Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.136 (S2) Niat Buruk


__ADS_3

"Jum, bagaimana ini? Anakku nggak mungkin nikah sama keponakan kamu itu. " bentak Bu Rully.


"Sebentar Bu, jangan-jangan ini hanya akal-akalan anak itu saja supaya nggak jadi dinikahkan sama Beno. Saya ke kamar anak itu dulu, Bu. " ujar Bude Jum takut-takut.


Setelah meminta izin dari Bu Rully, bude Jum segera menuju kamar Jelita.


"Heh, anak nggak tau diri, bude tau, itu cuma akal-akalan kamu aja kan supaya nggak jadi dinikahkan sama Beno! Jangan bohong sama bude, sana cepat keluar! Bu Rully sama Beno udah nungguin." bentak bude Jum.


"Sudah Bu, jangan paksa Lita. Dia nggak mau nikah sama Beno, jangan dipaksa gitu. Dia itu keponakan kamu sendiri, kok kamu tega sih!" sergah pakde Asrul.


"Udah, bapak nggak usah ikut campur urusanku. Ini urusanku sama anak nggak tau diri ini." sergah bude Jum. Pakde Asrul hanya bisa menghela nafas panjang. Istrinya itu memang keras kepala. Bila sudah berkata, sulit ditentang.


"Kenapa sih bude kayak ngotot banget aku nikah sama dia? Pasti ada yang bude sembunyiin, iya kan!" tukas Jelita penuh kecurigaan.


" Mana ada. Bude cuma mikirin masa depan kamu. Kalau kamu nikah sama dia, hidup kamu bakal terjamin." kilah bude Jum. Bola mata bude Jum terlihat tak dapat fokus, Jelita dapat melihat memang ada hal yang disembunyikan budenya itu.


"De, Lita nggak bohong, Lita emang sedang hamil. Lita juga baru tau hari ini. Asal bude tau, kenapa Lita bisa pulang tiba-tiba, itu karena ... Lita habis diperkosa karena itu Lita kabur, balik kampung." lirih Jelita dengan tatapan nanar.


Bude Jum dan Pakde Asrul sontak terkejut. Sudah hampir 1 bulan Jelita pulang, tapi baru kali ini Jelita menceritakan perihal masalahnya. Pakde Asrul tak menyangka hal tersebut menimpa keponakannya. Berbeda dengan pakde Asrul, bude Jum justru menuduhnya jadi wanita murahan di kota bahkan pelakor yang kabur karena ketahuan istri sah.


"Udahlah, kamu pasti berbohong. Kamu pasti di kota sudah menjual diri, iya kan! Atau jangan-jangan kamu jadi pelakor di kota dan kabur ke sini karena ketahuan istri sah lelaki tersebut, benar kan! Nggak usah bohong. Dasar anak nggak tau diri. " desis Bude Jum dengan tatapan merendahkan.


"Sudah Bu, sudah. Kasihan Lita." sergah Pakde Asrul. Hatinya ikut teriris saat melihat Jelita terisak. Ia tahu, Jelita anak yang baik dan jujur, jadi ia tak mungkin melakukan seperti yang dikatakan istrinya.


Kesal dengan Pakde Asrul yang selalu membela Jelita, bude Jum pun keluar kembali menemui Bu Rully dan Beno.


"Bagaimana?" tanya Bu Rully


Bude Jum menghela nafas panjang, ia bingung harus bagaimana sekarang.


"Itu ... e ... Lita ... Lita sepertinya memang sedang hamil. " jawab bude Jum dengan wajah tertunduk.

__ADS_1


"Jadi bagaimana ini, Jum? Saya nggak mau tau, kalau Beno tak bisa menikah dengan Jelita, berarti anakmu, Juwita-lah yang harus jadi gantinya." seru Bu Rully membuat mata bude Jum membelalak.


"Lho, nggak bisa gitu Bu, putri saya itu baru tamat SMA, umurnya juga baru 18 tahun, sedangkan Beno sudah 33 tahun. Perbedaan umur mereka terlalu jauh." kilah bude Jum.


"Lah, sama Lita kamu nggak masalah, umur mereka kan cuma selisih 1 tahun, jadi sama aja. Lagian, aku udah kasi kamu mahar yang kamu minta. Kalau kamu nggak mau nikahkan Wita sama Beno, berarti kamu harus siap kembalikan uang itu secepatnya dengan bunga 50% sesuai perjanjian. Jadi kamu harus kembalikan uang itu menjadi 75 juta. Bagaimana? Bisa?" cerca Bu Rully dengan sorot mata mengintimidasi.


Nafas bude Jum tiba-tiba tercekat. Ia tak mungkin menghancurkan masa depan putrinya dengan pria beristri seperti Beno apalagi perbedaan umur mereka terlalu jauh. Bila harus mengembalikan uang Bu Rully juga tidak mungkin, sebab uangnya sudah habis ia gunakan membayar hutang, arisan, membeli perhiasan, dan untuk Juwita shopping.


"Bagaimana Bu? Aku akui, Lita jauh lebih cantik dari Wita, tapi aku juga tak mungkin menikahi wanita yang sedang hamil. Kalau itu anakku sendiri aku sih tidak masalah, tapi itu bukan anakku jadi aku tak mungkin menikahinya." kini Beno yang angkat bicara.


Juwita yang baru pulang dari jalan-jalan dengan temannya sontak mematung. Wajahnya memerah menahan gemuruh di dadanya. Tentu ia tidak terima dinikahkan dengan lelaki yang lebih pantas jadi pamannya itu.


"Wita nggak mau." suara Juwita tiba-tiba menggema di ruang tamu rumah itu mengejutkan semua yang ada di sana. "Kenapa nggak gugurkan saja kandungan mbak Lita, setelah itu baru nikahi. Bukankah dengan kehamilannya, mbak Lita terbukti subur, tidak seperti aku yang belum terbukti. Artinya mbak Lita lebih cocok pak Beno nikahi, bukan saya." ujar Juwita menyeringai. Entah bagaimana tiba-tiba saja ide itu melintas di otaknya.


"Benar Bu apa yang dikatakan anak saya. Bagaimana kalau kita gugurkan saja kandungan Lita. Lita sudah terbukti subur bukankah itu bagus. Pasti nanti setelah Lita dan Beno menikah, mereka akan segera punya anak." ujar bude Jum mencoba meyakinkan.


Jelita yang sedang menguping dari balik tirai dekat ruang tamu tiba-tiba tercekat saat mendengar rencana busuk bude dan sepupunya itu. Hanya demi harta, ternyata mereka tega mengorbankan ia dan calon anaknya. Ia tak mau. Mereka tak boleh melakukannya. Ia harus segera pergi dari rumah itu sebelum hal-hal yang tidak diinginkannya terjadi. Apa yang menimpa dirinya memang buruk tapi bukan berarti ia harus membuang calon anaknya. Di luar sana banyak calon orang tua yang berusaha mati-matian ingin punya anak. Mereka rela mengorbankan banyak hal mulai dari waktu, tenaga, dan biaya, namun hasilnya tak sesuai keinginan. Lalu kini ia diberi secara cuma-cuma, walau melalui cara yang salah, tak mungkin ia tega melenyapkannya. Walaupun ia tak pernah menginginkan memiliki anak di luar nikah, tapi bukankah setiap nyawa berhak untuk diperjuangkan, terkhusus itu adalah nyawa seorang anak manusia. Karena itu, Jelita akan mempertahankan dan memperjuangkannya sekuat tenaga.


***


"Hmm ... enak, dagingnya empuk Tau banget loe restoran enak ." puji Luna sembari memasukkan potongan daging domba terakhir ke mulutnya.


Kentaro tampak senang melihat Luna begitu menikmati makan malamnya. Mereka makan sambil mengobrol tentang berbagai hal. Tak jarang, Luna terkekeh saat mendengar candaan Kentaro.


"Lun ..." panggil Kentaro.


"Hmm ..., ya Tang." sahut Luna gugup. Dari cara Kentaro memanggil namanya, ia sudah tau apa yang akan dibicarakan Kentaro.


"Gimana? Ini udah 1 bulan dari terakhir gue meminta loe kasi gue kesempatan. Loe udah dapat jawabannya?" tanya Kentaro. Sebenarnya hati Kentaro sudah ragu jawaban Luna akan sesuai harapannya. Tapi tetap ia ingin mendengar secara langsung dari bibir Luna sendiri.


"Ekhem ... Gini Tang, sebelumnya, gue bener-bener minta maaf kalau jawaban gue nggak sesuai ekspektasi loe . " jeda Luna. Ia menghela nafas sejenak. "Maaf Tang, gue nggak bisa membalas perasaan loe. Gue udah berusaha, tapi masalah hati nggak bisa dipaksa, Tang. Gue lebih nyaman jadi sahabat loe. Gue nggak bisa lebih dari itu. Jujur, gue sayang sama loe, tapi ... cuma sebatas sahabat. Sorry ya, Tang!" ucap Luna dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


"Apa ada lelaki yang loe suka? Hmm .. maaf, gue cuma pingin tau aja. Itupun kalau ada ." tanya Kentaro santai sembari tersenyum palsu. Tanpa Luna ketahui, Kentaro sedang berusaha menahan gejolak emosi dalam dadanya. Ia tak terima ditolak seperti ini. Tangannya mengepal hebat di bawah meja. Ia tak rela pengorbanannya berakhir sia-sia.


"Hmm ... jujur, iya. Maaf ya, Tang. Loe tetap mau jadi sahabat gue, kan!" mohon Luna dengan wajah memelas. Bagaimana pun ia merasa tak enak hati. Namun cintanya tak bisa dipaksakan.


"Jujur gue kecewa, Lun. Tapi no problem, seperti yang loe bilang, cinta nggak bisa dipaksakan." sahutnya seraya tersenyum getir.


"Gue permisi ke toilet bentar ya, Tang!" ujar Luna dan Kentaro mengangguk sebagai jawaban.


Tak lama kemudian, Luna kembali lagi duduk di hadapan Kentaro.


"Habisin minum loe dulu, Lun. Habis itu baru gue anterin loe pulang." ujar Kentaro dan Luna pun segera menyesap jus alpukatnya hingga tandas. Setelah itu, mereka pun segera menuju dimana mobil Kentaro berada.


Namun, sesaat setelah berada di dalam mobil, tiba-tiba kepala Luna menjadi berat.


"Eeghhh ... " Luna mengerang menahan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang matanya.


"Loe kenapa, Lun?" tanya Kentaro khawatir.


"Gue nggak tau, Tang. Kok kepala gue tiba-tiba sakit terus mata gue berat banget. Gue ..." belum selesai Luna bicara , ia sudah tak sadarkan diri.


Kentaro tersenyum penuh arti.


"Sorry, Lun! Gue terpaksa lakuin ini. Loe harus jadi milik gue gimana pun caranya." ujarnya sebelum melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2