Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.158 (S2) Peringatan Kecil


__ADS_3

Di sebuah gedung yang masih kalah dari gedung Angkasa Grup, Derian tampak gelisah saat membaca satu per satu berkas yang disodorkan asisten pribadinya. Kini ia tengah membaca informasi yang ia dapatkan tentang Luna. Matanya membelalak tak percaya bila gadis yang ia cari-cari ternyata telah menjadi menantu pemilik Angkasa Grup. Derian tampak frustasi, ia mengusap wajahnya kasar.


"Ini masalah besar. Aku harus berhati-hati bila ingin menyingkirkannya. Aku tak mau mengambil risiko." gumamnya. Lalu ia memerintahkan asisten pribadinya untuk memberitahukan pada anak buahnya yang bertugas mengawasi Luna agar lebih berhati-hati.


"Beritahu orang-orang kita untuk berhati-hati. Suaminya itu bukan orang sembarangan. Terus awasi dan cari kesempatan untuk melenyapkannya." titah Derian melalui asisten pribadinya.


"Baik, tuan." ucapnya patuh lalu beranjak dari sana.


Baru satu jam asisten pribadi Derian keluar, ia sudah masuk lagi dengan nafas tersengal dan wajah pias, membuat Derian mengernyitkan dahinya penasaran.


"Tuan ... " ucapnya terjeda.


"Ada apa? Mengapa kau tampak panik?" tanya Derian penasaran.


"Ada yang membobol data kita, tuan. Proyek terbaru kita telah bocor dan datanya disebar ke perusahaan pesaing." jelasnya dengan nafas terengah.


Bruak ...


"Kurang ajar! Siapa yang sudah berani-beraninya membobol data perusahaan kita. Sialan! Panggil tim IT untuk segera menghandle masalah ini. Buat perlindungan data berlapis agar susah ditembus pihak lawan lalu segera cari tau siapa yang berani bermain-main dengan kita!" titahnya tegas .


"Baik tuan."


Baru saja asisten pribadi Derian yang bernama Riko itu hendak keluar sambil mengotak-atik iPad di tangannya, ia sudah berbalik arah kembali menghadap Derian.


"Tuan, proyek di pulau X diboikot penduduk setempat. Mereka tidak menyetujui bila lahan mereka dialihfungsikan sebagai daerah pertambangan." ujarnya lagi seraya menunjukkan Ipad-nya pada Derian.


Belum sempat Derian menyahut apalagi memikirkan masalah itu, lagi-lagi Riko memberitahu bahwa harga saham mereka turun drastis. Akibatnya, ada beberapa pemegang saham yang menjual sahamnya karena takut terkena dampaknya yang membuat mereka merugi.


"Aarkh ... sialan! Siapa brengsek yang jadi dalang semua masalah ini. Aku tidak pernah menyinggung secara langsung para sainganku. Aku yakin, semua masalah beruntun ini ada dalangnya. Tapi siapa orang berkuasa yang mampu melakukan semua hal itu?" Derian meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu tangan kanannya ia gunakan untuk memijit pelipisnya yang mulai pening karena hantaman masalah yang datang bertubi-tubi.


Pikirannya bukan hanya kacau, tapi juga buntu. Ia tak dapat menangkap siapa dalang dari semua itu.


Matanya kembali menatap layar komputernya yang menunjukkan fluktuasi harga saham perusahaannya yang telah turun 15%. 15% memang angka yang kecil tetapi dalam hal perdagangan pengaruhnya sangatlah besar karena itu bisa mempengaruhi kestabilan keuangan perusahaan. Bila salah langkah sedikit saja bisa mengakibatkan kebangkrutan.

__ADS_1


"Sialan .. brengsek ... kurang ajar ..." umpatnya bertubi-tubi. Derian bahkan sampai melemparkan beberapa barang yang ada di ruangannya untuk melampiaskan kekesalannya.


Amarah Derian pun makin menjadi-jadi saat Robi lagi-lagi masuk ke ruangannya dan mengatakan ada investor yang mencabut investasinya. Wajah Derian sudah benar-benar memerah sekarang. Bila ia adalah sebuah gunung berapi, pasti lahar panas sudah menyembur hingga berhamburan kemana-mana.


Sedangkan di perusahaan lain, tepatnya perusahaan Angkasa Grup, tampak sang petinggi perusahaan duduk menghadap layar komputernya sambil menyeringai. Bahkan Robi yang berdiri di hadapannya saja merasa ngeri. Aglian jarang marah. Tapi bila ada yang menyenggol egonya sedikit saja apalagi yang berhubungan dengan keluarganya, ia akan berubah menjadi kejam.


Sedikit banyak ia sudah tau apa yang dilakukan atasannya tersebut. Tentu semua ada alasannya. Karena itu, bagi yang sudah mengenal siapa itu Aglian dan bagaimana sifatnya, pasti takkan berani berbuat macam-macam.


"Ini baru peringatan kecil bagiku. Hanya sebuah goncangan kecil. Tapi bila kau masih berbuat macam-macam apalagi sampai hendak mencelakakan istriku kembali, aku akan membuat goncangan yang lebih besar lagi." geram Aglian saat mengingat istrinya hampir saja celaka karena anak buah Derian yang hendak menyerempet mobil yang di dinaiki Luna. Beruntung sekarang Reno yang ia tugas kan menjadi sopir pribadi istri kecilnya itu. Bila tidak, mungkin istrinya sudah celaka.


Flashback on


Luna baru saja keluar dari Angkasa Mall. Ia sudah membuat janji akan makan siang bersama dengan Aglian di restoran tempat Aglian mengadakan meeting.


Namun saat di perjalanan, ada sebuah mobil Jeep hitam yang mengikutinya. Semakin cepat mobil yang dikendarai Reno itu melaju, semakin cepat pula mobil Jeep itu mengejarnya. Lalu Reno sengaja memperlambat laju mobilnya, hingga mobilnya sudah sejajar dengan mobil Jeep itu, namun hal tak terduga dilakukan pengemudi mobil Jeep hitam itu. Ia hendak menabrakkan mobilnya ke mobil Maserati milik Luna. Reno yang dengan cepat memahami apa yang akan dilakukan mobil Jeep hitam itu, dalam hitungan detik menaikkan laju mobilnya lebih dari 200km/jam membuat mobil Jeep hitam itu kehilangan kendali sehingga bukannya mobil Maserati Luna yang tertabrak, tapi pembatas jalan hingga bagian sisi mobil Jeep hitam itupun rusak parah. Dapat Reno pastikan, sopirnya pasti terluka parah.


Reno menghentikan mobilnya di tempat yang cukup jauh dari lokasi kecelakaan tadi. Lalu ia menoleh ke belakang menghadap Luna yang wajahnya sudah tampak pias.


"Nona, kamu tidak apa-apa?" tanya Reno saat melihat keringat sebesar biji jagung mengalir di pelipisnya.


"Maaf nona, saya juga tidak tahu. Kalau nona tidak kenapa-kenapa, saya akan segera mengantarkan Anda ke tempat tuan Aglian." kilah Reno, Luna mengangguk sebagai jawaban. Reno sebenarnya sudah tau siapa pengendara kurang ajar yang hendak mencelakakan istri atasannya itu. Tapi ia sudah dipesankan agar tidak membuka mulut dan tetap merahasiakannya. Lalu Reno pun kembali melajukan mobil Maserati itu menuju restoran tempat dimana atasannya yang telah menunggu kedatangan istrinya itu.


Flashback off


...***...


Hari sudah cukup malam. Erika baru bisa pulang ke rumah setelah jarum jam menunjukkan hampir pukul 11 malam. Semua itu terjadi karena hujan deras yang mengguyur kota itu dari sore hari. Beruntung hujan berhenti walau hari sudah cukup larut.


Dipandanginya cuaca sudah cukup bagus walau terasa dingin menyengat. Ia segera meraih jaket kulit berwarna hitam miliknya dan memakainya. Setelah itu, ia pun keluar dari ruangannya sambil menenteng helm full face miliknya.


Setelah di tempat parkir, Erika segera menduduki motornya dan memasukkan kunci di tempatnya setelah itu ia menyalakan motornya dan melajukannya dengan kencang.


Namun, baru setengah perjalanan ia lalui, dari kejauhan ia melihat sebuah mobil yang sangat familiar di matanya sedang menepi di tempat yang cukup sepi. Ia pun segera memacu motornya mendekati mobil itu. Setibanya di sana, ia segera turun dan membuka helmnya. Semua tindakannya, itu tak luput dari pandangan sang pemilik mobil.

__ADS_1


"Erika ..." ucap pemilik mobil hitam itu.


"Hai, Zam! Kenapa kamu di sini? Sendirian?" tanya Erika sambil celingak celinguk melihat ke dalam mobil Azam.


"Mobilku mogok. 2 bulan ini aku belum service. " ujar Azam sambil menggaruk kepalanya. "Yah, aku sendirian. Memangnya sama siapa lagi?" tanyanya sambil memicingkan mata.


"Ku kira kamu sedang bersama calon istrimu yang waktu itu ." ujarnya santai seraya melirik ingin melihat ekspresi Azam.


"Calon istri? Yang mana?" tanya Azam bingung.


"Gadis muda tempo hari. Masih pura-pura bodoh." Erika mendelik.


Azam tersenyum kecil saat menyadari siapa yang dimaksud Erika. Erika terpana saat tanpa sengaja melihat seulas senyum itu.


'Sebegitu besarkah rasa cintamu padanya sampai saat aku menyebut calon istrinya kau langsung tersenyum. Sedangkan dengan orang lain, kau sangat pelit tersenyum.' Erika mendengus dalam hati.


"Oh, gadis muda itu! Ya, dia calon istriku, kenapa? Kenapa kalau aku bersama dia?" tanya Azam penuh selidik.


"Tidak, aku tidak kenapa-kenapa. Hanya saja, bila kalian berdua berarti butuh taksi untuk mengantarkan, tapi kalau hanya sendiri, aku bisa mengantarkanmu." ucapnya santai, padahal dalam hati panas dingin.


"Oh, kamu mau mengantarku? Boleh juga, dari pada bermalam di sini. Di sini juga sepi, nggak ada kendaraan yang lewat." sahut Azam. Lalu ia mengunci mobilnya agar aman. Ia juga sudah mengirim pesan pada montir langganannya dan mengirim lokasi mobilnya.


Setelah, selesai mengunci mobilnya, Azam segera mendekati Erika dan mengambil helm yang ada di tangan Erika.


"Eh, helmku kok kamu yang pake sih, Zam?" tanya Erika.


"Aku nggak mau dibonceng, jadi kami yang duduk di belakangku." titahnya seraya menaiki motor Ducati Panigale V4 Erika.


Erika shock saat melihat Azam menaiki motornya dengan santai. Dengan terpaksa, ia duduk di belakang Azam. Motor itu memiliki jok yang sempit, akibatnya tubuh depannya menempel sempurna di punggung Azam membuat jantung 2 orang itu berdebar tidak karuan.


Erika awalnya tidak berani melingkarkan tangannya di perut Azam, tapi Azam justru menarik tangannya santai agar melingkari perutnya lalu ia melajukan motor sport itu dengan santai membelah jalanan malam yang dingin.


Malam yang dingin menjadi hangat karena tubuh mereka yang saling menempel erat. Wajah Erika memerah karena malu luar biasa. Untuk pertama kalinya ia bisa sedekat ini dengan lawan jenis dan untuk pertama kalinya pula ia dapat memeluk seorang pria yang pria itu tidak ketahui bahwa Erika sebenarnya menyukainya.

__ADS_1


...***...


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2