
Seperti biasa, setiap ia tidak ada tugas malam, Azam selalu memanfaatkan waktu senggangnya untuk sekedar berbincang membahas berbagai macam hal dengan mamanya. Ia tahu, mamanya kesepian, tapi ia tentu tak dapat mengabaikan tugasnya. Ini pilihannya jadi ia harus bertanggung jawab atas semua konsekuensinya. Termasuk minimnya quality time bersama sang mama.
Kadang ia berharap segera menemukan jodoh dan memiliki anak agar bisa menemani sang mama. Namun sayang, hingga usia kepala 3 ini, Azam belum juga menemukan yang mampu menggetarkan hatinya. Pun dengan Anggi, walau ia sempat langsung menyukainya saat pertama kali melihatnya, tapi tetap tak menggetarkan hatinya.
Lalu bagaimana dengan Jelita?
Apakah ia menerima permintaan mamanya?
Maka jawabannya adalah tidak.
Sebab ia menyadari, pernikahan itu harus dilandasi rasa cinta, walaupun hanya sedikit, minimal ada. Sedangkan dengan Jelita, ia tak memiliki rasa itu walau hanya sedikit. Ia memang iba akan nasibnya tapi ia tak bisa menjadikan rasa iba untuk membangun rumah tangga. Selain itu, Azam sudah menganggap Jelita seperti adik sendiri. Mana ada kakak yang menikahi adiknya sendiri.
Perihal ucapannya tempo hari di hadapan Kentaro, itu hanyalah sebuah gertakan atau bahasa gaulnya prank yang sudah ia rencanakan sebelumnya dengan ibunya.
Kok bisa?
Tentu bisa, sebab Azam telah menyadari terlebih dahulu siapa yang Jelita cintai, bisa jadi juga adiknya juga adalah penabur benih yang mengakibatkan Jelita hamil.
Sejak kapan Azam menyadarinya?
Azam menyadarinya saat ia mengantar Jelita ke toko bunga. Saat itu, Azam sempat melirik Jelita yang membuka galeri foto di ponselnya. Azam sontak membelalakkan matanya saat melihat raut sendu Jelita dengan ibu jari mengusap foto seorang pemuda yang merupakan adiknya sendiri.
Oleh sebab itu, saat Ratna memintanya menikahi Jelita, ia langsung menolaknya. Ia juga menjelaskan alasannya. Tentu saja Ratna sangat shock atas penjelasan Azam. Ratna awalnya ragu, hingga ia menciptakan konspirasi guna mengorek informasi dan membuktikan dugaan Azam, hingga akhirnya kenyataan sebenarnya pun terkuak.
Kecewa?
__ADS_1
Sudah pasti sebagai seorang ibu, Ratna sangat kecewa dengan perbuatan anaknya. Apalagi ia mengetahui bagaimana kehidupan Jelita setelahnya. Karena itu, mulai hari ini, ia akan melimpahkan kasih sayang untuk gadis yang tengah mengandung cucunya tersebut. Namun ia belum ingin mengungkapkan tentang Kentaro. Ia tak mau, Jelita tiba-tiba menghilang. Setidaknya, ia harus mengikat hati Jelita agar tak mampu menjauh dari dirinya.
...***...
Di balik jeruji besi, terdapat seorang pemuda yang terkulai lemah , bukan hanya karena luka di tubuhnya tapi karena kenyataan gadis yang pernah dinodainya tengah mengandung anaknya. Dan hal yang makin membuatnya merasa tak berdaya adalah pernyataan sang kakak yang mengatakan akan menikahi gadis itu. Ia tak menyangka pernyataan itu mampu membuat hati dan pikirannya tidak tenang. Bukankah artinya bila kakaknya menikahi Jelita bukan hanya Jelita yang jadi milik kakaknya tetapi juga anaknya. Entah mengapa hati kecilnya merasa tak rela.
"Akh ... ssst ..." Kentaro meringis saat ingin mengubah posisinya yang telentang menjadi menyamping.
"Jelita hamil anakku. Darah dagingku. Bagaimana kalau Abang selamanya tak mengizinkan aku bertemu dengan Jelita dan anakku? Bagaimana kalau anakku membenci ku karena telah menyakiti mamanya?" Kentaro gusar sendiri. Bahkan ia sampai menjambak rambutnya sendiri.
"Je ... " lirih Kentaro.
"Je, aku akan jadi seorang ayah. Kita akan menjadi orang tua. Kita ... Apakah mungkin aku dan kamu bisa menjadi kita? Apakah aku akan menjadi seperti tokoh yang ada di novel-novel, 'Anakku keponakanku'?
Teng teng teng ...
Tampak seorang sipir mengantarkan makan malam untuk Kentaro. Kentaro pun cepat-cepat mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Ini makan malam mu. Cepat makan!" titah sipir yang bertugas malam itu.
Dipandanginya menu makan malam yang disodorkan sipir penjara itu.
Nasi putih yang disiram sayur sup dan seiris tempe. Kentaro tertawa miris. Ia yang biasanya menyantap makanan enak-enak, kini harus memakan menu pucat nan hambar itu. Tapi ia butuh tenaga untuk menyambut hari esok. Akhirnya, ia pun menyantap makanan itu walau tanpa minat. Lagi pula ini konsekuensi perbuatannya. Ia harusnya berterima kasih, Luna tak membencinya. Kini, ia tinggal berusaha bagaimana caranya untuk meminta maaf pada Jelita. Ia berharap, Jelita mau memaafkannya. Ia berharap Jelita tidak membencinya. Ia berharap, diberikan kesempatan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Je ..."
__ADS_1
"Kenta ..." pekik Jelita terbangun dari tidurnya.
"Hufth, kenapa aku mimpiin Kenta, ya? Apa yang terjadi pada Kenta? Semoga tidak terjadi apa-apa pada Kenta. Ken ... aku merindukanmu." lirih Jelita saat terbangun dari mimpi buruknya. Dipandanginya perut yang kini tengah bersemayam buah hatinya tersebut, "Nak, kamu merindukan ayahmu juga kah? Sama, bunda juga." lirihnya sambil mengusap perutnya yang masih rata. Tak lama kemudian, terdengar suara isakan. Isakan kepedihan. Isakan kerinduan. Kerinduan pada sosok yang selalu menguasai relung hatinya. Ayah dari calon anaknya.
...***...
Siang ini Diwangga memasuki lantai tertinggi gedung Angkasa Grup. Ia telah membuat janji dengan Aglian untuk membahas perihal yang baru saja diberitahukan Mahesa Pramudya semalam. Aglian cukup terkejut mendapati informasi itu terutama perihal peristiwa masa lalu yang menimpa istri dan orangtuanya.
"Kurang ajar." umpat Aglian kesal. "Berarti aku harus menambah pengawalnya. Aku memang sempat bingung saat mendapat surat kaleng dari seseorang yang tak kukenal perihal perketat penjagaan Luna, tapi aku tak menyangka masalahnya seberbahaya itu." ungkap Aglian dengan rahang mengeras.
"Jadi, apa kamu akan memberi tahu Luna tentang keluarganya?" tanya Diwangga seraya menyesap kopi hitam miliknya.
Aglian tampak berpikir kemudian menggeleng.
"Sepertinya nanti saja, bang. Aku takut dia shock. Apalagi ia belum benar-benar pulih pasca trauma percobaan pemerkosaan." ujar Aglian. Ia khawatir, bila ia beritahu sekarang, Luna bukan hanya shock tapi trauma dan dihantui rasa ketakutan.
"Kamu benar, bukan bermaksud merahasiakan. Tapi ini memang yang terbaik." timpal Diwangga.
"Andai orang itu menemuiku untuk menyerahkan harta yang tak seberapa itu, aku lebih memilih merelakannya. Dari pada hanya karena harta dan kekuasaan yang tak seberapa itu malah membuat istriku celaka. Aku tak mempedulikan perusahaannya, aku yakin Luna pun begitu walaupun itu milik orang tuanya. Bagaimana pun, nyawa nggak ada serep nya, ya nggak bang!" tukas Aglian.
"Hmmm ... kamu betul. Tapi sayang, banyak orang yang lebih mementingkan harta padahal kalau mati, harta kita nggak akan bisa kita bawa." pungkas Diwangga.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1