
Luna dan Lia yang mengintip dari balik dinding dekat Anggi berdiri hanya bisa cekikikan merasa geli melihat pasangan setengah matang itu. Mereka sudah seperti pasangan ABG yang baru mengenal cinta. Mereka saling terpesona melihat penampilan masing-masing hingga tubuh mereka mematung.
"Ehem..." akhirnya Luna terpaksa berdeham agar pasangan setengah matang itu menyadari apa yang barusan mereka lakukan.
Anggi dan Diwangga pun segera tersadar dari lamunan mereka. Mereka kini jadi salah tingkah sendiri.
"Eh, ada apa, Lun?" tanya Anggi pada Luna yang muncul dari balik dinding
"Kapan mau perginya mbak, dari tadi berdiri di situ aja." ujar Luna sambil menutup mulutnya agar karena tak bisa mengontrol tawa gelinya
"Eh i-iya. Bentar lagi kok. Mas udah siap?" tanya Anggi pada Diwangga yang masih berdiri menatapnya dengan salah tingkah
"Oh, iya. Kamu udah siap kan?" tanya Diwangga
"Bentar mas, Anggi ambil tas Anggi dulu." Anggi pun segera berlalu menuju kamarnya untuk mengambil tas tangan berwarna silver list gold miliknya
Setelah Anggi mengambil tasnya, ia segera keluar menemui Diwangga. Sebelum pergi, ia terlebih dahulu memberi pesan pada Lia dan Luna agar mengunci semua pintu dan jendela. Mereka pun pamit sebelum masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Diwangga.
Mobil melaju membelah jalanan. Malam itu cukup lengang dan udara pun terasa sejuk karena sore tadi sempat diguyur hujan. Diwangga mengemudikan mobilnya dalam diam begitu pun Anggi. Mereka sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing. Saling memuji dalam hati saling memperhatikan dalam diam. Diwangga bingung harus mengekspresikan rasa cintanya bagaimana sebab seumur hidupnya ia tak pernah berpacaran. Sekalinya bertemu sang pujaan hati, ia malah langsung berniat menikahinya. Toh pacaran setelah halal akan lebih indah dan nikmat, bukan. Udah halal, jadi bebas donk mau ngapain.
"Ekhemmm... " Diwangga berdeham untuk memecah kesunyian
Anggi tampak melirik Diwangga sekilas sambil mengulum senyum.
"Kamu cantik banget, malam ini Nggi. Sumpah, aku makin terpesona. Rasanya udah nggak sabar mau halalin kamu." ujar Diwangga sambil mengulum senyum
"Sabar, tinggal 10 hari lagi kan! Tapi apa emang kita nggak perlu ngelakuin apa-apa, mas? Aku ngerasa nggak enak sama mama kamu." ujar Anggi tak enak hati
__ADS_1
"Aneh ya, biasanya lewatin 1 bulan aja kayak cepet banget, tapi ini, nunggu 2 Minggu aja rasanya kayak lama banget. " ujar Diwangga lirih. "Soal persiapan pernikahan, udah aku bilang kan , kamu nggak usah khawatir. Semua pasti bakal beres tepat waktunya. " ujar Diwangga sambil melirik Anggi dari rear mirror di depannya.
Anggi mengangguk-anggukkan kepalanya.
"oh ya, besok si kembar udah bisa pulang ke rumah ya? Jam berapa? Biar aku jemput."
"Nggak usah mas, kami bisa kinta jemput Raju. Kamu kan sibuk mas belum lagi karena terlalu sering urusin kami, banyak pekerjaan kamu terbengkalai." ujar Anggi penuh penyesalan
"Kata siapa terbengkalai? Semua aman dan terkendali kok. Untuk saat ini, kamu dan anak-anak adalah prioritas aku, Nggi. Keamanan dan keselamatan kamu dan anak-anak itu sekarang tanggung jawab aku. Biar kita belum sah jadi suami istri, tapi aku sudah anggap kalian bagian dari hidupku. Aku justru akan merasa sangat bersalah kalau nggak bisa memastikan sendiri keamanan dan keselamatan kalian termasuk dengan menjemput kalian dari rumah sakit."
Lagi dan lagi, hati Anggi selalu menghangat setiap kali mendengar tutur kata Diwangga terutama saat ia mengungkapkan bagaimana besar rasa cinta dan kasih sayangnya pada anak-anaknya walau hanya secara tersirat melalui tindakan. Sungguh ia merasa sangat beruntung bisa mengenal seorang pria seperti Diwangga. Ia juga merasa sangat bahagia anak-anaknya akan memiliki seorang ayah seperti Diwangga, laki-laki yang bukan hanya sangat baik, sholeh, tegas, tapi juga penyayang, perhatian, dan penuh kasih sayang. Sungguh Diwangga adalah tipe lelaki idaman menurut Anggi . Anggi merasa sangat bersyukur pada Allah atas hadiah yang dikirimkan-Nya padanya saat ini. Ya, Anggi menganggap Diwangga adalah sebuah hadiah istimewa dari yang Kuasa untuk dirinya dan anak-anaknya.
"Terserah mas aja deh, asal nggak ganggu waktu dan kerjaan mas aja." ujar Anggi dengan tersenyum hangat , Diwangga pun membalas dengan senyuman yang tak kalah hangat.
Hanya butuh waktu kurang lebih 30 menit, mobil Diwangga telah tiba di depan lobi Royal Hotel. Hotel terbesar dan termegah di kota itu.
Setelah tiba di lantai yang dituju, Diwangga kembali menuntun Anggi agar selalu berjalan mensejajarinya menuju kerumunan teman-temannya yang telah hadir lebih dulu.
Diwangga tak henti mengulas senyum. Ini adalah kali pertama ia datang ke pesta dengan menggandeng seorang wanita dan itu membuatnya sangat bangga. Diwangga tak pernah merasa malu akan status Anggi. Yang penting, ia tahu dengan pasti sifat-sifat Anggi dan tiada cela di dalamnya. Itu sudah cukup baginya untuk menjadikan Anggi pasangan hidupnya yang akan menemani seumur hidup hingga menutup matanya.
"Hai bro, apa kabar? Wah, udah nggak sendirian lagi nih kayaknya." sapa seorang teman Diwangga seraya melirik Anggi yang berdiri di samping Diwangga
"Alhamdulillah baik. Alhamdulillah banget, sekarang udah ada yang bisa dampingi. Kenalin, calon istriku, Anggi." ucap Diwangga dengan bangga
"Wah, salam kenal nih! Aku Doni." Doni memperkenalkan dirinya
"Salam kenal juga. Aku Anggi." sahut Anggi
__ADS_1
" Tapi kayaknya wajah kamu familiar banget deh. Tapi siapa ya? Kamu bukannya artis tv ikan terbang kan?" ujar orang itu yang ternyata bernama Doni
"Iya ya Don, wajahnya kayak familiar banget, ya! Jangan-jangan artis FTV ku menangis nih?" tebak teman Diwangga yang lain
Mendengarkan teman-teman Diwangga yang sibuk menebak siapa dirinya, membuat Anggi terkekeh geli. Ia tertawa sambil menutup mulutnya. Sedangkan Diwangga menyeringai, ia sungguh merasa jengah karena satu per satu teman laki-lakinya mendekat dan lama kelamaan mengerumuni Anggi. Mungkin karena wajah Anggi yang tampak familiar tapi mereka lupa siapa. Mungkin juga karena baru kali ini Diwangga mengajak seorang wanita menjadi pendampingnya. Diwangga cukup menonjol dan terkenal diantara teman-temannya, bukan hanya karena prestasi akademik tapi karena keaktifan pria itu di setiap organisasi khususnya organisasi kesiswaan saat masa sekolah dan kemahasiswaan pada masa kuliah. Karena itu, teman-temannya, bukan hanya lelaki tapi juga para wanita jadi ikut penasaran.
"Ah, dia kan owner Anggi Fashion, bener nggak?" tanya seorang wanita teman Diwangga
"Bentar-bentar, aku save fotonya soalnya aku suka sama baju-bajunya." lalu seorang wanita lagi datang dan memeriksa ponselnya untuk memastikan. "Wah, bener! Ini beneran owner Anggrek Fashion, ya! Wah, seneng banget bisa ketemu di sini. Boleh minta waktu untuk foto sebentar?" pinta wanita itu
"Wah, aku juga mau donk! Boleh ya , please?" mohon temannya yang lain
Anggi tampak melirik Diwangga yang tampak cemberut karena wanitanya sibuk dikerumuni orang-orang.
"Sstt... nggak liat tu wajah pak lawyer, udah cemberut gitu. Izin dulu sama yang punya gih!" ledek yang lain
"Ah, lama kalo nunggu izin dari dia." lalu wanita itu pun segera berdiri di samping Anggi dan mengambil foto selfie mereka , begitu pun yang lain secara bergantian. Anggi ingin menolak tapi ia tak enak hati. Ia tak mau dibilang sombong oleh teman-teman Diwangga.
Setelah acara sesi foto selesai, Diwangga pun mengajak Anggi duduk di salah satu meja yang telah disediakan untuk para tamu. Pesta pernikahan itu sangat mewah karena diadakan di ballroom hotel terbesar di kota itu. Menurut Diwangga temannya yang laki-laki adalah pengusaha tambang batubara, sedangkan sang wanita adalah seorang artis. Karena Anggi sama sekali tak suka menonton tv, dia jadi sama sekali tak mengenal pengantin wanita yang ternyata artis itu.
Karena terlalu banyak minum, Diwangga pun izin ke toilet sebentar pada Anggi. Anggi tampak menikmati acara yang sedang diisi dengan penampilan penyanyi ibu kota. Lagu pun mengalun merdu membuat Anggi terhanyut dalam suasana syahdu. Hingga tiba-tiba datang suara yang cukup mengganggu, menginterupsi lamunan Anggi.
"Hei kamu janda gatel." ujar seorang wanita dan Anggi masih mengingat wajah orang yang menghinanya itu
"Maaf, Anda bicara dengan siapa ya?" Anggi pura-pura melirik ke kanan dan ke kiri. Ia tahu umpatan itu untuk dirinya tapi bukan berarti ia harus langsung terpancing bukan. Yang ada malah mengukuhkan ia seperti umpatan yang dilontarkan wanita itu.
"Nggak usah pura-pura bodoh. Sudah jelas yang aku bilangin itu, loe janda gatel." cemooh wanita itu.
__ADS_1
Sontak Anggi berdiri dari tempat duduknya. Tangannya dibawa bersedekap di dada. Ia takkan menunjukkan wajah lemah, yang ada ia akan makin direndahkan. Ia harus menjadi wanita kuat. Pantang diintimidasi apalagi direndahkan. Dengan sorot mata tajam, ia balas menatap tajam wanita itu.