
Di saat Jelita kini sudah berada di apartemen milik Azam, di kampungnya nampak bude Jum dan Juwita kalang kabut karena menghilangkannya Jelita. Tak ada seorang pun yang tau kemana gadis itu. Bude Jum frustasi memikirkan bagaimana caranya menyampaikan hilangnya Jelita pada Bu Rully. Padahal rencananya hari ini mereka akan memaksa Jelita pergi ke dukun beranak untuk mengaborsi janin yang ada di dalam kandungan Jelita .
"Ma, gimana nih, aku udah cari-cari ke sekitar mbak Lita nggak ada juga." adu Juwita.
Bude Jum memijit pelipisnya lantaran rasa pening yang tiba-tiba melanda. Otaknya rasa buntu, tak tahu alasan apa yang bisa ia sampaikan pada Bu Rully dan Beno.
Dipandanginya wajah putri semata wayangnya. 'Maafkan mama nak, mama terpaksa mengorbankan kamu.' gumam bude Jum.
***
Di kantor polisi
Bugh ...
Bugh ...
Bugh ...
Terdengar suara pukulan demi pukulan dari sebuah ruangan di kantor polisi.
"Dasar anak nggak tau diri kamu, Ken! Kamu nggak mikir apa gimana perasaan mama saat tau anaknya hampir memperkosa seorang gadis, hah!" bentak Azam. "Sebenarnya apa yang ada di pikiran kamu saat kamu ingin ngelakuin perbuatan bejat itu, hah!"
"Ken sudah lama cinta sama Luna bang, tapi Luna nggak cinta Ken. Jadi Ken ambil jalan pintas biar Luna bisa jadi milik Ken sepenuhnya." jelas Kentaro.
"Otak kamu dimana sebenarnya, hah? Kamu bilang dia sahabat kamu. Kamu bilang kamu cinta dia, tapi kamu mau merusaknya? Itu namanya bukan cinta Ken, tapi obsesi. Kalau kamu emang mencintainya, pasti kamu akan menjaganya, melindunginya, mengikhlaskannya dengan orang yang dia cintai, bukannya merusaknya." tukas Azam sambil memijit pelipisnya.
"Maafin Ken, bang. Ken khilaf." ringis Kentaro. "Tolong keluarin Ken dari sini, bang!" Mohon Kentaro.
Azam mendengus saat mendengar permohonan Kentaro.
"Kamu pikir semudah itu? Kamu tau nggak, walaupun Abang turun tangan, kamu tetap nggak akan bisa semudah itu bebas dari sini. Pelindung gadis itu bukan orang sembarangan. Dan Abang nggak bisa berbuat apa-apa buat kamu. Kamu harus mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Abang dan mama benar-benar kecewa sama kamu, Ken!" lirih Azam penuh kekecewaan.
__ADS_1
"Tapi gimana nasib Ken, bang? Ken nggak mau dipenjara, bang." Kentaro mengiba pada Azam berharap Azam mau membantunya agar dapat segera keluar dari sana. Ia tidak mau dipenjara. Ia tidak mau karirnya hancur.
Beruntung kasus itu dirahasiakan. Sengaja ditutupi agar tidak tercium media. Baik pihak Angkasa maupun Yudhistira sudah meminta pihak kepolisian agar tidak membocorkan kasus ini ke media untuk melindungi privasi Luna.
Azam sempat berpikir menemui keluarga Luna untuk memohon agar Kentaro dibebaskan atau minimal diberi keringanan hukuman, tapi saat tau siapa keluarga angkatnya, nyali Azam ciut seketika. Bukannya takut, cuma ia merasa malu. Apalagi saat ia ingat cintanya yang layu sebelum berkembang pada Anggi, membuatnya insecure.
Lalu Azam ingat sang mama yang juga dekat dengan Anggi. Ia berpikir bagaimana kalau sang mama yang meminta bantuan Anggi agar membebaskan Kentaro atau minimal sedikit meringankan hukumannya. Ya, hanya itu cara satu-satunya, pikirnya.
"Itu risikomu sendiri, Ken. Tapi Abang akan coba bantu melalui mama. Tapi Abang nggak janji. Selama di sini, Abang harap kamu merenungkan kesalahanmu." tegas Azam.
Belum sempat Azam beranjak dari hadapan Kentaro, adiknya itu tiba-tiba mengatupkan mulutnya dengan kedua tangan membuat Azam heran.
"Kamar mandi mana, bang? Ken mau muntah." ucap Kentaro pelan lalu menutup mulutnya kembali.
Gegas Azam membantu Kentaro menuju kamar mandi yang tak jauh dari ruangan itu. Lalu Kentaro mulai memuntahkan isi perutnya kembali sama seperti malam itu. Azam pun membantu Kentaro dengan memijat tengkuknya. Setelah selesai, Kentaro segera membersihkan mulutnya dan berkumur.
"Kamu sakit, Ken?" tanya Azam sambil mengerutkan dahi.
"Beneran? Kamu udah kayak perempuan hamil aja." ejek Azam.
Deg ...
'Hamil? Gue nggak mungkin hamil karena gue laki-laki, tapi bagaimana kalau yang hamil itu ... Ah, nggak mungkin! Kami kan baru malam itu melakukannya. Tapi emang, gue udah nabur benih sampai 3 kali ke dalamnya. Nggak ... nggak mungkin Jeje hamil.' monolog Kentaro dalam hati.
***
Malam itu, setelah Aglian menanyakan kesediaan Luna menikah dengannya, memang Luna tak langsung menjawab. Ia meminta pendapat Anggi terlebih dahulu. Atas saran dari Anggi memang baiknya mereka segera menikah, tapi bukan malam itu, melainkan keesokan harinya.
Malam itu Luna tidur di rumah Anggi, namun rupanya apa yang hendak dilakukan Kentaro membekas hingga ke alam bawah sadar Luna. Setiap matanya terpejam, maka Luna akan bermimpi wajah Kentaro yang datang hendak menggagahinya membuat Luna menangis histeris dalam tidurnya. Akhirnya, Anggi pun menemani Luna tidur membuat Diwangga harus kehilangan guling hangatnya malam itu.
"Bagaimana Lun, kebayanya? Pas?" tanya Anggi saat memasuki kamar tamu yang ditempati Luna. Luna saat itu sedang didandani oleh penata rias yang sengaja didatangkan oleh Ajeng.
__ADS_1
Ya, sesuai hasil rembuk keluarga, Aglian akan segera menikahi Luna jam 10 pagi ini. Hanya sebuah akad nikah sederhana yang akan dihadiri keluarga besar mereka saja. Untuk masalah resepsi, akan dibahas setelah semua masalah selesai.
"Pas kok, mbak. Kebayanya juga cantik." jawab Luna sembari tersenyum tipis. Luna memakai kebaya berwarna putih tulang dengan bawahan songket Palembang yang bersulamkan benang emas membuatnya tampil begitu cantik bak putri Kerajaan.
Anggi menggamit tangan Luna dan menggenggamnya.
"Mbak harap kamu bisa bahagia dengan pernikahan ini, Lun. Mbak juga berharap dengan menikahnya kamu dengan Lian, kamu bisa melupakan traumamu. Kamu cinta kan sama Lian?" tanya Anggi dan Luna mengangguk pelan dengan wajah menunduk. Ia malu. Ia saja belum pernah menjawab ataupun mengatakan cinta pada Aglian, tapi Anggi malah menanyakan secara langsung.
"Syukurlah, mbak senang mendengarnya. Ayo, keluar. Penghulu dan para tamu juga calon suamimu sudah menunggu di luar ." ujar Anggi sembari tersenyum.
Luna yang menyadari tak lama lagi akan menjadi seorang istri dari Aglian mendadak panas dingin. Jantungnya bergemuruh. Ia tak pernah membayangkan akan menjadi seorang istri apalagi istri dari seorang konglomerat sekaligus CEO perusahaan sebesar Angkasa Grup. Ia ragu, apakah ia pantas? Ia juga ragu apakah ia sanggup menjalankan perannya sebagai seorang istri ? Pikiran Luna berkecamuk hingga membuatnya mematung di tempat.
"Kenapa Lun?" tanya Anggi menyadarkan lamunan Luna.
"Mbak, apa Luna pantas jadi istri Mas Lian?" lirih Luna dengan wajah tertunduk.
"Kenapa? Apa yang membuatmu berpikir kamu tak pantas?" tanya Anggi.
"Mbak sudah tau semua tentang Luna, pasti mbak paham semua kekurangan Luna apalagi Luna hampir saja jadi korban perkosaan." ujarnya sendu.
"Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Lian itu bukan pria bodoh. Dia pasti tau apa yang terbaik untuk dirinya. Kalau dia udah memilihmu itu artinya kamu emang pantas untuk dirinya." tukas Anggi mencoba meyakinkan Luna dan membangkitkan sifat percaya dirinya. "Udah ah, nggak usah banyak mikir, semua udah menunggu di luar. Jangan lupa lafazkan basmalah. Semoga semua lancar, aman, dan terkendali." ajak Anggi dan Luna mengangguk.
💃💃💃
🤵👰
Jreng jreng jreng ....
Lanjut besok ya Shay!
Happy Reading 🥰
__ADS_1