
Hari beranjak malam dan kini Anggi sedang menikmati makan malam dengan Diwangga, Bu Sofi, dan Suseno.
Selepas makan malam, mereka pun mengobrol bersama di ruang tamu. Di kesempatan itu pula, Diwangga menyatakan keinginannya dengan Bu Sofi dan Suseno untuk menikahi Anggi. Tentu itu Suseno dan Bu Sofi sangat bahagia mendengarnya. Bahkan mereka sudah tidak sabar dan ingin mempercepat pernikahan Anggi dan Diwangga. Apalagi mengingat usia Diwangga yang sudah kepala 3, usia 31 tahun merupakan usia yang sudah sangat matang untuk berumah tangga .
"Bagaimana kalau pernikahan kalian diadakan 1 bulan lagi?" saran Suseno
Anggi yang sedang menyesap tehnya seketika tersedak mendengar saran dari calon ayah mertuanya itu. "Uhuk...uhuk..."
"Kamu nggak papa, Nggi?" ucap Diwangga khawatir seraya mengusap punggung Anggi
"Ah, nggak papa kok." ucap Anggi sambil memaksakan tersenyum
"Papa sih, ngomongnya mendadak banget! Anggi jadi tersedak kan." delik Diwangga
"Lah, kok papa yang disalahin? Emang kamu nggak mau cepet-cepet nikah?" tanya Suseno heran, padahal waktu 1 bulan itu sudah cukup lama .
"Emmm .. Angga sih kalau bisa, secepatnya. Lebih cepat lebih baik kan." ujar Diwangga malu-malu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal
"Secepatnya? Berapa lama?" timpal Bu Sofi
"Ya secepatnya, misalnya..... besok." ujar Diwangga sambil tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih
"Ukhuk ukhuk ukhuk....." kini giliran semua yang mendengarnya turut tersedak, bahkan bik Sum yang sedang menyajikan camilan pun ikut terkikik
"Oalah den, udah nggak sabar kawin toh." ledek bik Sum
__ADS_1
"Iya nih bik, kayaknya udah nggak sabar banget. Maklum, baru kali ini ada wanita yang bisa bikin meleleh hati si pengacara es batu." timpal Bu Sofi ikut meledek
Anggi yang mendengar candaan demi candaan di ruang tamu itu hanya bisa menunduk menahan malu.
"Nikah dulu atuh bik, masa' langsung kawin. Nggak boleh itu." ujar Diwangga menanggapi ledekan bik Sum. "Aww... sakit, sayang." Diwangga meringis saat merasakan cubitan mendarat mulus di pahanya. Hal tersebut tidak lain perbuatan Anggi
"Duh, udah sayang-sayangan mulu. Kayaknya emang harus disegerakan nih pa, udah urgent soalnya . " ledek Bu Sofi
"Iya ya ma, kayaknya emang harus dipercepat lagi. Bagaimana kalau 2 Minggu lagi? Mau papa sih seminggu lagi aja, tapi urusan sewa gedung, katering, foto prewedding, dan fitting baju pengantin nggak mungkin bisa diselesaikan dalam 1 Minggu. Paling cepat 2 Minggu. Kalian setuju kan Anggi, Angga?" tanya Suseno
"Iya pa."
"Tapi pa..."
Jawab Anggi dan Diwangga serentak. Mereka pun saling menoleh. Baru Diwangga ingin membuka mulut, tapi langsung dipotong Anggi.
Diwangga tampak berfikir. Ia terdiam sejenak, kemudian ia pun mengangguk setuju. "Baiklah, kalau itu menurut kamu yang terbaik. 1 bulan, nggak lebih." ucap Diwangga final yang disetujui kedua orang tua Diwangga
Sedang asik mengobrol, tiba-tiba suara dering ponsel Anggi menginterupsi. Saat Anggi periksa, ternyata Tita yang menelepon.
"Iya, halo. Assalamualaikum, Ta." ucap Anggi
"Wa'alaikum salam ,mbak. Mbak buruan pulang." ucap Tita, lalu sejenak terhenti untuk mengambil nafas
"Pulang? Ada apa? Apa yang terjadi di rumah?" tanya Anggi cemas
__ADS_1
"Mas Adam mbak, mas Adam kesini. Dia maksa ketemu anak-anak. Mereka nggak mau trus mas Adam malah marah-marah katanya kami udah menghalangi dia ketemu Damar, Karin, dan Kevin." jelas Tita panik
Deg...
"Jaga anak-anak ,Ta. Minta Raju dan Aji ke rumah , suruh halangi dia kalau masih maksa ketemu." tegas Anggi
Melihat raut cemas di wajah Anggi, Diwangga langsung mendekat dan bertanya.
"Ada apa ,Nggi? Apa ada masalah?" tanya Diwangga penasaran
"Mas Adam, mas. Mas Adam ke rumah, maksa ketemu anak-anak. Anak-anak nggak mau ketemu tapi dia malah marah-marah." jelas Anggi.
"Ayo, kita pulang sekarang." tegas Diwangga dengan tangan yang sudah mengepal.
"Ma, pa, kami harus pulang sekarang." pamit Diwangga
"Kenapa terburu-buru? Nggi, ada masalah apa? Kenapa wajahmu tampak cemas?" tanya Bu Sofi
Anggi melirik Diwangga seolah meminta izin berbicara, lalu Diwangga pun mengangguk, mengizinkan.
"Mas Adam, ma. Dia ke rumah. Dia maksa ketemu anak-anak. Anak-anak nggak mau, tapi dia malah marah-marah. Anggi juga nggak tau dari mana dia dapat alamat rumah Anggi. " jelas Anggi
"Hah! Adam itu mantan suami kamu bukan?" tanya Bu Sofi yang diangguki Anggi
"Kalian pulanglah segera. Dampingi Anggi ,Ngga. Kalau terjadi apa-apa, hubungi papa." titah Suseno
__ADS_1
"Baik ,pa. Angga antar Anggi dulu. Assalamualaikum." pamit Diwangga sambil mencium punggung tangan Suseno dan Bu Sofi, diikuti Anggi berikutnya.