Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.110 (S2) Bali


__ADS_3

Hari adalah hari yang paling membahagiakan bagi Luna karena ia dapat naik pesawat terbang untuk pertama kalinya menuju Bali. Setelah sekian lama ia memimpikan mengunjungi kota Bali akhirnya ia memiliki kesempatan itu. Tidak sia-sia ia menjadi MUA khusus Kentaro, selain ia mendapatkan pekerjaan, ia juga memiliki kesempatan bepergian ke kota-kota besar. Tentu ia tak akan melewatkan kesempatan berharga itu.


"Yeay, I'm coming Bali." pekik Luna senang saat setibanya di Bali membuat Kentaro terkekeh melihat tingkah absurd sahabatnya itu yang kadang tak tahu malu.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam 45 menit, akhirnya pesawat yang ditumpangi Luna, Kentaro, dan tim mendarat sempurna di bandar udara internasional Ngurah Rai. Setibanya disana, sudah ada mobil khusus yang disediakan pihak hotel untuk mengantarkan mereka ke tujuan.


Tak butuh waktu lama, mobil tersebut telah memasuki kawasan hotel. Luna, Kentaro, dan tim pun segera menuju kamar masing-masing sesuai instruksi pihak resepsionis.


"Ken, bantuin bawain tas gue donk!" ujar salah seorang model wanita bernama Jelita.


"Bawa sendiri napa? Punya tangan sendiri punya kaki sendiri, liat tuh, yang lain juga bawa sendiri." Kentaro berdecak kesal dengan sikap Jelita yang sok manja.


"Tapi itu si cewek nggak banget itu, tasnya loe bawain, dia punya tangan dan kaki sendiri, kan!" Jelita mendelik kesal karena Kentaro menolak mentah-mentah permintaannya dan lebih memilih membantu membawakan tas Luna.


"Emang loe pingin dibantuin dibawain juga tasnya, Je?" Jelita mengangguk semangat Ia pikir Luna akan meminta Kentaro membawakan tasnya, tapi semua itu tak sesuai ekspektasinya.


"Jang, bawain tas Jelita dong!" pinta Luna pada Ujang , si asisten fotografer. Ujang pun segera mengambil tas yang berbentuk mini koper itu dengan senang hati. Tentu ia senang , Ujang sangat mengidolakan Jelita, walaupun gadis cantik itu kerap marah-marah padanya.


"Ken, masa' tas gue dibawain Ujang? Tukeran yah! Tas Luna kasiin ke Ujang. Kan kamar kita juga bersebelahan." ujar Jelita dengan nada sok manjanya. Bahkan ia tanpa malu-malu bergelayut mesra di lengan Kentaro.


"Lepas ih, tangan loe gatel banget sih!" Kentaro segera menghempaskan lengan Jelita . Ia tak mau Luna sampai melihat adegan ini. Bagaimana pun, ia sedang berjuang mendapatkan hati seorang Luna.


"Ken ..." pekik Jelita saat Kentaro meninggalkan begitu saja dan berlalu dengan menarik tangan Luna.


"Sialan. Apa sih istimewanya tuh cewek sialan sampai Kenta lebih respect ke dia dibandingkan gue? " Jelita tampak berdecak kesal dan berlalu sambil menghentakkan-hentakkan kakinya membuat timnya hanya geleng-geleng. Di belakangnya, ada Ujang yang dengan setia mengikuti kemana pun langkah Jelita.


"Ck ... ngapain sih loe ngikutin gue! Sana jauh-jauh gih!" usir Jelita pada Ujang dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Terus tasnya?" Ujang nampak kebingungan saat diusir sedangkan tas Jelita saja ada padanya. Bagaimana Jelita akan berganti pakaian kalau tasnya saja ada sama dia, pikir Ujang.


"Sini, gue bisa sendiri." Lalu tas itupun kembali kepada pemiliknya. Tas tersebut sebenarnya tidaklah berat sama sekali apalagi tas tersebut berbentuk koper yang memiliki roda jadi tinggal digeser aja, gampang kan.


'Mbak Je ini aneh, tadi minta bawain, setelah dibantu bawain eh malah marah-marah. Untung cantik.' gumam Ujang dalam hati.


Hari ini Kentaro ada pemotretan di sekitar wilayah pantai. Temanya adalah pakaian tropis. Kentaro dan Jelita diminta memperagakan berbagai pakaian yang cocok dipakai di area pantai yang memang cenderung panas seperti kaos pantai dan kemeja pantai yang dirancang khusus oleh brand ternama.


Pengambilan gambar dilakukan di beberapa tempat, mulai dari tepi pantai, di atas bebatuan, dan di tempat-tempat yang memiliki spot bagus dan indah. Karena pengambilan gambar hingga beberapa kali , Luna juga harus memperbaiki riasan Kentaro beberapa kali.


Seperti saat ini, Luna tampak membersihkan wajah Kentaro dari debu dan peluh di wajahnya. Kemudian ia akan kembali memperbaiki riasan wajah itu agar kembali fresh. Hal ini yang paling menyenangkan bagi Kentaro sebab dengan begitu ia dapat menatap wajah cantik Luna dari jarak dekat.


"Apa sih loe lihat-lihat mulu?" Luna berdecak kesal saat Kentaro tak henti-hentinya mengulas senyum sembari menatap wajahnya. "Tolong kondisikan mata loe kalau nggak mau gue colok!" sergah Luna.


"Idih, galak bener sama calon pacar!" tukas Kentaro.


"Loe cemburu, Lun?" tanya Kentaro dengan senyum jahilnya.


"Ngapain gue cemburu? Udah tau, tipe gue itu cowok kayak Yang Yang, bukan kayak loe gini. Lagian ya, Tang, kita ini sahabat, jangan ubah sahabat jadi cinta sebab suatu saat bila cinta kita usai karena suatu hal, pasti tanpa sadar persahabatan kita juga bakal buyar dan gue nggak suka itu. " pungkas Luna sebelum pergi meninggalkan Kentaro yang masih dengan keterdiamannya.


"Udahlah Ken, ngapain juga sih loe ngarepin tu cewek! Lihat gayanya aja nggak banget. Loe ini aneh tau, nggak Ken. Loe itu super model , nggak cocok sama cewek model kek Luna itu." tukas Jelita sembari mengelus-elus lengan mulus Kentaro.


"Apa maksud loe bilangin Luna gayanya nggak banget? Terus yang cocok sama gue itu cewek kayak loe gitu maksudnya? Cewek-cewek dengan pakaian kurang bahan, hah?" sinis Kentaro.


"Ken, apa nggak cukup kebersamaan kita selama ini buat bikin loe jadiin gue satu-satunya?" tanya Jelita sendu.


"Loe tau, sebrengsek-brengseknya cowok, pasti dia pingin dapat pasangan hidup cewek yang bener dan loe nggak masuk dalam kriteria itu." tekan Kentaro lalu beringsut meninggalkan Jelita dengan hati yang memanas.

__ADS_1


'Jadi maksud loe hanya Luna yang pantes jadi pendamping hidup loe? Jadi apa artinya gue selama ini? Loe pikir gadis baik-baik kayak Luna bakal mau sama loe kalau tau sifat loe sebenarnya.' batin Jelita dengan tatapan nanar ke arah Kentaro.


.


.


.


Sudah tiga hari berlalu dari semenjak Aglian mengetahui penyakit yang diderita oleh Stefani dan semenjak hari itu pula Aglian memerintahkan semua anak buahnya mencari keberadaan ayah Stefani.


"Bagaimana?" tanya Aglian pada salah seorang anak buahnya.


"Mereka sempat berada di Bandung, bos 3 tahun yang namun sudah pindah setelah anak lelakinya lahir. Warga sini tidak tahu mereka pindah kemana." tukas anak buahnya.


Aglian nampak berfikir mencari solusi.


"Don, kalian minta bantuan pihak catatan sipil setempat saja. Berikan saja mereka uang yang banyak, pasti mereka mau mencarikan data bapak Steven Anugerah." titah Aglian setelah mendapat ide mencari keberadaan ayah Stefani. Ia harus gerak cepat, apalagi setelah mendengar penuturan dr. Alan tentang perkiraan umur Stefani yang tak lama lagi jadi ia harus segera mendapatkan pengobatan.


Beruntungnya Stefani telah sadarkan diri dari pingsannya 2 hari yang lalu. Awalnya, Stefani terkejut melihat keberadaan Aglian di ruang perawatannya. Apalagi saat Aglian menanyakan alasannya merahasiakan penyakitnya dari Aglian.


2 hari sebelumnya


Stefani tampak mengerjapkan matanya, menghalau silau yang tiba-tiba menerpa penglihatannya.


"Li ... Lian ... kamu ..." Stefani tampak terkejut saat melihat Aglian duduk tepat di samping tempat tidurnya.


"Sstt ... Jangan banyak bicara dulu! Kamu masih harus banyak istirahat. Banyak yang haruskah jelaskan padaku."

__ADS_1


Stefani pun menurut untuk istirahat sejenak, namun tak kunjung bisa. Mungkin karena rasa penasaran yang tinggi, tentang bagaimana Aglian ada di ruangannya sehingga membuatnya tak dapat memejamkan mata.


__ADS_2