
"Papa, belenang yuk!" bujuk Karin dengan puppy eyesnya. Kalau mode membujuk sekaligus memelas itu udah keluar, tak seorang pun yang bisa menghindar. Pasti mereka akan termakan jurus andalan Karin itu.
"Boleh." ujar Diwangga dengan tersenyum simpul membuat mata Karin berbinar. "Tapi ada syaratnya?" lanjut Diwangga lagi.
"Apa, pa?" timpal Kevin yang tiba-tiba muncul dari belakang Diwangga membuatnya tersentak kaget.
"Ngagetin, papa aja kamu, Vin." ujar Diwangga sambil terkekeh.
"Maaf pa, tadi Epin lagi main sama Abang. Epin dapat gililan sembunyi," ujar Kevin dengan wajah menyesal.
"Nggak papa kok sayang, nggak usah sedih gitu, papa nggak marah kok, cuma kaget aja. Untung jantung papa kuat." sahut Diwangga menenangkan putra sambungnya itu sembari menoel hidung mancungnya.
"Jadi kita boleh belenang kan, pa!" tanya Karin lagi.
"Iya, tapi ada syaratnya dulu." Lalu Diwangga menarik tubuh kedua bocah itu mendekat sambil melirik kiri dan kanan memastikan Anggi tidak ada.
"Apa syalatnya, pa?" tanya Kevin.
"Kalian harus bujuk mama ikutan renang. "
"Siap, pa!" teriak Damar yang tiba-tiba sudah berada di antara mereka.
"Astaga, kayaknya putra papa ini punya hobi ngagetin papa semua, ya! Sepertinya kalian harus papa hukum dulu sebelum ngajakin berenang." Lalu Diwangga menggelitik tubuh Kevin dan Damar bergantian membuat mereka menggelinjang geli.
.
.
.
"Mama, belenang yuk! Di sana ada kolam lenangnya lho!" bujuk Kevin.
"Iya ma, belenang yuk!" sambung Karin
"Ayok, ma, Abang sudah lama banget pingin belajar renang. Di rumah papa Angga ada kolam renang, tapi nggak ada yang ajarin. Mau minta ajarin papa kan waktu itu papa Angga belum jadi papa kami, jadi kami malu, ma." rengek Damar.
"Tapi mama juga nggak bisa renang, sayang. Gimana mama mau ajarin? Kalau kalian kenapa-kenapa, mama juga nggak bisa nolong." cicit Anggi merasa sedih tak bisa mengajari anak-anaknya berenang.
"Kan sekalang kita punya papa ma, kita bisa minta ajalin papa, ya kan bang?" Karin minta bantuan abangnya.
"Iya ma, boleh ya ,ma!" bujuk Damar.
"Terserah kalian aja, kalau papa ngizinin, silahkan. Tapi hati-hati aja." pesan Anggi.
__ADS_1
"Lho, mama ikut juga dong, ma! Kalau mama ndak ikut, Ayin nggak usah belenang deh." Rajuk Karin.
Anggi tampak salah tingkah, akhirnya ia pun mengiyakan permintaan ketiga anaknya. Mana bisa ia mengenyampingkan keinginan anak-anaknya. Asal itu masih batas wajar, apa pun akan ia lakukan dan berikan untuk ketiga buah hatinya.
"Mama, sini ma gabung sama kami." teriak Damar dari dalam kolam. Ya, kamar hotel milik mereka memiliki fasilitas kolam renang pribadi. Apalagi kamar hotel itu memang dirancang khusus untuk keluarga Angkasa. Tentu semua fasilitas terbaik ada di kamar itu. Letaknya pun di lantai tertinggi, sehingga mereka bisa berenang bebas sambil melihat pemandangan kota Jakarta dari atas. Mereka pun tak perlu takut atau khawatir kegiatan mereka akan dilihat orang lain karena tempatnya yang sangat privacy.
Anggi menggeleng, ia hanya memandangi ketiga anaknya yang bermain air dengan riangnya. Mereka memang berenang di kolam yang paling dangkal yang memang diperuntukkan bagi anak-anak.
"Gabung anak-anak, yuk sayang!" bujuk Diwangga saat sudah berada tepat di bawah kakinya yang yang menjuntai ke dalam kolam.
"Masa' gabung sama anak-anak!" Anggi mencibir.
"Ya,kita di bagian orang dewasanya."
"Tapi ... aku nggak bisa renang, mas." ucap Anggi malu.
"Kan bisa mas ajarin." ujar Diwangga sambil menyeringai. "Ayolah!" bujuknya lagi.
Ntah mengapa Anggi mudah sekali takluk pada lelaki di hadapannya itu. Apapun yang ia katakan pasti ujung-ujungnya Anggi akan mengiyakan. Lalu perlahan Anggi menurunkan bobot tubuhnya ke dalam air dengan pinggul yang ditahan Diwangga agar Anggi tidak terkejut karena air di kolam itu cukup dalam hingga batas dada Diwangga. Bayangkan bila Anggi yang tingginya hanya sebatas dagu Diwangga, apa yang akan terjadi bila ia melepaskannya tiba-tiba. Dengan cekatan, Diwangga pun mengajari dasar-dasar berenang pada istrinya itu.
*Malam hari
Sesuai kesepakatan antara Diwangga dan trio bocil akhirnya* Damar, Kevin, dan Karin bersedia tidur di kamar yang disediakan khusus mereka. Mereka rencananya akan menginap di hotel itu selama satu Minggu. Tapi Anggi menolak keras karena Damar tetap harus sekolah. Jadilah hanya Anggi dan Diwangga yang harus berada di hotel selama 1 Minggu, sedangkan ketiga anaknya akan pulang ke rumah di hari keempat. Anggi dan Diwangga lebih lama Disana sebab sebagai ganti honeymoon yang mereka tunda, sebab Anggi menolak bila harus meninggalkan anak-anaknya ke luar kota. Ingin diajak tentu tak bisa , sebab Damar memiliki prioritas sekarang, yaitu sekolah. Jadi setelah 3 hari menginap, mereka akan pulang ntah ke rumah Oma dan opa-nya atau ke rumah grandma dan grandpa-nya, terserah mereka.
"Ada deh! Mau tau apa mau tau banget?" goda Diwangga yang ini telah sedikit membungkuk di belakang Anggi sambil memeluk pinggangnya posesif.
"Is, usil banget sih! Jawab aja kayak susah banget." jawab Anggi dengan wajah memerah. Ini baru hari kedua pernikahannya, tentu ia masih malu-malu kucing.
Diwangga tersenyum geli melihat perubahan raut wajah Anggi. "Mas cuma janjiin mau kasi mereka adik jadi mas harus tidur berdua aja sama mamanya, nggak boleh diganggu." bisiknya pelan di telinga Anggi membuat tubuh Anggi seketika membeku. Ada perasaan hangat yang menjalar baik di tubuh maupun hatinya.
"Mas kok gitu banget janjiinnya. Ntar mereka mikir macem-macem lho. Mereka masih anak-anak, jadi jangan sembarangan bicara." Anggi pura-pura mendelik.
Diwangga terkekeh lantas tanpa aba-aba ia mengecup pipi Anggi gemas. "Kita buat adik buat trio bocil kita, yuk! Tapi ajarin ya! Mas masih polos." ujarnya sambil terkekeh membuat Anggi melayangkan cubitan keras ke pipi Diwangga.
"Dimana-mana, malam pertama itu cowoknya yang pegang kendali, masa' mas nyuruh Anggi sih! Sama aja mas ngejek aku tau nggak. Mentang aku udah pernah ngelakuinnya lebih dulu." ujar Anggi sambil melengoskan wajahnya ke samping.
"Duh, mamanya anak-anak ternyata makin gemesin deh kalau lagi ngambek!"
Lalu tanpa aba-aba, Diwangga membopong Anggi dan merebahkan tubuhnya ke kasur. Diwangga pun ikut naik ke atasnya dengan posisi mengungkung tubuh mamah muda cantik jelita itu.
"Mas udah boleh, kan!" ujar Diwangga meminta izin dan Anggi pun mengangguk.
Diwangga pun memulainya dengan mengecup dahi Anggi seraya melafazkan doa untuk melakukan hubungan suami istri.
__ADS_1
Lalu ia beralih mengecup pelipis, mata, pipi, dagu, hidung, dan terakhir berlabuh di bibir muda Anggi yang berpoles lip gloss. Awalnya hanya sebuah kecupan singkat, lalu ia lanjut menjadi sebuah lum*tan pelan tapi menuntut. Kemudian lum*tan itu terasa makin intense dan memburu hingga membakar gairah dua insan manusia yang sedang dimabuk cinta itu.
Diwangga tak menyangka, hanya dengan pertemuan dua pasang bibir bisa meningkatkan gairah dan libido dalam dirinya. Mungkin inilah yang membuat kita dilarang untuk berpacaran apalagi melakukan skinship sebelum halal, takutnya tiba-tiba nafsu itu tiba-tiba menggelora dan membakar akal sehat pelakunya.
Beruntungnya, ia dan Anggi telah halal jadi mereka bisa bebas melakukan apa saja tanpa takut dosa, bebas mengeksplor tubuh masing-masing. Seperti saat ini, tangan Diwangga sudah tak dapat dikondisikan. Ia bergerak , merayap, mengelus, apa saja yang diinginkannya. Bahkan dengan nakalnya tangan itu sudah berhasil membuat tubuh Anggi polos, tanpa sehelai benang. Begitupun dirinya.
Diwangga menelan ludahnya saat melihat karya Tuhan yang paling indah yang kini terpampang di depan matanya. Ia tak menyangka, di balik pakaian yang selalu nampak sopan dan tertutup di matanya itu, tersimpan harta karun yang sangat indah bahkan lebih berkilau dari berlian.
Tentu Anggi merasa malu saat mata Diwangga seakan hampir melompat saat memandangi tubuh polosnya. Biarpun, ia telah pengalaman dalam hal ini dengan mantan suaminya, tetap saja , rasa malu itu menjalar karena ini untuk pertama kalinya ia lakukan di hadapan suami keduanya.
Anggi mencoba menutup dadanya dengan kedua tangannya, tapi tangan Diwangga ternyata selangkah lebih cepat. Ia menghalau tangan Anggi yang hendak menutupi aset kembarnya.
Diwangga tak menyangka, padahal Anggi sudah memiliki 3 anak, tapi tubuhnya masih sangat indah dan terawat. Ia ingin mengumpat kebodohan Adam melepaskan wanita sesempurna Anggi, tapi ia batalkan niat itu sebab tanpa adanya si tindakan bodoh dari mantan suaminya itu, mungkin ia takkan pernah merasakan menjadi bagian dari wanita yang telah lama merajai hatinya.
Jakun Diwangga tampak naik turun saat dua aset kembar Anggi tampak berdiri menantang. Tanpa ragu, ia pun menangkupkan mulutnya di salah satu aset, sedangkan aset lainnya dikuasai oleh tangannya. Dengan gerakan sedikit memilin dan meremas , membuat sebuah desahan indah lepas begitu saja dari mulut Anggi membuat gairah Diwangga makin terpacu. Pun mulut Diwangga bergerak aktif. Bagaikan seorang bayi yang sedang menyusu, seperti itulah yang dilakukan Diwangga.
Tampak tubuh Anggi menggelinjang hebat hanya karena permainan tangan dan mulut Diwangga. Foreplay yang dilakukan Diwangga sungguh nikmat. Sangat berbeda jauh dengan apa yang pernah ia alami saat bersama Adam. Bukan maksud membandingkan, tapi pikiran itu tiba-tiba saja muncul.
'Katanya belum pengalaman. Masih polos, tapi buktinya, seperti udah PRO saja." gumam Anggi di sela-sela desahannya.
Hingga sampailah mereka di puncak kegiatan. Sebuah tujuan akhir, yaitu penyatuan.
Perlahan, Diwangga mendorong pusaka keramatnya itu ke dalam sarungnya. Mata mereka terpejam hingga tubuh mereka melenting ke atas dan kepala mendongak.
Diwangga tampak menggeram, terlampau nikmat dan menyesatkan. Pantas saja , orang-orang yang sudah merasakannya seakan candu, membuat mereka ingin dan ingin lagi.
Ini memang pengalaman pertama Diwangga dan istrinya bukanlah seorang perawan, bahkan ia sudah memiliki anak 3, tapi rasanya sangat-sangat nikmat batinnya. Ia yakin, istrinya akan menjadi candu baginya. Ia tak membutuhkan perawan bila janda saja bisa memberikannya kenikmatan seindah ini. Mungkin ini karena wanita yang di bawahnya adalah Anggi. Wanita yang sangat ia cintai.
Perlahan tapi pasti, Diwangga pun menggerakkan pinggulnya, maju mundur , berulang kali, hingga tiba saatnya mereka telah sama-sama di puncak kenikmatan. Mereka pun melenguh dan meneriakkan nama masing-masing sebagai penutupan. Akhirnya, benih yang Diwangga jaga bertahun-tahun itu, masuk ke dalam tempat yang semestinya. Harapnya, dari sekian banyak benih yang tersembur, akan ada salah satu atau 2 yang tumbuh dengan baik menjadi calon anak mereka .
.
.
.
.
.
**Semoga gk terlalu bertele-tele ya! Bingung mo nulis detilnya kek gimana , takutnya ke banned NT.
Good night all.
__ADS_1
Happy Reading. 🥰**