Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.80 Kedatangan Adam (Lagi)


__ADS_3

Kehebohan demi kehebohan makin menjadi-jadi baik di perusahaan Angkasa maupun di Angkasa Mall. Jiwa kepo para karyawan menukik tajam akibat rasa penasaran akut yang mendera siapakah saudara kembar CEO'nya tersebut. Gosip demi gosip pun bertebaran, bukan hanya dari mulut ke mulut, tapi juga sosial media. Menebak, mengira, menduga, hingga berbagai asumsi pun bermunculan, mengundang kekepoan para pemburu berita. Bagaimana tidak, berita ini sudah sangat menggemparkan. Para pencari berita pun tengah berlomba-lomba untuk menemukan dan mencari tahu siapa saudara kembar CEO Angkasa Grup tersebut. Tentu bila mereka dapat memberitakan pertama kali maka nama media mereka akan makin besar dan bersinar. Bahkan mereka sampai stand by di rumah keluarga Davindra demi mendapatkan berita berikut foto putri dari pendiri kerajaan bisnis Angkasa Grup tersebut.


Untuk mengantisipasi tersebut, Aglian sudah memberikan pengawalan ekstra namun rahasia terhadap Anggi maupun orang tuanya. Semua demi lancarnya rencana rahasia yang telah ia susun sedemikian rupa.


"Gimana Stef, sudah kamu kerjakan yang aku pinta?"


"Hmm... tenang aja, malah sekarang semua karyawan heboh dan penasaran sama kakak kembar kamu itu."


"Oh ya, nanti buat Adam membawa keluarga besarnya, pakai rencana apa aja yang penting keluarganya yang brengsek itu datang ke pesta ini. Biar mereka shock saat tau siapa sebenarnya Anggi." titah Aglian pada Stefani.


"Oke." sahut Stefani singkat. "Lian, kan mbak Anggi udah ketemu nih, artinya janji kamu nggak lama lagi kamu tepatin donk! Kamu nggak akan mangkir lagi, kan! " Rajuk Stefani yang merupakan sekretaris sekaligus kekasih Aglian.


Aglian tersenyum lalu mendekap erat tubuh Stefani. "Yes baby, kamu nggak usah khawatir! Aku pria yang berprinsip, apabila aku berjanji, tentu aku akan menepati." ucap Aglian tegas.


"By the way Lian, aku boleh nanya nggak?" tanya Stefani takut.


"Tanyakan aja, aku pasti akan menjawab. Bukankah prinsip hubungan kita kejujuran dan keterbukaan!" ucap Aglian seraya menatap wajah cantik Stefani. Gadis manis idola kampusnya dulu. Cinta pertama yang akan menjadi cinta terakhir bagi Aglian.


"Maaf, tadi aku buka WhatsApp kamu." ujar Stefani sambil menunduk.


"Terus?" Aglian meminta Stefani melanjutkan ucapannya.


"Aku liat riwayat chat kamu sama cewek yang namanya Luna." Lagi-lagi Stefani menjeda ucapannya.


"Kau penasaran siapa itu Luna?" tanya Aglian dan Stefani mengangguk. "Kamu cemburu, hm?" lanjutnya lagi sembari menautkan helaian rambut yang menutupi pipi mulus Stefani ke belakang telinganya.


"Ish, GR, siapa juga yang cemburu." Stefani berkilah sambil mengerucutkan bibirnya.


Aglian terkekeh melihat tingkah menggemaskan Stefani. "Bilang cemburu nggak akan menurunkan harga dirimu, baby! " ucap Aglian sambil mencubit kedua pipi Stefani. "Dia itu adik angkat Anggi dari panti. Anggi ada 5 adik angkat, lho! Aku salut sama saudara kembarku itu, dia begitu penyayang walau sama orang lain. Karena itu aku rasanya sangat marah saat tau bagaimana perbuatan Adam dan keluarganya ditambah Lea. Padahal dia orang berpendidikan tapi sikapnya sangat memalukan." Geram Aglian saat ingat orang-orang yang sudah menyakiti Anggi.

__ADS_1


"Kamu nggak punya perasaan apa-apa kan sama cewek itu?" tanya Stefani takut-takut.


"Sumpah, nggak ada, baby. Aku hanya anggap dia kayak adik aku sendiri jadi kamu nggak usah khawatir. Cinta dan sayang aku hanya untuk kamu." ujar Aglian tulus.


.


.


.


.


Adam sangat bahagia saat mengetahui Anggi tak jadi menikah dengan Diwangga. Ia sudah merancang berbagai rencana guna meluluhkan hati Anggi. Seperti sore ini, sepulang kerja ia gegas menuju kediaman Anggi untuk menemui mantan istrinya tersebut. Ia akan berusaha mencuri hatinya lagi. Dengan berbekalkan dua porsi sate Padang dan satu buah brownies Amanda varian coklat keju yang merupakan makanan kesukaan Anggi, ia mengendarai mobilnya menuju kediaman Anggi.


Adam melajukan mobilnya sambil bersenandung ria. Keyakinannya begitu besar bahwa Anggi akan kembali kepadanya apalagi Anggi sedang patah hati pikirnya. Bukankah mencari simpati dari wanita yang sedang patah hati itu lebih mudah. Oh, sungguh pikiran bodoh!


Setibanya Adam di rumah Anggi, dilihatnya ada mobil lain yang terparkir rapi di halaman rumah Anggi dan ia tau siapa pemilik mobil itu karena pernah melihat Anggi turun dari mobil itu. Adam pun segera turun dari mobil sambil menenteng makanan yang sempat ia beli tadi.


"Wa'alaikum salam." sahut dua orang yang tengah duduk di ruang tamu.


Kedua orang itu menatap Adam dengan sorot mata bertanya-tanya. Untuk apa Adam ke mari, seperti itulah yang ada di pikiran mereka.


"Nggi, boleh mas masuk?" tanya Adam menginterupsi saat tak ada respon lain dari Anggi dan Diwangga saat melihat kedatangannya.


"Ah, oh, ya silahkan masuk, mas!" ucap Anggi mempersilakan. Pun ia telah berpisah dengan Adam dan Adam pernah menorehkan luka menganga di hatinya, tapi ia tidak bisa serta merta menolak kedatangan Adam apalagi ia datang dengan baik-baik, tidak seperti tempo hari.


"Terima kasih." sahutnya. "Nggi, ini mas bawakan makanan kesukaanmu. Semoga kau masih menyukainya." ucap Adam seraya menyerahkan dua bungkusan kepada Anggi. Anggi bingung mendapati tingkah aneh mantan suaminya ini. Setelah berpisah hampir 1 tahun, baru kali ini ia menemuinya dengan baik-baik bahkan membawakan makanan kesukaannya. 'Benarkah dia masih ingat makanan kesukaanku?' batin Anggi.


Anggi tak langsung menerima bungkusan itu. Ia menoleh ke arah Diwangga yang masih duduk dengan santainya menghadap Anggi untuk meminta persetujuan. Tentu ia harus menghargai keberadaan calon suaminya tersebut. Ia tak mau sembarangan bertindak yang bisa saja berdampak kurang baik pada hubungannya dengan Diwangga. Barulah setelah Diwangga memberikan kode berupa anggukan kepala, Anggi pun menerima bungkusan itu dan meletakkannya di atas meja tanpa melihat isinya lagi. Adam yang melihatnya merasa kesal, namun ia tahan demi mendapatkan hati sang mantan istri kembali.

__ADS_1


"Makasih, mas." ucap Anggi.


"Sama-sama." sahutnya dengan lembut tanpa menunjukkan raut kekesalannya. "Oh ya, Nggi, selamat ya atas kesuksesan pembukaan toko kamu yang baru di Angkasa Mall. Sepertinya antusias para pengunjung sangat besar." ucap Adam dengan tetap mempertahankan senyuman manisnya.


Diwangga yang melihat tingkah Adam merasa amat sangat geram. Ingin rasanya ia mensleding otak Adam agar sedikit waras. Enak saja, setelah menyia-nyiakan, menyakiti, mengabaikan, menduakan, sekarang mau mendapatkannya lagi. 'Kurasa otaknya memang sudah benar-benar miring.' Diwangga mencibir dalam hati.


"Makasih, mas." ucap Anggi singkat.


"Dan loe, loe ngapain di sini! Bukannya loe mau nikah sama saudaranya Tuan Aglian, jangan bilang Anggi belum kamu kasi tau?" Sinis Adam sambil menatap tajam Diwangga, sedangkan Diwangga hanya menaikkan salah satu sudut bibirnya. Ia tak menyangka Adam akan sebodoh ini. Dia malah mengira Diwangga akan menikahi orang lain.


"Itu bukan urusan loe!" jawabnya datar.


"Itu urusan gue, brengsek. Karena sama aja loe mau mempermainkan Anggi dan gue nggak akan tinggal diam liat loe nyakitin Anggi." sahut Adam murka.


"Bukannya loe yang udah nyakitin Anggi!" sarkas Diwangga. Anggi hanya terdiam mencerna setiap ucapan dari Adam. Setelah beberapa detik, ia baru menyadari kalau Adam mengira Diwangga akan menikahi orang lain, bukannya dirinya.


"Itu dulu dan sekarang gue akan memperbaiki semuanya. "


"Dengan cara?"


"Gue akan balikan sama Anggi." jawab Adam penuh percaya diri.


"Hah! Mas, kamu udah gila ya? Emangnya siapa yang mau balikan sama kamu?" Anggi bersuara sambil mendengus sebal.


"Nggi, aku sudah sendiri dan kita pernah bersama. Kita juga memiliki anak bersama, bukankah kau lebih baik kembali padaku dari pada bersama dia. Dia akan segera menikah Minggu nanti, Nggi. Dia hanya mempermainkanmu. Kau hanya akan sakit hati bila bertahan bersama dia." ucap Adam dengan menatap lekat mata Anggi tetapi tangannya menunjuk arah Diwangga.


"Singkirkan tangan kotormu dariku, brengsek! Dan buang jauh-jauh pikiranmu untuk kembali pada Anggi karena sampai mati pun aku takkan pernah melepaskannya." tegas Diwangga sambil menepis tangan Adam yang menunjuk ke arahnya.


"Nggi, kamu hanya akan jadi yang kedua. Bukankah kau dulu meninggalkanku karena tak mau diduakan, jadi kenapa kau masih mau sama dia? Apa karena dia kaya?" tanya Adam dengan sorot mata tajam. Ia tak mampu memikirkan hal lain. Hanya hal itu yang masuk akal pikirnya. Bagaimana Anggi tetap mau bertahan diduakan kalau bukan karena harta.

__ADS_1


"Aku bukanlah wanita materialistis tuan Adam yang terhormat. Bila kau hanya ingin membuat kekacauan di sini, lebih baik kau pergi. Aku tak sudi bertemu denganmu kalau sikapmu masih searogan dan sebodoh ini." tegas Anggi sambil menunjuk pintu dengan maksud agar Adam segera pergi . "Dan bawa ini, aku tak sudi memakan makanan pemberianmu." ucap Anggi seraya menyerahkan bungkusan pemberian Adam tadi. Adam makin emosi melihat perlakuan Anggi. Diambilnya bungkusan itu lalu dilemparnya ke dinding rumah itu dengan emosi hingga isinya berhamburan di lantai.


"Ku pikir setelah kita berpisah, sifatmu akan menjadi lebih baik, tapi ternyata ... ck ..., semakin buruk." ucap Anggi sebelum Adam benar-benar pergi dari rumahnya dengan emosi membuncah.


__ADS_2