Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.143 (S2) Kepulangan Stefani


__ADS_3

Akibat kejadian yang menimpa Melani, kepulangan Stefani ke Indonesia dipercepat. Beruntung keadaan Stefano tidak terlalu parah jadi ia bisa ikut pulang.


Setibanya Aglian di Singapura, ia segera memerintahkan orang-orangnya untuk mengurus kepulangan Stefani dan Stefano, serta mengurus kepulangan jenazah Melani. Aglian bahkan telah menyiapkan 2 pesawat pribadi, satu untuk membawa Stefani, Stefano, dan dr. Alan, sedangkan satu lagi untuk membawa jenazah Melani. Steven ikut pesawat yang membawa Melani sebab ia ingin mendampingi saat-saat terakhir Melani di dunia.


"Hai, Stef, gimana kabar kamu?" tanya Aglian setibanya di ruang perawatan Stefani.


Mata Stefani berbinar seketika saat melihat kedatangan sahabatnya itu.


"Hai, Lian. Alhamdulillah, berkat bantuan mu, aku udah mulai membaik. Thanks banget, ya! Aku nggak tau gimana nasib aku tanpa bantuan kamu. " jawab Stefani penuh semangat.


Namun, tiba-tiba mata Stefani memicing saat melihat Aglian tak datang sendiri, melainkan bersama Luna. Dan yang lebih mengejutkan adalah posisi tangan Aglian yang tampak menggenggam erat tangan Luna. Tiba-tiba smirk jahil terbit di bibir Stefani.


"Ehem .. kayaknya ada yang jadian nih!" terka Stefani. Hanya dugaan itu yang ada di kepala Stefani.


Aglian tampak tersenyum miring, lalu ia melirik Luna yang tampak salah tingkah.


"Kamu salah, Stef." sahut Aglian terjeda , ia bermaksud bermain-main sedikit dengan Stefani. Stefani jadi bertanya-tanya, kalau bukan jadian kenapa mereka datang berdua dan bergandengan tangan.


"Look!" titah Aglian seraya mengangkat sebelah tangan Luna, lalu mereka memamerkan cincin yang melingkar di jari manis mereka.


"Ka ... kalian udah tunangan? Kok kamu nggak ngundang sih!" Rajuk Stefani. Dr. Alan geleng-geleng melihat sikap manja Stefani. Cemburu? Tentu ada. Tapi ia tak khawatir, sebab Stefani sudah menjelaskan ia tak memiliki perasaan apapun selain rasa sebagai seorang sahabat dan adik. Memang usia Stefani terpaut lebih muda 5 bulan dari Aglian karena itu kadang ia diperlakukan seperti adik.


Aglian terkekeh, lalu beranjak menarik kursi yang ada di dekat ranjang Stefani dan mempersilakan Luna duduk, membuat Stefani menganga melihat perlakuan manis Aglian ke Luna .


"Wah, so sweet banget kamu! Oh ya Lun, emang kapan kalian tunangan? Lian soalnya Sik sibuk banget sekarang, jadi udah jarang menghubungi apalagi cerita masalah pribadinya."


"Kami nggak tunangan kok, mbak." jawab Luna singkat.


"Terus cincin itu? Cincin lamaran kah?" Stefani makin bingung hingga ia menggaruk kepalanya .


"Kami udah nikah. Pagi tadi." sahut Aglian singkat membuat dr. Alan dan Stefani menganga lebar.


"Kalian serius? Kalian nggak lagi ngeprank'in kami kan?" tanya Stefani penuh rasa selidik.


"Ck ... kurang kerjaan, banget ngeprank'in kalian, ya nggak sayang?" ucap Aglian seraya melirik Luna.


"Iya mbak, Mas Lian nggak bohong kok. Emang kami pagi tadi nikah tapi cuma baru sebatas akad nikah aja. Kata Mas Lian resepsi ntar nyusul setelah semua urusan beres." jelas Luna. Stefani mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ck ... Loe, Lian, jahat banget sih, nggak ngabarin lagi kabar bahagia ini. But, selamat ya, aku doain semoga jadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Aku turut senang mendengar kabar gembira ini." ucapnya dengan senyum lebar. "Mudah-mudahan, sekembalinya aku ke Indonesia, bisa segera menyusul, ya nggak yang?" ucap Stefani seraya melirik dr. Alan yang tengah duduk di sofa.


"Wah, kalian udah jadian nih? Selamat, ya Stef, Lan, aku berharap kalian juga bahagia dan bisa segera menyusul." ucap Aglian tulus yang di aamiin-kan oleh Stefani dan dr. Alan .


Walaupun ada kejadian tak terduga akibat ulah Melani, hal tersebut tidak mengurangi kebahagiaan yang dirasakan Aglian, Luna, Stefani, dan dr. Alan. Apa yang terjadi pada Melani itu adalah buah dari kesalahannya sendiri.

__ADS_1


Setelah semua urusan selesai, Stefani, dr. Alan, Stefano pun pulang dengan pesawat pribadi Aglian. Di susul Steven sembari menjaga jenazah Melani didampingi beberapa anak buah Aglian.


"Sayang, semua urusan di sini udah kelar, ke hotel yuk!" ajak Aglian seraya mengedipkan sebelah matanya membuat Luna salting alias salah tingkah. Mereka saat ini tengah berada di bandara mengantar kepulangan Stefani.


"Emm ... emang Mas udah booking kamar hotel?"


"Ck ... itu bukan urusan, Mas." ucap Aglian seraya berjalan menuju mobil jemputan mereka. Tampak sopir membukakan pintu untuk mereka.


"Lah, jadi, ..." Luna bingung sendiri.


"Untuk apa ada si Roby kalau semua harus urus sendiri." ujarnya santai seraya mengelus rambut Luna lalu mencium ujung rambutnya. Luna makin salah tingkah. Sikap manis Aglian, benar-benar membuatnya salah tingkah.


"Is, mentang-mentang Sultan, semua tinggal tunjuk-tunjuk." Luna berdecak.


"Kamu juga bakal kayak gitu. Kamu kan sekarang istrinya Sultan?" ujar Aglian sambil senyum-senyum. "Na ..." panggil Aglian.


"Ya, Mas ..."


"Malam ini siap kan?" bisik Aglian. Seketika Luna gugup. Jantungnya berdebar hebat.


"Nana ... Nana ..." gugup Luna.


"Hayo, jangan nolak! Dosa ...!" seringai jahil Aglian.


*****


tok tok tok ..


ceklek


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam, eh Mas Azam. Silahkan masuk, Mas." Jelita mempersilakan Azam masuk ke apartemen.


Apartemen itu memang milik Azam, tapi karena yang menghuninya adalah seorang perempuan yang bukan siapa-siapanya, jadi ia tetap harus mengutamakan sopan santun dengan meminta izin dulu untuk masuk.


"Hmm ... terima kasih." Azam pun masuk dan duduk di kursi.


"Kok terima kasih? Kan ini tempat tinggal Mas Azam jadi seharusnya saya yang berterima kasih." ujar Jelita.


Azam tersenyum yang lagi-lagi mengingatkan Jelita pada Kentaro.


"Terima kasih udah bukain pintu, maksudnya."

__ADS_1


"Oh ya, Mas mau minum apa?" tawar Jelita.


"Kopi hitam aja, kalau ada."


"Ada kok Mas, tadi Lita sempat beli. Lita juga suka minum kopi soalnya." sahut Jelita seraya menyiapkan cangkir dan memasak air.


"Kamu masih suka minum kopi? Kami kan lagi hamil, nggak bagus buat kandunganmu. " peringat Azam.


"Eh, i ... iya Mas. Makasih atas perhatiannya. Lita nggak sering kok, cuma tadi aja, kepingin banget soalnya." ucap Jelita seraya menggaruk tengkuknya.


"Kamu ngidam minum kopi?" Azam menaikkan kedua alisnya.


"Ng ... nggak tau, Mas. Taunya tiba-tiba kepingin minum kopi hitam tadi jadi Lita pergi beli di minimarket seberang apartemen ini. Soalnya kopi Mas habis." ujar Jelita seraya menghidangkan secangkir kopi pada Azam.


"Hmm ... terima kasih. " ujarnya. "Oh, iya udah lama Mas nggak kesini, terakhir bulan lalu, pas Mas tinggal juga emang semua dalam keadaan habis " sahut Azam seraya tersenyum tipis. "Oh ya , bisa kita bicara sebentar? " tanya Azam, Jelita mengangguk lalu duduk di sofa berseberangan dengan Azam .


"Mas mau tanya apa?" tanya Jelita. Jelita dapat menangkap bahwa Azzam ingin menanyakan perihal dirinya.


"Maaf, bukan Mas mau kepo, tapi kan berhubung kamu tinggal di tempat tinggal Mas, jadi Mas mau tanyakan hal yang mungkin sensitif. Baik tentang mengapa kamu keliaran malam-malam, dimana keluarga kamu, dan itu, kandungan kamu, siapa ayahnya? Soalnya saya sempat lihat di kartu pengenal kamu tertulis status kamu masih single." ujar Azam seraya mengangkat kedua tangannya membentuk tanda kutip.


Jelita tau, lambat laun Azam akan menanyakan perihal ini. Jelita pun mulai menceritakan yang sejujurnya tapi tanpa menyebutkan siapa nama lelaki yang telah menodainya.


"Jadi kamu dipaksa melakukan itu?" Jelita mengangguk.


"Dimana pria brengsek itu?"


"Lita nggak tau Mas, setelah malam itu, Lita pergi diam-diam balik ke kampung. Terus setelah mendengar niat bude dan sepupu saya mau menggugurkan kandungan saya supaya bisa dinikahkan sama Beno, saya kabur. Malam itu, saya sebenarnya mau istirahat di masjid yang ada di seberang jalan, nggak taunya perut Kita tiba-tiba keram terus pingsan. Beruntung Mas yang nolong, kalau nggak , mungkin Lita udah nggak ada lagi di dunia ini. Sekali lagi makasih, ya Mas." ucap Jelita tulus.


Azam iba setelah mendengar cerita peristiwa yang menimpa Jelita. Padahal Jelita masih sangat muda tapi ia harus menanggung penderitaan itu seorang diri tanpa ada yang mendampingi.


"Kamu mau bekerja?" tanya Azam. Setidaknya ia bisa membantu memberikan pekerjaan supaya Jelita bisa menghidupi anaknya ke depannya.


Mata Jelita seketika berbinar. " Mau mas. Dimana?"


"Kalau kamu mau, kamu bisa kerja di toko bunga ibu, Mas. Mas juga udah cerita sama mama."


"Mau banget, Mas. Makasih banyak ya, Mas. Sekali lagi makasih." ucapnya girang, sedangkan Azam hanya tersenyum simpul melihat binar bahagia di mata Jelita.


***


Insya Allah, next entar malam ya!


Sampai jumpa sama duo L ntar malam ya!

__ADS_1


(Semoga mata othor mengizinkan.😁)


__ADS_2