Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.190 (S2) Mungkin ini yang dinamakan jodoh


__ADS_3

Hari merangkak malam, pillow talk sudah bagai camilan bagi pasangan Anggi dan Diwangga. Selesai dengan semua aktivitas, berikut juga bermain dan belajar dengan ketiga bocah yang sedang lucu-lucunya.


Diwangga kini sedang bersandar di kepala ranjang, dengan Anggi yang merebahkan kepalanya di dada Diwangga. Romantisme berdua, membuat hubungan keduanya makin erat apalagi dengan akan hadirnya triple baby diantara mereka membuat rasa cinta yang sudah besar itu makin membara.


"Mas." panggil Anggi.


"Ada apa, sayang?" sahut Diwangga seraya memainkan Surai Anggi dan mencium harumnya.


"Tadi Karin cerita, ada temennya yang orang tuanya meninggal jadi dia terpaksa diasuh neneknya. Tapi neneknya nggak sanggup biayai sekolahnya lagi. Tadi saja kata Karin, temennya itu kelaperan. Untung Karin bawa bekal terus dibaginya sama anak itu." cerita Anggi.


"Mas bangga sama Karin. Bukan Karin aja, tapi Kevin dan Damar juga. Mereka itu hatinya sungguh baik. Sama seperti kamu, sayang. Hal itulah yang buat mas makin cinta sama kalian. " ucap Diwangga seraya mempererat rengkuhannya. "Bagaimana kalau kita datangi tempat tinggal anak itu? Terus kita jadi orang tua asuhnya? Jadi semua biaya makan termasuk sekolahnya kita bantu." usul Diwangga.


Anggi tersenyum lebar seraya mendongakkan wajahnya menghadap Diwangga, "Ini juga yang buat Anggi makin cinta sama kamu Mas. Sifat penyayang kamu dan kepedulian kamu terhadap sesama, bikin aku jadi meleleh." ujar Anggi terkekeh.


"Bilang cinta tapi sambil bercanda, nggak ada serius-seriusnya." ujar Diwangga sambil menarik hidung Anggi.


"Ish, mentang-mentang hidung Anggi mancung ke dalam jadi ditarik-tarik biar mancung ke luar." ujar Anggi sambil cemberut.


"Nah, itu tau!" ujar Diwangga sambil tergelak. "Jadi gimana usul mas tadi? Setuju, kan?"


"Hmmm ... setuju dong. Kalau perlu, kita daftarin anak itu di Yayasan Peduli Anak yang ada di bawah naungan Angkasa Grup, Mas jadi masa depan anak itu akan lebih terjamin."


"Kamu benar, sayang. Sebenarnya masih banyak anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah karena terkendala biaya dan faktor ekonomi. Tapi sayang, kita nggak bisa mendata mereka satu persatu. Semoga negeri kita makin makmur jadi pendidikan anak-anak di negara ini bisa lebih terjamin karena ditanggung negara tanpa mereka harus pusing memikirkan biayanya."


"Aamiin ..." sahut Anggi dengan tersenyum manis.


"Gimana? Malam ini boleh nengokin dedeknya nggak?" bisik Diwangga seduktif.


Mata Anggi memicing, "Ujung-ujungnya ..."


Mereka pun tergelak bersama.


...***...


Bukan hanya pasangan Anggi dan Diwangga saja yang gemar melakukan pillow talk, tapi juga pasangan Aglian dan Luna. Banyak hal yang sering mereka bahas bersama. Apalagi Aglian memang berusaha selalu terbuka jadi apapun yang dikiranya perlu diceritakan, maka akan ia ceritakan termasuk perihal Robi yang meninggalkan Safa di pesta.


"Memang mas Robi buat kesalahan apa sampai mas tegur?" tanya Luna penasaran.


"Kamu tau nggak, Mas kan minta dia revisi laporan dari divisi perencanaan, nah kesalahannya ada di laporan itu. Mas udah nungguin laporan itu berjam-jam, eh giliran selesai, waktu Mas baca ada beberapa bagian tertulis maaf Safa, maafin saya Safa, Safa maafkan saya, pokonya isinya Safa, Safa, Safa, wajar kan kalau mas kesel." desah Aglian membuat Luna terkekeh.

__ADS_1


"Kayaknya otak mas Robi udah korsleting karena Safa, Mas." ujar Luna sambil terkikik geli. "Wah, Safa hebat juga bisa melelehin si Mr. Kaku itu. Kira-kira, dia buat kesalahan apa sih mas sampai segitunya menyesal?"


"Dia ninggalin Safa di pesta kemarin." ucap Aglian santai.


Luna yang awalnya bersandar di kepala ranjang, sontak menegakkan tubuhnya menghadap Aglian.


"Dasar asisten pribadi nggak ada akhlak, masa' ninggalin seorang gadis sendirian di dalam pesta gitu aja. Semoga Safa nggak maafin dia semudah itu ." Luna berdecak kesal. Bahkan tangan Luna sudah mengepal , ingin rasanya ia memukul kepala Robi dengan bakiak biar tau rasa.


"Hust, sabar, inget, kamu lagi hamil, entar anak mas jadi ikutan pemarah kayak kamu."


"Jadi menurut Mas , Nana pemarah? Gitu?" Luna mendelik tajam.


"Eh, eh, lah kok marah, jangan marah ya mami sayang, papi minta maaf ya!" Aglian meringis memohon maaf.


Bumil satu ini memang nggak terlalu banyak meminta tapi sifat sensitifnya selama hamil malah naik hingga 3 kali lipat dari hari biasa. Dan itu cukup menyiksa Aglian apalagi bila dia ingin memeriksa saham yang ia tanamkan di rahim Luna, saat sifat sensitifnya sedang melonjak tajam maka jangan harap Aglian bisa menjenguk hasil investasinya itu


...***...


Robi kini sedang duduk sendirian di balkon kamarnya. Dengan secangkir kopi hitam kental panas, ia mengarahkan pandangannya ke langit yang sedang bertabur bintang. Raganya memang sedang berada di balkon, tapi pikirannya justru melanglang ke kejadian siang tadi. Masih hangat di ingatannya, bagaimana Safa berusaha bersikap acuh tak acuh padanya bahkan cenderung ketus, tapi anehnya gadis itu malah makin menggemaskan di mata Robi.


Beberapa jam yang lalu,


"Ke kamarku." sahutnya singkat membuat Safa membulatkan matanya.


"What? Apa-apaan kamu bang, kamu mau ngapain sih? Nggak mau, Safa nggak mau." protesnya lagi.


Robi tersenyum geli mendengar aksi protes Safa.


Setibanya di depan kamar nya, Robi langsung mendorong pintu itu dengan kakinya lalu merebahkan tubuh mungil Safa di ranjang miliknya.


"Kamu tunggu di sini, Abang mau ambil kotak P3K dulu." ujarnya seraya berlalu menuju kotak penyimpanan obat.


Setelah yang dicarinya sudah di tangan, Robi lantas memeriksa satu per satu luka di tangan dan kaki Safa. Robi menghela nafas panjang saat melihat banyaknya luka dari siku, lengan, telapak tangan, hingga telapak kaki, belum lagi pergelangan kakinya yang terkilir.


"Sakit" tanya Robi seraya menatap intense wajah Safa.


Safa yang dipandangi seperti itu, tiba-tiba salah tingkah. Tak mau menjawab pertanyaan Robi, ia hanya menganggukkan kepalanya. Diliriknya Robi yang masih tampak memandangnya.


"Kenapa liat-liat?" ketus Safa. "Ntar naksir tau rasa. Apalagi lusa aku mau balik ke Aussie." ujar Safa tanpa mau memandang wajah Robi.

__ADS_1


Robi yang mendengar hal itu pun lantas terkejut.


"Kenapa balik secepat itu?"


"Buat apa lama-lama di sini? Orang-orang pada cuek juga. Mending di sana, banyak yang perhatian. Ah iya, permisi aku mau nelpon seseorang dulu." ujar Safa.


"Siapa?"


"Adrian."


"Siapa Adrian?"


"Someone."


"Mau ngapain?"


"Ngabarin aku pulang lusa."


Mendengar Safa mengucapkan kata someone, ntah mengapa darah Robi seketika mendidih. Giginya bergemeletuk. Tak rela Safa menghubungi lelaki lain di hadapannya, Robi pun segera merampas ponsel yang di genggam Safa membuat Safa ingin berteriak marah, namun Robi kembali mengucapkan ancamannya yang seketika membuatnya membungkam.


'Kurang asem, pake ngancam segala! Dasar kutu kupret.' desis Safa dalam hati.


Setelah melihat Safa diam, Robi segera mengambil cairan antiseptik dan mulai membersihkan satu persatu luka-luka itu sembari meniupinya supaya tidak terasa perih. Setelah luka dibersihkan, baru ia meneteskan obat luka dan menutupnya dengan kain kasa untuk luka yang cukup besar dan plester luka untuk luka yang kecil.


Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang mengintip interaksi mereka berdua. Kedua orang itu terkekeh geli melihat interaksi tak biasa itu.


"Eleh eleh, si map plastik bisa gemesin juga!" puji Si emak pelan sambil terkekeh geli.


"Neng Safa nya juga gemesin ya, Mak! Cantik juga. Leha nggak nyangka ternyata mereka berdua saling kenal. Mungkin ini yang dinamakan jodoh, ya Mak."


"Ho'oh, akhirnya impian Mak akan segera tercapai. Mak bahagia banget, cius deh!"


"Idih, si Emak cius-cius , bahasa apaan sih! Sok gau banget si Emak."


"Lah, emang Emak gaul, bukan kayak kamu, bik kudet." ejek si Emak membuat Bik Leha cemberut karena selalu kena ejek si Emak gaul.


...***...


...Happy Reading 🥰🥰🤩...

__ADS_1


__ADS_2