
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Damar sebab ia akan mengikuti lomba di sekolah bersama Anggi dan Diwangga. Tujuan diadakannya lomba ini adalah untuk mempererat hubungan hubungan antara anak dan orang tua.
Awalnya Anggi bingung saat diberi tahu bahwa syarat utama mengikuti lomba itu adalah didampingi oleh orang tua lengkap. Jelas saja Anggi bingung artinya ia harus menghubungi Adam sebagai ayah dari Damar, apakah lelaki itu mau pikirnya, tapi nyatanya Damar menolak keikutsertaan Adam, justru sebaliknya ia meminta bantuan pada om papanya, Diwangga. Anggi ragu apakah Diwangga bersedia, tapi diluar dugaan, Diwangga dengan senang hati mendampingi Damar sebagai ayah penggantinya.
Hari sudah pukul 8 lewat, sedangkan lomba akan dimulai pukul 9. Namun karena sesuatu hal, Diwangga tidak bisa datang lebih cepat. Tapi ia telah berjanji, bila urusannya sudah selesai, ia akan segera menyusul.
"Ma, gimana ni, om papa kok belum datang juga ya?" tanya Damar khawatir. Matanya sibuk celingak celinguk kesana-kemari mencari sosok om papa yang disayanginya.
"Bentar lagi sayang. Kita tunggu aja, ya! Eh, Bang, beneran nih kita pake hoodie ini?" tanya Anggi saat melihat hoodie berwarna merah muda yang diberikan Damar padanya." Wah, kita couple ya, bang? Kapan Abang nyiapin?" tanya Anggi bertubi-tubi
"Iya ma, kita couple biar cuma beda warna aja. Bukan Abang yang nyiapin ,ma. Om papa beliin buat abang, Karin, dan Kevin tempo hari, jadi Abang bilang ke om papa beli buat mama sama om papa juga nggak biar bisa couple gitu, eh taunya kemarin beneran dibeliin, ma. Om papa juga beli jadi abang bilang ,kita pake buat hari ini aja, kan tema lombanya keluarga, biar makin klop gitu." ujar Damar masih dengan cengiran khas gigi ompongnya.
Anggi terkekeh, ternyata anaknya sudah bisa berpikir sejauh itu. "Abang bisa aja. Emang om Angga nya mau? Kalo nggak mau gimana? " tanya Anggi
"Abang yakin kok ma, pasti om papa juga bakal pake . Yakin 1.000% malah." ucap Damar penuh keyakinan
"Ya udah, mama ke toilet dulu ya! Abang jangan kemana-mana, tungguin om Angga." ujar Anggi sebelum berlalu menuju toilet
"Eh, itu bukannya Anggi ya, owner Anggrek Fashion yang lagi viral itu?" tanya salah seorang wali murid
"Wah, mata kamu jeli juga! Iya ,itu beneran dia. Eh, kalau ada dia di sini berarti anaknya juga sekolah di sini donk!" ucap ibu-ibu lain
"Iya yah, anaknya juga ada di katalog kan! Cakep-cakep dan cantik."
"Mamanya aja cantik, apalagi anak-anaknya. Ternyata cantikan liat langsung ya."
"Ngapain kalian muji-muji perempuan kayak gitu. Ingat, dia itu janda! Janda itu racun bagi suami-suami kita. Hati-hati aja, jangan sampai suami-suami kalian digodain sama dia." timpal seorang wanita yang berdandan glamor dengan nada sinis
"Hei Bu, jangan asal menilai orang. Nggak selamanya janda itu punya sifat jelek kayak gitu. Ya nggak ibu-ibu. Hati-hati jangan takabur, ntar ketulah jadi janda juga baru tau rasa lho." sahut ibu-ibu yang tak suka mendengarkan kalimat ejekan terhadap kaum janda. Ia tak habis pikir, mengapa orang sangat suka menilai negatif para janda padahal kadang bukan mau dia juga jadi janda. Tapi kalau memang sudah takdirnya, mau bagaimana lagi.
"Kalian dibilangin malah nyolot, liat tuh kalau nggak percaya. Belum ada 5 menit aku bilang juga apa, itu kalau nggak salah pak Robin kan, suami Bu Yuli, yang sedang bicara sama si janda itu. " ucap si ibu glamor yang bernama Atin. "Hei Yuli, sini. " panggil Atin
"Ada apa, Tin, kayak penting banget, acaranya bentar lagi mau mulai lho!"
"Udah masalah lomba bisa nanti, tuh liat suami kamu, lagi digodain janda." tunjuk Bu Atin mencoba memanas-manasin Bu Yuli
Bu Yuli sontak menoleh ke arah yang ditunjukkan Bu Atin, wajahnya tampak memerah, begitu kentara dirinya sedang dirundung emosi yang membara.
"Labrak aja, Yul! Janda genit macam dia memang harus diberi pelajaran!" Bu Atin terus memanas-manasin Bu Yuli
"Eh Bu Yuli, jangan, belum tentu dia godain suami ibu. Keliatannya mereka cuma mengobrol biasa kok . Mungkin mereka teman lama." ujar seorang ibu-ibu mencoba menasihati, tapi sayang Bu Yuli sudah dikuasai amarah. Sepertinya setan telah menguasai fikirannya hingga tak bisa berfikir jernih. Ia pun segera bergerak menuju Anggi untuk melabraknya
.
.
.
__ADS_1
"Eh pak Robin, asisten mas Angga ,kan! Apa kabar pak?" sapa Anggi saat melihat sosok yang dikenalnya bernama Robin sedang berjalan masuk ke area sekolah. Ia pun segera mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Oh, Bu Anggi. Alhamdulillah ,baik Bu. Benar Bu, saya asisten pak Angga. Bagaimana kabar ibu? Oh, ya anak ibu sekolah di sini juga kah?" tanya Robin seraya menyambut tangan Anggi untuk bersalaman
"Alhamdulillah, kabar saya juga baik. Iya pak, anak sulung saya sekolah di sini. Anak bapak juga sekolah di sini, ya?"
Belum sempat, Robin menjawab pertanyaan Anggi, tiba-tiba Bu Yuli datang hendak melabrak Anggi.
"Hei pelakor, berhenti menggoda suami saya ya! " bentak Bu Yuli tiba-tiba. " Dasar pelakor tak tahu diri, wajar aja ditinggal suami, ternyata begini kelakuannya!" ucap Bu Yuli sinis, sedangkan Bu Atin hanya tersenyum miring, merasa menang karena berhasil membuat kekacauan di sekolah ini.
Anggi menjengit kaget saat seorang wanita tiba-tiba datang dan marah-marah padanya serta menyebut dirinya seorang pelakor. Memang apa salah dirinya?
"Bu, apa-apaan kamu ini, jangan asal tuduh begitu!" sergah pak Robin
"Oh bapak sekarang belain dia, iya? Bapak belain pelakor ini, hah!" bentak Bu Yuli
"Itu tidak seperti yang ibu pikirkan, kami tak punya hubungan apa-apa." ucap Robin jujur
"Halah, nggak usah bohong, pak! Sudah jelas-jelas kalian tampak dekat banget, jadi dia alasan kamu sering pulang malam akhir-akhir ini, pak? Bapak selingkuh dengan pelakor ini?" teriak Bu Yuli membuat ibu-ibu wali murid yang telah hadir jadi mengerumuni Anggi
Anggi baru akan membuka mulutnya untuk membela diri, tapi suara bariton seseorang membuatnya urung untuk membuka suara. Sebaliknya, Anggi justru ingin melihat, bagaimana cara seseorang itu membela nama baiknya hadapan orang banyak.
"Siapa yang kau sebut pelakor?" tanya Diwangga yang tiba-tiba telah berada di antara kerumunan yang mengelilingi Anggi
"Tu-tuan..." ucap Robin terbata
"Saya tanya lagi, siapa yang Anda sebut sebagai pelakor tadi?" tekan Diwangga
"Dia pak." tunjuk Bu Yuli tanpa ragu pada Anggi. "Wanita itu ternyata pelakor pak, dia mau menggoda suami saya." ujar Bu Yuli
"Benar itu Robin, apa Anggi memang ada menggoda mu?" tanya Diwangga
"Ti-tidak, pak. Bu Anggi hanya menyapa saya, tapi tiba-tiba istri saya melabraknya." jelas Pak Robin
"Udah pak, nggak usah dusta. Udah jelas-jelas dia godain kamu. Kamu masih aja membelanya, pak." geram Bu Yuli
Di saat Bu Yuli sedang tersulut emosi, justru temannya Bu Atin tertawa dalam hati, 'Rasain kamu, Nggi. Dipermalukan di depan banyak orang, emang enak. Ternyata sekian tahun tak tak berjumpa, belum juga menyurutkan rasa benciku padamu.' batin Bu Atin
"Apa kau punya bukti kalau Anggi adalah pelakor? Atas dasar apa kau menilai seseorang sebagai pelakor? Apa ada bukti dia bermesraan-mesraan dengan suamimu? " skak matt, Bu Yuli tiba-tiba membeku di depannya. Benar juga, atas dasar apa ia menuduh Anggi sebagai pelakor. Hanya karena sedang berbincang berdua apa itu bisa dikatakan merayu? Bu Yuli hanya bisa terdiam di tempatnya. "Kau tau, aku lebih tau Anggi dari pada dirimu. Kau tau mengapa Robin bisa mengenal Anggi? Itu karena Anggi pernah jadi klienku dan sekarang, dia sudah jadi calon istriku, jadi Anda jangan sembarangan menilai seseorang. Jangan karena ia janda, jadi Anda bisa menilainya sesuka hati. Bila ini terjadi sekali lagi, maka siap-siap menempuh jalur hukum. Dan kau Robin, kali ini kalian aku maafkan, tapi tidak untuk lain kali." tandas Diwangga tegas dan penuh penekanan.
Bu Atin sangat terkejut atas pernyataan Diwangga. Mengapa ia lagi-lagi kalah dari Anggi. Dari sejak di panti, hingga kini ia selalu saja kalah. Tak mau namanya dilibatkan dalam perdebatan itu, Bu Atin pun pergi secara diam-diam. Bahkan ia mengabaikan putranya yang ada di dalam sedang menunggu kedatangannya.
"Ma-maafkan saya Bu Anggi. Maafkan atas kesalahpahaman ini. Sekali lagi saya mohon maaf. Pada pak Diwangga juga, saya mohon maafkan atas setiap ucapan saya. Saya berjanji saya tidak akan mengulanginya lagi." ucap Bu Yuli dengan memelas.
'*Ini semua gara-gara Atin, dasar provokator. Sesudah membuatku dalam masalah, dia kabur. Dasar brengsek. Awas aja dia kalau sampai ketemu lagi, pasti akan aku beri pelajaran." rutuknya dalam hati
Anggi pun memaafkan kesalahpahaman itu. Ia menilai wajar jika seorang istri cemburu melihat suaminya berbincang dengan wanita lain. Tapi tetap ,kita harus memiliki etika. Jangan langsung menuduh tanpa bukti. Kita harus cari dulu kebenarannya dan jangan mudah terprovokasi oleh ucapan orang lain yang kadang belum tentu kebenarannya*.
__ADS_1
Setelah perdebatan itu usai, Anggi mengajak Diwangga dan Damar menuju tempat diadakannya lomba. Saat berjalan bersama , diam-diam Anggi melirik Diwangga yang tampil lebih muda, gagah, dan keren saat menggunakan hoodie berwarna biru muda yang dipadukan dengan celana jeans berwarna hitam dan sepatu kets warna putih. Anggi mengulum senyum saat melihatnya. Ntah mengapa, ia merasa ada kupu-kupu yang menggelitik perutnya saat mengingat setiap kata yang diucapkan Diwangga saat membelanya tadi.
Sadar sedari tadi ada yang memperhatikannya, Diwangga lantas menoleh membuat mata mereka saling bersirobok. Sejenak mereka terpaku akan sorot mata itu. Mereka seakan terhipnotis dan enggan melepaskan tatapan itu.
Anggi segera tersadar atas tindakannya yang menatap Diwangga begitu lama, ia segera mengalihkan pandangannya. Hatinya bergetar saat mengingat sorot mata teduh Diwangga.
"Kenapa ngeliatin, hm?" tanya Diwangga sambil sedikit berbisik
"Nggak, siapa yang liatin. Ish dasar, Mr. kege'eran." ledek Anggi dengan wajah memerah menahan malu
"Oh ya? Tapi kenapa wajah kamu memerah, Nggi?" tanya Diwangga penuh selidik
Tapi Anggi lebih memilih mengacuhkan apa yang Diwangga katakan. Ia sudah tak sanggup menahan malu lebih dari itu.
.
.
.
Perlombaan di sekolah Damar pun segera dimulai. Ada 3 macam lomba utama yang akan diperlombakan yang kesemuanya membutuhkan partisipasi orang tua murid, baik ibu maupun ayahnya. Ketiga lomba itu adalah memasak, lari sambil menggendong anak di pundak sembari mengumpulkan bendera terbanyak, dan menyusun puzzle.
Lomba pertama yaitu menyusun puzzle. Di puzzle itu ada gambar zebra, jerapah, dan singa. Dengan cekatan Anggi dan Diwangga membantu menyusun rangkaian puzzle itu dengan cepat dan teliti membuatnya langsung memenangkan tempat pertama.
Lomba kedua adalah lomba lari sambil menggendong anak di pundak seraya mengumpulkan bendera sebanyak mungkin. Diwangga segera mengambil posisi dan menggendong Damar di pundaknya, lalu dengan sigap ia berlari bolak-balik mengambil bendera satu persatu untuk diberikan kepada Anggi yang sudah menunggu di ujung jalan. Kekompakan mereka sontak membuat semua orang kagum. Mereka terlihat layaknya keluarga yang saling menyayangi dan melengkapi. Saat peluit tanda waktu berakhir, ternyata Diwangga dan Damar dapat mengumpulkan 12 bendera , sedangkan yang lain tak ada yang mampu mengumpulkan lebih dari 10 bendera, hal tersebut otomatis membuat tim Damar, Anggi, dan Diwangga menjadi pemenang.
Tiba di akhir lomba, yaitu lomba memasak. Anggi akan memasak sup ayam dilengkapi sosis dan bakso. Anggi mulai membagi tugas menjadi 3 bagian, yaitu ia bagian menyiapkan alat dan bahan juga memasak, Diwangga bagian mengupas dan mengiris sayuran, sedangkan Damar bagian mencuci sayuran. Tanpa terasa , 20 menit berlalu, sup ayam yang begitu menggugah selera makan para juri pun sudah terhidang. Kini giliran para juri menilai dan memutuskan siapa pemenangnya setelah sebelumnya mencicipi setiap hasil masakan dan lagi-lagi juri memutuskan tim Damar, Anggi, dan Diwangga sebagai pemenangnya.
Damar bersorak girang. Ia begitu bahagia karena berhasil menyabet juara satu di ketiga lomba.
"Makasih om papa." Damar pun mencium pipi Diwangga sebagai ungkapan terima kasih karena telah menemaninya hingga berhasil memenangkan lomba.
"Hmm...mentang udah punya om papa, jadi lupa deh sama mama." cebik Anggi sambil mengerucutkan bibirnya membuat Diwangga gemas. Tapi sayang ia tidak bisa melakukan apa-apa, belum halal pikirnya.
"Cie cie, mama cemburu nih yeee!" ejek Damar
"Idih, siapa yang cemburu!" elak Anggi
"Mama pingin dicium juga ya?" pancing Damar. "Kalo om papa yang mewakili Damar cium mama boleh?" ujar Damar dengan mata puppy eyes dan gigi ompongnya membuat Anggi terkekeh geli sendiri
pletakkk...
Anggi menyentil jidad Damar, "Nggak boleh, bukan muhrim." ujar Anggi sambil terkekeh
"Makanya om papa sama Mama nikah donk, biar jadi muhrim." ujar Damar membuat Diwangga dan Anggi melongo, dari mana anak itu tau tentang hal seperti itu. Seakan tau kalau mama dan om papanya bingung ia sudah mengerti hal tentang pasangan muhram, Damar pun. menjelaskan, "Damar tau dari baca buku-buku mama di kamar. Jadi Damar tau kalau dua orang yang bukan saudara biar jadi muhrim harus ngapain, ya menikah." jelasnya enteng membuat Anggi dan Diwangga salah tingkah.
'Ampun dah nih anak, dewasa belum waktunya.' rutuk Anggi dalam hati
__ADS_1