Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.106 (S2) Tersenyum dalam diam


__ADS_3

Di saat Anggi dan keluarga kini sedang dirahmati kebahagiaan tak terkira, di tempat lain ada orang-orang yang tengah terpuruk dalam penyesalan yang tiada berguna.


Adam baru saja selesai memeriksa laporan barang masuk. Ia kini tengah merebahkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya dengan sebelah lengan menutup wajahnya. Ia sedang merasa hampa dan kosong. Kebahagiaan yang dulu pernah ada kini benar-benar lenyap. Bahkan kini ia sudah jera menjalin cinta. Ia takut, ia tak mampu setia kembali yang akhirnya lagi-lagi menorehkan luka pada pasangannya. Apalagi ia masih selalu dihantui rasa bersalah pada Anggi dan anak-anaknya.


Rindu, ya kini ia sedang merindu, benar-benar merindukan mantan istri dan anak-anaknya. Rasa rindu ini bahkan membuatnya sesak, terlampau sesak di dada. Ingin ia melampiaskan rasa rindu itu dengan menemui mantan istri dan anak-anaknya, namun ia malu. Rasa percaya dirinya kini telah benar-benar terjun bebas ntah kemana.


Dipandanginya ponsel yang berada di tangan kirinya. Kemudian ia tersenyum miris, ia sadar ia sama sekali tak memiliki foto-foto bersama Anggi maupun anak-anaknya. Sudah sekian lama memang ia tak berfoto bersama. Bahkan kalau mau diingat, terakhir yaitu saat si kembar belum hadir ke dunia. Namun foto-foto itu pun sudah tak ada lagi. Semuanya ikut hilang saat ponselnya hilang. 'Aku memang laki-laki brengsek. Suami brengsek dan seorang ayah brengsek. Memiliki foto-foto anak-anakku sendiri pun tidak. Wajar saja tak ada satupun dari mereka yang merindukanku.'


Sedangkan di tempat lain, ada seorang gadis dengan penampilan sangat kacau. Rambutnya berantakan, tubuhnya lusuh, seakan tak punya gairah hidup lagi. Ia duduk menyendiri di sudut ruangan sempit sambil menumpukan wajahnya pada kedua lengannya. Tak berani mengangkat wajah. Ia terlalu malu, menatap orang lain pun ia malu dan takut. Apalagi saat berita penangkapan dirinya dan ayahnya viral karena telah merencanakan pembunuhan terhadap Anggi. Semua orang menghujatnya. Bagaimana ia akan menghadapi dunia sedangkan ia sudah tak memiliki wajah lagi di hadapan orang lain . Kini tinggallah penyesalan yang sudah tak ada artinya lagi.


.


.


.


Di sebuah ruangan tak terlalu luas, tampak Adinda dan beberapa rekan wanitanya yang juga sibuk memilah kain perca yang masih layak untuk mereka manfaatkan dan jahit menjadi berbagai macam benda seperti selimut, sarung bantal, lap tangan, dan lain-lain.


Penampilan Adinda kini berubah 180°. Adinda kini telah memakai pakaian muslim tertutup untuk kesehariannya. Ia juga telah lebih mendekatkan diri pada sang pencipta. Adinda kini telah benar-benar bertaubat.


.


.


.


"Iya, Ken, bentar lagi gue sampai sana kok! Loe tunggu aja. Eh bentar-bentar ... Ken, ada orang kena jambret, gue mau tolongin dia dulu, bye." ucap Luna pada Kentaro melalui sambungan telepon yang terhubung ke earphone di telinganya. Segera Luna menepikan motornya dan mendekati perempuan yang kejambretan itu.


"Toloooong, jambret , tolong, ...!" pekik seorang wanita.


"Ke arah mana mbak jambretnya?" tanya Luna , sontak gadis itu menoleh ke arah Luna.


"Luna ...."


"Mbak Fani ...."


Seru mereka berdua bersamaan.


"Ke arah mana mana jambretnya, mbak?"tanya Luna tergesa.


"Ke arah sana, Lun!" Stefani menunjuk sebuah gang kecil,


Luna pun segera melajukan motornya menuju sebuah gang kecil tak jauh dari posisinya. Saat mata Luna telah menangkap keberadaan jambret itu, segera ia mengambil batu dan melemparkannya hingga motor jambret itu kehilangan keseimbangan dan jatuh.

__ADS_1


"Hehehe ... Rasain lu! Luna dilawan."


Merasa tak terima , jambret yang berjumlah 2 orang lelaki itu segera mendekati Luna hendak menghajarnya. Beruntung Luna pernah belajar karate jadi ia bisa menghadapi kedua jambret itu. Tak lama kemudian, Stefani datang dengan bala bantuan. Lalu orang itu turut membantu Luna menghadapi kedua jambret tersebut. Merasa tak sanggup mengahadapi kedua orang yang ternyata jago bela diri itu, para jambret itupun kabur sembari melemparkan tas milik Stefani.


"Kamu nggak papa, Lun?" tanya Aglian panik. Ya, ternyata bala bantuan itu adalah Aglian. Beruntung ponsel Stefani ada di dalam saku blazernya jadi saat ia melihat Luna mengejar jambret itu, Stefani segera menelpon Aglian. Aglian yang kebetulan dalam perjalanan pun segera menuju ke tempat Stefani berada setelah mendapat telepon dari gadis itu.


"Kamu nggak papa, Lun?" tanya Aglian lagi pada Luna setelah para jambret itu kabur.


"Nggak papa kok, mas. Hehehe ... Awshhh...." tiba-tiba Luna meringis.


Aglian yang menangkap ada darah di sudut bibir Luna, segera mendekat dan memeriksa luka itu. Bahkan Aglian sampai mengusap darah itu dengan ibu jarinya membuat darah Luna seketika mendesir.


'Astaga, kok perasaan ku tiba-tiba aneh kayak gini.' rutuk Luna dalam hati.


Pun Aglian, jantungnya seketika berdebar kencang saat bertatapan dengan Luna dalam jarak dekat apalagi saat ibu jarinya menyentuh sudut bibir Luna.


Tak pelak, suasana canggung tercipta antara 3 orang itu. Luna pun segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Luna nggak papa kok ,mas. Cuma luka kecil juga. Udah biasa juga. hehehe ..." ucap Luna dengan cengiran khasnya.


"Biarpun lukanya kecil kalau nggak segera diobati, bisa jadi infeksi." tegas Aglian.


"Iya deh, ntar Luna obatin kok. Tapi Luna mau pergi dulu ketemu Kentang biar Luna minta bantuan dia aja ngobatinnya." ucap Luna santai.


"Iya, itu panggilan sayang Luna sama Kenta, super model itu lho."


Mendengar kata panggilan sayang, seketika raut muka Aglian berubah suram. Seperti ada ekspresi tidak suka di dalamnya.


"Kita obatin dulu nggak usah nunggu ketemu sama temen kamu itu. Keburu infeksi karena terkena debu kalau dibiarin lebih lama." sergah Aglian.


"Tapi mas ..."


"Kata Lian bener Lun, ikut kita aja dulu yuk! Di dekat sini kalau nggak salah ada Cafe, nah itu di sana. Kita kesana aja. Lian, kamu ke apotek sekarang ya beli Anto septik dan kapas buat bersihin luka Luna." Aglian mengangguk lalu dengan segera melangkahkan kakinya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri dan pergi meninggalkan kedua gadis itu.


Luna pun mengajak Stefani ke cafe itu dengan motornya. Setibanya di sana, mereka langsung menempati salah satu meja yang kosong. Setelah memesan minuman dan sedikit makanan, mereka pun mengobrol .


"Emang mbak Fani tadi dari mana kok bisa berdiri di trotoar gitu? Emang mobil mbak kemana?" cerocos Luna.


"Mbak tadi dari rumah temen. Kebetulan mobil mbak lagi mogok jadi naik taksi. Mbak jalan ke sana biar mudah dapat taksi, eh bukannya taksi yang di dapat, malah jambret yang nyamperin." jawab Stefani sambil terkekeh.


Tak lama kemudian, Aglian pun tiba kembali membawa kantong yang berisi antiseptik dan kapas. Segera Aglian mengeluarkan antiseptik itu dan meneteskannya pada kapas dan mengusapnya perlahan di luka Luna.


"Biar Luna sendiri aja, mas!" Luna tak enak hati dengan Stefani yang menatap mereka nanar. Walaupun senyum tetap tercetak di bibir gadis itu, tapi siapa yang tahu isi hatinya. Bisa saja saat itu Stefani mati-matian menutupi rasa cemburunya di dalam hati.

__ADS_1


"Udah, nurut aja kenapa sih! Perasaan mas, kamu itu suka banget ngebantah." tukas Aglian kesal.


'Idih, udah kayak pacar posesif aja! Nggak mikir apa gimana perasaan pacarnya yang liatin dia sibuk ngobatin luka cewek lain.' omel Luna dalam hati.


"Iya Lun, nggak papa. Biarin Lian obatin luka kamu. Aku malah makin nggak enak sama kamu kalau luka kamu nggak segera kami obati. Hitung-hitung sebagai ucapan makasih udah bantuin." ujar Stefani.


Luna mendesah lega saat Stefani sepertinya tidak masalah.


'Syukurlah kalau mbak Fani nggak mempermasalahkan.' batin Luna yang tanpa sadar membuat Luna tersenyum sendiri.


"Ngapain kamu senyum-senyum?" Aglian tampak memicingkan matanya, menatap intense wajah Luna. Luna yang baru sadar ia tersenyum sendiri, sontak gelagapan.


"Eh, si-siapa yang senyum-senyum? Mas Lian salah liat kali. heheh ..." ujar Luna sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal .


Cletak ...


"Ngeles aja terus!" tukas Aglian setelah berhasil menjentikkan jarinya di dahi Luna.


"Sakit ..." sahut Luna dengan wajah cemberut membuat Aglian terkekeh . Sekali lagi, Stefani hanya bisa tersenyum dalam diam melihat interaksi Luna dan Aglian.


'Sepertinya kamu bahagia banget saat bersama Luna.' batin Stefani.


.


.


.


.



Visual Diwangga dan Anggi.


Untuk Luna dan Aglian, nanti ya! Belum dicariin.😁


.


.


.


Mohon maaf ya, baru bisa update. Semalam mata othor nggak bisa dikondisikan banget. 🙏😆

__ADS_1


__ADS_2