Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.93 Hukuman


__ADS_3

Matahari pagi kini telah menampakkan sinarnya. Tanpa malu-malu, ia pun masuk melalui celah-celah terkecil, membuat tubuh yang masih tampak nyenyak di peraduan menggeliat karena silaunya.


"Morning, sayang." sapa Diwangga yang tengah berkutat dengan laptopnya.


Sebenarnya mereka subuh tadi telah bangun, namun setelah melaksanakan kewajibannya, mereka kembali ke peraduan dengan ditambah sedikit olahraga subuh membuat tubuh Anggi kembali lelah dan tertidur. Apalagi olahraga ini sudah lebih dari satu tahun tak dilakukannya, tentu lelah itu begitu terasa. Lebih tepatnya, setelah Adam mulai tergila dengan wanita idaman lain, mereka tak pernah lagi melakukannya. Sedangkan Diwangga yang masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya, segera mandi dan berkutat dengan berbagai kasus melalui laptopnya.


"Morning juga, mas. Mas nggak tidur lagi tadi, ya?" tanya Anggi sambil menegakkan punggungnya dan menyandarkannya di kepala ranjang.


"Nggak, ada kasus yang butuh analisa mas. Mandi dulu gih, sayang. Nanti mas pesan makanan untuk sarapan di sini aja. Oh ya, Damar dan si kembar pagi tadi ikut Lian kerja ke Angkasa Mall." jelas Diwangga.


"Apa nggak ngerepotin, mas? Aku takut malah ganggu kerjaan Lian."


"Kamu nggak usah khawatir, mereka ada Luna yang nemenin."


"Oh, baguslah. Aku mandi dulu ya, mas." ujar Anggi turun dari ranjang sambil membalut tubuhnya dengan selimut. Diwangga terkekeh geli melihat Anggi yang sudah seperti kepompong berkaki .


"Nggak usah ketawa-ketawa, ntar nggak Anggi kasih jatah, baru tau rasa." Anggi mendelik.


"Nantangin? Emang bisa? Paling juga kalo mas udah merayap kamu nggak bisa nolak." ujar Diwangga mengejek.


"Dasar cicak." ejek Anggi sambil menjulurkan lidahnya.


"Kok cicak?" Diwangga heran dikatain cicak.


"Yang doyan merayap itu siapa, coba? Cicak kan!" ujar Anggi dengan nada mengejek.


Tak terima dikatain cicak, Diwangga segera menutup laptopnya dan mengejar Anggi. Gegas Anggi masuk ke kamar mandi dan ingin menutup pintunya, tapi belum sempat pintu itu tertutup sempurna, Diwangga telah berhasil mendorong pintu itu dan ikut masuk ke dalamnya.


"Kamu udah berani ngatain, mas, hm? Nggak takut dosa?" tanya Diwangga sambil menyeringai.


"Kan kan , Anggi cuma bercanda, mas! Jangan ambil hati gitu donk!" Anggi gelagapan melihat ekspresi Diwangga yang tak biasa.


"Ngapain mas ambil hati , kan emang semua yang ada pada Anggi sekarang milik mas, iya kan!" ujarnya sambil menaikkan sebelah alisnya. "Tapi sepertinya mas harus beri kamu hukuman karena udah berani ngatain, mas." seringainya.


"Hu,-hukuman apa, mas?" Anggi makin gelagapan.


Gegas Diwangga mendorong pelan tubuh Anggi agar bersandar di dinding lalu ia menarik selimut yang membalut tubuh Anggi hingga tubuh polosnya terekspose sempurna. Segera Diwangga pun menyalakan shower hingga airnya membasahi tubuh mereka berdua.


"Ini hukumannya." tanpa aba-aba, Diwangga segera menempelkan bibirnya di bibir Anggi lalu dengan gerakan memburu ia m*lum*t bibir Anggi. Gerakan kali ini lebih gencar dan menuntut, tidak seperti semalam. Sepertinya permainan semalam dan subuh tadi sudah memberi Diwangga cukup pengalaman untuk bertindak lebih agresif.

__ADS_1


"Tolong lepasin baju, mas, sayang!" bisik Diwangga di telinga Anggi membuat tubuhnya menggelinjang. Tapi tangannya tetap mengikuti titah sang suami. Ditariknya kaos yang dipakai Diwangga ke atas hingga terlepas lalu ia lempar ke sembarang arah. Kemudian tangan Anggi ikut mengeksplor tubuh kekar sang suami mulai dari dada, perut, lengan ,hingga punggung tak lepas dari jamahan tangan Anggi. Seketika sensasi panas kini mengalahkan rasa dingin air shower yang membasahi tubuh mereka berdua.


Lalu Diwangga masuk ke dalam bathtub yang telah terisi air hangat. Ia tarik lengan Anggi agar ikut masuk dan duduk di pangkuannya.


"Mas mau lakuin di sini? Di dalam ini?" tanya Anggi.


"Why not? Ini menyenangkan." sahut Diwangga dengan bibir yang tengah menjelajahi bagian depan tubuh Anggi, sedangkan tangannya menjelajah di area belakang membuat Anggi menggelinjang, mendes*h, dan meracau tak jelas hingga dalam satu kali hentakkan mereka mengulangi penyatuan itu lagi. Sepertinya tubuh Anggi sudah benar-benar menjadi candu bagi Diwangga. Membuatnya selalu ingin lagi, lagi, dan lagi. Hingga saat mereka telah sampai di puncaknya secara bersamaan, barulah Diwangga menghentikan hujamannya.. Diwangga pun segera melepaskan dirinya dari penyatuan. Ia kecupan mesra pun ia berikan di dahi dan bibir Anggi.


"Terima kasih sayang. I love you." ujar Diwangga dengan senyum manisnya.


"Love you, too, mas." jawab Anggi malu-malu sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Diwangga.


.


.


.


"Mas Lian, anak-anak pingin main di lantai 2, boleh nggak?" tanya Luna saat telah berada di ruang kerja Aglian di mall Angkasa, sedangkan Damar dan si kembar sedang bermain di ruangan yang sengaja disiapkan Lian untuk ketiga keponakannya itu main.


Aglian nampak mendongakkan wajahnya, "Hmmm ... boleh deh, tapi tolong jagain ya!" ujar Aglian lalu ia mengambil dompet di saku belakang celananya dan mengeluarkan sebuah kartu hitam lalu mengulurkannya ke arah Luna. "Nih, kamu bisa pake kartu ini buat main dan beliin apa aja yang anak-anak mau." tambah Aglian.


Aglian terkekeh melihat tingkah menggemaskan Luna dan memencet hidungnya hingga memerah.


"Beli aja apa yang kamu mau." ujar Aglian.


"Serius mas? Mas nggak bohong,kan! Ntar tau-tau ditagih hutang!" Luna mendelik.


"Aku nggak sepelit itu kali, Lun. Emangnya sebanyak apa sih belanjaan kami sampai-sampai aku hitung hutang? Kecuali kamu pakai kartu itu buat traktir pacar kamu, baru aku hitung hutang."


"Yah, mas Lian kayak cenayang nih, baru juga Luna punya niat pingin traktir pacar Luna, eh udah ketahuan." ujar Luna sambil terkekeh.


"Emang kamu punya pacar?"


"Is, emangnya Luna nggak laku apa? Punya donk, emang mas Lian aja yang punya." sahut Luna jengkel.


"Masih kecil aja udah pacar-pacaran."


"Eits, Luna ini udah 18 tahun lho, ya, malah bentar lagi 19 tahun, jadi bukan anak-anak lagi. Malah kalo nikah pasti udah punya anak. Mbak Anggi aja nikah umur 18 tahun." tukas Luna tak terima disebut masih kecil. "Udah ah, malas debat sama orang nyebelin." tambahnya lagi lalu dengan segera keluar dari ruangan Lian. Tapi belum 5 menit Luna keluar, Luna sudah muncul lagi dari balik pintu, "Hei orang nyebelin, PINnya apa nih? Percuma ngasi kartu kalo nggak ngasi nomor PINnya." tanya Luna dengan ekspresi jengah.

__ADS_1


Aglian terkekeh dengan tingkah adik angkat dari kakak kembarnya tersebut. "Kirain nggak perlu." cibirnya. "PINnya 050595. Ingat, kan?"


"Ah, gitu aja, gampang kok! Pasti itu tanggal lahir mbak Stefani ya!" goda Luna.


"Dari mana kamu tau?" tanya Aglian.


.


"Taulah, mas Lian kan kembaran Anggi, jadi tanggalnya pasti sama. Nah ini bukan tanggal lahir mbak Anggi, siapa lagi kalo bukan tanggal lahir mbak Stefani." ujar Luna.


"Sok tau kamu. Udah sana pergi, jaga anak-anak baik-baik." pesan Aglian sebelum Luna benar-benar menjauh dari pandangannya.


"Sayang." sapa Stefani saat masuk ke ruangan Aglian.


"Hai sayang. Ada apa?" tanya Aglian


"Tadi aku udah sampein sama pak Tanto pesanmu tadi agar Lea dan Adam ke mari sesudah jam makan siang.


"Oke, makasih ya , sayang." ujar Aglian dengan senyum lebarnya. "Eh tunggu sayang." panggil Aglian saat Stefani beranjak ingin keluar ruangan.


"Iya, sayang. Ada apa?" sahut Stefani sembari menoleh ke arah Aglian.


"Kamu sakit?" tanya Aglian.


"Nggak kok. Kenapa?"


"Tapi kamu pucat banget ,sayang. Kalau kamu sakit, kamu istirahat aja. Kan ada Robi juga yang bantuin aku di sini." ujar Aglian seraya beranjak dari kursi kebesarannya dan berdiri di hadapan Stefani.


"Aku nggak apa-apa, kok. Cuma lagi kecapekan aja." sahut Stefani dengan tersenyum.


"Ya udah, kalau kamu capek kamu istirahat aja di ruanganku, sayang. Aku nggak mau kamu sampai sakit. Kerjaan di sini masih bisa aku handle sendiri kok. Paling minta bantu Robi sedikit."


"Ya udah, aku pulang aja ya kalau gitu! Aku nggak enak kalau tidur di ruangan kamu. Ntar orang mikirnya macem-macem lagi." tolak Stefani halus.


"Ya udah, aku minta pak Anwar anterin kamu, ya!" ujar Aglian seraya mengusap puncak kepala Stefani.


Stefani tersenyum. "Makasih ya, sayang. Aku pulang dulu. Bye."


"Bye. Hati-hati di jalan." ujar Aglian sebelum Stefani benar-benar pergi. 'Kenapa akhir-akhir ini wajah Stefani sering terlihat pucat, ya?' gumam Aglian dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2