Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.157 (S2) Rencana Tersembunyi Aglian


__ADS_3

Aglian tampak sedang sibuk mengamati angka-angka yang tertera di layar komputernya. Lalu jemarinya pun mulai bermain dengan lihainya mengetik angka demi angka dan huruf demi huruf. Ia tampak sangat berkonsentrasi saat itu. Ia memang seorang pria workaholic, namun begitu ia tak pernah melupakan tugasnya baik sebagai seorang anak maupun suami.


Suara pintu diketuk membuyarkan konsentrasi Aglian. Lalu ia pun menyerukan suara masuk hingga orang yang mengetuk pintu pun masuk ke dalam ruangan itu. Ternyata itu adalah Robi yang baru saja menyelesaikan tugas yang diberikan Aglian padanya.


"Ini tuan berkas-berkas berisi informasi tentang perusahaan Indomarco Coal TBK." ujar Robi seraya menyerahkan setumpuk dokumen kepada Aglian.


Aglian pun menerima berkas-berkas tersebut dan membacanya dengan seksama.


Tak lama seringai tipis terbit di bibir tipisnya. Otaknya pun mulai memikirkan berbagai hal yang hanya ia yang tahu.


Robi masih berdiri di tempatnya sebab ia belum menerima perintah harus keluar ruangan atau tetap di tempat. Ia tak berani bicara saat atasannya itu sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, sehingga ia lebih memilih berdiam di tempat.


"Ekhem ..." Robi berdeham agar Aglian sadar ia masih berdiri di sana.


Aglian mengerutkan keningnya lalu melontarkan tatapan tajam kepada asisten pribadinya itu.


"Jangan berisik! Tetap berdiri di tempat." titah Aglian.


'Haish si pak bos selalu aja semena-mena sama gue. Emang gue manekin disuruh berdiri di tempat nggak boleh bersuara dan kemana-mana. Untung situ bos, kalau gue yang jadi bosnya , udah gue pecat lu!' Robi tampak bersungut-sungut dalam hati hingga sebuah bolpoin mendarat tepat di atas kepalanya membuat lamunannya buyar seketika.


Cletak ...


"Awww sshhh ..." Robi meringis mengusap kepalanya yang terkena bolpoin. 'Sialan si pak bos.' umpatnya dalam hati. Robi pun melirik Aglian, namun saat matanya bersirobok dengan tatapan tajam Aglian, ia sontak menundukkan kepalanya.


"Selesai mengumpatnya?" ujar Aglian menyeringai.


Robi sontak gelagapan saat mendengar pertanyaan Aglian.


"Me .... mengumpat? Siapa yang mengumpat, tuan?" kilah Robi tak mau mengakui. 'Mampus, kok pak bos bisa tau sih? Apa jangan-jangan dia keturunan cenayang?' batin Robi gelagapan.

__ADS_1


"Aku tanya sekali lagi padamu, sudah selesai mengumpatnya?" tegas Aglian dengan sorot mata makin menajam.


"Sudah tuan. Oops ..." sontak Robi langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Bonus bulan depan hangus." ujar Aglian santai namun mampu membuat Robi kicep. "Keluar sana." titahnya lalu Robi menganggukkan kepalanya kemudian berlalu dari ruangan itu.


Setelah Robi keluar dan pintu tertutup sempurna, Aglian segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi salah satu nomor yang ada di kontaknya.


"Halo ..." jawab seseorang dari seberang sana.


"Ed, kau bisa membantuku?" tanya Aglian pada seseorang di seberang teleponnya.


"Tentu, katakan saja tak perlu sungkan." jawab seseorang yang bernama Edward itu membuat Aglian tersenyum lebar.


Edward adalah hacker kebangsaan Jerman yang menetap di Indonesia. Ia adalah sahabatnya semasa mengenyam pendidikan magister di luar negeri. Ia akan menggunakan jasa Edward di saat-saat penting seperti yang tengah ia alami saat ini. Semua demi keamanan dan keselamatan Luna, serta membalaskan perbuatan Derian pada orang tua Luna dan mengambil alih kembali apa yang seharusnya jadi milik istrinya itu. Andai Derian tidak berniat jahat pada istrinya, tentu ia akan dengan senang hati merelakan perusahaan yang bahkan profitnya hanya 10% dari Angkasa Grup.


Aglian sudah tau dengan baik rencana paman tiri Luna tersebut. Sebab ia telah berhasil menyusupkan anak buahnya dalam markas besar mereka. Derian ternyata meminta bantuan pengawal ilegal. Mereka mampu bertindak anarkis dan brutal tanpa memikirkan risikonya. Karena itulah, ia harus ekstra hati-hati.


"Hmm ... baiklah. Yah, aku memang selalu tau apa yang kau mau. Ingat, we are best friend, right!" sahut Edward yakin.


"That's true. We are best friend. I hope you can help me." ucap Aglian sebelum panggilannya ditutup.


Aglian menyeringai setelah menutup sambungan teleponnya. "Awas saja bila kau menyakiti istriku walau hanya seujung kuku! Bila sampai itu terjadi, maka aku takkan segan-segan menghancurkanmu." ujarnya dengan smirk penuh amarah.


...***...


Di sebuah toko bunga, tampak seorang gadis cantik dengan rambut panjangnya yang terurai sedang sibuk merangkai beberapa bunga menjadi satu kesatuan yang yang cantik.


Sepertinya pekerjaan itu adalah hobi barunya. Pekerjaan yang bukan hanya bisa membuatnya menghasilkan pundi-pundi rupiah, tapi juga membuatnya tenang dan bahagia. Aroma harum dari berbagai bunga mampu memberikan ketenangan bagi jiwa dan raganya yang sedang resah. Setidaknya, di sini juga ia bisa menemukan orang-orang yang tulus perhatian dan sayang padanya, tidak seperti di rumahnya. Rumah sendiri, tapi dikuasai orang lain. Ingin ia mengusir orang-orang itu, tapi nanti, saat ini tubuhnya tak mendukung untuk melakukannya. Ia pasti akan kalah. Beruntung, surat-surat tanah dan rumah telah ia amankan jadi budenya tidak akan bisa mengambil alih apalagi menjualnya.

__ADS_1


Saat ia sedang sibuk merangkai bunga, seruan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usia senjanya membuat konsentrasi Jelita buyar seketika. Seulas senyum ia berikan kepada wanita yang telah begitu dengan baik hatinya memberikan perhatian, kasih sayang, dan bantuan pada dirinya. Bahkan ia diperlakukan seperti anak sendiri, pulang pergi pun ia selalu diantar sopir membuat hatinya yang haus akan kasih sayang orang tua merasa menghangat.


"Lita ..." seru Ratna.


"Iya Tante." sahut Jelita dengan senyum manis yang tercetak jelas di wajahnya.


"Kamu sudah makan siang, sayang?" tanya Ratna seraya mengusap pelan rambutnya.


Jelita tersenyum hangat karena merasa bahagia diberikan perhatian sebesar ini.


"Alhamdulillah udah Tante. Tadi Lita udah makan siang sama mbak Weni." ujar Jelita memberi tahu.


"Syukurlah. Oh iya, tadi Tante pergi ke supermarket terus liat ada susu ibu hamil yang lagi promo jadi tante membelikannya untuk kamu. Karena tante tidak tahu kamu suka varian rasa apa, jadi tante beli 3 varian rasa yang tersedia, ada coklat, vanila, dan stroberi. Semoga kamu suka." ujar Ratna seraya seraya menyerahkan sekantung besar berisi susu yang setiap kotak beratnya 900 gram. Di dalam kantong itu ada 3 kotak dengan 3 varian rasa yang berbeda membuat Jelita meringis karena merasa merepotkan Ratna yang bahkan bukan siapa-siapa dirinya.


"Masya Allah Tante, Tante nggak perlu repot-repot kayak gini, Tan. Ini juga kebanyakan banget. Makasih ya, Tan. Lain kali nggak usah lagi ya Tan, Lita nggak mau ngerepotin Tante." ujar Jelita merasa tak enak hati dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu nggak perlu berterima kasih, sayang. Tante udah anggap kamu anak sendiri." 'dan karena kamu juga sedang mengandung cucu Tante, sayang.' "Ya udah, Tante ke ruangan Tante dulu, ya. Kamu jangan capek-capek. Ingat, ada anak yang harus kamu jaga ." peringat Ratna dan Jelita mengangguk antusias.


"Pasti Tante. Sekali lagi, makasih ya." ucap Jelita tulus dan Ratna pun mengangguk kemudian berlalu dari hadapan Jelita.


Di saat Jelita sedang diliputi kebahagiaan karena perhatian Ratna padanya, di balik jeruji besi, tampak Kentaro sedang meraung-raung memanggil nama mamanya, abangnya, dan juga Jelita. Para sipir yang mengetahui siapa itu Kentaro hanya bisa menaruh rasa iba tanpa melakukan apa-apa. Apalagi, kondisi fisik Kentaro makin melemah akibat muntah-muntah yang tak kunjung hilang.


"Mama ... Kenta mau bicara ma, tolong kesini, Ma. " raungnya dengan nada lemah. "Bang, please bang, pertemukan Kenta sama Jeje, bang. Kenta mau minta maaf, Bang. Kenta mau bertanggung jawab atas perbuatan Kenta, bang. Jangan nikahi Jeje, bang! Kenta mohon, bang." raungnya lagi. "Je, gue mohon Je, maafin gue Je, jangan benci gue, Je. Je, jangan nikah sama Abang gue, Je. Gimanapun itu anak gue , Je, anak kita. Dia butuh gue , ayahnya. Please, Je, maafin gue." racaunya lagi.


Penampilan Kentaro kini benar-benar berantakan. Tiada lagi Kentaro yang selalu berpenampilan rapi, keren, dan rambut klimis. Yang ada hanyalah Kentaro yang kacau. Rahangnya yang biasa mulus tampak kasar karena bulu-bulu halus yang mulai tumbuh memenuhi sekitar rahang dan atas bibirnya


Sebenarnya Azam ada di sana mendengarkan setiap racauan Kentaro, tapi ia mendiamkan saja. Itu perlu ia lakukan untuk memberikan efek jera pada adiknya itu. Selain itu, ia ingin melihat sebatas mana perjuangan adiknya itu untuk mendapatkan Jelita. Lagipula semua yang dilakukan Kentaro masih biasa saja. Tidak sebanding dengan penderitaan yang dialami Jelita.


"Terimalah hukumanmu. Abang harap, setelah ini, kamu benar-benar berubah dan menyadari perasaanmu sebenarnya." gumam Azam dari balik pintu lapas.

__ADS_1


...***...


__ADS_2