Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.77 Air Mata Kebahagiaan II


__ADS_3

Anggi berlari mendekati Diwangga, "Mas, tolong katakan ini bukan mimpi! Mas, tolong cubit aku atau tampar aku untuk membuktikan aku tidak sedang bermimpi. Mas ....!" pekik Anggi histeris sambil mengguncang-guncang bahu Diwangga.


Setelah yakin kalau Anggi adalah putri mereka, Ajeng dan Davindra segera mendekati Anggi, menarik tubuhnya, lalu mendekapnya dengan erat. Mereka pun sambil berpelukan bersama diiringi Isak tangis yang menggema ke seisi restoran.


"Anakku ... ini mama, nak. Ini mama, mama kamu. Mama yang yang hamil kamu, mama yang lahirin kamu. Mama rindu kamu nak, sangat rindu, sayang. hiks... hiks... hiks...!" gumam Ajeng sambil terus terisak pilu dalam pelukan Anggi yang juga masih terisak.


Tangisan dari seorang ibu yang begitu merindu , tangisan seorang ibu yang begitu mendamba, tangisan seorang ibu yang selalu menggenggam asa untuk berjumpa sang buah hati tercinta setelah sekian lama terpisah.


"Nak, mama merindukanmu, sungguh. Jangan pergi lagi, nak. Jangan menghilang lagi. Jangan tinggalkan kami lagi. Tetaplah di sisi mama dan papa, nak. Mama dan papa tak mau lagi berpisah denganmu. Kami menyayangimu, nak." ujar Ajeng pilu.


"Iya nak, papa pun merindukanmu. Setiap saat, setiap waktu, papa selalu merindukanmu, merindukan canda tawamu, merindukan senyummu, merindukan dirimu memanggil kami mama, papa. Merindukan celotehan mu. Tiada satu hari pun kami lupa menggumamkan doa dan harapan agar bisa berjumpa lagi denganmu, sayang. Putri kami, putri kecil kami, malaikat kecil kami. Maafkan kami sayang, karena kelalaian kami, kau jadi kehilangan kasih sayang kami sejak kecil.Maafkan kami, maafkan mama,maafkan papa, sayang. Kami janji sayang, kami akan mengganti semua kasih sayang yang pernah hilang dari hidupmu, sayang. Putriku, sayangku, anak papa." Davindra terisak hebat di dalam pelukan Anak dan istrinya.


Tak ada satu pun orang dalam ruangan itu yang tak menitikkan air matanya. Pun Diwangga, matanya memerah, berkabut, dan perlahan titik-titik air berjatuhan dari sudut matanya. Ia biarkan titik demi titik air itu mengaliri pipinya. Kata siapa lelaki tak boleh menangis. Setiap yang memiliki mata dan hati memiliki hak untuk menangis. Apalagi yang ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata yang menjadi saksi perjumpaan antara seorang anak dengan kedua orang tuanya. Orang tua yang telah lama ia dirindukan.


Perlahan Anggi merenggangkan pelukannya. Ia pandangi bergantian wajah ayah dan ibunya. Dengan derai air mata, Anggi mulai membuka suaranya yang hampir tercekat.


"M .. ma ...ma-ma ..." ucap Anggi tergugu. "A-apakah ini nyata? A-apa benar ini mama dan papa? Be-benarkah ini mama dan papa Anggi? A-Anggi nggak sedang bermimpi, kan!" tanya Anggi gagap karena tenggorokannya yang masih tercekat akibat terlalu lama menangis.


"Benar, sayang. Ini mama dan papa. Namamu juga kami yang memberinya. Bukti hasil test DNA pun kamu sudah lihat kan, itu artinya kamu memang putri kami. Bidadari kecil kami yang telah lama hilang." jawab Ajeng.


"Ta-tapi, kenapa kalian buang aku ke panti? Apa mama dan papa tau, Anggi selalu merindukan kalian. Anggi selalu nangis saat lihat teman-teman sekolah di antar jemput ayah dan ibunya, dipeluk kedua orang tuanya, dimanja orang tuanya, ditemani saat bagi raport, ditemani saat sakit, tapi kalian kemana saat itu? Mengapa Anggi ditinggal? Mengapa Anggi dibuang? Mengapa Anggi diabaikan? Apa Anggi anak yang tak diharapkan? Apa Anggi anak yang tak kalian inginkan? Kenapa Anggi dijauhkan dari kalian dan saudara Anggi, ma, pa? Tolong jelaskan!" ucap Anggi lirih dengan air mata yang sepertinya enggan berhenti mengalir.

__ADS_1


Hatinya perih, sangat-sangat perih saat mengingat masa lalunya. Betapa rindu ia pada kedua orang tuanya. Apalagi saat ia melihat orang tua dari teman-temannya membuat Anggi makin merasa pilu. Bukan pilu karena tak suka melihat temannya bahagia memiliki orang tua, justru sebaliknya. Ia memang iri, tapi iri karena rindu. Ia iri karena ia pun ingin merasakan bagaimana rasanya dikasihi dan disayangi orang tua. Ia iri, iri karena ia seakan berbeda. Ia iri, ia iri karena ia pun ingin merasakan bahagianya memiliki orang tua seperti teman-temannya.


Anggi memang selalu terlihat ceria, tapi tiada yang tahu isi hati dan pikirannya sebenarnya. Ingin ia mencurahkan isi hatinya itu pada Bu Yanti, ibu panti yang mengasuhnya sejak kecil. Tapi ia tahu, Bu Yanti bebannya sudah banyak, jadi ia urung berkeluh kesah pada Bu Yanti. Jadilah ia telan sendiri segala kepedihan dan kesedihannya. Karena itu saat Adam menyatakan keinginannya menikahinya setelah lulus sekolah menengah atas, ia langsung menerima dengan antusias. Besar harapannya ia bisa mendapatkan kasih sayang baik dari calon suami maupun calon mertuanya. Tapi sayang, kenyataan tak seindah harapan. Yang ia dapat justru kepahitan. Manis hanya diawal, tapi pahitnya justru berkepanjangan. Setelah lepas baru ia bisa bernafas nyaman. Semoga pernikahan keduanya nanti dapat membuahkan kebahagiaan sesuai impian.


"Sayang, maafkan atas kelalaian mama dan papa, tapi sumpah kami tak pernah berniat sedikit pun ingin membuangmu. Kami tak pernah sedikitpun ingin mengabaikanmu. Tapi karena dendam seseorang lah kami sampai kehilanganmu. Karena dendam seseorang itu jugalah kita harus terpisah." ujar Davindra.


Ajeng menangkupkan kedua tangannya di pipi Anggi, "Sumpah demi apapun sayang, kami betul-betul kehilanganmu. Bahkan mama sampai jatuh sakit karena kehilanganmu. "


"Bisa mama ceritakan semuanya? Aku ingin tahu alasan mengapa aku sampai harus terpisah dari kalian!" pinta Anggi memelas.


"Mama dan papa pasti akan menceritakan semuanya, sayang. "


"Ma, bagaimana kalau kita ceritanya di rumah saja. Hari sudah makin larut, kasihan keponakan-keponakanku, mereka sudah terlalu lelah. " potong Aglian.


"Masya Allah. Baiklah kalau begitu, kamu pulang ke rumah mama, ya malam ini? Mama dan papa ingin melepas rindu kami padamu, sayang. Mama dan papa juga akan menceritakan semuanya. Mau ya, sayang?" mohon Ajeng dengan sorot mata penuh harapan.


"Iya Nggi, kamu ikut Tante Ajeng aja. Anak-anak biar aku antar ke rumah mama aja dulu. Kamu butuh waktu bicara bersama orang tuamu. Nanti setelah aku mengantar anak-anak, aku akan nyusul ke rumah Tante Ajeng, ada yang mau aku bicarain juga sama mereka." ucap Diwangga turut bergabung dengan Aglian.


"Bicara apa, Ngga? Sebenarnya banyak yang mau mama tanyakan sama kalian. Banyak yang masih bikin Mama penasaran, jadi nanti jangan lupa untuk datang ya! Kalau perlu, kita begadang malam ini." ucap Ajeng pada Diwangga.


Ya, dia begitu banyak pertanyaan yang bersarang di otak Ajeng malam ini. Pun Davindra, ia pun juga ingin sekali bertanya banyak hal tapi waktu sudah tak memungkinkan. Jadilah mereka akan pulang terlebih dahulu ke rumah masing-masing, tapi tidak dengan Anggi. Untuk pertama kalinya, ia akan tidur di rumah orang tua kandungnya.

__ADS_1


"Kamu langsung aja bareng Anggi, Ngga. Kan tadi anak-anak datang sama mama dan papa, jadi biar mereka pulang juga sama mama dan papa. Selesaikanlah urusan kalian secepatnya, biar Minggu depan semua sudah beres dan tidak ada yang mengganjal lagi." timpal Suseno.


"Baik, pa." sahut Diwangga. "Kamu mau kan ke tidur di rumah orang tuamu?" tanya Diwangga pada Anggi yang masih tampak berfikir lalu Anggi pun mengangguk. Ia tak bisa banyak berpikir malam ini. Kalau bisa, ia ingin segera mengobati rasa penasarannya secepatnya. Jadi tak ada salahnya ia menerima permintaan Ajeng pun itu juga disarankan oleh Diwangga


"Raju, malam ini kalian tidur di rumah aja ya, kasian kalau Tita, Luna, dan Lia hanya ditinggal bertiga. Mungkin besok mbak baru pulang. Hati-hati di jalan juga. Kalau ada apa-apa, hubungi aja mbak atau mas Angga." pesan Anggi sebelum adik-adiknya beranjak pulang ke rumah.


"Baik, mbak." sahut Raju.


"


Lalu satu persatu mobil yang tadi datang mulai meninggalkan restoran dengan membawa penumpang masing-masing dengan tujuan masing-masing pula.


.


.


.


**Masya Allah, makasih banget ya buat para readers, apalagi yg udah rajin like, komen, ada yg kasih vote jg, eh ada jg yg kasih hadiah. Pokoknya makasih banget . Othor jadi terharu.


Selamat malam.

__ADS_1


Happy reading all.🥰**


__ADS_2