
"Tuan, ada tamu non Erika, den Azam." ucap art keluarga Erika.
"Oh, persilakan masuk ." ucap Raharja.
"Baik, tuan." sahut art itu.
Tak lama kemudian, masuklah Azam sembari mengucap salam, lalu ia menyalami satu persatu orang yang ada di ruang tamu itu, termasuk tamu dari orang tua Erika.
"Maaf om, kalau saya datang di waktu yang tidak tepat." ucap Azam sopan.
"Oh nggak masalah, nak. Kalian bisa mengobrol di taman belakang." sahut Raharja. "Ka, kamu bisa ajak nak Azam ke belakang." ujar Raharja.
"Baik, pa. Yuk, Zam, kita ngobrol di belakang aja." ajak Erika. Wajah mendungnya kini telah ganti cerah.
"Siapa itu ,Ja?" tanya rekan kerja Raharja.
"Oh, itu rekan kerja Erika. Mereka ada di satu kesatuan." ucap Raharja santai.
"Jadi gimana Ja, kami menunggu keputusan kalian. Tentu kamu tau putra kami, ia bukan hanya tampan, tapi juga mapan, dan pewaris perusahaan kami. Aku yakin, Erika akan bahagia setelah menikah dengannya." ujar rekan kerja Raharja. Raharja menghela nafas berat, lalu matanya melirik kearah Asti, istrinya. Dapat ia lihat, dari mata sang istri tersirat penolakan. Bukan menolak karena tidak setuju, tapi lebih ke menghargai keputusan sang putri. Mereka tidak mau memaksakan kehendak yang malah akan berakibat tidak bahagianya sang putri. Tapi ia tidak bisa serta merta memberikan keputusan. Semua harus ada pertimbangan. Ia tau, keluarga rekan kerjanya itu keluarga baik-baik, tapi mungkin ia akan menunggu keputusan putrinya. Erika tadi sempat berkata, biar ia pikirkan terlebih dahulu.
"Maaf Kan, bukan saya menolak. Saya tau, putramu adalah sosok yang tak diragukan lagi kepribadiannya, tapi tetap , keputusan ada ditangan putri kami. Tolong beri ia waktu untuk berpikir. Bila ia sudah mendapatkan jawabannya, kami akan segera menghubungi kalian." ujar Raharja bijak.
Arkan, rekan kerja Raharja pun mengangguk. Ia paham, ia pun memiliki seorang putri, ia pun akan melakukan hal yang sama bila ada orang lain yang tiba-tiba melamar putrinya sebab kebahagiaan anak adalah nomor satu bagi orang tua.
"Baiklah, Ja. Kami mengerti perasaanmu sebab aku pun akan melakukan hal yang sama bila ada orang yang tiba-tiba melamar putriku. Kalau begitu kami permisi dulu." ucap Arkan.
Lalu kedua orang tua itu pun pergi. Ya, putranya yang hendak mereka jodohkan telah pulang terlebih dahulu karena ada urusan penting. Jadilah tinggal mereka berdua di rumah Raharja.
Di taman,
__ADS_1
"Mereka tadi siapa?" tanya Azam.
"Oh, mereka ..." jeda Erika. Tiba-tiba muncul itu jahil di otaknya. "Mereka orang tua calon suami ku." ucap Erika santai.
Darah Azam tiba-tiba mendidih saat mendengar ucapan santai Erika. Tidakkah ia tahu, kalau Azam saat ini sudah meradang baik hati maupun otaknya.
"Memang kau sudah tau calon mu itu seperti apa?" tanya Azam lagi.
"Sudah. Kamu mau lihat fotonya? Aku ada akun Instagramnya." sahut Erika semangat. Lalu ia segera membuka akun Instagram miliknya dan mencari nama akun pria yang hendak dijodohkan kepadanya itu. "Nih, cakep kan! Dia juga pengusaha. Orangnya juga baik dan dermawan."
Azam mendengus kesal, "Memang kau sudah sangat mengenalnya hingga kau bisa menilai orang seperti itu?" tanya Azam lagi, sudah seperti sesi interogasi.
"Belum." sahut Erika santai. "Kan baru ketemu tadi, sebelum kamu datang ." Erika melirik bagaimana raut wajah Azam.
Ia sangat senang melihat reaksi tak terduga Azam itu. Azam adalah sosok yang cuek, pendiam, dingin, sehingga orang kadang menilainya angkuh, padahal itu tidak benar sama sekali. Kalau cuek yah, itu memang benar. Ia hampir tak pernah mengomentari siapa pun. Mau lihat orang guling-guling tanpa baju pun ia masa bodoh. Yang ia pedulikan hanya bila ada orang yang melakukan pelanggaran hukum, maka ia baru akan bertindak. Tapi kini, saat ini, Azam seperti mengeluarkan semua kekesalannya via sesi tanya jawab. Dalam hati, Erika terkikik geli melihat raut wajah memerah Azam karena menahan emosi.
"Baru bertemu kamu sudah menilainya baik? Baik di hadapan kita, belum tentu baik aslinya. Ingat, banyak penjahat yang awalnya berpura-pura baik, setelah apa yang ia inginkan ada di depannya, sifat iblis mereka tiba-tiba muncul." Azam mendengus kesal. Ia pun aneh, mengapa ia tiba-tiba sulit mengontrol emosinya apalagi saat mendengar Erika mengatakan orang tadi adalah orang tua calon suaminya. "Kamu udah jadi polisi berapa lama sih? Kamu tentu sering menghadapi orang-orang yang berpura-pura baik ternyata mereka penjahat. Lalu kenapa kamu begitu mudahnya menilai orang lain itu baik? Kamu harus ingat orang itu akan kamu jadikan calon suamimu, pendamping hidupmu, bukan hanya untuk satu hari saja, tapi esok lusa dan seterusnya, selamanya, jadi kamu harus memikirkan segalanya dengan matang matang. Kamu tidak bisa memutuskan segala sesuatu dengan gegabah." tegas Azam.
"Kok kamu perhatian banget sih?" ujar Erika seraya menunjukkan mimik menggemaskan dengan mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya di depan Azam membuat Azam salah tingkah. Bahkan kini wajah mereka sudah sangat dekat.
"Minumnya, non!" tiba-tiba art Erika datang mengantarkan minuman dan cemilan ke hadapan mereka membuat Erika sontak menjauh.
Setelah meletakkan minum, art itu pergi sambil mengulum senyum geli.
"Oalah, kayaknya non Erika sebenarnya suka sama den Azam toh! Kayaknya den Azam juga suka. Tapi masih gengsi. Dasar anak muda." dengus art Erika merasa geli sendiri.
"Ka, ..." panggil Azam, Erika pun menolehkan wajahnya menghadap Azam.
"Ya ..."
__ADS_1
"Memang ... memang kamu menyukainya sampai kamu mau menerimanya?" tanya Azam dengan mimik wajah serius.
"Aku ... aku ..."
"Kamu tidak menyukainya kan?" tebak Azam to do point membuat Erika terdiam.
"Ba ... bagaimana kau bisa menyimpulkan begitu?" tanya Erika penasaran.
Lalu Azam pindah dan menekuk lututnya di bawah kaki Erika membuat Erika membolakan matanya. Lalu tangan Azam terangkat dan menggenggam kedua tangan Erika dengan erat.
"Karena aku tau, di sini ..." tunjuk Azam pada dada kiri Erika, "Hanya ada namaku."
Deg ...
"Kenapa diam? Aku benar kan!" tanya Azam dengan sorot mata tajam membuat Erika salah tingkah.
Lalu Erika terkekeh untuk menutupi kecanggungannya. Bola matanya bahkan kesana kemari agar tidak saling bertatapan dengan Azam. Bagaimana Azam bisa mengetahui isi hatinya, pekik Erika dalam hati.
"Ih, pede banget jadi cowok. Kata siapa? Jangan-jangan sebaliknya!" Erika mencibir. Malu dong, tiba-tiba ngaku suka sama doi, cibirnya dalam hati.
"Aku bukan cowok naif, Ka. Sesuai dugaanmu, di sini ... " Azam menarik tangan kanan Erika dan menempelkannya di dada kirinya, "entah sejak kapan, sudah tertulis nama kamu di dalam sini." ujar Azam dengan sorot mata penuh kesungguhan.
Deg ...
'Benarkah? Apakah aku sedang bermimpi? Hello, tolong semua, jangan bangunkan aku ya kalau ini semua mimpi! Kapan lagi coba bisa mimpi semanis ini.' teriak Erika dalam hati.
Cup ...
"Jangan melamun! Ini bukan mimpi. Ini real." bisik Azam membuat wajah Erika tiba-tiba bersemu merah.
__ADS_1
...***...
...^^^Happy Reading 🥰🥰🥰^^^...