
Mobil yang dikendarai Robi telah tiba di depan hotel tempat dilaksanakannya pesta pernikahan Stefani dan dr. Alan. Robi keluar terlebih dahulu dari mobil, baru saja Robi hendak membukakan pintu mobil untuk Safa, tapi Safa telah membuka pintu itu terlebih dahulu.
"Silahkan, nona!" Robi mempersilakan Safa berjalan terlebih dahulu. Bukannya berjalan, Safa malah mematung di tempat membuat Robi bingung. "Ada apa nona? Ada yang kamu butuhkan?" tanyanya dengan sembari menatap wajah cantik Safa.
Safa mengerutkan keningnya, "Bang, Safa ini bukan atasan Abang, santai aja kenapa sih? Bisa kan kita layaknya teman gitu? Nggak usah terlalu formal. Abang makin aneh aja deh! Kemarin nggak gini-gini amat." gerutu Safa yang mulai jengah dengan sikap Robi.
"Tapi saya hanya menjalankan tugas saja, nona." jawab Robi.
"Tugas apa? Apa kak Lian bilang Abang harus melayani aku kayak Abang melayani dia? Apa kak Lian bilang aku ini atasan Abang? Nggak kan! Coba Abang ingat-ingat lagi, kak Lian. nyuruh Abang ngapain?"
Robi tampak berpikir, mengingat-ingat perkataan Aglian pagi tadi.
"Kata pak bos, saya disuruh temenin kamu." jawabnya masih dengan bahasa formal.
"Tuh kan, kak Lian suruh Abang temenin bukan ngawal udah kayak bodyguard gitu." omel Safa sembari mengerucutkan bibirnya.
Robi menggaruk kepalanya bingung, bagaimana tidak bingung, dia benar-benar tidak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan perempuan. Ia lebih terbiasa berinteraksi secara formal. Bercanda pun jarang. Hanya pandai menggerutu dari belakang. Oops ...
Safa yang mulai paham akan sifat kaku Robi pun lantas maju mendekati Robi dan melingkarkan lengannya di lengan Robi membuat jantung Robi seakan ingin berlompatan seketika.
deg ... deg ... deg ....
"Bang, ... bang Robi, kok melamun?" ujar Safa sambil mengerjap-ngerjapkan bulu matanya yang lentik.
'Cantik.'
Puji Robi dalam hati saat ia melihat wajah Safa mendongak hingga begitu dekat dengan wajahnya.
"Mau masuk nggak nih? Kalau nggak mending anterin Safa balik lagi deh!" Merajuk mode on.
"Eh i ... iya iya , yuk kita masuk. " sahut Robi gelagapan sambil tersenyum canggung membuat Safa terkekeh geli sendiri.
"Ternyata Abang Robi itu lucu juga ya!"
"Emang saya badut dibilang lucu." protes Robi tak terima.
"Emang cuma badut yang lucu." cibir Safa sambil mengeratkan rangkulan tangannya. Perlahan-lahan, Robi dapat mengatasi kecanggungannya.
'Ternyata gini rasanya digandeng cewek. Enak, nyaman, dan hangat. Pantesan aja pak bos pingin cepat-cepat halalin non Luna biar bisa lebih bebas pepet-pepetan toh.' monolog Robi dalam hati seraya mengiringi langkah Safa. 'Tapi ingat Rob, jangan ambil hati kedekatan ini. Kamu kan cuma disuruh temenin aja. Nggak mungkin orang seperti Safa menaruh hati padamu. Dari pada sakit hati mending sakit gigi jadi jangan pernah ambil hati! Oke ...! Eh, tapi aku juga nggak mau sakit hati, ngilu euy!' kekehnya dalam hati
"Bang, Abang kok senyum-senyum sendiri? Iii, pasti mikirin yang aneh-aneh nih?" goda Safa.
__ADS_1
"Mikir aneh? Maaf ya, otak saya ini terlalu suci untuk mikirin yang aneh-aneh. Emang otak kamu yang suka berpikiran macam-macam." kilah Robi takut Safa berpikir macam-macam tentangnya.
"Alah, nggak mau ngaku! Pasti lagi mikirin Safa ya bang? Dengan senang hati, dedek Safa nggak masalah kok dipikirin." canda Safa sambil tergelak.
"PD banget kamu. Eh, itu non Luna sama pak bos kan!" tunjuk Robi pada sekumpulan pengusaha yang sedang bergantian bersalaman dengan Aglian dan Luna.
"Iya, bener. Sebenarnya yang ngadain pesta ini Stefani apa mereka sih kok malah mereka yang disalamin." Safa tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Lalu mereka pun menghampiri 2 sejoli itu.
"Hai kakak ipar." sapa Safa pada Luna seraya cipika cipiki.
"Hai Fa, wah kamu cantik banget hari ini! Kalian nampak serasi banget " puji Luna, "Ya kan Mas?" tanya Luna pada Aglian.
"Hmm ... semoga aja kalian bisa cepat menyusul."
Robi mengerutkan keningnya, "Menyusul apa tuan?" tanya Robi bingung.
"Menyusul ke pelaminan, Mas. Is, gitu aja nggak paham. Emang mas mau jadi Jodi?"
Robi lagi-lagi bingung membuat Safa terkekeh geli, "Apaan lagi sih itu? Pake bahasa yang normal kenapa sih!" gerutu Robi.
"Ternyata kebiasaan kamu menggerutu di belakang masih ya, Rob. Mau dipotong berapa persen gaji kamu? Atau bonus kamu aja yang dihilangkan?" ancam Aglian dengan tatapan tajamnya.
"Duh, pak bos ancamannya kayak gitu mulu! Saya kan cuma bingung dengan apa yang dikatakan non Luna tadi, Jodi Jodi itu, sebenarnya apa?"
"Onty Luna ..." pekik trio bocil membuat pembicaraan keempat orang itu terhenti.
"Duh, sayang-sayangnya onty. emmuach ... emmuach ... emmuach ..." Luna mencium ketiga bocah itu bergantian.
"Onty, onty, benel kan kata Epin di pelut onty ada dedek bayi nya." seru Kevin.
"Iya onty, kata mama di pelut onty benelan ada dedek bayi na iya kan. Ayin ndak cabal lagi mau main syama dedek bayi na onty. Nanti dedek bayi onty main syama dedek bayi Ayin yang ada di pelut mama." celoteh Karin.
"Onty, onty udah tau belum dedek bayinya cewek apa cowok?" tanya Damar membuat Luna dan Aglian geleng-geleng kepala.
"Udah, udah, kasian tuh onty Luna jadi pusing karena kalian." ujar Anggi menghentikan celotehan ketiga bocah itu .
"Kami kan cuma nanya, ma." tukas Damar dengan cemberut.
"Onty belum tau sayang, perut onty aja belum gendut kayak perut mama." Luna mencoba menjelaskan.
"Bang, itu saudara kembar kak Lian ya?" bisik Safa di telinga Robi membuat dada Robi seketika berdesir. 'Astaga, jantungku ...!'
__ADS_1
"I ... iya, dia Nyonya Anggi. Sekarang dia yang memegang Angkasa Mall." jawab Robi gugup dengan wajah ia alihkan ke arah lain. Wajah Robi terasa panas dan ia yakin kini sudah memerah.
"Anak-anaknya lucu-lucu ya bang. Gemesin deh. Jadi pingin buat 1 yang kayak gitu." ucap Safa pelan dengan tangan masih bergelayut di lengan Robi membuat Robi seketika menatap wajah cantik Safa yang tengah sibuk memperhatikan trio bocil.
'Cantik ... Cantik banget malah. Kalau kamu mau , saya mau jadi partner kamu buat satu yang kayak gitu. Eh...!' Robi menepuk kepalanya sendiri karena telah berpikiran aneh-aneh.
"Kenapa bang, bang Robi sakit kepala ya?" tanya Safa seraya mengangkat tangannya dan mencoba memberi pijatan lembut ke kepala Robi.
"Eh, Ng ... nggak kok. Aku nggak papa." sahutnya gugup bahkan tanpa sadar panggilan formalnya telah berganti jadi aku.
"Kalau bang Robi sakit, kita pulang aja. Biar Safa yang bilang ke kak Lian."
"Aku nggak papa kok." sahut Robi dengan jantung yang sudah tak bisa dikondisikan akibat perhatian Safa.
Tak lama kemudian, setelah sesi ijab kabul selesai, Aglian, Luna, Anggi, dan Diwangga.
"Selamat ya, Stef. Aku senang akhirnya kami menemukan kebahagiaanmu." ujar Aglian tulus.
"Makasih Lian. Makasih banget. Aku bersyukur punya kamu sebagai sahabat aku. Tanpa kamu, mungkin aku sudah ..."
"Udah, jangan bahas itu lagi. Aku tulus bantu kamu karena kamu sahabat terbaikku." potong Aglian membuat mata Stefani berkaca-kaca. Alan pun segera merangkul bahu Stefani untuk menenangkan.
"Selamat ya mbak. Semoga keluarga mbak jadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah." ucap Luna tulus.
"Makasih ya, Lun. Doa yang sama untuk kalian." sahut Stefani seraya memeluk tubuh Luna.
Setelah berbincang sebentar, Aglian, Luna, Anggi, Diwangga, dan trio bocil berpamitan untuk datang ke resepsi pernikahan Azam&Erika dan Kentaro & Jelita.
Robi dan Safa masih di tempat resepsi pernikahan Stefani-Alan. Mereka memang dipinta Aglian menghadiri acara itu hingga selesai.
Namun, baru 30 menit rombongan Aglian dan Luna pergi, Robi mendapat telepon entah dari siapa yang membuatnya harus terpaksa meninggalkan Safa di sana seorang diri.
"Maaf, aku harus pergi. Aku ada urusan penting yang tidak bisa ditunda. Kamu bisa kan pulang sendiri?" ujar Robi yang hanya diangguki Safa tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Setelah mendapatkan persetujuan, Robi pun segera berlalu meninggalkan Safa seorang diri di keramaian pesta itu.
"Ditinggal sendirian? Disuruh pulang sendiri lagi? Ck ... " gumam Safa lirih.
Matanya seketika perih. Hitungan detik saja pasti air matanya akan tumpah. Namun ia coba tahan seraya mendongakkan wajahnya. Tak mungkin ia menangis di pesta pernikahan orang, bukan. Apa kata orang nanti bila melihatnya menangis. Setelah merasa lebih baik, Safa langsung keluar dari meriahnya pesta itu. Segera pulang ke rumah, hanya itu yang ada di pikirannya.
...***...
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...