Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.45 Teka teki Diwangga


__ADS_3

Mendengar setiap kata yang dilontarkan Diwangga, cukup menyulut api emosi pada diri Adam. Wajahnya merah padam, tangannya pun mengepal hingga buku-bukunya memutih, dan rahangnya tampak mengetat hebat.


Adam segera melayangkan sebuah pukulan menuju rahang Diwangga, tapi hanya dengan sedikit gerakan Diwangga, pukulan itu pun berhasil terelakkan. Makin panaslah diri Adam. Ego lelakinya meronta-ronta tak terima pukulannya begitu mudah dipatahkan.


Sedangkan Diwangga hanya tersenyum sinis dengan tatapan mencemooh pada Adam.


"Aku akan bertanya baik-baik padamu, ada urusan apa kau ingin menemui calon istriku hah? Jangan bilang kau menyesal dan ingin kembali?"tanya Diwangga dengan senyum mengejek


"Itu bukan urusanmu. Mengapa? Kau takut Anggi kembali padaku, heh?" seringai Adam


Diwangga tergelak mendengarnya. "Hanya orang bodoh yang akan jatuh ke lubang yang sama dan aku yakin wanitaku tak sebodoh itu mau kembali padamu yang jelas-jelas telah menggoreskan luka di hatinya." ejek Diwangga dengan gerakan bibir mencibir


"Sudahlah mas, untuk apa meladeni pria seperti dia, buang-buang waktu saja. Ayo kita pergi sekarang." ajak Anggi


"Nggi, aku mau bicara padamu! Tolong beri aku waktu, sebentar saja. " Adam mencoba menghalangi kepergian Anggi


"Maaf mas, aku sibuk. Banyak kerjaan." Anggi pun berlalu sambil memegang ujung lengan kemeja Diwangga


"Sialan." umpat Adam. "Apa benar lelaki itu calon suaminya? Secepat itu dia mendapatkan penggantiku. Kurang ajar, takkan ku biarkan. Kau hanya milikku, Nggi. Tak ada yang boleh memilikimu selain aku. Aku yakin ,Anggi pasti masih mencintaiku." gumamnya percaya diri.


Sementara, Adam sedang sibuk dengan pikiran naifnya sendiri, Anggi sudah berada di dalam mobil Diwangga. Diwangga melajukan mobilnya menuju kediaman orang tuanya. Rumah yang sering Anggi datangi. Namun, bila dulu ia sering datang kesana hanya sekedar untuk mengantarkan pesanan Bu Sofi seperti pakaian, tapi kali ini ia kesana atas permintaan Diwangga untuk memberitahukan keinginan mereka menikah pada kedua orang tua Diwangga.


Sungguh Anggi tak pernah menyangka ia akan dilamar oleh seorang pria yang hampir sempurna seperti Diwangga. Tapi, tetap saja ia merasa bimbang, akankah ayah dan ibu Diwangga menyetujui Diwangga menikahinya. Apalagi dengan statusnya yang hanya seorang janda anak 3 , belum lagi ia yang tak jelas asal usulnya, besar di panti ,tanpa tau siapa ayah dan ibunya. Masih adakah atau sudah tiada. Mengapa ia dibuang, mengapa, mengapa, Dan masih banyak lagi pertanyaan mengapa yang bergulir di benaknya.


"Ngelamunin apa, Nggi?" tanya Diwangga saat melihat Anggi hanya sibuk melamun. Tatapannya kosong ke arah luar jendela mobil. Terlihat sekali begitu banyak beban yang dipikul wanita pujaan hatinya itu.

__ADS_1


"Mmm... mas."


"Ya, ada apa? Ngomong aja, nggak usah ragu. Aku nggak gigit kok." ujar Diwangga dengan cengiran khas yang menunjukkan dua lesung pipinya.


"Kira-kira Tante Sofi sama papa kamu mau nerima aku nggak? Apalagi mama kamu udah baik banget sama aku, aku takut Tante Sofi malah jadi marah sama aku." ujar Anggi sambil meremas ujung pashmina yang membalut kepalanya


"Marah? " Diwangga tergelak. "Justru sebaliknya, mama akan sangat bahagia. Tau nggak pas pertama kali aku nanyain foto Damar sama si Kembar yang mama posting di story' WhatsAppnya, mama sempat nanayain, gimana kalo aku dapat jodoh seorang janda anak 3 ?" jeda Diwangga


Anggi lantas memutar sedikit badannya agar menghadap Diwangga dan mendengarkan dengan jelas setiap kata yang diucapkan Diwangga.


"Terus apa jawaban kamu?" tanya Anggi penasaran


"Kalo jodoh, ya nggak masalah. Siapa yang bisa menentang jodoh. Semua kan udah digariskan Allah. Benar kan?" Diwangga menoleh ke Anggi sambil tersenyum manis. "Jadi ya aku nerima aja. Aku yakin , apapun pilihan Allah itu yang terbaik bagi hamba-Nya. Dan aku lebih bersyukur lagi, ternyata jodoh aku itu adalah kamu, seseorang yang sudah aku tunggu sejak lama." ucapnya ambigu


Anggi mengernyitkan dahinya. Bukan sekali dua kali Diwangga bicara seperti menyiratkan ia sudah lama mencintai Anggi, sudah lama menunggu Anggi, tapi sejak kapan? Bukankah mereka saja baru saling mengenal?


"Kalau saling mengenal sih tidak, cuma kita pernah berjumpa." ucap Diwangga dengan senyum penuh arti


"Kapan?" tanya Anggi lagi


"Nanti aja, kalau kita udah nikah , pasti aku ceritain semua." ucap Diwangga sambil tersenyum manis, sangat manis, membuat hati Anggi selalu berbunga-bunga.


.


.

__ADS_1


.


Setelah Anggi dan Diwangga pergi, Aglian segera memanggil Robi.


"Rob, kamu tau tentang pengacara itu?" tanya Aglian


"Iya tuan. Dia pengacara yang membantu Bu Anggi bercerai dengan mudah dari Adam, tuan. Dia juga sangat dekat dengan Anggi dan anak-anaknya."


"Bagaimana orangnya? Maksud saya, dia orang yang bagaimana? Keluarganya?" tanya Aglian penuh selidik


"Dia seorang pengacara yang baik dan jujur tuan. Dia memiliki firma hukum sendiri tapi masih dalam naungan firma hukum Yudhistira Law and Firm (YLF) milik tuan Suseno Yudhistira. " jelas Robi


Aglian langsung mengarahkan arah pandangannya ke arah Robi. "Apakah dia putra dari om Suseno?"


"Benar tuan, dia putra tunggal tuan Suseno, sahabat tuan Davindra Winata." apa yang diucapkan Robi membuat Aglian terhenyak lalu tersenyum penuh arti.


"Mengapa kau tidak segera memberitahuku?" delik Aglian


"Maaf tuan, info ini baru saya dapatkan semalam. Bahkan semalam ternyata tuan Diwangga telah melamar Bu Anggi di SKYE."


Mata Aglian membelalak tak percaya. "Hah, kau sudah pastikan kebenarannya?"


"Sudah tuan. Saya dapatkan berita ini dari informan terpercaya." ucap Robi penuh keyakinan


"Baiklah, silahkan keluar. Oh ya, jangan lupa atur rencana ulang tahun mamaku sebaik mungkin. Pastikan semua berjalan lancar." ucap Aglian

__ADS_1


"Baik tuan. Kalau begitu, saya permisi." ucap Robi sambil menundukkan sedikit tubuhnya


Setelah Robi keluar, Aglian mulai berkutat dengan pikirannya. Disandarkan punggungnya ke sandaran kursi kebesarannya. Matanya tampak menerawang ke arah langit-langit ruang kerjanya, tapi pikirannya melanglang ke arah lain. Sebenarnya ia bingung harus memulai dari mana dan bagaimana cara membuktikannya, tapi bukankah akan selalu ada jalan asal kita berusaha. Itulah yang jadi pedoman Aglian sekarang. Semoga apa yang ia yakini ,memang benar adanya.


__ADS_2