Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.85 Big Surprise I


__ADS_3

Suasana grand ballroom Deluxe hotel kini kian riuh. Para tamu pun sudah mulai memenuhi hampir setiap meja dan sudut ruangan. Lantunan lagu dari penyanyi-penyanyi ternama anak negeri pun kian mendayu , menghipnotis setiap pasang mata agar fokus terhadap mereka. Ada Andra and the back Bone yang menyanyikan lagu Sempurna, Yovie and Nuno menyanyikan lagu Janji Suci, dan ada juga Tulus menyanyikan Teman Hidup.


"Sayang ..." panggil Diwangga pada Anggi yang sedang duduk di tepi ranjang. Ia baru saja selesai memperbaiki make up-nya dibantu MUA ternama.


Anggi mendongakkan saat namanya dipanggil. "I-iya, mas," sahutnya gugup saat melihat Diwangga berjalan mendekat padanya.


"Kenapa gugup, hm? Kamu takut?" Diwangga berujar setengah menggoda.


"Ta-takut? Takut kenapa? Emangnya mas Angga gigit?" Anggi mendelik lantas memalingkan wajahnya untuk menetralkan rasa debar jantungnya.


"Gigit? Hmm ... Iya, aku memang gigit, tapi tenang aja, nggak sekarang kok gigitnya. Belum waktunya." ujar Diwangga lirih sambil memegang bahu Anggi, menuntunnya agar berdiri dan menarik tangan Anggi agar memegang pundaknya. Lalu ia melingkarkan lengannya di sekeliling pinggang Anggi. Anggi menahan nafasnya saat wajah Diwangga begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan nafas Diwangga terasa menerpa wajahnya, membuat Anggi seketika merona. Jantungnya pun berdebar hebat. Anggi memalingkan wajahnya, menahan malu yang menyergap hatinya. Baru kali ini ia begitu dekat dan begitu intim dengan Diwangga. Walaupun ini pengalaman keduanya menikah, tapi tetap saja berbeda.


"Sebelum kita keluar, mas boleh nyicil nggak?" tanya Diwangga ambigu.


Anggi mengernyitkan dahinya, "Nyicil? Emang mas punya hutang ke Anggi?" tanya Anggi polos.

__ADS_1


Diwangga terkekeh mendengar pertanyaan Anggi.


"Bukan itu maksud mas ,sayang. Tapi maksud mas ini ..." ucapan Diwangga terpotong saat dengan cepat ia menyergap bibir tipis Anggi dengan lembut. Jujur, Diwangga merasa masih sangat kaku. Ia tak memiliki pengalaman apapun tentang berciuman. Ia hanya menggunakan instingnya saja. Sudah sekian lama ia memimpikan bisa mencium bibir tipis Anggi dengan mesra dan kini impiannya telah menjadi nyata. Diwangga makin bahagia saat Anggi pun mulai membalas lum*tan itu dengan lembut. Mencoba menyeimbangkan, sepertinya Anggi paham kalau Diwangga belum berpengalaman.


Diwangga tersenyum puas saat mereka telah melepaskan ciuman mesra itu. Lalu ia memeluk tubuh Anggi dengan mesra.


"This is my first kiss, you know!" ucap Diwangga terkekeh.


"Yes, i know. Aku bisa merasakannya." ujar Anggi sambil tersenyum di sela-sela pelukannya.


"Nanti ajarin, ya! Kan udah pengalaman." timpal Diwangga.


"Terima kasih sayang sudah kembali dan mau jadi istri mas. I love you, love you so much." ucap Diwangga sambil mengecup pucuk kepala Anggi. Anggi menunduk, tersipu malu. "Kita keluar sekarang?" tanya Diwangga seraya menatap wajah istrinya yang masih menunduk.


Anggi pun mengangguk, mengiyakan.

__ADS_1


Anggi dan Diwangga pun berjalan keluar kamar menuju ruangan yang ada di depan. Tampak keluarga besar mereka telah menunggu pasangan pengantin itu untuk mengantarkan mereka menuju singgasana.


Diwangga mengulurkan tangannya ke Anggi. Anggi yang paham langsung melingkarkan tangannya di lengan Diwangga. Mereka pun berjalan menuju grand ballroom hotel dengan diiringi keluarga juga anak-anaknya. Tampak Damar dan si kembar berjalan di depan , pasangan Ajeng dan Davindra serta Sofi dan Suseno mengapit pengantin itu di sisi kanan dan kiri, sedangkan Bu Yanti, Luna, Tita, dan Lia berjalan di belakang mereka. Untuk Aglian, Raju, dan Aji, mereka tidak ikut mendampingi sebab mereka sedang mengawal kelancaran acara.


Setelah rombongan pengantin keluar dari lift yang menghubungkan ruangan presidential suite hotel tempat mereka menginap dengan grand ballroom, suara emas penyanyi papan atas Judika pun mengalun merdu menyanyikan lagu Ed Sheeran yang berjudul Perfect mengiringi langkah sang pengantin menuju singgasananya.


Para tamu yang menyadari perubahan suasana sontak menoleh ke arah Judika memfokuskan pandangannya. Para tamu undangan pun lantas berdiri untuk memberikan sambutan atas kedatangan pasangan pengantin itu dengan penuh suka cita.


Pun Adam, Bu Tatik, Sulis, Lea, dan teman-temannya, mereka pun turut berdiri sambil menyunggingkan senyum selebar yang mereka bisa.


Namun mata Adam, Bu Tatik, dan Sulis seketika membelalakkan saat melihat rombongan yang mengiringi pasangan pengantin itu. Mereka dapat mengenali dengan jelas siapa anak-anak yang berjalan di hadapan pengantin itu, pun rombongan yang ada di belakang mereka yang mereka ketahui merupakan ibu panti dan penghuninya yang sudah dianggap adik oleh Anggi.


Wajah mereka bertiga seketika pias. Keringat dingin mulai mengalir di dahi dan sekujur tubuh mereka. Padahal udara di dalam grand ballroom itu cukup dingin karena banyaknya AC yang terpasang hampir di setiap sisi dan sudut ruangan. Namun dinginnya AC tak mampu meredam panas yang menguar dari dalam tubuh mereka. Tubuh Bu Tatik hampir limbung, namun sekuat tenaga ia tahan dengan tangan berpegangan erat pada sisi meja.


"Nggak, nggak, itu nggak mungkin Anggi kan! Pengantin itu pasti bukan Anggi. Ya, pasti bukan. Aku tahu pasti, Anggi hanyalah seorang yatim piatu yang tak jelas asal usulnya. Bagaimana mungkin tiba-tiba ia menjadi anak perempuan keluarga Angkasa." lirih Bu Tatik pelan.

__ADS_1


"Si-siapa pengantin itu sebenarnya? Dia nggak mungkin Anggi, kan!" gumam Adam dengan mata tetap fokus pada rombongan pengantin yang sedang berjalan menuju singgasananya.


"Nggak mungkin. Pengantin perempuan itu pasti bukan Anggi. Aku sudah lama kenal Anggi. Dia hanya anak yatim-piatu, pasti mereka hanya ikut mengiringi. Pasti Anggi juga ikut mengiringi sang pengantin. Atau mereka semua diundang tapi Anggi menolak karena sakit hati calon suaminya malah menikah dengan wanita lain." gumam Sulis pelan.


__ADS_2