
Tak terasa hari ini adalah tepat 1 Minggu setelah hari pernikahan Anggi dan Diwangga. Untuk sementara mereka tinggal di tempat orang tua Anggi, namun setiap 2 kali seminggu mereka akan tidur di rumah Diwangga.
Sesuai perkataan Davindra saat di pernikahan Anggi dan Diwangga tempo hari, kini tampuk kepemimpinan Angkasa Trade Center baik pusat maupun cabang diserahkan kepada Anggi, untuk itulah kini Anggi telah menduduki ruangan yang biasa Aglian tempati. Untuk Anggrek Fashion, sudah ada orang-orang kepercayaannya yang ditempatkan Disana untuk mengontrol semua pekerjaan dan melaporkannya ke Anggi. Namun biarpun kursi kepemimpinan Angkasa Trade Center telah diserahkan ke Anggi, Aglian tidak lepas tangan begitu saja. Apalagi Anggi masih baru, jadi ia tetap mengontrol sembari membimbing Anggi agar tidak salah memilih langkah. Ia juga menempatkan orang-orang terbaik di sisi Anggi untuk membantunya.
"Ini Bu semua data-data semua karyawan Angkasa Trade Center." ujar seorang pegawai wanita bernama Mola yang ditunjuk Aglian sebagai sekretaris Anggi.
Anggi tampak membaca satu per satu data karyawannya. Anggi nampak mengerutkan dahinya membuat Mola penasaran.
"Maaf, apa ada yang salah, Bu?" tanya Mola
"Emm ... kalau nggak salah manager pemasaran kita namanya pak Adam kan, kok disini malah pak Yudi?"
Ya, semenjak Adam diturunkan jabatannya menjadi seorang cleaning service, Yudi, sahabat Adam lah yang diangkat untuk menduduki jabatan sebagai manager pemasaran.
"Ng ... itu Bu, pak Adam sudah diturunkan jabatannya. Sekarang ia menjadi petugas cleaning service atau OB di mall ini." ujar Mola.
Seketika mata Anggi membelalak tak percaya.
"Hah! Kamu serius dia diturunkan jabatannya jadi OB? Kok bisa? Emang dia buat kesalahan fatal?" cecar Anggi.
"Saya juga kurang tau, Bu. Pak Aglian yang memerintahkan langsung. Setahu saya, ia diberi 2 pilihan, mengundurkan diri tanpa pesangon dan di blacklist dari semua perusahaan atau menjadi cleaning service. Bukan hanya dia Bu, ada seorang karyawan Angkasa Grup juga yang diturunkan jabatannya sama seperti pak Adam. Dia di pindah tugaskan ke sini juga." jelas Mola membuat Anggi jadi makin penasaran kok bisa begitu.
__ADS_1
"Siapa nama karyawan itu?"
"Lea, Bu " Mata Anggi makin membelalak tak percaya saat nama itu disebut. Tak perlu bertanya, ia langsung paham apa alasannya. Tapi haruskah berbuat sampai sejauh itu? Sebab Anggi bukanlah tipe orang yang suka membalas dendam.
"Oke terima kasih kalau gitu, Mola. Kamu silahkan keluar. Nanti kalau saya ada butuh sesuatu, akan saya panggil kembali."
"Baik Bu. Kalau begitu, saya permisi." Mola pun keluar dari ruangan Anggi meninggalkan atasan barunya itu berkutat dengan berbagai macam berkas yang telah menanti tanda tangannya.
.
.
.
Hari ini Sulis berniat menjenguk suaminya yang ada di penjara. Namun ia menunggu Bu Tatik tidur agar ia dapat meninggalkannya dengan tenang. Setelah Bu Tatik lelap dalam tidurnya, Sulis pun berangkat. Tak butuh waktu lama, hanya dalam 20 menit, Sulis pun telah sampai di lapas tempat suaminya berada.
"Mas." sapa Sulis saat melihat suaminya telah muncul dari balik pintu. Kini Sulis dan Anton telah saling berhadapan dengan dibatasi dinding kaca. Hanya ada sebuah lubang kecil yang dibuat agar suara mereka dapat terdengar saat berbicara atau sekedar untuk berpegangan tangan.
Anton tampak tersenyum, kemudian menundukkan kepalanya.
"Mas, apa kabarmu?" tanya Sulis dengan suara bergetar menahan tangis.
__ADS_1
"Baik, Lis kamu bagaimana? Dan dia ... bagaimana?" tanya Anton dengan suara tak kalah bergetar.
"A-aku juga baik, mas. Di-dia siapa maksudmu,mas? jawab Sulis gemetar pura-pura bodoh. 'Apa mas Anton tau kalau aku sedang hamil?' gumam Sulis dalam hati.
"Dia ... Anakku." jawab Anton dengan nafas memburu dan tenggorokan tercekat.
"M-mas tau kalau aku sedang hamil?" tanya Sulis.
Anton mengangguk tanda mengiyakan tanpa menjawab. Hanya raut wajahnya saja yang tampak makin sendu. Tersirat rasa sesak dan sesal yang mendalam dalam seraut wajah itu.
"Maaf .... Maafin semua kesalahan, mas. Maaf .... karena tidak bisa mendampingi saat-saat kehamilanmu." Akhirnya, tangis Anton pecah. "Maaf, mas hanya bisa mengucapkan itu. Maaf ... mas mungkin tak bisa lagi mendampingimu. Maaf ..."
"Sudah mas, sudah, berhenti meminta maaf. Semua bukan semata salah mas Anton. Kami memiliki andil besar atas semua yang terjadi. Kami pun bersalah. Bahkan mungkin awalnya semua salah kami. Ini mungkin hukuman buat kami. Ini mungkin ganjaran atas semua perbuatan buruk kami. Sepertinya semua karma buat kami karena sudah bersikap sombong dan jahat. Terutama pada Anggi. Padahal dia temanku. Aku tahu dia sangat baik. Tapi aku, mama, dan mas Adam malah sering menyakitinya, menghinanya, merendahkannya, dan terakhir ... mendukung perselingkuhan mas Adam serta mendorong mas Adam segera menceraikan Anggi. Ini semua salah kami, ini hukuman kami, ini karma kami. hiks ... hiks... hiks ..." Mereka pun akhirnya menangis bersama.
"Sudah Lis, sudah, jangan menangis lagi. Ingat dirimu sedang mengandung, tidak baik selalu bersedih, nanti anak kita ikut sedih." Anton mencoba menenangkan Sulis.
"Mas ... tetaplah bertahan, aku akan menunggumu. Kami akan menanti kepulanganmu. Aku ... aku mencintaimu, mas. Aku yakin, mas sudah berubah. Aku pun akan berusaha berubah menjadi lebih baik lagi, mas. Aku juga akan menemui Anggi dan meminta maaf padanya. Aku ingin hidup lebih baik. Aku akan selalu menantikan kepulanganmu, mas. Aku dan anak kita sangat mencintaimu." tutur Sulis dengan wajah berurai air mata.
Anton pun sama, ia tak dapat membendung air matanya. Ia menangis sesegukan. Berkali-kali ia menyekanya dengan lengan bajunya, tapi air mata itu seolah tak mau berhenti mengalir. Tak pernah kering. Inilah penyesalan terbesar Anton dan Sulis.
"Terima kasih sayang, sudah memaafkan mas dan tetap mau menerima diri mas. Terima kasih mau bersabar menunggu, mas. Bertahan dan bersabarlah, mas janji, setelah mas keluar mas akan menjadi suami serta ayah yang terbaik bagi kalian. Mas juga mencintaimu, sayang. Maaf, mas baru menyadarinya sekarang kalau mas juga mencintaimu." ucap Anton tulus membuat hati Sulis semakin membuncah.
__ADS_1
Di tengah kesedihannya, ternyata ada setitik harapan dan kebahagiaan. Akhirnya, setelah menantikan sekian lama, suaminya membalas cintanya. Walaupun harus melewati penantian dan ujian yang panjang, ia bahagia .
"Terima kasih mas akhirnya engkau membalas cintaku. Aku janji akan bersabar menunggumu dan aku janji akan menjaga dan membesarkan buah hati kita dengan baik " timpal Sulis lagi seraya mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan suaminya. Walaupun tak dapat saling memeluk karena terhalang dinding kaca, tapi setidaknya mereka dapat saling menggenggam tangan, untuk menyalurkan rasa rindu dan cinta yang tulus dan mendalam.