumah. Mereka kini sedang duduk di ruang tamu. Luna yang melihat perut Anggi yang sudah sangat besar merasa kagum.
"Mbak, udah gerak belum dedeknya? Luna pingin pegang." ujar Luna dengan mata berbinar.
"Udah sih, tapi belum sering. Kamu mau pegang?" tanya Anggi.
Luna pun mengangguk antusias.
Lalu Anggi membawa tangan Luna untuk mengusap perutnya yang membesar. Mata Luna makin berbinar saat ia merasakan pergerakan di dalamnya.
"Wah, kayaknya dedeknya senang di pegang onty!" ujar Anggi membuat mata Luna makin berkilat bahagia.
"Onty, di pelut onty udah ada dedek bayinya juga belum?" tanya Karin seraya menatap perut Luna.
"Duh, kayaknya belum sayang! Ayin doain onty ya biar cepat ada dedeknya di perut onty." ujar Luna.
Kevin duduk di samping Luna dan mendekatkan telinganya di perut Luna.
"Onty, onty, di pelut onty udah ada dedek bayi na lho. Tuh, Epin bisa dengel suala na."
"Ah, masa'! Kayaknya itu suara perut onty yang laper deh!" ujar Luna sambil terkekeh.
"Iya onty, Ayin juga dengel suala dedek bayi." ujar Karin dengan semangat membuat Luna mengangkat kedua alisnya.
"Yeaaay, Epin bakal punya banyak dedek bayi!"
"Yeay, Ayin juga."
Seru si kembar.
"Abang juga mau. Nanti biar Abang yang temenin dedeknya main ya onty." ujar Damar dengan wajah sumringah.
Luna menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu matanya melirik ke arah Anggi.
"Kamu udah ngerasa ada tanda-tanda belum?" tanya Anggi.
Luna yang sudah sedikit paham masalah dunia kehamilan, lantas menggeleng.
__ADS_1
"Luna nggak pernah ngerasa kayak orang hamil kok mbak. Mungkin perut Luna lagi laper terus bunyinya kedengaran pas mereka tempelin telinga tadi." sahut Luna dengan yakin.
"Kamu ntar coba-coba aja pakai testpack siapa tau emang beneran ada. Bukannya kenapa, kamu kan masih masa pengobatan, jadi kalau kamu beneran hamil kan obatnya bisa disesuaikan. Jangan ketahuannya kadung telat! Kamu kan tau, wanita hamil nggak boleh sembarang konsumsi obat." Anggi mencoba mengingatkan. Ia tentu khawatir bila memang ternyata Luna sedang hamil lalu obat tersebut tidak bisa dikonsumsi wanita hamil dan mengakibatkan sesuatu yang tak diinginkan pada kandungannya.
"Na ... Luna ..." teriak Ajeng menuruni tangga dengan wajah panik.
"Ada apa, ma? Kok lari-larian gitu?" Luna ikutan panik.
"Iya, Ma. Ada apa?" Anggi ikut menimpali.
"Itu ... itu ... Tadi Robi telepon katanya, Mas mu, Lian, muntah-muntah di kantor sampai pucat gitu. Takutnya dia salah makan. Kamu kesana gih minta anterin sopir." ujar Ajeng saat telah berada di hadapan Luna.
"Apa? Baik, ma. Luna segera ke kantor, Mas Lian." ucap Luna. Lalu ia segera ke kamar untuk berganti pakaian dan mengambil tasnya. Tak lama kemudian, ia pun berangkat menuju kantor Aglian.
...***...
"Hei calon manten, udah mau nikah kok masih mau naik motor gede sih! Entar item lho. Orang mau jadi pengantin biasanya luluran, manikur, pedikuran, eh kamu malah motoran." ujar Sasi rekannya sesama polisi wanita.
"Orang cantik mah bebas, mbak." ujar Erika sambil terkekeh. "Kalau Azamnya ngomelin gue iteman, tinggal catok aja kepalanya pake gagang pacul." canda Erika.
"Yeay, emang loe mau berdiri di atas pelaminan sendirian karena Azamnya di rawat di rumah sakit ." timpal Sasi.
"Nggak masalah, kan rumah sakitnya ada di hati aku." ujar Erika sambil tergelak.
"Kamu mau catok kepala aku pake gagang pacul, hm? Berani durhaka sama calon suami?" Mata Azam memicing. Entah darimana datangnya, tiba-tiba ia sudah berdiri di belakang Erika.
'Mampus gue.'
"Canda ae amas sayang " goda Erika. "Idih, makin ganteng aja kalau lagi wajah datar gini. Bikin dedek Erika makin cinta deh!" goda Erika sambil memainkan alisnya.
"Idih, najong banget sih loe, Ka!" ejek Sasi. "Udah Zam, kalau dia berani catok kepala kamu, aku bersedia kok gantiin dia di pelaminan. Biar tau rasa." ujar Sasi dengan seringai jahilnya.
"Ih mbak Sasi, nggak boleh kayak gitu dong! Mbak Sasi kan udah punya bang Dede, jangan mau ambil Azamnya Erika dong. Susah tau dapetinnya. Hampir setiap hari di sepertiga malam lho Erika doain biar kami berjodoh. Masa' orangnya udah di depan mata, tinggal hitung hari aja bisa Erika milikin malah mau diambil. Erika nangis kejer lho nanti." Erika bersungut-sungut kesal digoda Sasi.
Azam yang tadinya berwajah ketus dan datar saja , tanpa sadar tersenyum kecil mendengar kejujuran Erika Ia baru tau, ternyata sebegitu cintanya Erika pada dirinya sampai-sampai hampir setiap hari di sepertiga malam ia berdoa agar mereka berjodoh.
"Azam juga nggak mau sama yang lain kok, mbak. Erika udah paket komplit untuk Azam. Yuk sayang, aku yang bawa motor. Kita jalan-jalan dulu! Hitung-hitung pacaran sebelum halal ." ujar Azam sambil mencubit pipi Erika membuat jantung Erika merinding disko mendengarkan gombalan receh Azam.
"Cie ... cie ... si muka datar ternyata emang udah kepincut sama si imut toh! Oke oke, silahkan kalian jalan-jalan. Selamat menikmati pacaran dadakannya ya." sahut Sasi. "Hati-hati ya! Jangan ngebut -ngebut! Bahaya." pesan Sasi sambil berteriak.
__ADS_1
...***...
...Happy Reading 🥰🥰🥰...