
"Robi, bisa ke ruangan saya sebentar." pinta Aglian melalui interkom.
"Baik, tuan." sahut Robi.
Tak berapa lama kemudian, Robi pun masuk ke ruangan Aglian dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah dipersilahkan, ia pun masuk seraya membungkukkan badan.
"Rob, perkenalkan, dia Safa, adik saya, lebih tepatnya anak sahabat mama." ujar Aglian memperkenalkan Safa pada Robi membuat Robi mengerutkan keningnya, mengapa ia diperkenalkan pada gadis itu, pikirnya. "Nah, sebenarnya kami ada janji makan hari ini, tapi berhubung saya dan Luna ingin ke rumah sakit setelah makan siang, jadi saya harap kamu mau menemaninya makan siang bersama. Dia baru kembali dari Australia. Dia sudah di sana selama 10 tahun jadi dia sudah lupa jalan-jalan di sini. Saya takut, dia malah tersesat." ujar Aglian menjelaskan supaya Robi tak banyak bertanya.
'Kan bisa pake GPS! Nggak mungkin kan dia nggak ngerti liat jalan pake GPS atau google map.' dengus Robi dalam hati. Dia kesal padahal dia sedang sibuk memeriksa ualng laporan dari perusahaan anak cabang Angkasa Grup sebelum ia laporkan pada Aglian.
Di saat Robi sedang berkutat dengan pikirannya, Safa malah tersenyum-senyum sendiri memandangi wajah Robi yang menurutnya memang cukup tampan.
"Bagaimana Robi? Bisa kan!" tanya Aglian lagi memastikan.
Robi hanya bisa mendesah kesal, namun tak pelak ia mengangguk, " Baik, tuan."
Lalu Aglian mengalihkan pandangannya pada Safa, "Kak Lian pergi dulu, ya!"
Lalu Luna juga ikut memandangnya seraya mengangkat tangannya yang terkepal sambil menggerakkan bibirnya, "Semangat!" bisiknya nyaris tak terdengar namun, gerakan bibir itu masih bisa dimengerti Safa.
Safa pun mengangguk antusias dan mengucapkan kata terima kasih tanpa suara.
Setelah Aglian dan Luna keluar dari ruangan itu, Robi segera menghampiri Safa sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan agar tidak merasa canggung nanti.
"Robi, asisten pribadinya tuan Aglian." ujar Robi datar.
"A-ku Safa." ujar Safa gugup Safa menggigit bibir bawahnya, bisa-bisanya ia tiba-tiba gugup seperti ini.
"Kamu suka makanan apa?" tanya Robi. Ia sengaja bertanya terlebih dahulu, takut bila ia membawanya ke tempat makanan yang tidak ia sukai. Ia tak mau malah jadi repot dua kali bila salah memilih rumah makan. Apalagi waktu istirahat makan siangnya tidaklah panjang jadi ia harus segera kembali demi kesejahteraan gajinya yang di atas rata-rata. Walaupun harus sedikit repot biarlah, yang penting kehidupan ekonominya terjamin dan ia bisa membahagiakan sang emak.
"Aku sih suka seafood, tapi makanan lain juga nggak masalah kok. Aku juga suka semua jenis makanan. Kecuali jengkol dan pete." ujarnya jujur membuat Robi kembali mengerutkan dahinya.
"Aku malah suka jengkol dan pete." sahut Robi santai membuat Safa melongo. "Ayo, cepat ikut aku!" titahnya ketus membuat Safa cemberut.
Ssfa pun mengikuti setiap langkah kaki Robi hingga ke parkiran basemen. Setelah menemukan mobilnya, Robi langsung duduk di balik kemudi mengabaikan keberadaan Safa yang masih berdiri di luar. Kesal melihat Safa yang tak kunjung masuk ke dalam mobil, Robi lantas menurunkan kaca mobilnya.
__ADS_1
"Buruan masuk atau ditinggal!" sergahnya membuat Safa rasanya ingin berteriak di depan wajah Robi.
'Nyebelin banget sih jadi orang. Nggak bisa ramah sedikit apa!'
Setelah Safa masuk ke dalam mobil , Robi pun segera memacu mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
"Bang, bisa pelan dikit nggak! Safa nggak mau mati muda lho. Safa nggak mau jadi hantu perawan karena Safa belum nikah." tukas Safa setengah berteriak.
Diteriaki seperti itu, membuat Robi menurunkan kecepatan mobilnya. Ia tak mau bila Safa benar-benar mati lalu jadi hantu perawan. Kemungkinan besar dia lah yang akan Safa hantui pertama kali.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit, tibalah Safa di sebuah rumah makan Padang sederhana membuat Safa melongo.
'Ni orang pelit apa nggak ada duit sih? Biasanya kan cowok tuh ajak cewek re restoran yah agak mewah dikit lah nggak perlu terlalu mewah juga, bukannya restoran Padang sederhana kayak gini. Ah, atau Bang Robi mau menguji aku yah mau diajak susah atau nggak!' omel Safa dalam hati sambil cekikikan.
Robi yang melihat ekspresi Safa menahan senyum lantas mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa? Senyum-senyum gitu udah kayak cewek nggak waras." Cibir Robi membuat Safa menekuk wajahnya.
"Dasar cowok nggak ada akhlak. Masa' cewek cantik, baik, dan imut gini dikatain nggak waras Ini nih kalo terlalu lama jomblo atau Abang punya kelainan seksual nih karena itu kalo deket cewek jadi kayak alergi gitu. Ketus banget." gerutu Safa.
"Nggak ... aku nggak kayak gitu. Sembarangan." ketus Robi sambil mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di rumah makan itu.
"Lah itu buktinya. Nggak bisa apa baik dikit sama Safa. Percuma punya wajah cakep kalau kelakuan jutek kayak gitu. Ketus lagi. " Safa mendelik seraya ikut duduk di kursi yang berhadapan dengan Robi. "Emang sih benar kata kakak ipar kalau Abang itu cakep walau nomor 2 karena nomor 1 nya kak Lian, tapi sikap Abang itu .... hadeuh ..."
"Benar nona Luna bilangan saya cakep?" tanya Robi antusias sambil senyum-senyum sendiri.
"Iya, tapi nomor 2. Dih, dipuji cakep langsung senyum-senyum sendiri." Safa geleng-geleng kepala.
"Iya dong, biasanya hanya pegawai biasa yang memuji saya, tapi sekarang istri pak bos juga ikutan muji artinya emang saya cakep. hahaha ...Ekhem ... kamu mau pesan apa, biar saya sekalian pesankan." tanya Robi setelah berhenti tertawa.
"Terserah Abang deh, aku mah bebas asal bukan lauk Pete dan jengkol." ketus Safa.
"Oke." Lalu Robi beranjak dari tempat duduknya menemui karyawan rumah makan itu. Setelah selesai memesan, Robi kembali ke tempat duduknya.
Tak lama kemudian, makanan pun dihidangkan. Ada dendeng balado, rendang daging, sayur nangka, perkedel kentang, gulai kepala ikan, dan semur jengkol.
__ADS_1
Safa lantas mengerutkan dahinya saat melihat semur jengkol. Dia hanya menghela nafas.
'Padahal mau balik ke kantor malah makan semur jengkol. Nanti nafasnya bau jengkol dong!' Safa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Robi. "Ada yang kurang? Mau nambah sesuatu?"
Safa menggelengkan kepalanya.
Lalu mereka pun mulai makan dengan diam.
Eeeekkk ...
Safa melototkan matanya saat mendengar suara kenyang dari Robi. 'Astaga, nggak ada jaim-jaimnya nih cowok!' Safa cekikikan sendiri dalam hati sambil menutup mulutnya.
"Kenapa? Mau ketawa? Ketawa aja sebelum ketawa itu dilarang!" ketus Robi.
"Hahahaha ... bang Robi ini ternyata lucu banget sih! Nggak ada jaim-jaimnya di depan cewek." Safa tergelak sendiri.
"Buat apa jaim? Kamu juga bukan siapa-siapa aku kok." sahut Robi santai membuat wajah Safa masam seketika.
"Dah ah, aku mau pulang!" ketus Safa sambil mengambil tasnya dan berjalan keluar.
Robi menautkan kedua alisnya sambil menatap kepergian Safa. Ia pun bergegas membayar tagihannya, setelahnya ia segera menyusul Safa.
"Kamu bisa pulang sendiri kan? Aku masih sibuk soalnya." ucap Robi santai membuat mulut Safa menganga.
"Dasar, cowok nggak ada akhlak ih!" ketus Safa yang langsung berlari mencari taksi karena sudah terlalu kesal.
Robi hanya garuk-garuk kepala karena bingung apa salahnya sampai Safa marah dan berlalu begitu saja.
...***...
Rasanya pingin othor catok tuh kepala Robi. ððĪĢððĪŠ
...Makasih ya buat yang masih support karya saya di battle popularitas karya. Insya Allah di akhir periode, akan ada hadiah pulsa utk 3 orang dengan voting tertinggi. ...
__ADS_1
...Happy Reading ðĨ°ðð...