Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.154 (S2) Luciana aka Luna


__ADS_3

"Assalamualaikum Oma, Opa." salam terucap dari bibir mungil trio bocil yang baru saja masuk bersama kedua orang tuanya.


"Wa'alaikum salam cucu Oma Opa. Ih, sayangnya Oma dan Opa, kangen deh!" sahut Sofi bahagia saat melihat cucu-cucunya dan anak menantunya datang ke rumah.


"Ayin juga kangen syama Oma dan Opa." sahut Karin seraya mencium pipi Sofi dan Suseno.


"Epin juga Oma, Epin juga kangen syama Oma dan Opa." sahut Kevin seraya memeluk Sofi dan Suseno bergantian.


"Abang juga Oma, Abang kangen banget sama Oma sama Opa. Oma sama Opa apa kabar?" timpal Damar seraya duduk di tengah-tengah Sofi dan Suseno. Sedangkan, Karin duduk di pangkuan Sofi dan Kevin di pangkuan Suseno.


"Masya Allah, makin hari makin gemesin aja cucu Opa. Gimana sekolahnya sayang?" tanya Suseno kepada cucu-cucunya.


"Menyenangkan Opa. Ayin banyak temen na."


"Epin juga Opa, tapi kadang ada yang nakal, syuka gangguin Epin kalo lagi belajal." Adu Kevin.


"Tapi Kevin nggak berantem kan!" tanya Suseno.


"Nggak dong Opa, kata mama kan kita nggak boleh belantem. Epin cuma bilangin syama dia supaya nggak nakal syama gangguin Epin lagi. Nanti Allah malah telus nggak sayang lagi." ujar Kevin bercerita dengan penuh semangat. Suseno merasa bangga sekali dengan sifat cucu-cucunya yang baik hati dan lemah lembut. Ia tak pernah merasa menyesal putra tunggalnya menikahi seorang janda. Andai ada sertifikat untuk para janda, pasti menantunya itu akan mendapat sertifikat dengan grade A+ atas kualitas dan kuantitas yang dimilikinya baik sebagai perempuan, sebagai seorang istri, maupun sebagai seorang ibu. Ia tiada menemukan cela sedikit pun dari menantunya itu.


"Anak pintar." puji Suseno seraya mengusap kepala Kevin. Anggi dan Diwangga yang melihat itupun merasa bahagia sebab anak-anak mereka sangat dicintai oleh Sofi dan Suseno. "Kalau Abang gimana sekolahnya, sayang?" Kini giliran Damar yang ditanyai.


"Damar lagi bahagia banget Opa soalnya minggu depan Damar akan mengikuti olimpiade matematika tingkat provinsi." ucap Damar dengan penuh rasa bangga.


"Masya Allah, cucu Oma dan Opa emang pinter banget. Semoga menang ya sayang." doa Suseno tulus.

__ADS_1


"Pa, Ngga, Nggi, anak-anak, ayo kita makan malam dulu." ajak Sofi yang bari saja kembali setelah memeriksa kesiapan makan malam mereka.


Lalu keluarga besar Suseno itu pun segera menyantap makan malam dengan penuh kehangatan. Lagi-lagi Anggi mengucap syukur tiada henti dalam hatinya atas segenap cinta kasih sayang dan kebahagiaan yang telah Ia raih. Tak pernah terbayangkan dirinya dan anak-anaknya akan merasa dicintai seperti ini. Ini sungguh diluar ekspektasinya. Ini sungguh karunia yang luar biasa. Maha besar Allah dengan segala kemurahan-Nya.


Makan malam telah usai Sofi dan Anggi pun mengajak anak-anak nonton bersama di ruang keluarga, sedangkan Diwangga dan Suseno menemui tamu yang datang sedikit terlambat ke rumah mereka.


Diwangga tak menyangka tamu yang hendak menemui mereka adalah Mahesa Pramudya. Seorang pengacara kondang yang memang sekelas sang papa. Sudah sangat lama Diwangga tak berjumpa dengan om Esa-nya itu. Om Esa adalah panggilan dari Mahesa.


"Apa kabar Om? Lama banget Angga nggak ngeliat Om Esa." ucap Diwangga seraya menjabat tangan Mahesa.


"Kabar Om ya gini, dibilang baik ya baik dibilang kurang baik, iya juga." jawab Mahesa ambigu membuat Diwangga dan Suseno mengerutkan keningnya.


"Sepertinya pembicaraan kita lumayan berat. Bagaimana kalau kita berbincang di ruang kerja saya saja?" ajak Suseno, Mahesa dan Diwangga pun mengangguk.


Setelah masuk ke ruang kerja Suseno, Sofi datang untuk menghidangkan kopi dan cemilan untuk mendampingi para pria itu bicara. Setelah itu, Sofi undur diri dan menutup rapat pintu ruang kerja Suseno.


Mahesa berdeham untuk menetralkan rasa canggungnya. Ia pun menatap wajah Diwangga dan Suseno bergantian. Ia yakin, kedua orang ini pasti dapat ia percaya. Belum lagi, mereka memiliki hubungan dengan putri kliennya yang telah lama tiada.


"Aku kesini bertujuan meminta bantuan kalian memberikan perlindungan pada putri sahabat sekaligus klienku yang telah lama tiada." ujarnya dengan sorot mata fokus. Diwangga dan Suseno saling berpandangan karena belum paham pada duduk persoalannya.


"Kamu ingat, aku dulu adalah pengacara keluarga Argadana Mahendra." Suseno mengangguk. Ia masih ingat pengusaha itu yang tewas dalam sebuah kecelakaan bersama anak dan istrinya. "Kau tau, kecelakaan yang menewaskan mereka itu merupakan sabotase dari saudara tirinya sendiri. Ia sakit hati karena perusahaan Indomarco Coal TBK jatuh sepenuhnya ke tangan Argadana. Hingga pada hari itu, Argadana dan istrinya, datang menemuiku untuk mengalihkan perusahaannya ke tangan putrinya Luciana Calista sebab Arga sudah mencium gelagat tidak baik dari saudara tirinya itu. Argadana juga menuliskan wasiat kalau perusahaan akan jatuh ke tangan putrinya saat usia putrinya genap 19 tahun. Derian sangat marah hingga suatu hari, ia menyuruh seseorang untuk menyabotase mobilnya hingga mengalami kecelakaan parah. Saat itu, Arga berhasil mengeluarkan putrinya yang didekap erat istrinya dan meletakkannya di balik pohon, tapi ... saat ia mencoba menyelamatkan istrinya yang terjepit, mobilnya justru meledak." cerita Mahesa dengan nafas tercekat.


"Lalu ? Bagaimana keadaan putrinya? Siapa yang menyelamatkannya?" tanya Diwangga yang turut penasaran.


"Saat mengetahui kejadian itu, Om bergegas ke TKP. Hingga tanpa orang sadari, Om menangkap siluet seorang balita berusia 4 tahun yang bersembunyi karena ketakutan. Jadi sebelum ada yang menyadarinya, Om membawa pergi anak Arga itu. Untuk mengelabui Derian, On mengubah nama anak itu dan menitipkannya di panti asuhan." Mahesa tampak menjeda ceritanya. Suseno dan Diwangga pun masih tampak fokus mendengarkan cerita Mahesa. "Namanya Om singkat jadi Luna Calista." ucap Mahesa penuh penekanan membuat Diwangga dan Suseno terhenyak.

__ADS_1


"Maksud Om, Luna itu, Luna yang menjadi adik iparku itu?" tanya Diwangga.


Mahesa mengangguk.


"Awalnya Derian pikir Luciana sudah tewas tapi saat tim forensik menyatakan yang meninggal adalah 3 orang dewasa, yaitu Arga, istrinya, dan sang sopir, tiada anak kecil, ia pun menyadari kalau Luciana tidak berada dalam mobil itu. Akhirnya, hingga kini, Derian terus mengadakan pencarian tentu tujuannya untuk dilenyapkan. Ia harus ditemukan sebelum ia berusia 19 tahun dan tak sampai 2 bulan lagi, usia Luciana genap berusia 19 tahun. Om telah menyelidiki, kalau Derian menurunkan lebih banyak orang untuk menemukan Luciana karena itu Om mohon bantuan kalian terutama suaminya untuk melindungi Luciana. Om tidak bisa bergerak sama sekali. Om pun tidak berani menemui suaminya sebab pergerakan Om selalu diawasi. Om takut mereka menyadari keberadaannya jikalau Om menemui mereka." terang Mahesa.


"Om tenang saja, aku pasti akan melindungi Luna. Luna atau Luciana sudah aku anggap seperti adik sendiri. Aku juga akan membicarakan hal ini dengan Aglian." ujar Diwangga penuh keyakinan.


"Terima kasih, nak atas bantuannya. Oh, ya sampaikan terima kasih om pada suaminya karena sudah menyelamatkan Luciana dari upaya pemerkosaan. Om bahkan nggak nyangka kalau dia sampai menikahinya. Om senang, Luciana menikah dengan orang yang tepat." ujar Mahesa dengan mata berbinar.


"Baik, Om. Akan saya sampaikan." sahut Diwangga.


Setelah berbincang cukup lama, Mahesa pun pamit undur diri. Sebelumnya, ia juga sempat membahas perihal pertemuan mereka untuk mengalihkan kecurigaan orang-orang yang mengawasinya.


...***...


Di keremangan malam, tampak sesosok gadis sedang termenung sembari menatap kelamnya langit. Ia terus terngiang ucapan seorang pria yang telah lama ia sukai.


'Kamu tenang aja, anak itu takkan kekurangan kasih sayang karena Abang yang akan menikahinya.'


"Hufth ..." Erika menghela nafas berat. "Sepertinya gue harus menyerah sebelum berperang deh! Cinta oh cinta ... Why love is difficult for me?" desahannya.


Erika si gadis cantik nan tomboy berambut pendek sebahu itu hanya bisa mendesah pasrah.


"Bila jodoh nggak kemana, right? Semangat Erika! Life must go on." serunya seraya meninju udara untuk menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


...***...


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2