Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.133 (S2) Lamaran secara tidak langsung


__ADS_3

Dengan tergesa-gesa, Steven mengikuti langkah dr. Alan menyusuri koridor lantai 2 rumah sakit menuju ruang perawatan Melani. Perasaan was-was sudah menggelayuti pikirannya. Berbagai praduga tak dapat terelakkan apalagi saat dr. Alan mengatakan istrinya sedang dirawat karena menjadi korban perampokan. Entah bagaimana kronologisnya, Steven belum tahu.


Dr. Alan dan Steven sudah hampir mendekati ruang perawatan Melani. Dari jauh, tampak beberapa polisi berdiri di depan sebuah ruangan yang mereka yakini adalah ruang perawatan Melani.


"Selamat malam, pak. Apakah benar ini ruang perawatan atas nama Melani?" tanya dr. Alan dalam bahasa Inggris.


"Benar tuan, kalau boleh tau Anda siapa?" tanya polisi itu. "Apa Anda keluarga Ny. Melani?" lanjutnya.


"Oh, perkenalkan nama saya dr. Alan. Saya hanya kenalannya saja, tetapi tuan ini adalah suaminya." Tunjuk dr. Alan pada Steven yang berdiri di sampingnya. "Namanya tuan Steven."


"Baiklah, kalau begitu kalian bisa ikut kami untuk mendapatkan keterangan kronologis kejadiannya sekaligus memberikan informasi tentang identitas lengkap korban." ujar polisi itu .


Lalu dr. Alan dan Steven mengikuti polisi itu untuk memperoleh keterangan.


Menurut polisi tersebut, Melani telah masuk ke sebuah taksi dari rumah sakit menuju money changer untuk menukarkan mata uang rupiah ke dollar Singapura, lalu setelahnya ia kembali menaiki taksi menuju Mall XX. Melani sempat membeli beberapa barang seperti tas, pakaian, dan perhiasan.


Namun, sekembalinya Melani dari Mall XX menuju rumah sakit, taksi yang ia tumpangi dihadang oleh gerombolan perampok. Sepertinya Melani sudah diincar sejak awal. Melani berusaha mempertahankan barang-barangnya, namun para perampok yang membawa senjata tajam malah melukainya. Luka yang diderita Melani cukup parah, ia mendapatkan beberapa goresan di wajah dan sebuah tusukan di perut.


Steven hanya bisa menghela nafas panjang. Mungkin itu teguran dari yang kuasa karena tak mau mendengarkan nasehat sang suami yang melarangnya bepergian.


Selesai berbicara dengan polisi, Steven ditemani dr. Alan melihat keadaan Melani. Melani yang melihat suaminya masuk ke ruangannya, sontak menangis kencang.


"Mas ... hiks hiks hiks ... " Melani menangis kencang. Wajahnya yang ditutupi kain kasa tak menghalanginya untuk menangis.


"Sudah, jangan menangis, yang penting kamu sudah aman sekarang." Steven mencoba menenangkan.


"Nggak, gimana aku nggak nangis, baju aku, tas aku, perhiasan aku, ponsel aku, dan uangku semua habis diambil perampok itu tak bersisa." bentak Melani membuat Steven yang awalnya iba justru jadi jengah.


"Ya, di otakmu ini memang hanya ada harta saja, bukannya bersyukur bisa selamat malah teriak-teriak. Kalau kamu punya otak sedikit saja, Mas kan udah bilang, kita ini sedang di negara orang jadi jangan seenaknya. Tapi kamu apa, malah keluyuran nggak jelas. Kalau kamu masih keras kepala seperti ini, mending setelah sembuh, kamu kembali saja ke Surabaya. Di sini juga kamu nggak berguna sama sekali, yang ada cuma ngerepotin." sergah Steven membuat Melani yang awalnya menangis menjadi terdiam. Bagaimanapun ia belum mau kembali, apalagi barang-barang berharganya telah habis diambil perampok. Apalagi ia akan merasa sangat malu dengan luka di wajahnya itu. Ia berharap, ia bisa mendapatkan pengobatan di sini sampai bekas lukanya menghilang.


Otaknya mulai berputar, memikirkan bagaimana caranya untuk bisa meminta pengobatan dari Aglian, sedangkan Aglian saja tinggal di Jakarta.


'Ah, aku akan mengirimkan pesan melalui ponsel Stefani.' seringai Melani licik .


***


Luna kini sedang berada di kamar tamu rumah Anggi. Ia masih terbayang-bayang apa yang baru saja dialaminya beberapa jam yang lalu. Ia sungguh tak menyangka, Aglian akan menyatakan cinta padanya. Ia pikir, Aglian hanya sekedar modus tanpa alasan saja, tapi ternyata apa yang ia lakukan karena ia mencintainya.

__ADS_1


Yang membuatnya makin malu adalah bisa-bisanya ia menikmati ciuman yang diberikan Aglian. Ciuman itu sangat menyenangkan. Seakan ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Bahkan ia bisa-bisanya merasakan kenyamanan dalam dekapan tubuh itu. Apa yang Aglian katakan kalau tubuhnya itu pelukable memanglah benar. Luna pikir itu hanya ucapan untuk membanggakan dirinya sendiri, tapi ternyata itu nyata, dada Aglian yang bidang dan hangat, mampu memberi kenyamanan tiada tara.


Ia masih ingat dengan jelas saat lelaki itu mengutarakan isi hatinya. Otaknya seakan tak mau beranjak dari kejadian beberapa saat yang lalu.


"Na ... terima kasih." bisik Aglian , tapi Luna hanya membisu , bukan karena marah, tapi karena terlampau malu. "Na ..." bisiknya lagi, lalu Aglian mengangkat dagu Luna agar mata mereka saling beradu, "I Love you." ucapnya pelan tepat di depan wajah Luna lalu Aglian mulai menyatukan bibir mereka kembali.


Selesai melakukan cumbuan itu, Luna hanya bisa menundukkan wajahnya tanpa mengeluarkan satu patah katapun.


"Na ..." panggil Aglian dengan posisi masih merangkul pinggang dan bahunya.


"Ya, Mas ." sahut Luna malu-malu.


"Kok nggak jawab?"


Luna mengangkat kepalanya dan menatap tepat di manik Aglian. Ia mengerutkan dahi.


"Jawab apa? Emang Mas tadi nanya apaan?" tanya Luna polos.


Aglian menghela nafas, "Mas tadi bilang apa?"


"Yang mana?"


Luna tampak mengingat-ingat, "I love you ." ucapnya.


"I love you, too. Cup." ucapnya lalu ia menyapukan kecupan singkat ke bibir Luna.


Luna mendelik, bisa-bisanya lelaki itu menciumnya berulang kali tanpa aba-aba lagi.


"Mas ..." pekik Luna seraya melepaskan pukulan ke dada bidang Aglian.


Aglian hanya terkekeh saat menerima pukulan dari Luna.


"Jadi gimana?" tanya Aglian lagi.


Luna paham apa yang dimaksud oleh Aglian. Ia tampak berpikir sejenak lalu ia mengutarakan apa yang ada di benaknya saat ini.


"Maaf Mas, untuk saat ini Luna belum bisa kasi jawaban." ujar Luna. Ia menghela nafas sejenak lalu melanjutkan ucapannya. "Luna belum tau perasaan Luna itu kayak gimana. Jujur, Luna nyaman banget saat bersama Mas , tapi nyaman belum tentu cinta kan. Karena itu, mohon kasi Luna waktu sebentar ya untuk memikirkan semuanya." mohon Luna dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Tapi itu alasannya bukan karena si kentang goreng itu kan?" tanya Aglian sinis. Setiap mengingat kedekatan Luna dengan Kentaro , darahnya mendadak mendidih.


"Kenapa ? Emang apa hubungannya dengan kentang?" tanya Luna dengan alis yang menyatu.


"Bukankah dia juga lagi PDKT sama kamu?" Aglian memicingkan matanya. Sorot matanya yang tajam seakan ingin menghujam Luna di tempat.


"Ba ... bagaimana, Mas tau? Atau jangan-jangan yang Luna pikir selama ini benar, Mas nguntit Luna ya?" tanya Luna penuh selidik. Bahkan matanya sudah memicing menuntut penjelasan.


"Mas nggak nguntit kok. Mas hanya ingin melindungi kamu jadi Mas mengutus beberapa orang untuk mengawasi kamu dimanapun kamu berada." jelas Aglian.


Luna membulatkan matanya, ia sungguh tak menyangka Aglian dapat berbuat sampai sejauh itu.


"Mas serius? Jadi sewaktu di Bali juga Mas bisa tiba-tiba muncul karena laporan orang-orang Mas Lian?"


"Hhmmm ... ya begitulah. Mas nggak rela kalau kamu jatuh ke pelukan orang lain." jawab Aglian santai. Saat ini mereka sudah di dalam perjalanan menuju rumah Anggi.


"Ck ... mentang orang kaya, jadi bisa berbuat semaunya, hm!" Luna mendelik.


"Itu namanya bukan berbuat semaunya tapi perjuangan karena Mas sedang memperjuangkan cintanya Mas."


"Emang sejak kapan Mas mulai mencintai Luna?"


"Mungkin ... sejak awal perjumpaan kita." jawab Aglian santai.


Luna lagi-lagi membelalakkan matanya karena tak percaya dengan apa yang yang dikatakan Aglian.


"Duh, jadi Luna jadi orang ketiga dong?" Muka Luna cemberut saat menyadari ia telah menjadi yang ketiga tanpa ia sadari.


"Kamu nggak pernah jadi orang ketiga, Na. Justru kamu jadi cinta pertama, Mas. Mas bersyukur, Stefani menyadari terlebih dahulu tentang perasaan kami, kalau nggak mungkin selamanya Mas nggak akan sadar kalau Mas udah jatuh cinta sama kamu." jelas Aglian seraya mengusap pucuk kepala Luna lembut. "Kamu jangan lama-lama kasi jawabannya ya, Na. Kalau perlu, Mas mau mempersunting kamu jadi pendamping Mas segera. Supaya kita bisa melakukan semuanya secara halal tanpa takut dosa. Pacaran setelah menikah pasti bakal lebih menyenangkan, Na." ucap Aglian dengan mata berbinar sambil mengecup tangan Luna yang sudah ia genggam.


Deg


Deg


Deg


Jantung Luna sontak bergemuruh. Wajahnya pun sudah merona. Ia sudah tak mampu berkata-kata. 'Kata-kata itu ... apa itu lamaran secara tidak langsung?' gumam Luna dalam hati.

__ADS_1


...


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2