Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.125 (S2) Bertahanlah, Stefani!


__ADS_3

"Om Lian ..., glandma, glandpa ..." pekik Kevin dan Karin saat memasuki rumah Davindra. Anggi, Diwangga, dan trio bocil saat ini sedang berkunjung ke rumah orang tua Anggi. Tampak di sana ada Ajeng, Davindra, dan Aglian yang sedang duduk bercengkrama di ruang keluarga.


Lalu mereka berlima pun bergantian menyalami orang tua Anggi dan Aglian.


"Ih, cucu grandma sama grandpa makin ganteng dan cantik aja." puji Ajeng seraya mencium kedua pipi cucu-cucunya.


"Sini sayang, duduk dekat grandma sama grandpa." ucap Davindra. Lalu ketiga Bocil itu pun duduk di dekat Anjeng dan Davindra.


"Eh, ponakan om Lian dari mana malam-malam gini?" tanya Aglian pada trio bocil karena saat itu jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.


"Dari lumah nenek, om." jawab Karin santai.


"Rumah nenek? Rumah Adam maksudnya, Nggi?" Aglian minta penjelasan.


"Iya." sahut Anggi singkat.


"Ngapain kamu kesana? " Anggi dapat mendengar nada jengkel dari bibir Aglian saat mendengar saudaranya datang ke rumah orang itu.


Anggi pun tersenyum, "Bagaimanapun Tante Tatik juga neneknya anak-anak, Lian, dan beliau sedang sakit, jadi apa salahnya mengajak anak-anak membesuknya. Kita nggak boleh mengajari anak-anak mendendam, nggak baik." Tukas Anggi.


"Adam-nya ada?" tanya Davindra.


"Ada, Pa." jawab Anggi singkat.


"Terus?" lanjut Aglian seperti belum puas mendengar jawaban Anggi.


Diwangga hanya geleng-geleng melihat respon Aglian.


"Emang dia bisa apa kalau ada suaminya?" sahut Diwangga enteng sambil melirik wajah Anggi membuat semua tergelak.


Keluarga besar itu pun tampak bersenda gurau bersama. Mereka membahas berbagai hal . Anggi juga menceritakan perihal ia yang menyerahkan sertifikat kepemilikan tanah dan rumah milik mantan mertuanya dulu. Hal tersebut ternyata berakhir drama tangis menangis dari penghuni rumah itu. Bu Tatik juga tak hentinya mengucap terima kasih, bukan hanya karena rumah peninggalan mendiang suaminya telah kembali, tapi juga ia diberikan kesempatan bertemu cucu-cucunya. Ia tak menyangka, Anggi memiliki hati seluas samudera. Padahal keluarga mereka telah menyakiti Anggi berkali-kali, tapi ternyata Anggi masih bersedia memaafkan mereka.


"Mama dan papa bangga punya anak seperti kamu, Nggi." ungkap Ajeng seraya mengusap puncak kepala Anggi yang tertutup hijab. Anggi hanya tersenyum simpul mendengarkan penuturan mamanya.


"Oh ya, bagaimana keadaan kandungan kamu, sayang?" tanya Davindra.


"Alhamdulillah sehat, Pa." jawab Anggi sambil tersenyum. "Oh ya, Lian, bagaimana keadaan Stefani? Kapan diadakan operasinya?" tanya Anggi pada Aglian. Anggi memang sudah tau tentang keadaan Stefani. Ia juga sudah diberitahu yang bisa memiliki kecocokan sumsum tulang belakang dan bisa menjadi pendonor justru bukan ayahnya, melainkan adiknya yang masih kecil.


Aglian yang sedang membantu Karin menyusun puzzle, seketika menolehkan kepalanya ke arah Anggi.


"Insya Allah seminggu lagi, selesai masa penyesuaian. Mohon doanya supaya lancar, ya!" ucap Aglian tulus.


"Hmm ... pasti. Eh, tapi emang bener ya kalau kalian putus? Kamu nggak papa, kan?"


Aglian tersenyum, " Hmm ... sepertinya itu yang terbaik. Tenang aja, aku nggak papa kok. Santai." seringai Aglian.


"Ya iyalah, santai, soalnya sekarang lagi ada yang didemenin. Malah mungkin sedang PDKT." celetuk Ajeng membuat semua orang menatap Aglian tak percaya.


Aglian menegang, bagaimana mamanya bisa tau, pikirnya.


"Serius? Siapa nih? Is, kamu ya, sama saudara sendiri nggak cerita-cerita lagi!" omel Anggi kesal. "Kira-kira aku kenal nggak?"


"Bumil kepo banget sih! Mama nih biang keroknya." Aglian mencebik pura-pura kesal .


"Ayo, Lian, kasi tau siapa!" Rajuk Anggi seraya menarik-narik lengan baju Aglian.


"Ayin tau, ma, itu hmmph ..." Karin yang baru saja ingin bicara tapi mulutnya sudah ditutup Aglian.


"Anak kecil diam aja!" bisik Aglian.

__ADS_1


"Mas, liat tuh Lian ..."


"Awww ..."


Baru saja Anggi ingin mengadu pada Diwangga, sudah terdengar suara jeritan Aglian karena jarinya digigit Karin.


"Onty Luna, ma. Onty Luna. Ayin liat di hp om ada foto onty Luna." adu Karin saat tangan Aglian sudah lepas dari mulutnya, membuat mulut Anggi menganga tak percaya.


"Beneran tuh, Lian!" tanya Anggi meminta penjelasan.


"Iya ma, Abang juga liat di hp om Lian ada foto onty Luna." celetuk Damar membuat Aglian tambah salah tingkah.


"Bisa kamu jelasin sekarang!" Anggi mendelik meminta penjelasan.


"Em .. itu eee ..."


Diwangga dan Davindra tergelak melihat Aglian yang tampak kebingungan untuk menjelaskan.


"Ternyata seorang Aglian , CEO Angkasa Grup bisa keki juga." sindir Diwangga.


"Ya elah bang, aku bukannya keki, cuma sedang mencari kata untuk menjelaskan." kilah Aglian.


"Tinggal jelasin aja apa susahnya sih!" kini giliran Ajeng yang berkomentar.


"Iya, aku ... aku emang suka sama Luna." ungkap Aglian. "Tapi belum jadian. Masih proses pendekatan." ujarnya tergagap.


"Luna udah tau?" lanjut Anggi dan Aglian menggeleng. "Kamu seharusnya cepat bilang kalau kamu suka, ntar keburu diambil orang lain baru gigit jari kamu." Aglian tersenyum lebar setelah mendengar itu. Pun yang lain ikut tersenyum membuat dada Aglian membuncah artinya ia busa lanjut ke tahap yang lebih tinggi.


...


Aglian baru saja merebahkan diri ke tempat tidur . Ia lalu mengambil ponselnya yang baru saja diisi daya. Segera ia buka kunci ponsel itu dengan menempelkan jemarinya. Tak lama kemudian, layar yang terpampang foto Luna itu pun terbuka.


Baru saja Aglian ingin menekan tombol telepon untuk menghubungi Luna, tetapi ponselnya sudah lebih dahulu berdering.


"Dr. Alan? Ada apa malam-malam begini telepon?" Gegas Aglian mengangkat telepon itu. Ini untuk pertama kalinya dr. Alan menghubunginya di malam hari. Ia tentu khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkannya pada Stefani.


"Halo ..."


"Lian, kondisi tubuh Stefani sedang tak baik. Bisa kamu ke rumah sakit sekarang, ada yang perlu aku bahas." ujar dr. Alan dari seberang telepon.


Deg ...


"Baiklah, aku segera kesana."


Tak mau membuang waktu, Aglian segera meraih kunci mobilnya lalu segera berlarian ke luar dari kamar. Davindra yang memang belum tidur, segera menghampiri sang putra yang tampak ingin pergi tergesa-gesa.


"Ada apa Lian? Apa ada hak buruk yang terjadi?" tanya Davindra.


"Pa, kondisi kesehatan Stefani menurun. Ada yang ingin dr. Alan bicarakan padaku. Aku harus segera ke sana." jelas Aglian.


"Hmm ... baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan! Jangan terlalu mengebut, utamakan keselamatan." pesan Davindra .


"Hmm ... baik, pa. Lian pergi dulu, pa. Assalamualaikum. " pamit Aglian.


"Wa'alaikum salam." jawab Davindra seraya memperhatikan mobil Aglian yang perlahan keluar dari garasi.


"Pa, Lian mau kemana malam-malam begini? Terburu-buru juga ." tanya Ajeng saat melihat Davindra masih berdiri di luar.


"Kondisi kesehatan Fani menurun jadi ia diminta ke rumah sakit oleh dokter yang menangani Fani." ujar Davindra.

__ADS_1


"Ya Allah, semoga Fani nggak apa-apa ya, Pa. Mama juga kasihan ." Ujar Ajeng khawatir.


Tak butuh waktu lama, hanya dalam 20 menit, mobil yang dikendarai Aglian telah tiba di rumah sakit. Gegas ia berlari memasuki rumah sakit untuk melihat kondisi Stefani. Saat ia telah tiba di ruang perawatan Stefani, hatinya tiba-tiba mencelos saat melihat jarum infus dan selang ventilator yang terhubung ke tubuhnya. Segera ia mendekati dr. Alan yang penampilannya sudah terlihat kacau . Ia sedang menggenggam tangan Stefani erat. Tampak dari raut wajahnya kesedihan yang kuat biasa. Aglian senang ada orang lain yang juga menyayangi Stefani. Tak lama kemudian tampak ayah Stefani pun masuk. Sepertinya ia juga baru datang.


"Dok, bagaimana keadaan putri saya?"


"Dok, bagaimana keadaan Stefani?"


Tanya Aglian dan Steven berbarengan. Mereka pun saling menoleh karena terkejut atas pertanyaan mereka lalu mereka kembali mengalihkan perhatian mereka pada dr. Alan yang telah berdiri dari tempat duduknya.


"Kita bicara di sana." ujar dr. Alan seraya menunjuk ke arah sofa. Aglian dan Steven pun menuruti.


"Kondisi fisik Fani sudah benar-benar lemah. Kita harus segera melakukan operasi. Sel kankernya telah benar-benar menyebar hingga ke organ vital. Tapi yang membuatku khawatir adalah, persentase keberhasilan operasi ini ... sangat kecil. " ujar dr. Alan lirih.


Aglian dan Steven shock.


"Apa kau punya saran ? Lakukan apa pun untuk kesembuhan Stefani. Berapa pun biayanya, aku akan menanggung semuanya." tegas Aglian dengan penuh harapan.


"Benar nak, tolong selamatkan putri saya. Tolong selamatkan Fani, om mohon!" mohon Steven sambil terisak .


"Ada apa dengan Fani, pa?" tiba-tiba terdengar suara Melani. Ternyata ia ikut menyusul.


"Fani, Ma ... Fani ... kesehatannya menurun drastis. Ia harus segera di operasi." ujar Steven lirih.


"Astaga, benarkah! Dok, tolong selamatkan putri saya!" mohon Melani sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Dr. Alan mengalihkan perhatiannya pada Aglian.


"Lian, kita punya satu kesempatan. Aku kenal dokter bedah hebat yang sudah bisa menangani penyakit seperti ini. Ia mendapat julukan tangan dewa karena setiap operasi yang dilakukannya tak pernah gagal ."


"Kalau begitu segera hubungi dia." potong Aglian.


"Yang jadi masalah, Beliau bukan bekerja di Indonesia." ucap dr. Alan sendu.


Aglian mengernyitkan dahinya, "Jadi dimana?"


"Singapore." jawab dr. Alan. "Namanya dr. Samuel. Dia bekerja di rumah sakit milik keluarganya di Singapore."


"Kau bisa hubungi dia untuk bersiap-siap? Aku akan menyiapkan jet pribadiku untuk mengantarkan kalian." tegas Aglian tanpa banyak basa-basi.


"Ah, baiklah. Aku akan segera menghubunginya." sahut dr. Alan semangat.


Dr. Alan segera berdiri dan menekan nomor seseorang di ponselnya. Kemudian ia berbicara dengan orang yang ada di seberang telepon itu . Tampak itu merupakan pembicaraan serius . Begitu juga Aglian, ia segera menghubungi Robi untuk menyiapkan penerbangan pagi-pagi sekali menuju Singapore.


"Aku sudah mengatakannya pada dr. Samuel. Beliau akan mengoperasi Stefani secepatnya setiba Fani di sana." ujar dr. Alan.


"Baguslah. Sebaiknya kita bersiap-siap untuk membawa apa saja yang kita dan Stefani butuhkan di sana." titah Aglian.


"Apa kau juga akan ke sana? Bukankah kau lebih baik di sini, biar kami saja yang kesana. Bukankah kau sangat sibuk ." ujar dr. Alan.


"Benar nak, biar kami saja dan dr. Alan yang kesana. Fani juga anak kami, pasti kami akan menjaganya dengan baik." ujar Melani mencari simpati. Saat mendengar kata Singapore, Melani sontak semangat. Kapan lagi ia bisa keluar negeri dan naik jet pribadi pikirnya.


Dahi Aglian mengernyit, heran akan sikap baik Melani yang tiba-tiba saja. Ia masih ingat saat pertama kali ke rumahnya, Melani menolak kedatangannya dengan tegas apalagi saat ia membicarakan tentang penyakit Stefani. Lalu kini , Melani seakan menjadi ibu yang baik.


Tak mau ambil pusing, ia pun mengiyakan perkataan dr. Alan .


"Iya nak, apa yang dikatakan Dr. Alan dan ibunya benar." ujar Steven.


"Baiklah, kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu, hubungi saja saya. Terus kabari saya perkembangan Stefani di sana. Besok kalian akan dijemput di rumah sakit menuju bandara. Sekarang bersiaplah. Biar aku yang menunggui Stefani di sini." ujar Aglian. dr. Alan, Steven, dan Melani pun menyetujui perkataan Aglian. Mereka pun berlalu untuk bersiap-siap.

__ADS_1


Setelah semua sudah pergi, Aglian segera duduk di samping Stefani. Ia menggenggam erat tangan Stefani, "Bertahanlah Stef, kau harus berjuang, bukan hanya demi dirimu, tapi demi orang-orang yang menyayangimu dengan tulus. Kami menyayangimu, Stef." ucap Aglian lirih.


__ADS_2