Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch. 58 Inikah rasanya ...


__ADS_3

Detik demi detik telah berlalu, bahkan sudah matahari sudah menghilang, berganti menjadi gelapnya malam, tapi Bu Tatik sepertinya masih enggan membuka matanya.


Adam hanya bisa mendesah kasar, hari yang begitu berat baru saja ia alami. Bagaimana bisa dan bagaimana ia selama ini tak menyadari bahwa wanita yang ia nikahi adalah seorang jal*ng, wanita murahan, yang bisa dengan mudahnya tidur dengan lelaki lain. Bila ia ingat-ingat, bahkan saat pertama kali ia menggagahi Adinda dulu pun, ia bahkan sudah tidak perawan lagi. Berbeda dengan Anggi, ia adalah yang pertama bagi Anggi. Pun Adam, malam pertamanya adalah memang benar-benar pertama kali baginya mereguk madu langsung dari tubuh Anggi. Ia masih ingat bagaimana susahnya menerobos keperawanan Anggi saat itu. Ditambah dia yang masih polos dan hanya menggunakan instingnya saja dalam melakukannya, membuat malam pertamanya dengan Anggi begitu berkesan.


Adam memijit pangkal pelipisnya untuk mengurangi rasa pening yang mendera kepalanya. Bayangan saat Adinda bermain gila dengan Anton siang tadi masih berputar-putar di otaknya. 'Gila, mereka benar-benar gila. Bagaimana bisa mereka melakukan itu saat aku tak ada di rumah. Apalagi mereka sudah memiliki pasangan masing-masing dan lebih gila lagi mereka itu berstatus kakak dan adik ipar.'


Tapi satu yang membuat beban pikirannya makin terasa menyesakkan, pernyataan Anton tadi siang sungguh memukulnya telak. Bagaimana bisa ia tidak tahu kalau pria itu telah lama mencintai Anggi. Bahkan yang lebih menyesakkan, bagaimana bisa ia mengingatkan Adam tentang segala keburukannya selama ini pada Anggi , namun mantan istrinya itu tetap sabar menghadapinya. Tapi perkataan Anton bahwa mungkin kesabaran Anggi mungkin telah mencapai ambang batas karena itu ia menyerah cukup menyentak akal sehatnya. Ia sadar, sepertinya kesabaran Anggi habis saat ia sudah mulai bermain api di belakangnya. Sampai-sampai saat ia menalaknya , Anggi telah siap dengan surat cerainya yang tinggal ia tanda tangani saja. Artinya perselingkuhannya adalah titik kelemahan mantan istrinya itu hingga membuatnya langsung menyerah saat ia membawa masuk Adinda ke dalam rumahnya. Artinya saat itu ia telah menunggu detik-detik ia membawa selingkuhannya itu ke hadapannya. Sepertinya benar kata Anton tadi yang mengatakan kalau ia adalah seorang brengsek. Bahkan sangat brengsek karena telah menyia-nyiakan seorang istri yang sempurna hanya demi seorang wanita murahan seperti Adinda.


"Mas." panggil Sulis


"Hmm..." sahut Adam


"Sulis ngerasa ini kayak mimpi. Apa yang mas bilangin di rumah tadi itu benar? Bagaimana mas bisa memergoki mereka?" tanya Sulis penasaran


Adam segera mengeluarkan ponselnya. Tadi saat melihat adegan 21+ antara Anton dan Adinda, ia gegas mengambil ponsel di saku celananya dan merekamnya untuk dijadikan bukti perselingkuhan bila mereka mengelak dan tak mau mengakuinya.


"Mas tadi pusing banget jadi mas izin pulang sehabis makan siang. Pas di rumah, mas pikir Dinda ada di kamar mandi karena tv dalam keadaan menyala, tapi pas mas mau masuk ke dalam kamar, mas mendengar suara desahan wanita dan laki-laki dari dalam kamar mas. Mas penasaran suara siapa itu, untung pintu kamar tak terkunci jadi mas bisa masuk diam-diam dan melihat secara langsung perbuatannya terkutuk mereka di tempat tidur mas. " tutur Adam dengan raut wajah mengeras seraya menyerahkan ponselnya yang di depannya sudah terpampang sebuah video siap diputar.


Lalu Sulis pun segera mengambil ponsel itu dan memutar video yang berdurasi hampir 15 menit itu. Wajah Sulis merah padam, tangan kirinya tampak meremas ujung dress yang dipakainya, sedangkan tangan kanannya menggenggam ponsel Adam dengan erat seakan ia hendak meremukkan ponsel yang ada di tangannya itu. Sulis benar-benar tak menyangka suami yang begitu ia puja bahkan sejak ia masih duduk di bangku SMA malah melakukan perbuatan menjijikkan dengan kakak iparnya sendiri. Mungkinkah ini balasan untuknya karena telah mendukung perselingkuhan sang kakak dengan Adinda? Bahkan dengan teganya ia juga mendukung menuntut kakaknya sendiri agar segera menceraikan Anggi, wanita baik hati mantan sahabatnya itu. Ya, saat SMA Anggi dan Sulis bersahabat tapi semenjak tau sang kakak mencintai Anggi dan berniat menikahinya, ia lantas memutuskan tali persahabatan mereka. Dan semenjak itu juga mereka berdua selalu bagaikan orang asing. Bila bertemu pun, Sulis tak pernah segan-segan mencemooh, menghina, dan merendahkan mantan sahabatnya itu.

__ADS_1


Sulis segera meraih tangan Adam dan meletakkan ponselnya di genggaman tangan Adam. Matanya memanas dan mulai berkabut, hingga tanpa sadar air mata yang sejak belasan tahun lalu tak pernah mengaliri pipinya bahkan saat ayahnya meninggal pun, kini justru membasahi seluruh wajahnya. 'Inikah rasanya sakit hati karena dikhianati?' gumam Sulis pelan sambil terisak .


Adam yang duduk di samping Sulis dapat mendengar gumaman itu meskipun pelan. Hatinya seakan tercubit. 'Inikah buah hasil perbuatanku pada Anggi? Ah, mungkin apa yang Anggi rasakan saat itu lebih menyakitkan dari ini.'


Mata Adam ikut memanas dan berkabut. Sungguh, ia tak pernah merasa selemah dan secengeng ini. 'Adakah bagiku kesempatan untuk mendapatkan Anggi lagi? Aku berjanji, aku akan memperbaiki dan menebus semua kesalahanku terdahulu asal kau mau memberiku kesempatan, Nggi.' batin Adam.


.


.


.


Karin dan Kevin sekarang sedang ditemani Tita dan Raju. Mereka datang untuk mengantarkan pakaian ganti untuk Anggi, Karin, dan Kevin. Sementara Diwangga tengah pulang ke rumah untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai membersihkan diri, Anggi segera keluar dan ikut bergabung dengan Tita dan Raju yang sedang mengajak Karin dan Kevin mengobrol.


"Ju, besok kamu kuliah pagi, ya?" tanya Anggi seraya membenarkan letak hijabnya


"Iya mbak. Jadi besok Raju nggak bisa jemput Damar sekolah. Aji juga ada tugas di rumah temen katanya."

__ADS_1


"Ta, kamu besok kamu juga mau ke konveksi kan!"


"Iya mbak. Minta Luna aja mbak jemput Damar, besok Luna hanya bertugas mengontrol cabang di Thamrin aja. Jadi sebelum kesana , Luna bisa jemput Damar dulu." ujar Tita


Anggi tampak berfikir. "Baiklah, nanti mbak telepon Luna kalau gitu."


Sementara itu, di kediaman Diwangga, Diwangga tampak sedang merenung di ruang tamu. Ia baru saja menyelesaikan makan malamnya. Ia sudah berjanji pada Karin dan Kevin akan kembali ke rumah sakit menemani mereka.


Suseno ikut duduk di samping Diwangga. Ia menepuk bahu Diwangga saat putranya tersebut masih tampak melamun hingga tak menyadari kedatangannya.


"Eh , papa. Maaf, Angga nggak nyadar tadi." ucap Diwangga penuh penyesalan


"Hmmm... kenapa? Masih mikirin pembicaraan kita siang tadi sama Lian?" tanya Suseno penasaran


"Iya, pa. Angga cuma nggak habis pikir aja."


"Menurutmu bagaimana?" Suseno meminta pendapat


"Kalau itu benar, itu lebih bagus ,pa. Apalagi setelah berbagai macam masalah dan penderitaan yang Anggi alami selama ini, pasti Anggi akan sangat bahagia. nanti" ucap Diwangga dengan mata berbinar

__ADS_1


"Kita doakan saja. Yang penting kita dukung apa yang ingin Lian lakukan. Dan yang terpenting, jangan mudah terbakar cemburu lagi." ucap Suseno sambil tergelak mengingat kejadian siang tadi saat ia dan Diwangga diminta berbicara empat mata dengan Aglian.


__ADS_2