
Robi dan si Emak kini sedang makan malam bersama. Di rumah yang cukup besar itu hanya dihuni oleh 4 orang, Robi, si Emak, Bik Leha sang asisten rumah tangga, dan mang Ucup, tukang kebun merangkap penjaga rumah. Kadang-kadang beliau juga merangkap sopir khusus si Emak.
"Bi, kapan toh kamu kenalin emak sama calon istri kamu? Mak ini udah tua Bi, Mak berharap bisa melihat kamu menikah sebelum emak menghadap sang khalik. Syukur-syukur Mak bisa melihat cucu emak." desah Emak sendu.
Robi yang sedang menyendok nasi ke mulutnya lantas berhenti. Dipandanginya wajah renta si Emak sendu. Tabungannya sebenarnya sudah lebih dari cukup bila ia harus menikah, tapi adakah wanita yang mau menerima segala kelebihan dan kekurangan dirinya. Terlebih poin utama, maukah wanita itu menerima kehadiran emak dan membantu mengurus si emak yang mulai menua. Sebab , setaunya, di zaman sekarang, jangankan mengurus mertua, orang tua sendiri saja, kalau sudah sakit-sakitan, kebanyakan dari mereka memilih mengabaikan, menyerahkannya pada asisten rumah tangga, ada yang lebih parah dimasukkan ke dalam panti jompo, dan hal itu yang paling menakutkan bagi Robi. Seperti kebanyakan juga, banyak mertua dan menantu yang tak akur, yang kemudian berimbas pada keretakan rumah tangga. Membayangkannya saja membuat Robi merinding apalagi mengalaminya. Harapannya, ia hanya menikah sekali seumur hidup.
"Maafin Robi ya Mak kalau Robi belum bisa bahagiain Mak dengan ngasi menantu yang baik buat emak." desah Robi lirih.
Si emak menghembuskan nafas berat, ia mengerti beban pikiran putra tunggalnya itu. Tapi, tidak bolehkah ia berharap. Doanya, Robi dapat membuka hatinya. Jangan selalu membayangkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Bila tidak dijalani, bagaimana kita bisa tau kelanjutannya.
"Jangan terlalu terbebani, Bi! Dan jangan terlalu takut untuk memulai suatu hubungan. Kamu nggak akan tahu bagaimana kisahmu kalau kamu nggak berani menjalaninya." ujar Si Emak menasihati.
"Baik, Mak." jawabnya singkat membuat si emak mendengus.
__ADS_1
"Kira-kira, ada cewek yang dekat sama kamu nggak , Bi?" tanya Si emak.
Robi tampak sedang berpikir, lalu ia teringat pada Safa yang siang tadi ia tinggalkan begitu saja di pesta. Tiba-tiba rasa khawatir menyeruak di dalam dadanya. Robi sontak berdiri tergesa hingga kursi yang didudukinya berderit terdorong ke belakang. Si Emak hanya menatap heran pada Robi.
"Mak, Robi ke kamar dulu ya, mau menelpon seseorang. Robi lupa sesuatu." ucap Robi .
"Menelpon siapa malam-malam begini? Pacar kamu?" tanya si emak penuh selidik.
Robi menelan ludahnya kasar. Tangannya terangkat menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Ia salah tingkah sendiri.
"Oalah, Le, Le, kamu ini gimana sih! Buruan telepon sana. Cari kerja zaman sekarang ini susah jangan sampai buat masalah yang berakibat kamu kena pecat." gerutu si emak.
Robi pun mengangguk lalu ia langsung pergi ke kamar untuk mencari ponselnya. Setelah ponselnya ditemukan, ia segera mencari nama Safa dalam kontaknya. Namun, setelah sekian menit mencari dari nama kontak yang berawalan huruf A sampai Z, ia tak kunjung menemukan nama Safa.
__ADS_1
Robi menepuk dahinya kuat hingga berbunyi nyaring lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
"Bagaimana aku lupa, aku kan nggak pernah simpan nomor ponselnya. Rob, Rob, gimana kalau terjadi sesuatu pada Safa? Apa yang harus aku katakan pada pak bos?" desah Robi frustasi. "Apa aku hubungi pak bos saja ya minta nomor ponselnya Safa?" Robi tampak berpikir. "Tapi bagaimana kalau pak bos nanyain perihal pesta siang tadi apalagi nanyain Safa? Bisa-bisa, bonusku benar-benar kena sembelih 100% oleh pak bos. Huft ... Apa telepon nona Luna aja? Ah, jangan, jangan, pak bos itu posesif pake banget, bisa-bisa, bukan hanya bonusku yang kena sembelih, tapi gajiku juga kena pangkas. Tapi bagaimana biar aku bisa hubungi Safa? Aaargh ...!" Robi menarik rambutnya frustasi. Ia benar-benar bingung sekarang.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, tapi Robi belum juga bisa memejamkan matanya. Entah mengapa wajah Safa seakan mengusik pikirannya. Setiap hendak memejamkan mata, maka wajah sendu dan kecewa Safa selalu hadir mengusik pikirannya.
"Astaga, kenapa aku selalu kepikiran gadis itu sih! Apa terjadi sesuatu padanya? Semoga kamu baik-baik aja, Fa." gumam Robi.
Tak jauh berbeda dari Robi, Safa pun saat ini tak kunjung bisa memejamkan matanya. Setiap hendak memejamkan mata, maka wajah acuh Robi segera mengambil alih pikirannya. Membuatnya menggeram frustasi.
"Duh, kenapa mikirin si gunung es itu sih? Udah dong Safa. Stop mikirin si gunung es. Lebih baik tidur sekarang. Mari kita menghitung domba, satu domba, dua domba, tiga domba, empat domba, lima domba, enam domba, tujuh Robi, delapan Robi, sembilan Robi, eh ... kok jadi Robi sih? Lama-lama aku bisa gila kalo berurusan sama si kutu kupret satu itu." Safa mengacak rambutnya frustasi.
...***...
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...