
Mentari kini mulai meninggi, menerangi dan menghangatkan semesta beserta isi bumi. Sehangat suasana yang kini tengah tercipta di kediaman Anggi dan Diwangga.
Tampak sosok Ajeng, Davindra, Sofi, Suseno, dan adik-adik Anggi serta beberapa sahabat dan kerabat dekat dua keluarga juga telah hadir. Mereka tengah menanti saat-saat yang mendebarkan bagi sepasang insan yang akan segera mengikatkan diri dalam satu ikatan yang disebut tali pernikahan.
Aglian juga telah duduk diantara Ajeng dan Davindra. Tampak senyum manis tak pernah hilang dari bibir tipisnya. Sepertinya, ia sudah tak sabar menanti momen yang sangat dinantikannya ini. Hari yang cerah pun seakan ingin ikut menjadi saksi atas disatukannya sepasang insan manusia yang saling mencinta.
Tak ada yang tau, dibalik senyum manis itu, terdapat gurat-gurat khawatir. Bukan khawatir akan datangnya penghalang seperti orang ketiga, justru khawatir lidahnya terpleset saat mengucapkan ikrar yang menjadi penentu sah tidaknya mereka nanti menjadi suami istri. Rasa gugupnya bahkan mengalahkan saat-saat menegangkan dikala sidang skripsinya dulu. Saat pertama kali bertemu investor pun tak semenegangkan ini, pikirannya.
"Woy, tegang nih!" goda Arrion. Arrion adalah putra dari Rionald Hiddenbergh , sahabat Davindra. Anak-anak mereka juga ikut berteman walau tidak begitu akrab. (Kisah Arrion ada di cerita Bukan Nikah Kontrak tp blm end.)
"Ck ... mentang yang udah married duluan. Apa kabar bro?" sapa Aglian seraya mengulurkan tinjunya, salaman ala-ala lelaki .
"Alhamdulillah, baik." sahut Arrion.
"Mana bini loe?"
"Ngapain tanya-tanya bini gue?" sinis Arrion.
"Yaelah, sinis amat! Nanya doang. " ujar Aglian seraya terkekeh.
"Tuh, lagi duduk sama mama. Maklum, bawaan hamil, jadi cepat lelah." ujar Arrion.
"Whoa, selamat ya! Udah otw jadi bapak." ujar Aglian seraya menepuk bahu Arrion.
"Loe juga, selamat bentar lagi jadi suami. Ngomong-ngomong, loe mau belajar teknik-teknik supaya kecebong loe cepat jadi calon baby nggak?" bisik Arrion dengan seringai jahilnya.
"Sialan loe, Ar! Loe pikir gue nggak mampu." Aglian mendelik dengan wajah memerah membuat Arrion tergelak.
"Lian, sana duduk, penghulu udah datang! Atau mau Abang suruh pulang lagi penghulunya?" tanya Diwangga saat menghampiri Aglian yang sedang asik mengobrol.
"Enak aja. Udah Ar, gue mau kesana dulu. Otw halal. hehehe ..." Aglian pun segera duduk di sebuah kursi tempat ia akan melaksanakan ijab kabul. Di depannya sudah ada penghulu dan wali hakim yang ditunjuk oleh Kantor Urusan Agama.
Bersyukur tadi Arrion mengajak Aglian berbicara hingga ia bisa sedikit menetralkan rasa nervous. Aglian tampak menarik nafas panjang sembari menunggu mempelai perempuannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Luna pun keluar dari dalam kamar tamu rumah Anggi. Ia dituntun oleh Anggi dan Ajeng.
Seketika, Aglian membelalakkan matanya saat melihat tampilan Luna yang sangat cantik bak putri keraton. Ia memang tak pernah melihat Luna berdandan sebelumnya. Luna merupakan gadis yang simple dan sederhana. Saat bepergian, Luna hanya berdandan seadanya Hanya bedak padat berwarna light dan lipstik berwarna soft pink yang setia menempel di wajahnya. Kalaupun Aglian melihat Luna berdandan, itu hanya ada di foto yang pernah Luna tunjukkan saat ia menggantikan model dalam peragaan busana. Dan kini, dengan make up minimalis, rambut disanggul sederhana, serta kebaya yang dipadukan dengan bawahan songket Palembang membuatnya benar-benar tampil beda.
"Hmm ... pantas saja CEO kita kicep, lha calon bininya cantiknya war biasa." celetuk salah seorang sepupu Aglian membuat yang lain jadi terkekeh.
"Lian, ada stok lagi nggak yang kayak calon istri kamu? Om mau jodohin sama anak om." ujar Om Andi.
"Maaf om, bukannya sombong, yang kayak calon istri Lian ini, limited edition. Nggak ada 2 nya." sahut Aglian sembari bercanda membuat semua terbahak.
"Iya deh, iya, om tau, namanya yang lagi jatuh cinta emang gitu. Sampai-sampai, eek kambing pun kadang dikira coklat." ledek Om Andi membuat Aglian mengerucutkan bibirnya.
Tak Lama kemudian, Luna pun duduk di samping Aglian. Ia tampak menundukkan wajahnya. Aglian pun segera menggenggam tangan kanannya untuk menenangkan Ia tau, pasti Luna merasa jedag jedug saat ini. Ia pun sebenarnya juga begitu, namun ia masih bisa mengontrol.
Setelah sedikit memberikan nasihat perihal membina rumah tangga, penghulu pun mengucapkan ikrar ijab kabul yang diikuti Aglian dengan lantang dalam satu tarikan nafas .
"Saya terima nikah dan kawinnya Luna Calista binti Fulan dengan mas kawin cincin berlian seberat 55 gram dan mobil Maserati grancabrio dibayar tunai."
"SAH."
"SAH."
"SAH."
Semua tampak sangat bahagia apalagi si pengantin baru. Aglian tak henti-hentinya tersenyum lebar membuat semua orang menggodanya. Lain dengan Luna, ia justru selalu menunduk malu, tak berani mengangkat wajahnya.
Hingga penghulu memerintahkan kedua pengantin baru itu berdiri. Lalu Luna mencium punggung tangan Aglian, dibalas Aglian dengan sebuah ciuman dalam dan hangat di dahi Luna membuat Luna tersipu. Hatinya menghangat, jantungnya bertalu-talu saat merasakan dahinya dikecup lama oleh Aglian. Ia tak menyangka akan sampai ke fase ini. Ia juga tak menyangka akibat perbuatan Kentaro, ia malah berakhir menikah dengan Aglian.
Lalu Aglian mengambil cincin yang tersimpan dalam kotak beludru berwarna pink, kemudian memasangkannya di jari manis Luna.
Cincin yang bertahtakan berlian besar di atasnya dengan berlian kecil di sekelilingnya terlihat begitu cantik di jari Luna. Terlihat simple tapi mewah, sesuai dengan image Luna yang bila dilihat sederhana, tapi menyimpan sejuta keistimewaan. Cincin itu ia beli saat ia berada di Seoul. Entah bagaimana, tiba-tiba saja, sesaat sebelum pulang ke Indonesia, Aglian mampir ke sebuah toko perhiasan termewah di sana dan membeli sebuah cincin berlian. Tak tahunya, hanya berselang 2 hari kepulangannya, cincin itu telah bertahta di jari Luna sebagai cincin kawin. Aglian lagi-lagi tersenyum, mengingat bagaimana ia bisa membeli cincin itu.
__ADS_1
Sedangkan mobil, ia memang sudah memesan jauh-jauh hari langsung dari Negera asalnya, Italia. Asalnya ia ingin memakainya sendiri, namun karena mobil itu datangnya bertepatan dengan hari pernikahannya, ia pun turut menjadikan mobil itu mas kawin.
Hari makin siang, para tamu yang telah selesai makan siang berangsur pulang. Namun, mereka terlebih dahulu bersalaman sembari memberi selamat kepada ada pasangan pengantin itu.
Lega, itulah yang kini dirasakan oleh Aglian dan Luna.
"Na ..." panggil Aglian saat mereka telah berada di kamar tamu. Mereka sedang berganti pakaian sebab Aglian hendak mengajak Luna menginap di hotel selama satu Minggu ini.
"Ya Mas ..." jawab Luna malu-malu. Bagaimana tak malu, walau ini kali kedua mereka dalam satu kamar, tapi kali ini untuk pertama kalinya mereka berada dalam satu kamar dengan status sebagai suami istri.
Aglian yang baru selesai berganti pakaian, mendekat ke arah Luna yang sedang menyisir rambutnya. Aglian segera menyisihkan rambut Luna ke samping dan mengecup leher Luna, membuat gelenyar aneh tiba-tiba merambati tubuhnya. Sedangkan tangan Aglian kini tengah melingkari perutnya dari belakang.
"I Love You ..." bisik Aglian pelan.
Wajah Luna memanas hingga pipinya pun terlihat kemerahan. Aglian tersenyum melihat Luna yang biasanya bersikap bar-bar jadi pemalu seperti itu .
"Love you too, Mas." cicit Luna pelan namun, masih bisa terdengar jelas oleh Aglian.
Tangan Aglian hendak masuk ke dalam pakaian Luna melalui bawah, namun belum sempat tangan itu benar-benar masuk, dering ponsel Aglian menginterupsi membuat Aglian berdecak kesal. Namun rasa kesal itu seketika sirna saat melihat siapa yang meneleponnya. Gegas Aglian mengangkat telepon itu. Wajah Aglian langsung berubah saat mendengar apa yang disampaikan orang yang ada di seberang telepon. Setelah telepon ditutup, Aglian mengepalkan tangan dengan erat. Terlihat jelas kalau Aglian sedang menahan emosi yang membuncah. Luna berdiri lalu menggenggam erat kepalan tangan itu dengan sorot mata teduh.
Aglian menarik nafas panjang lalu melepaskannya perlahan.
"Na, kamu ikut Mas ke Singapura, ya! Ada hal tak terduga terjadi di sana."
Luna mengernyitkan dahinya, bingung. Ingin bertanya mau apa tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Luna pun hanya mengangguk seraya tersenyum. Kini ia telah menjadi istri dari seorang Aglian. Jadi sudah sepatutnya ia menuruti setiap perintah sebagai bakti seorang istri terhadap suaminya.
💃💃💃
**Ada apakah di sana?
Ada yang bisa nebak?
__ADS_1
😉😉😉**