Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.94 Pilihan


__ADS_3

"Awh ... aaargh ..." terdengar suara rintihan dan ringisan seseorang.


Seorang pria dengan seragam coklatnya, tampak berjalan mendekati brankar pasien. Pasien yang sudah hampir 2 x 24 jam lalu tak sadarkan diri selepas operasi pengangkatan proyektil peluru itu kini mulai mengerjapkan matanya.


Lantas pria berseragam coklat itu menekan tombol di sisi ranjang pasien untuk memanggil dokter. Tak butuh waktu lama , akhirnya dokter dan tim telah tiba dan memeriksa kondisi tubuh pasien dengan teliti.


"Bagaimana dok keadaan pasien itu?" tanya sang pria berseragam coklat.


"Kondisinya sudah lebih baik." jawabnya singkat.


"Di mana ini?" tanya sang pasien ketika matanya sudah benar-benar terbuka. Bias cahaya pun sudah terlihat jelas , tak menyilaukan lagi.


"Ini di rumah sakit. Bagaimana Bu keadaannya? Apakah ada yang merasa sakit?" tanya dokter, sedangkan pria berseragam coklat hanya memperhatikan saja.


"Ke-kepala saya masih sakit, dok. Dan kaki saya ... aaargh ... sakit sekali dok. Kaki saya nggak kenapa-kenapa kan dok?" ucap perempuan itu yang ternyata adalah Adinda.


"Kaki Anda terkena tembakan tapi Anda tenang saja, proyektil yang bersarang di pangkal paha Anda sudah diangkat. Tapi ..." ucapan dokter itu terjeda.


"Tapi apa dok? Kaki saya nggak kenapa-kenapa kan dok?" tanya Adinda dengan rasa takut yang menyeruak di dalam dadanya.


"Kaki Anda memang sudah tidak apa-apa, tapi karena proyektil peluru itu sempat bersarang tepat di tulang pangkal paha Anda, maka kemungkinan besar kaki Anda akan pincang." jelas dokter tersebut.


Duarrr ...


Langit seakan mau runtuh, bumi terbelah dan lautan bergemuruh. Berita yang Adinda terima siang itu ternyata cukup mengejutkan. Adinda kini hanya bisa tergugu dalam diam. Ia tak mampu bicara apa-apa. Mungkin inilah nasibnya. Mungkin inilah hukumannya karena telah berkali menyakiti hati istri orang lain. Mungkin inilah hukumannya karena menghancurkan rumah tangga orang lain. Mungkin ini juga hukumannya karena membuat anak-anak mendadak yatim. Mungkin ini karmanya karena menjadi pelakor. Kini, ia tak memiliki apapun lagi untuk dibanggakan. Ia sudah hancur, terpuruk, tak berdaya.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya pria berseragam coklat itu.


"A-aku nggak apa-apa, kok ." jawab Adinda miris. Ia miris dengan nasibnya sendiri. Bahkan terlalu miris.


"Benar dengan ibu Adinda Safitri?" tanya pria berseragam coklat itu lagi.


"I-iya, pak. Maaf pak, saya bukan bagian dari orang-orang itu. Saya tidak kenal mereka kalau bapak mau menanyakan pada saya tentang mereka. " cicit Adinda ketakutan saat namanya disebut.

__ADS_1


"Iya, saya tau. Saya hanya ingin menanyakan kenapa Anda bisa sampai di sekap di sarang perampok seperti itu? Oh iya, maaf saya lupa memperkenalkan diri, nama saya Azam. Saya tau nama Anda dari kartu pengenal yang ada di dalam tas Anda." ujarnya seraya menjulurkan tangannya untuk bersalaman.


"A-anda pak polisi yang menyelamatkan saya itu kan?" tanya Adinda ragu sambil menyambut uluran tangan Azam.


"Iya benar, itu saya. Jadi, bagaimana? Apa saya sudah bisa menanyai Anda tentang bagaimana Anda bisa ada di sana?" tanya Azam lagi sembari menyalakan perekam di ponselnya untuk merekam hasil pembicaraan mereka.


"I-iya ,pak. Pertama saya ucapkan terima kasih karena sudah menolong saya. " ucap Adinda lalu ia pun mulai menceritakan kronologis bagaimana ia bisa di sekap di ruangan bekas pabrik itu.


Setelah selesai bercerita, Azam segera mematikan perekam dan mulai menanyakan sedikit tentang identitas Adinda.


"Oh iya, saya sudah meminta anak buah saya menghubungi keluarga anda sesuai alamat yang ada di kartu pengenal, tapi kata mereka , orang-orang di sana tidak ada yang mengenal nama Anda. Apa ada nama keluarga anda yang bisa kami hubungi?" tanya Azam yang merupakan polisi yang sudah menyelamatkan Adinda dari sekapan para perampok.


Adinda menggeleng sambil tersenyum miris. "Saya sudah tidak punya keluarga, pak. Mungkin ini hukuman saya jadi semua orang meninggalkan saya."


Adinda memang masih memiliki paman kandung yang ia akui sebagai ayahnya di hadapan orang lain. Namun, kini ia sudah terlalu malu untuk menemui mereka. Ia sudah kerap kali mengecewakan paman dan bibinya itu. Jadi mulai sekarang ia akan membiasakan diri hidup sendiri. Ia juga berniat berubah menjadi lebih baik. Ia menyadari sesadar-sadarnya bahwa tindakannya selama ini amat sangat bersalah. Setelah selamat dari maut, ia seakan mendapat hidayah agar berubah. Mungkin itu adalah kesempatan kedua dari yang Kuasa agar ia bertaubat dan kembali pada-Nya.


"Hukuman? Hukuman atas apa?" tanya Azam lembut.


"Karena sudah jadi pelakor. Karena sudah menghancurkan rumah tangga seseorang. Karena membuat anak-anak kehilangan kasih sayang ayahnya." jawab Adinda parau namun tersirat rasa penyesalan yang dalam.


Tanpa banyak kata, Azam pun langsung keluar dari ruang rawat Adinda tanpa menoleh apalagi berkata-kata lagi. Adinda hanya dapat tersenyum miris. Mungkin memang wanita pelakor tak pantas dimaafkan bahkan tak pantas hidup di dunia ini lagi, pikirnya.


Tak mau berhutang budi lebih banyak ke pria bernama Azam tersebut, Adinda segera mencabut selang infus yang menancap di lengannya. Ia melihat ada sebuah paperbag yang ternyata berisi pakaian ganti. Gegas dengan tertatih, ia berganti pakaian di kamar mandi. Setelah selesai, dengan kaki yang pincang dengan sesekali meringis karena luka yang belum sembuh, ia berjalan keluar, meninggalkan rumah sakit itu. 'Semoga Tuhan membalas kebaikanmu, tuan. Terima kasih atas pertolongan dan pakaian ganti ini.' gumamnya saat sudah berada di luar rumah sakit.


.


.


.


.


Seperti yang ditugaskan Aglian, kini Lea dan Adam sudah berada di ruangan khusus pemilik Angkasa Trade Center itu. Adam dan Lea nampak gusar. Pikiran mereka pun sudah bercabang kemana-mana. Berbagai pemikiran buruk bahkan sampai yang terburuk seakan bermain-main di otak mereka. Mereka tau dan paham kemana arah pembicaraan ini akan berlangsung.

__ADS_1


"Kalian tau kenapa kalian saya panggil kesini?" tanya Aglian tegas dengan sorot mata tajam dan menghujam. Kedua manusia itu seketika membatu. Dengan wajah menunduk, mereka tak berani berucap walau sepatah kata.


"Jawab aku! Kalian tau kenapa saya panggil kemari, hah!!!" bentak Aglian pada Adam dan Lea.


"Ma-maaf tuan, kami tidak tahu." dusta mereka .


Aglian menarik salah satu sudut bibirnya. 'Tubuh kalian sudah gemetar seperti itu, artinya kalian sadar apa yang akan aku ucapkan, tapi kalian tidak mau mengaku. Dasar sampah!' cibir Aglian dalam hati.


"Benar kalian tidak tahu? Menebak pun kalian tak bisa?" sarkas Aglian.


"Ti-tidak tuan. Kami benar-benar tidak tau dan tidak bisa menebak." sahut Adam sedangkan Lea sudah tak mampu berkata-kata.


"Oh, oke! Baiklah, aku akan mengingatkan. Ini ada hubungannya dengan perbuatan kalian terhadap saudariku, Anggi. Bagaimana? Apa kalian sadar kesalahan fatal yang telah kalian lakukan padanya, hah!" sentak Aglian.


Brukkk...


Adam dan Lea sontak bersujud dengan menekuk kakinya hingga beradu di lantai.


"Maafkan saya tuan. Saya tak tau kalau Anggi adalah saudari tuan." ucap Adam memelas.


"Benar tuan, maafkan saya. Andai saya tau saya tak mungkin mempermalukan Anggi di hadapan orang banyak." ucap Lea dengan wajah memelas.


hahaha....


Aglian tertawa lebar saat mendengar permintaan maaf yang tak tepat sasaran itu.


"Kalian seharusnya bukan minta maaf kepadaku, tapi kepada orang yang bersangkutan. Namun bukan berarti aku akan melepaskan kalian begitu saja. Aku ingin membuat perhitungan kepada kalian. Kalian tahu perbuatan kalian itu sudah benar-benar sangat keterlaluan. Bahkan aku yang hanya mendengarkan ceritanya saja merasa sangat sakit hati. Untuk itu aku akan membuat sebuah keputusan dengan 2 buah pilihan." ujar Aglian dengan sorot mata tajam menatap lekat kedua orang tersebut. "Rob ..." panggil Aglian. Lalu Robi pun menyerahkan 2 buah map.


"Ini ..." ujar Aglian seraya melemparkan satu per satu map ke arah Adam dan Lea.


"Pilihan pertama mengundurkan diri tanpa pesangon dan diblacklist di semua perusahaan atau pilihan kedua turun jabatan menjadi cleaning service selama masa yang saya tentukan sendiri." ucap Aglian tegas.


Seketika mata Adam dan Lea membulat sempurna mereka tak menyangka akan mendapatkan pilihan yang aneh dan sulit seperti ini.

__ADS_1


Berbanding terbalik dengan Aglian, ia nampak puas memandang wajah pias kedua orang itu. 'Sebenarnya ini tidak sebanding dengan kesalahan yang kalian buat. Hukuman ini masih terlalu ringan. Bahkan sangat ringan. Ingin sekali aku memecat kalian secara tidak hormat dan memblacklist nama kalian di dunia kerja saat ini juga. Tapi itu bertentangan dengan profesionalisme kerja diriku. Andai kalian memiliki sedikit saja kesalahan dalam bekerja, mungkin aku akan lebih mudah memecat kalian berdua.' seringai Aglian dalam hati.


__ADS_2