
Mobil Diwangga kini telah memasuki halaman rumahnya. Setibanya di sana, Diwangga bergegas turun dari mobil lalu dengan sedikit berlari, memutari mobilnya untuk membukakan pintu Anggi. Anggi sudah ingin protes, ia bisa melakukannya sendiri, tapi Diwangga tetaplah Diwangga, selagi bisa, ia akan selalu berusaha jadi yang terbaik dan melakukan yang terbaik untuk wanita pujaan hatinya itu.
Dulu, sewaktu Diwangga belum berjumpa lagi dengan sang pujaan hatinya itu, hampir tiap malam di setiap sujudnya, ia selalu menengadahkan tangan memohon agar dapat dipertemukan kembali, agar diberikan kesempatan berjodoh, dan kini semua doa dan harapannya sudah hampir 100% terkabul semua, tentu ia akan melakukan segala yang terbaik. Ia berjanji takkan pernah menyia-nyiakan. Bukankah wanita merasa bahagia dimulai dari hal-hal yang terkecil. Kadang hal yang terkesan remeh itulah yang bisa membuat seorang wanita jauh lebih bahagia, seakan sangat dicintai.
Anggi tak menyangka , baru selangkah ia memijakkan kakinya di teras rumah orang tua Diwangga, ia langsung disambut dengan hangat oleh Bu Sofi. Matanya sontak berkaca-kaca. Ia terlampau bahagia apalagi saat ia disambut dengan sebuah pelukan hangat oleh Bu Sofi. Tak terasa air matanya bergulir membasahi pipi. Dengan cepat jemarinya menghapus linangan air mata itu. Biar Anggi telah menghapus buliran air mata yang sempat membasahi pipinya, tapi Bu Sofi tau sebab ia sempat merasakan getaran di bahu Anggi. Ia juga sempat mendengar isakan pelan calon menantu idamannya itu. Sungguh ia penasaran, mengapa pujaan hati putranya itu tiba-tiba menangis, ia akan menanyakannya nanti, tidak sekarang.
"Yuk masuk sayang." ajak Bu Sofi seraya menggandeng tangan Anggi memasuki rumahnya. "Kenapa nggak bawa anak-anak?" tanya Bu Sofi penasaran
"Ini ma, tadi Anggi habis dari ketemu rekan kerja terus langsung ke sini jadi Anggi nggak ngajakin anak-anak." jelas Anggi
"Iya ma, apalagi kami ketemu rekan kerja Anggi siang, kasian kalau anak-anak lama nunggu." timpal Diwangga yang saat itu juga berada tak jauh dari Anggi
"Hmm .. padahal mama kangen banget sama cucu-cucu mama itu." ujar bu Sofi sambil tersenyum
"Tuh kan ,Nggi, mama aku aja seneng banget sama anak-anak kamu, bahkan mama udah anggap mereka cucu mama sendiri, masih belum yakin kalau orang tua aku nggak bisa terima kamu?" goda Diwangga sambil menaik turunkan alisnya
__ADS_1
"Hah, kamu takut mama nggak suka sama kamu, ya sayang?" tanya Bu Sofi tak percaya. "Kamu nggak perlu khawatir, mama bukan tipe orang tua yang langsung menolak pilihan anaknya. Apalagi yang dipilih itu kamu, tentu mama senang. Tau nggak kenapa?" Anggi menggeleng. "Sebab selain mama akan dapat menantu yang super baik dan cantik seperti kamu, mama juga akan mendapatkan langsung 3 cucu. Kamu harus tau Nggi kalau mama itu udah jatuh cinta sama anak-anak kamu sejak pertama kali bertemu. Oh iya, mulai sekarang kamu panggil mama juga ya kayak Angga, kan kamu nanti juga akan jadi anak mama." ucap Bu Sofi lembut seraya mempersilakan Anggi duduk di ruang tamu
Mata Anggi kembali berkaca-kaca, bahkan ia tanpa sadar langsung memeluk tubuh Bu Sofi. Bu Sofi pun membalas pelukan itu seraya mengusap punggung Anggi lembut.
"Makasih ma, Anggi bahagia banget akhirnya Anggi bisa ngerasain kasih sayang seorang ibu. Sudah lama Anggi memimpikan kasih sayang seorang ibu, Anggi nggak nyangka akhirnya Anggi bisa merasakannya juga." ujar Anggi sambil terisak. "Anggi juga makasih banget ma, atas kasih sayang mama untuk anak-anak Anggi, padahal mereka bukan cucu kandung mama tapi mama menyayangi mereka seperti mereka cucu kandung mama sendiri." Anggi makin tergugu dalam dekapan Bu Sofi.
Bukan hanya Anggi yang kini terisak, Bu Sofi dan Diwangga pun turut menitikkan air mata seakan turut merasakan kesedihan yang selama ini Anggi pendam.
"Iya sayang, mulai sekarang pokoknya kamu harus anggap mama seperti mama kamu sendiri. Kamu bebas kemari, bebas bercerita apapun, bebas meminta apapun, pokoknya jangan sungkan datang ke mama sekalipun itu tentang anak mama. Kalau sampai dia macam-macam apalagi nyakitin kamu, laporin aja ke mama biar kepalanya mama timpuk pake ulekan bekas sambal terasi " ujar Bu Sofi membuat Anggi yang tadi bersedih jadi terkekeh.
"Dududu , so sweet banget sih anak mama. Ya kan ,sayang!" ucap Bu Sofi sambil menatap Anggi. Anggi yang ditatap seperti itu hanya bisa mengulum senyum sambil menundukkan wajahnya yang sudah memerah karena malu
.
.
__ADS_1
.
"Din... Dindaa..." teriak Adam sepulang dari tempat kerjanya namun tak ada sahutan sama sekali dari Adinda padahal sudah hampir 10 menit Adam menunggu sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
"Brengsek." umpat Adam."Woy, Dinda sialan dimana sih loe!" teriak Adam lagi
"Ada apa sih mas pake teriak-teriak mulu. Bisa budek lama-lama kuping aku karena kamu." kesal Adinda
"Makanya punya kuping itu dipasang. Suami pulang kerja bukannya disambut, diambilin air minum, eh kamunya molor. Tidur mulu kerjaan loe!" delik Adam tajam
"Memang kenapa kalau akubtidur, aku juga mau istirahat. Aku capek ."
"Capek?" desis Adam dengan nada mengejek. Memang kami capek ngerjain apa sih? Ni liat rumah ini, kotor, debu dimana-mana, tuh piring kotor di wastafel, numpuk, belum lagi pakaian kotor numpuk, padahal tinggal masuk mesin cuci aja tapi kamu apa? Pura-pura nggak tau. Jadi capek ngapain kamu hah? Kamu habis ngapain sampai kecapekan kayak gitu? Loe habis bercinta, hah? Loe capek bercinta?" desis Adam dengan mata memicing membuat Adinda tercekat, seakan ada batu yang tersangkut di tenggorokannya. 'Apa mas Adam tau kelakuanku di belakangnya, ya!" Batin Adinda bermonolog
Selamat malam para readers setiaku. Makasih banyak ya sudah mampir di cerita recehku ini. Semoga suka. Oh ya, beribu makasih juga utk yang sudah like dan komen, apalagi ada yang vote jg, Masya Allah, aku seneng banget lho, jadi terharu. Sekali lagi makasih ya!🥰
__ADS_1
HAPPY READING 😘