
Tok tok tok ...
"Siapa sih? Gangguin gue tidur aja." gerutu Jelita tetapi ia tetap beranjak dari tempat tidurnya untuk melihat siapa yang hendak menemuinya.
Ceklek ...
Tiba-tiba tenggorokan Jelita terasa tercekat saat melihat siapa yang berdiri menjulang tinggi di hadapannya.
"E ... loe, ngapain ke sini? Sana! Gue mau tidur." usir Jelita kesal saat melihat sosok cinta bertepuk sebelah tangannya.
Jelita lantas segera hendak menutup pintu kamarnya, tetapi kaki sosok itu lebih dahulu menghalangi, lalu dengan sekali sentak pintu itu terbuka dan sosok itu pun menerobos masuk.
"Loe !!!" decak Jelita kesal. "Keluar sana! Ngapain lagi loe ke sini, loe kan udah punya Luna, ngapain masih gangguin gue?" bentuk Jelita pada Kentaro.
"Oh, jadi loe udah tau! Ck ... nggak usah sok jual mahal deh, Je! Bukannya elo yang selalu mepet gue. Giliran gue yang datangin loe, malah sok jual mahal." ujar Kentaro seraya menghempaskan punggungnya di tempat Jelita.
"Gue udah nggak suka loe lagi. Bukannya sekarang loe udah dikasi kesempatan sama Luna, cari dia aja sana, jangan gue. Gue udah nggak tertarik lagi sama loe." ketus Jelita sambil berdiri dengan kedua tangan bersedekap di depan dada.
Kentaro tersenyum miring, meremehkan. Lalu ia berdiri mendekati Jelita. Jelita yang gugup sontak mundur ke belakang. "Bener loe udah nggak tertarik lagi sama gue?" bisik Kentaro tepat di depan telinga Jelita membuat Jelita merinding seketika.
"Ma ... mau ngapain, loe?" tanya Jelita gugup.
"Seperti biasa." ucapnya lirih seraya menempelkan benda kenyalnya di leher Jelita meninggalkan jejak basah di sana. Tangannya pun sudah bergerak liar kesana kemari menjelajahi tempat-tempat favoritnya.
__ADS_1
"Please Ken, jangan lagi! Gue udah nggak mau lagi. Gue takut loe kebablasan." mohon Jelita lirih.
"Memang kenapa kalau gue kebablasan? Bukannya loe suka gue, Je? Kalau loe emang suka, seharusnya loe dengan senang hati nyerahin harta berharga loe itu buat gue. Harusnya loe merasa istimewa karena loe jadi yang pertama. Gue juga belum pernah ngelakuinnya. Jadi apa salahnya?" sambung Kentaro lagi seraya menarik baju atasan Jelita ke atas hingga keluar dari kepala, lalu ia lemparkan sembarangan.
"Please jangan Ken, gue nggak mau. Kita belum nikah. Gue belum siap. Gue masih takut dosa. Gue juga takut hamil." sahut Jelita.
Kentaro melepaskan cumbuannya pada sekitar leher Jelita. Lalu mereka saling berhadapan. Dapat Jelita lihat, mata Kentaro sudah berkabut gairah. Kentaro memasang wajah memelas , tapi Jelita menggeleng keras saat paham apa yang Kentaro pinta.
"Oke, kalau loe nggak mau making love, kayak biasa aja, make out. Gue butuh pelep*s*n, Je. Hanya loe yang bisa bantu gue." Jelita tetap menggeleng. Namun, Kentaro yang sudah berkabut g*irah tak menerima penolakan.
Kentaro segera mengangkat tubuh Jelita ke arah sofa. Lalu ia duduk dengan Jelita di pangkuannya. Bibirnya pun segera menyergap bibir Jelita dengan rakusnya. Tangannya pun sibuk bergerilya memainkan aset berharga milik Jelita. Seperti biasa, Jelita selalu ia manfaatkan untuk meraih kepuasan dan pelepasan. Walau hanya sekedar make out, tapi hal itu tetap membuat Jelita tersiksa sebab ia hanya dimanfaatkan tanpa ada kejelasan status. Ia hanya dianggap sebagai friend with benefit.
"Please Ken, jangan kayak gini lagi! Udah cukup gue loe manfaatin. Mulai sekarang dan seterusnya, gue nggak mau lagi kayak gini. Gue udah nyerah dapetin hati loe. Loe sekarang udah punya Luna. Seharusnya loe temuin dia kalo butuh tempat pelampiasan, bukan gue " ujar Jelita lirih setelah kegiatan panas mereka. Kini Jelita sedang berbaring memunggungi Kentaro.
"Luna bukan cewek kayak gitu, jadi gue nggak mungkin macem-macem sama dia." jawab Kentaro santai.
"Gue nggak bilang gitu. Loe sendiri yang bilang kayak gitu." kilah Kentaro.
"Tapi cara bicara loe sama aja bilang gue ini cewek murahan karena dengan mudah bisa loe sentuh. Pokoknya mulai sekarang jangan temuin gue lagi kecuali untuk urusan kerja." bentak Jelita seraya berdiri meninggalkan Kentaro yang masih berbaring di ranjang. Jelita yang sudah masuk ke kamar mandi langsung meringkuk di lantai sambil menangis. Menyesali apa yang sudah ia lakukan selama ini dengan Kentaro. Awalnya ia pikir dengan cara itu ia bisa mendapatkan hati Kentaro, tapi nyatanya tidak. Untung saja ia belum memberikan mahkotanya. Bila sudah, pasti hidupnya akan lebih hancur karena cinta yang bertepuk sebelah tangan lalu kehilangan sesuatu yang paling berharga bagi wanita.
...
"Hoaaam ... jam berapa nih?" gumam Luna saat ia baru saja membuka matanya. Segera ia meraih ponselnya di atas nakas untuk melihat jam berapa saat itu. "Mampus, kesiangan. Untung lagi dapet, jadi nggak masalah. Hehehe ... Hari ini juga kan nggak ada jadwal pemotretan. Ah bisa lanjut tidur lagi dong." gumamnya. Tanpa ia sadari, Aglian sebenarnya sudah bangun dari tadi dan memperhatikan tingkah Luna yang mengoceh sendiri itu. Namun, ia masih pura-pura tidur. Sepertinya Luna lupa kalau ia tidak sedang tidur sendiri di kamar itu.
__ADS_1
Merasa tak mengantuk lagi, Luna segera berdiri dan melakukan peregangan otot. Namun saat ia membalikkan badan , ia langsung terlonjak kaget saat melihat ada orang lain yang tidur di sofa .
"Astaga, gimana gue bisa lupa kalo ada Mas Lian yang tidur di sini. Untung aja dia masih tidur." gumamnya pelan. Lalu Luna perlahan mendekati Aglian yang sedang tidur, membuatnya tanpa sadar tersenyum. "Nih orang pas lahir dipakein formalin kali ya, cakepnya awet banget. Meski lagi tidur, tetap keliatan cakep." gumam Luna lagi sambil terkekeh geli. Namun ia segera menutup mulutnya, takut Aglian mendengar apa yang ia ucapkan. Lalu Luna pun perlahan berlalu menuju kamar mandi. Sesaat setelah Luna masuk kamar mandi, Aglian pun membuka matanya dan tersenyum.
...
Aglian dan Luna kini telah berada bandar udara Internasional Ngurah Rai. Setelah melalui drama paksa memaksa, akhirnya Luna mau diajak pulang lebih dahulu dengan Aglian. Kentaro mendengus kesal lantaran waktunya berduaan dengan Luna jadi berkurang. Berbeda dengan para model dan tim , mereka justru iri melihat kedekatan Luna dengan Aglian bahkan ia pulangnya naik jet pribadi milik CEO Angkasa Grup itu.
'Mentang-mentang orang kaya jadi seenaknya maksa orang pulang ikut dia.' batin Kentaro.
"Tuan, tuan Steven sudah mengabari kalau dia bersedia mengikuti test sumsum tulang belakang berikut anaknya." lapor Robi.
"Baguslah. Suruh orang kita menjemput mereka. Perlakukan mereka dengan baik." ujar Aglian senang.
"Tapi mereka ada syarat tuan. Lebih tepatnya Ny. Melani yang memiliki syarat."
"Apa syaratnya?"
"Bila ternyata salah satu dari mereka cocok, ia meminta tambahan uang 2 x lipat."
Aglian tersenyum sinis.
"Katakan pada mereka, bila memang salah satu dari mereka cocok, aku akan memberikan uang tambahan 3x lipat." ucap Aglian setelah ia memasuki jet pribadinya.
__ADS_1
Luna yang mendengar pembicaraan antara Aglian dan Robi jadi ikut penasaran.
'Test sumsum tulang belakang? Untuk apa? Biasanya kan itu ada hubungannya dengan penyakit leukemia. Tapi, siapa yang terkena leukimia?' batin Luna. Ia khawatir anggota keluarganya lah yang menderita leukimia. 'Semoga semua baik-baik saja.'