
Tak terasa kehamilan Anggi sudah memasuki bulan keempat. Perut Anjggi yang tadinya datar, kini sudah terlihat cukup besar. Bahkan lebih besar dari ibu hamil kebanyakan. Mungkin itu pengaruh kehamilan kembar tiganya.
Perut yang membesar tapi bukan berarti mematikan langkahnya untuk beraktivitas. Mungkin itu karena ia sudah terbiasa selalu beraktifitas. Baik saat hamil Damar maupun si kembar dulu pun ia mengerjakan semua pekerjaannya sendiri. Seperti saat ini, ia baru saja mengadakan acara syukuran dengan mengundang anak-anak panti, baik panti tempat ia dibesarkan maupun anak-anak panti yang sekarang tempat iya berdonasi.
Setelah acara selesai, baik anak-anak panti maupun tamu undangan seperti keluarganya sudah pulang, ia pun duduk di sofa sambil mengangkat kakinya ke atas sofa. Terlihat jelas raut lelah di wajah cantik Anggi.
"Kamu mau minum, sayang?" tanya Diwangga.
Anggi mengangguk seraya tersenyum simpul yang dibalas senyuman manis oleh Diwangga.
"Mau minum apa?" tanya Diwangga lagi.
"Kalau nggak ngerepotin, Anggi mau jus alpukat." ucap Anggi lagi dengan nada manja.
"Untuk istri mas yang cantik ini, apa sih yang nggak? Nggak ada kata repot di dalam kamus seorang Diwangga Yudhistira kalau itu berhubungan dengan istri tercinta." ujar Diwangga seraya mengecup pucuk kepala Anggi membuat Anggi tersipu malu.
"Cie cie ... romantisnya!" ledek Luna saat keluar dari dapur seraya membawa sepiring cheese cake dan meletakkannya di meja.
"Lho, kamu belum pulang, Lun?" tanya Anggi. Ia pikir Luna juga sudah pulang seperti yang lain.
"Kata Mas Lian, nanti aja, tunggu dia jemput."
Lalu Anggi ber'oh ria, sedangkan Diwangga telah berlalu ke dapur hendak membuatkan jus alpukat kesukaan istrinya itu.
"Mama ..." teriak trio bocil yang baru saja kembali dari makan es krim di taman belakang rumah.
Anggi tersenyum saat melihat anak-anaknya mendekatinya dengan wajah ceria.
__ADS_1
"Kaki mama pegel, ya? Mau Abang pijitin?" tawar Damar seraya duduk di samping Anggi dengan terlebih dahulu mengangkat kaki mamanya dan meletakkannya di atas pangkuannya.
"Iya nih, kaki mama pegel semua. Emang Abang beneran mau pijitin kaki mama?"
"Iya dong, Abang kan anak baik dan berbakti pada orang tua." ujar Damar seraya menepuk dadanya seolah sedang membanggakan dirinya.
"Epin juga mau pijitin, mama." sahut Kevin tak mau kalah saing.
"Ayin juga, tapi Ayin mau pijit papa aja." ujar Karin saat melihat Diwangga datang dengan 2 gelas jus alpukat. Diwangga pun tersenyum saat mendengar perkataan anak sambungnya itu.
"Wah, anak papa emang yang terbaik deh! Sini papa kiss dulu!" ujar Diwangga lalu mengecup kening gadis kecilnya itu setelah terlebih dahulu meletakkan jus alpukat untuk Anggi dan Luna.
Karin pun tersenyum bahagia karena merasa begitu disayangi ayah sambungnya itu.
"Wah, aku dibuatin juga nih Mas?" tanya Luna saat melihat segelas jus alpukat dihidangkan di hadapannya.
"Wah, mbak Anggi dan Mas Diwangga emang paling the best deh! Makasih, Mas ." ujar Luna.
"Lun, kamu semalam habis nangis ya?" tanya Anggi. Ia menanyakan itu karena melihat lingkar mata Luna yang terlihat sembab. Sebenarnya ia sudah sejak tadi ingin menanyakannya namun ia belum ada kesempatan.
Luna pun mengangguk sambil melirik trio Bocil yang masih ada di sana. Anggi yang paham segera meminta ketiga bocah itu untuk main di kamar mereka saja karena ia, Luna dan Diwangga akan berbincang.
Setelah ketika bocah itu pergi Luna pun mulai membuka suara. Ia menceritakan apa yang diceritakan Aglian semalam. Anggi yang belum tahu pun hanya mendengarkan. Sedangkan Diwangga yang memang telah tahu permasalahannya segera duduk di samping Anggi sambil menggenggam tangannya. Ia yakin Anggi akan terbawa suasana sedih apalagi karena pengaruh hormon kehamilan yang membuatnya lebih sensitif.
Dan benar saja, Anggi terisak saat mendengar penuturan Luna. Ia hampir tak percaya kalau pamannya sendiri penyebab kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya. Sungguh, sebenarnya ia belum bisa percaya 100%. Bagaimana mungkin seorang saudara tega menghabisi saudara lainnya hanya demi harta semata. Tapi ia juga tak mungkin meragukan apa perkataan Aglian. Walaupun sang Paman telah mengatakan jangan mudah percaya kepada orang lain kecuali keluarganya, tetapi ia tak mungkin meragukan apa yang diucapkan Aglian karena ia tahu suaminya itu sama seperti Anggi yang memiliki kejujuran sangat tinggi sehingga setiap ucapannya ia yakin dapat dipercaya.
"Ingat kata Mas Lun, jangan percaya perkataan orang lain yang tiba-tiba mengaku keluarga walaupun itu pamanmu sendiri. Dan jangan sekali-sekali kamu memberikan tanda tanganmu kepada orang asing kecuali Mas dan suami kamu sendiri yang memintanya." pesan Diwangga pada Luna yang diangguki oleh Luna.
__ADS_1
Sementara Luna sedang sedih karena nasib tragis yang menimpa orang tuanya, di perusahaan Angkasa Grup, tampak Aglian sedang berbicara serius dengan seseorang di sebuah ruangan tertutup bahkan Robi pun tak diajak.
"Kau yakin akan segera melakukannya?" tanya pria itu.
"Sangat yakin. Kalau dia sudah berani menunjukkan wajahnya pada istriku bahkan berani mengusiknya, artinya ia sudah siap menerima konsekuensinya." ujar Aglian dengan wajah dingin. Edward pun sampai bergidik ngeri melihat raut muka itu. Sosok yang selalu menunjukkan raut lembut dan ramah, kini berubah mengeras. Ekspresi yang benar-benar baru Edward lihat sepanjang pertemanannya dengan Aglian. Ternyata memang benar, hati-hati dengan orang sabar, bila sekali ia marah, maka ia dapat menghancurkan semuanya.
"Kapan aku harus bertindak?" tanya Edward dengan raut wajah serius.
"Tepat tengah malam nanti." ucapnya penuh keyakinan.
...***...
Di sebuah ruangan serba putih, tampak seorang laki-laki berpostur tubuh tinggi, kekar, dan gagah sedang bersandar di sofa yang ada di kamar itu. Dari tempat duduknya, ia memandangi wajah putih pucat seorang gadis yang baru saja selesai menjalani operasi pengangkatan proyektil peluru dari rongga dadanya. Beruntung proyektil peluru itu tidak mengenai jantungnya, bila tidak, kemungkinan kecil gadis itu untuk selamat.
Azam tak henti-hentinya mengucap syukur pada yang kuasa karena telah memberikan keselamatan dan kesempatan hidup untuk gadis yang menyukainya dalam diam tersebut.
Tak lama kemudian, terdengar pintu diketuk. Sepasang pria dan wanita paruh baya masuk dengan mata berkaca-kaca. Tampak jelas raut kesedihan di wajah mereka.
"Erika ... bagaimana keadaan kamu, nak?" tanya wanita paruh baya itu lebih ke diri sendiri. Ia tidak sadar ada sepasang mata tajam yang memperhatikan mereka.
"Maaf Bu, keadaan Erika sudah membaik. Namun, ia belum sadarkan diri selepas operasi tadi. Mungkin karena pengaruh obat bius." jelas Azam membuat kedua orang itu menoleh.
"Kamu ...?"
"Saya Azam, pak, Bu, rekan kerja Erika." ucap Azam memberi tahu kedua orang itu.
...***...
__ADS_1