
Satu Minggu telah berlalu semenjak kejadian tragis yang menimpa Luna, Damar, dan Reno. Keadaan Damar dan Reno sudah jauh lebih baik walau masih harus terus menjalani perawatan, tapi tidak dengan Luna. Ia masih harus menjalani serangkaian pemeriksaan dan perawatan, apalagi saat melakukan CT scan ditemukan gumpalan darah yang harus segera ditangani sebab bila tidak , gumpalan darah itu akan berkembang menjadi tumor otak yang dapat membahayakan nyawa Luna.
Bukan hanya itu, patah tulang yang dialami Luna juga tidak bisa dioperasi sekaligus, tetapi bertahap. Namun, baik Aglian maupun yang lainnya tetap menyemangati Luna agar tidak berkecil hati dan terus berjuang demi kesembuhannya.
"Onty Luna." seru Damar seraya terisak saat memasuki kamar perawatan Luna menggunakan kursi roda.
Luna yang mendengar suara Damar sontak menolehkan wajahnya hingga bersitatap dengan keponakannya itu.
"Damar." panggil Luna seraya merentangkan tangannya agar Damar mendekat dan memeluknya.
Aglian dan Anggi yang melihat itu hanya tersenyum. Lalu Aglian mendorong kursi roda yang diduduki Damar untuk mendekati Luna, kemudian ia membantu Damar agar dapat duduk di samping Luna dan memeluknya.
"Onty kangen." ujar Luna seraya terisak.
"Abang juga." sahut Damar.
"Maafin onty ya, bang, karena onty Abang jadi luka-luka gini." ujar Luna seraya mengusap air mata yang mengalir di sudut matanya.
"Onty nggak salah kok. Malah seharusnya Abang terima kasih sama onty karena onty sudah berusaha melindungi Abang. Tapi Abang janji, kalau Abang udah gede, giliran Abang yang akan lindungi onty. Pasti saat itu badan Abang udah nggak kecil kayak gini lagi, jadi lebih besar dan lebar. Jadi kalau ada yang mau celakain onty, Abang bisa peluk onty untuk lindungi onty kayak onty lindungi Abang ." ujarnya seraya mengusap ujung hidungnya yang basah.
Luna yang mendengar ucapan Damar pun sontak terkekeh, begitu pun Anggi dan Aglian.
"Wah, keponakan ganteng onty emang yang terbaik deh! Makin sayang aja onty sama Abang ." ujar Luna seraya mengusap pelan rambut Damar.
"Wah, kamu bakal ada saingan ntar , Li!" goda Anggi.
Aglian mendengus, lalu ia juga turut duduk di ranjang, tepatnya di ujung kaki Luna.
"Nggak ada kalau apalagi nanti, sebab om akan selalu melindungi onty. Om kali ini teledor dan kalah, tapi tidak untuk lain kali. Emangnya badan Abang kalau gede sebesar apa? Ah, pasti masih kalah sama badan om." ejek Aglian.
__ADS_1
"Eh jangan salah ya om, nanti Abang akan lebih rajin olahraga dan nge-gym kayak papa supaya badan Abang lebih bagus dan gede. Lagian, kalau Abang gede, pasti om udah keliatan tua, om pasti bakal kesulitan lindungi onty." sahut Damar tak mau kalah.
Aglian melotot saat mendengar dia diejek tua. 'Ni bocah kayaknya ngefans banget sama istri gue! Astagaaa, masa' gue saingan sama bocah sih!'
"Udah-udah, keponakan sama om-nya, sama-sama keras kepala." interupsi Anggi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Makan dulu yuk, nih mama tadi udah anterin makan siang buat kita." ujar Anggi seraya menyiapkan makan siang untuk mereka.
...***...
"Assalamualaikum." ucap Azam saat mengunjungi sebuah rumah yang mewah dengan dua pilar besar di depannya. Tepat di depan pilar itu, terdapat kolam dengan air mancur yang membuat rumah mewah itu tampak asri. Apalagi di sekeliling tembok ditanami aneka tanaman dan bunga. Sungguh memanjakan mata. Beberapa hari ini, Azam menjadikan rumah ini tempat singgahnya. Tepatnya, setelah ia ikut mengantarkan Erika pulang ke rumah keluarganya.
"Wa'alaikum salam . Eh, ada den Azam toh! Masuk yuk! Di dalam juga sedang ada tamu. Gabung aja." ujar pembantu di rumah Erika yang telah mengenal Azam sebelumnya..
Azam yang mendengar ada tamu keluarga itu yang datang, sontak saja merasa tak enak hati. Ia takut mengganggu keluarga itu.
"Tamunya orang tuanya Erika ya, mbok?" tanya Azam penasaran.
Deg ...
Seharusnya Azam santai saja mendengar ucapan itu. Seharusnya, Azam tak perlu terganggu. Apalagi ia dan Erika hanya sebatas rekan kerja, walau sedikit berteman, tapi tak lebih. Namun kini, hatinya tiba-tiba tak tengah. Hatinya mencelos saat mengetahui fakta ada yang hendak melamar Erika. Ia yang tadinya hendak pulang meninggalkan rumah itu, sontak saja membatalkan niatnya. Ia justru dengan percaya dirinya ikut bergabung dengan tamu keluarga itu.
Saat memasuki ruang tamu, dapat ia lihat wajah lesu dan tidak bersemangat Erika. Wajahnya mengeras, tangannya mengepal, hatinya mencelos tak tenang . 'Tidak, aku tidak bisa biarkan ini terjadi.' gumamnya dalam hati.
...***...
Kentaro kini tampak sangat bahagia. Akhirnya seminggu ini ia dapat membalas dendam dengan tidur sepuasnya dan sepulasnya di tempat tidur empuk miliknya tentunya. Ia tak menyangka, benar-benar tak menyangka kalau sebenarnya ia telah dibebaskan. Luna tidak menuntutnya, justru sebaliknya, Luna mencabut laporan Aglian sehingga ia dibebaskan. Ia makin merasa sangat bersalah dengan sahabatnya itu. Ia beruntung, ia gagal menodai Luna malam itu, bila tidak, mungkin itu akan menjadi hari penyesalannya seumur hidup. Luna pasti takkan pernah memaafkan dirinya dan sangat membenci dirinya.
Ia juga tidak marah dengan kakaknya yang membuatnya harus tidur di balik jeruji besi. Ia justru berterima kasih, bila tidak mungkin ia takkan pernah menyadari kesalahannya. Baik kesalahannya pada Luna, maupun Jelita.
__ADS_1
Jelita, gadis yang awalnya bersikap sok angkuh, ternyata gadis yang rapuh. Jelita gadis yang telah telah ia sakiti dan nodai bahkan hingga ia mengandung benih dirinya, justru memaafkan dirinya dan menerima dirinya dengan lapang dada .
Ia sangat menyesali , mengapa ia bersikap tak pantas dulunya. Ia menyesali, mengapa ia tak menyadari betapa beruntungnya dirinya dikelilingi oleh orang-orang yang baik hati dan begitu tulus menyayanginya.
Sore ini, seperti kebiasaannya beberapa hari ini, Kentaro menghampiri toko bunga ibunya. Bukan tanpa alasan, tentu ia ingin menjemput ibu dari calon anaknya itu dan mengantarkannya pulang.
"Je, udah mau pulang?" tanya Kentaro. Jelita yang tengah bersiap-siap untuk pulang sontak menolehkan wajahnya menghadap ke sumber suara.
"Eh, Kenta, iya Ken. Kamu ..."
"Mau jemput kamu." sambungnya sebelum Jelita sempat menyelesaikan ucapannya.
Wajah Jelita sontak bersemu merah mendengarnya. Ia tak menyangka akan mendapatkan perlakuan manis dari ayah dari calon anaknya tersebut.
"Cie ... cie ... jadi kapan nih mau diresmikan ke jenjang selanjutnya?" goda Weni. "Buruan dong den Kenta, entar di tikung duluan lho soalnya Lita udah ada yang incerin di sini. Malah tiap hari dia disamperin sama calon penikung." sambung Weni lagi.
Wajah Kentaro sontak mengeras, Jelita bahkan dapat merasakan aura dingin menyelimuti ruangan toko itu.
"Sst, mbak Weni apa-apaan sih!" tukas Jelita panik saat melihat ekspresi Kentaro.
"Lah, kenapa Ya? Kan mbak cuma mau coba jujur." sahut Weni polos.
'Jujur sih jujur mbak, kalau ujungnya perang ini mah gawat!' rutuk Jelita dalam hati.
"Tenang aja mbak, secepatnya kok. Bahkan, kalau mama izinin besok, Kenta akan dengan senang hati menikahi Jeje besok." pungkas Kentaro membuat Jelita menganga tak percaya pada ucapan itu.
...***...
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1