
Malam ini adalah malam yang ditunggu-tunggu oleh Aglian dan Diwangga. Malam yang telah mereka berdua rancang. Malam dimana untuk pertama kalinya Anggi akan dipertemukan dengan orang tua kandungnya yang juga merupakan orang tua Aglian. Orang tua yang tak pernah Anggi temui dan ketahui sepanjang usianya.
Aglian telah mempersiapkan segalanya dengan sebaik mungkin. Bahkan ia sengaja membooking 1 restauran mewah untuk hari membahagiakan ini. Tepat di hari ulang tahun sang mama, ia akan memberikan kejutan luar biasa pada orang-orang terkasihnya.
Tentu kejutan ini bukan hanya untuk Anggi, tapi kedua orang tuanya sebab mereka pun belum mengetahui perihal telah ditemukannya putri mereka yang hilang. Bukan sedikit baik waktu, tenaga, dan biaya yang mereka curahkan untuk menemukan buah hati mereka tercinta, tapi setelah tahun demi tahun berlalu mereka tak kunjung jua menemukannya. Hati orang tua mana yang tak sedih dan hancur saat kehilangan buah hati mereka. Apalagi buah hati yang hilang itu merupakan buah hati yang sekian tahun ditunggu kehadirannya.
Penantian selama 4 tahun Ajeng dan Davindra akhirnya mampu memberikan pasangan itu sepasang anak kembar. Tapi di usia yang baru menginjak 3 tahun, pasangan suami istri itu harus kehilangan salah satunya, yaitu putri mereka.
Akibat kehilangan itu Ajeng bahkan sampai menderita depresi. Butuh waktu tak sebentar bagi Ajeng menjalani terapi demi mengobati depresi yang dideritanya. Namun lagi-lagi mereka diuji, saat Ajeng sudah mulai sembuh, ia justru mengalami kecelakaan hingga rahimnya terpaksa diangkat akibat benturan keras di area perut. Bukan hanya itu, akibat kecelakaan itu Ajeng juga mengalami koma selama 6 bulan. Sungguh cobaan beruntun yang membuat Davindra hampir gila. Andai tiada sahabat-sahabatnya seperti Suseno Yudhistira dan Rionald Hiddenbergh yang selalu mengingatkan bahwa ia masih memiliki seorang putra yang butuh kasih sayang dan perhatiannya, mungkin Davindra sudah lama menyerah.
Karena itu, hari ini Aglian akan memberikan kebahagiaan terbesar untuk kedua orang tua dan juga saudara kembar terkasihnya. Aglian berharap, ini adalah kebahagiaan baru keluarga mereka. Aglian berharap tak ada lagi duka nestapa yang menghampiri keluarga tercintanya.
Aglian bernafas lega saat semua persiapan rampung. Kini tinggal menunggu detik-detik mendebarkan sekaligus membahagiakan itu. Tak lupa ia melafalkan basmallah, berharap usahanya berjalan lancar sesuai rencana.
Aglian sedang meraih ponselnya lalu ia menekan nomor orang yang akhir-akhir ini menjadi sangat akrab dan sering dihubunginya.
"Halo, assalamualaikum, Lian," sapa seseorang di seberang telepon yang merupakan Diwangga.
"Wa'alaikum salam, bang. Gimana udah siap semua yang di sana?" tanya Aglian.
"Iya Lian, sebentar lagi kami akan mulai berangkat. Kamu juga buruan berangkat gih sama om dan tante. Mama dan papaku juga katanya sebentar lagi berangkat bareng Damar dan si kembar. " sahut Diwangga.
"Anggi tau mama dan papa kamu serta anak-anaknya juga diundang?"
"Nggak tau, biarin aja. Biar surprise. Kan aku udah bilang, aku juga sekalian mau lamar Anggi dari orang tua kalian."
"Sip... Aku udah mau otw, sampai jumpa di sana, bang."
"Oke, assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Aglian kini sedang mematut wajahnya di cermin. Dengan senyum lebar ia memandangi penampilannya yang sudah sangat rapi dan tampan.
__ADS_1
Setelah semua sudah siap, Aglian segera turun menemui orang tuanya. Khusus malam ini ia akan menjadi sopir pribadi ayah dan ibunya.
"Kita mau makan malam di mana sih, Lian sampai harus berpenampilan kayak gini?" tanya sang mama yaitu Bu Ajeng pada Aglian.
"Ada deh ma! Kan mama ultah, jadi harus spesial dong! Apalagi nanti aku ada kejutan buat mama dan papa."
"Kejutan apa sih? Bikin Mama dan papa penasaran aja." timpal Davindra.
"Ada deh! Rahasia." ujar Aglian sambil terkekeh.
Tak jauh berbeda dengan kediaman Aglian, Anggi pun telah siap untuk berangkat. Tapi ia tiba-tiba terkejut saat melihat kelima adik-adiknya juga telah berpenampilan rapi membuat mereka tampak cantik dan tampan.
Anggi mengerutkan dahinya, penasaran. "Kalian mau kemana? Kok udah rapi banget juga!" seru Anggi .
"Mau ikut mbak lah. Masa' mbak mau makan enak kami nggak diajak sih." sahut Luna.
"Tapi mbak ini diundang rekan kerja mbak. Mbak bukannya nggak mau ajak kalian, tapi..."
"Nggak papa ,Nggi. Lian yang suruh." potong Diwangga saat Anggi hendak bicara pada adik-adiknya.
Raju mengangguk, lalu ia segera mengambil kunci di tempat biasa Anggi meletakkannya.
Setelah semua berada di dalam mobil, mobil yang dikemudikan Diwangga dan Raju pun mulai membelah jalanan ibu kota menuju restoran yang telah diberitahukan Aglian.
Tak butuh waktu lama, mobil-mobil baik mobil Aglian, mobil Diwangga, mobil Suseno, dan mobil Raju pun sudah memasuki pelataran restoran. Anggi dan kedua orang tuanya memasang wajah terkejut saat menuruni mobil. Anggi yang tak menyangka karena Damar dan si kembar juga diajak, sedangkan Ajeng dan Davindra terkejut karena tamu yang datang bukan hanya ada Suseno dan Sofi, tapi juga ada orang-orang yang asing di mata mereka.
"Mama." teriak trio bocil saat turun dari mobil membuat perhatian Davindra dan Ajeng mengarah ke arah trio bocil itu.
"Iya sayang." sahut Anggi seraya memeluk ketiga anaknya.
"Masuk yuk," ajak Anggi pada ketiga anaknya.
Aglian, Diwangga, Suseno, dan Raju segera memberikan kunci mobil mereka kepada petugas valet parking untuk memarkirkan mobil mereka di tempat semestinya. Setelah itu, mereka pun masuk ke dalam restoran.
Saat berjalan masuk ke restoran, Ajeng dan Davindra terlebih dahulu menyapa kedua sahabatnya, Suseno dan Sofi. Ajeng dan Sofi saling memeluk dan cipika cipiki, sedangkan Davindra dan Suseno hanya saling berjabat tangan dan saling memeluk.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam ruangan restoran, Anggi segera mengambil posisi duduk di tempat yang telah di persilahkan Diwangga, si kembar duduk bersebelahan dengan Anggi dan Diwangga dengan Damar di tengah-tengah. Mereka persis seperti keluarga kecil yang sangat harmonis. Sedangkan Tita, Luna, dan Lia , serta Raju dan Aji duduk di meja lainnya.
Ajeng memandang sendu ke arah Anggi. Dia merasakan sesuatu yang beda saat menatap mata Anggi. Anggi pun begitu. Karena tahu ini adalah hari ulang tahun ibu Aglian, Anggi segera mendekati Ajeng untuk berkenalan sekaligus memberi ucapan. Tak lupa Anggi juga sudah menyediakan sebuah kado kecil untuk Ajeng.
"Malam Tante, perkenalkan saya Anggi, rekan kerjanya Aglian." ujar Anggi seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman. Saat tangan itu bersambut, tiba-tiba timbul getaran aneh di dalam dada baik Ajeng maupun Anggi. Mereka tak mengerti perasaan apa itu. Bahkan tanpa sadar, mata mereka berkaca-kaca sendiri.
"Ajeng." sahut Bu Ajeng dengan suara bergetar. Apalagi saat mendengar nama perempuan itu adalah Anggi.
"Oh, iya Tan, selamat ulang tahun, ya! Semoga Tante sehat selalu dan selalu dalam lindungan Allah. ini Anggi ada kado kecil untuk Tante, semoga suka." ujar Anggi.
"Terima kasih, ya nak." sahut Ajeng dengan sorot mata tak lepas memandang Anggi. Lalu yang lain pun satu persatu mengucapkan ucapan selamat ulang tahun kepada Bu Sofi.
Tiada perayaan seperti yang biasa orang lakukan seperti bernyanyi, meniup lilin, dan memotong kue. Yang ada hanyalah canda tawa sembari berbincang lalu makan malam pun mulai dihidangkan para pelayan. Satu per satu menu makanan telah tersedia di atas meja, Aglian pun mulai mempersilakan semua yang ada di sana untuk makan.
Acara makan tak berlangsung lama. Setelah semua selesai dengan makan malam dan memakan dessert yang di sediakan restoran, semua piring kotor pun segera di singkirkan.
Dengan gagah Aglian maju ke depan dan meminta perhatian semua orang. Semua orang pun terdiam dan mulai memusatkan perhatian mereka pada Aglian. Aglian pun merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih .
"Selamat malam semuanya. Semua sudah tau bukan kalau hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi mamaku. Karena itu di hari yang spesial ini, aku akan memberikan kado terindah untuk mamaku tercinta. Ah, sebentar lagi bukan hanya akan jadi mamaku, tapi juga mama seseorang yang sudah sekian lama terpisah dari kami." ucap Aglian terhenti membuat semua orang juga jadi penasaran apa maksud ucapan Aglian itu, kecuali Diwangga , Sofi, dan Suseno yang sudah lebih dahulu mengetahuinya.
Ajeng dan Davindra saling menoleh dan bertatapan, dari sorot matanya seakan menyiratkan pertanyaan 'apa maksud Lian?' . Lalu perhatian mereka, mereka pusatkan kembali ke arah Aglian.
"Ma, malam ini Lian akan menghadiahkan kado yang pasti akan membuat bukan hanya mama, tapi juga papa dan ada seseorang lagi akan bahagia bahkan sangat bahagia." Aglian berhenti sejenak untuk menarik nafas lalu kembali berbicara. "Ma, putri tercinta yang sangat mama dan papa rinduku sekarang ada di sini, diantara kita." ucap Aglian yang kembali berhenti.
Ajeng dan Davindra terkejut mendengar ucapan Aglian, sontak mata mereka sibuk memindai satu persatu tamu yang diundang Aglian. Tapi sorot mata mereka terpaku pada satu orang. Satu orang yang dari tadi sudah mengundang perhatian mereka. Bukan hanya Ajeng, tapi juga Davindra. Ia mengenali wajah itu. Wajah yang sama persis dengan istrinya saat masih muda. Ibarat Ajeng versi muda . Tapi mereka belum berani berkata apa-apa.
Ruangan itu kini hening. Karin dan Kevin pun tak bersuara seperti biasanya karena rasa kantuk yang mulai menyerang mata mereka, sedangkan Damar masih tetap fokus pada apa yang diucapkan Aglian. Ia tak mengerti apa yang dimaksud, tapi ia ikut mendengarkan saja.
.
.
.
Selamat malam para readers, terima kasih sudah mampir ke ceritaku ya! Semoga suka. Next besok ya!
__ADS_1
Happy reading.🥰