
Tak perlu menunggu esok hari, malam itu juga, setelah mendapat restu si Emak dan dukungan penuh dari Aglian dan Luna, Robi pun melakukan penerbangan menuju Australia menggunakan jet pribadi milik keluarga Angkasa.
Lama perjalanan dari Jakarta menuju Australia adalah 6 jam 50 menit. Selama waktu itu, Robi memanfaatkannya untuk beristirahat sejenak dan mengumpulkan tenaga guna menghadapi gadis pengusik hatinya itu. Tentu ia harus mengumpulkan tenaga ekstra sebab ia tidak tahu apa yang akan ia hadapi selama di sana. Penolakan atau pengusiran?
Belum apa-apa, nyali Robi seakan ciut duluan. Namun setelah ia mengingat betapa sang emak sangat menginginkan menantu dan betapa emak sangat menyukai sosok Safa, dan juga nasihat Aglian untuk berjuang mengejar cintanya, nyali yang sempat menciut kini kembali membara.
'Safa, tunggu kedatangan Abang! Abang akan segera menjemput untuk membawamu ke penghulu.'
Robi tiba di Sydney Kingsford Smith Airport saat matahari telah terbit. Setelah mengikuti berbagai prosedur, akhirnya Robi dapat menghirup udara pagi yang mulai menghangat dari luar bandara. Sesuai instruksi Aglian, di sana telah menunggu sopir pribadi yang siap mengantarkan Robi kemana pun. Mengabaikan rasa lelah di tubuhnya, Robi meminta sang sopir mengantarkan dirinya langsung ke rumah kakak Safa. Beruntung Aglian bila menolong tak pernah setengah jalan. Ia bukan hanya memberikan bantuan alat transportasi, tapi juga membocorkan alamat tempat tinggal Safa selama di sana.
Mobil yang ditumpangi Robi pun mulai membelah jalanan ibu Kota negeri Kangguru tersebut. Sejauh mata memandang, di sana sangatlah indah. Robi berdecak kagum, pantas saja Safa memilih tinggal di sana.
Dalam hati Robi pun mulai bertanya, apakah Safa akan menerima perasaannya? Bila ditolak bagaimana? Bila diterima tapi ia memintanya tinggal di sini bagaimana? Robi seketika bimbang. Dahinya berkerut dengan peluh membasahi pelipisnya dan tangan yang mulai terasa dingin, khawatir penolakan dari keluarga Safa.
Sejenak ia teringat pada si emak dan bos kesayangannya, ia ingat belum memberikan kabar bahwa ia telah sampai di negara tujuan. Ia pun segera mengirimkan pesan kepada kedua orang itu. Setelah selesai, ia kembali menutup ponselnya dan menyimpannya di saku jaketnya. Ya, bila biasanya Robi berpenampilan formal, namun kali ini Robi berpenampilan casual. Dengan kaos putih yang tampak ketat di dada bidangnya, celana jeans berwarna hitam, dan jaket kulit hitam, membuat penampilannya tampak jauh berbeda dari biasanya.
Mobil itu kini telah berhenti tepat di depan sebuah mansion yang sangat besar dengan pilar tinggi dan kokoh berwarna gold. Setelah meminta izin pada petugas keamanan yang berjaga, mobil itu pun diizinkan masuk ke dalam pagar.
"Maaf tuan, Anda ada perlu dengan siapa?" tanya seorang pelayan.
"Bisa saya bertemu dengan Safa?" tanya Robi.
"Oh, nona Safa sedang lari pagi tuan. Mungkin sebentar lagi kembali. Silahkan duduk di dalam!" ujar pelayan itu seraya mempersilahkan masuk.
Namun Robi enggan masuk dan lebih memilih menunggu Safa di luar mansion. Robi pun berkeliling mansion yang sangat besar itu. Wajar saja kediaman kakak Safa sangat besar sebab dia termasuk salah seorang pengusaha sukses di negara tersebut. Saat sedang asik memperhatikan ikan-ikan koi yang sangat cantik berenang kesana kemari di sebuah kolam tepat di depan mansion itu, Robi menangkap sayup-sayup suara senda gurau seseorang yang dikenalnya. Rahang Robi seketika mengeras saat melihat interaksi Safa dengan seorang pria seumurannya bahkan ia tangannya kini sudah mengepal.
Safa yang belum sadar akan kehadiran Robi pun masih tampak asik bercanda dengan seorang pria sembari bergelayut manja di lengannya.
"Safa ..." panggil Robi dengan suara beratnya yang khas.
__ADS_1
Safa lantas menoleh dengan wajah terkejut setengah hidup.h
"Bang Robi ..." seru Safa terkejut saat melihat kehadiran Robi . "Kok bang Robi ada di sini sih ?" tanya Safa heran.
Namun tatapan Robi malah memicing kearah seseorang yang sedang berdiri di samping Safa.
Safa yang paham pun segera memperkenalkan mereka berdua.
"Bang, kenalin dia Adrian, dan Yan, dia bang Robi." ujar Safa seraya memperkenalkan kedua orang itu.
Adrian pun mengulurkan tangannya dengan tatapan tajam, yang disambut Robi dengan tatapan tak kalah tajam seakan mereka sedang beradu ilmu.
"Adrian."
"Robi."
"Sebentar ya bang, Safa mau bicara sama Adrian dulu." Robi pun mengangguk setelah mengiyakan.
Setelah bicara sebentar dengan Adrian, Safa kembali lagi ke hadapan Robi dan mengajaknya masuk.
"Bang Robi kapan nyampe sih?" tanya Safa setelah menenggak satu botol air mineral.
"Bari aja sampai jam 8 tadi." sahut Robi setelah menenggak satu tegukan teh yang telah dihidangkan pelayan di mansion .
"Lah, jadi setibanya Abang di sini, Abang belum istirahat ya? Belum mandi dan makan juga? " seru Safa penasaran yang dijawab Robi dengan anggukan.
Safa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Robi.
"Abang mandi dulu aja baru kita sarapan bareng gimana?" tanya Safa tapi Robi menggeleng.
__ADS_1
"Lho, kok gitu?" tanya Safa bingung.
"Siapa itu Adrian?" tanya Robi to the point membuat Safa mengerutkan keningnya.
"Kenapa Abang mau tau?" usil Safa.
"Ya Abang harus tau, sebab Abang ... Abang ..." Robi seketika gelagapan.
"Abang kenapa , hm? Nggak suka? Cemburu? Eh, by the way kok Abang ada di sini? Abang ada urusan di sini?"
"Cemburu? Aneh, ngapain cemburu." kilah Robi. "Abang ke sini mau jemput kamu."
"Nggak cemburu, serius??? Mau ngapain jemput Safa? Emangnya Abang itu sopirnya Safa pake jemput segala."
"Iyalah, ngapain cemburu, emangnya Safa itu siapa."
Safa mengerutkan bibirnya kesal, lantas ia berdiri dari tempat duduknya, "Ya udah kalau aku bukan siapa-siapa, pulang sana. Ngapain kesini coba kalau cuma bisa buat kesal. Dasar, Abang nyebelin!" usir Safa kesal seraya menaiki undakan tangga satu per satu sambil menghentakkan kaki. Mulutnya meliuk-liuk sibuk komat Kamit karena terlalu kesal. "Dasar, map plastik laminating. Cuma bisa bikin Safa kesal aja. Aaargh ... "
Robi yang melihat Safa hendak pergi meninggalkannya lantas berdiri dan segera mengejar Safa hingga di ujung tangga.
"Safa ..." pekik Robi. Membuat Safa menghentikan langkahnya, namun ia tak membalik badan. "Saat ini emang kamu bukan siapa-siapa Abang, tapi nanti Abang ingin jadikan kamu istri Abang , kamu mau kan jadi istri Abang?" tanya Robi seraya membuka sebuah kotak beludru berwarna merah hati.
Safa yang terkejut dengan pernyataan itu lantas membalik badannya dan menghadap Robi. Di ujung tangga, Robi tampak melipat sebelah kakinya sambil membuka kotak beludru yang dipegangnya.
"Will you marry, me?" ucap Robi lantang.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1