Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.36 Trio Bocil Mak Comblang


__ADS_3

Setelah menjalani operasi kurang lebih 3 jam, akhirnya Adinda dipindahkan ke ruang perawatan. Karena pengaruh obat dalam dosis cukup tinggi, ia baru sadarkan diri keesokan harinya.


"Eugh..." terdengar suara lenguhan dari arah ranjang pasien. "Mas Adam..." panggilnya dengan suara lirih


Adam yang tertidur di sofa mengerjapkan mata. Mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan pencahayaan di ruangan itu


"Emmm..." hanya gumaman yang terdengar dari mulut Adam


"Mas." panggil Adinda


"Apa?"


"Haus."


"Sebentar." Adam segera mendekati nakas dan menuangkan air putih ke gelas lalu memberikannya pada Adinda dengan terlebih dahulu membantunya duduk agar lebih mudah untuk minum.


Setelah selesai minum, Adinda menyerahkan kembali gelas itu ke Adam dan meletakkannya di atas nakas.


Saat bola matanya sibuk melihat sekitar, tiba-tiba matanya mengerjap berapa kali saat melihat perutnya yang sudah mengempis.


"Mas... a-anak kita sudah lahir?" tanya Adinda terbata


"Tidak, dia tidak lahir ke dunia." ucap Adam datar


"Maksud mas?"


"Dia sudah meninggal sebelum dilahirkan."


Duarrr...


Kepala Adinda sontak pening tak karuan, ia tak menyangka hal ini akan ia alami. Anaknya, bahkan harus pergi sebelum ia menatap dunia.


"Nggak... nggak mungkin, kamu, kamu hanya bercanda kan mas?" tanya Adinda mencoba meyakinkan. Ia tak mampu menolak mempercayai apa yang barusan Adam ucapkan.


"Anakmu memang sudah meninggal sebelum dilahirkan, Din." tiba-tiba suara lain memotong pembicaraan Adam dan Adinda. Dia adalah Bu Tatik, ibunda dari Adam. Mertua Adinda.


"Salah kamu sendiri sok-sokan ngangkat guci trus mau kamu lempar ke Adam, kamu mau bunuh anak saya, hah?" bentak Bu Tatik


"Ma.." Adam mencoba menenangkan sang ibu " Ingat ,kita sedang di rumah sakit."


"Tapi mama nggak terima, Dam. Gimana kalau tadi dia berhasil lempar kamu pakai guci itu." seru Bu Tatik dengan dada bergemuruh, menahan amarah. Dari semalam ia mencoba bersabar karena melihat kondisi Adinda yang tak sadarkan diri, tapi saat melihat Adinda telah membuka matanya bahkan bersuara, ntah kemana rasa sabarnya semalam pergi. Yang ada ia ingin meluapkan amarahnya. Ia tak terima bila anak-anaknya disakiti orang lain. Contoh ibu yang egois, tak terima anaknya disakiti, tapi dengan tanpa perasaan senang menyakiti orang lain. Tidakkah ia berfikir bagaimana perasaan orang tua orang yang disakitinya itu bila mengetahui anaknya disakiti?


"Tapi Adam sendiri ma yang salah, bisa-bisanya dia membandingkanku dan memuji-muji mantan istrinya itu. Aku tidak terima,ma." ucap Adinda dengan terisak


"Tapi apa yang Adam katakan itu memang semuanya benar, kau tidak bisa menampiknya ,Din. Apalagi keadaanmu sekarang sudah tak sempurna lagi, apa yang bisa kami harapkan dari wanita yang sudah tidak bisa mempunyai anak lagi sepertimu." ucap Bu Tatik dengan nada sinis


Deg... Mata Adinda membola mendengar ucapan sinis dari mertuanya itu. Apa maksud ucapan ibu mertuanya itu? Tidak sempurna lagi? Tidak bisa mempunyai anak lagi? Adinda tidak mengerti apa maksud ucapan mertuanya itu.


"Mas, ap - apa maksud mama kamu, mas? Aku tidak sempurna? Tidak bisa diharapkan lagi? Tidak bisa mempunyai anak lagi? Apa maksudnya itu? Ayo mas, jelaskan padaku!" teriak Adinda setengah berteriak meminta penjelasan dari Adam

__ADS_1


"Din, rahimmu terpaksa diangkat karena ditemukan sel kanker di rahimmu yang memaksaku mengambil tindakan itu. Hanya ada dua pilihan, dibiarkan maka kau akan menderita selamanya karena sakit-sakitan atau diangkat dengan risiko tidak bisa memiliki anak lagi, jadi aku memilih option yang kedua."


"Tidak... tidak... itu tidak mungkin. Rahimku masih, aku masih bisa hamil, itu tidak benar kan mas, aku masih bisa hamil kan. Kamu hanya bercanda kan ,mas! Kamu jangan bohongi aku ,mas. Mas bilang aja mas pingin rujuk sama mantan mas yang brengsek itu, tapi jangan buat kebohongan seperti ini, aku nggak terima. Pasti itu hanya alasan kan ,mas! Itu alasan supaya mas bisa tinggalin aku, kan! Aku nggak terima ,mas. Aku nggak mau ditinggalin. Pokoknya aku nggak akan izinkan, mas balikan sama dia! Aku tau mas pasti ini akal-akalan mas aja, iya kan! Ayo mas jujur, aku masih bisa hamil lagi kan, iya kan!" teriak Adinda histeris. Ia melepas jarum infus yang menancap di lengannya, menarik paksa selimut yang menutupi tubuhnya, lalu turun mendekati Adam dan dengan kasar ia menarik baju Adam. "Ayo katakan mas, apa yang mas bilang tadi bohong kan! Mas Adam....!" pekik Adinda


"Din, tenang, dengarkan aku, aku tidak bohong, semuanya benar. Atau kau memang memilih untuk terus sakit-sakitan,hah!" pekik Adam . "Aku memikirkan kesehatanmu jadi aku terpaksa mengizinkannya, pikirkanlah, semua itu untuk kebaikan dirimu sendiri." ucap Adam sambil mencengkram bahu Adinda.


Wajah Adinda pias, ia tak menyangka bisa mengalami hal buruk itu. Anaknya meninggal sebelum dilahirkan ke dunia, rahimnya diangkat, dan ia tak bisa hamil lagi. Apakah ada hal yang lebih buruk dari itu? Bagaimana pun rahim adalah harta paling berharga bagi seorang wanita, bila rahimnya diangkat, sama artinya ia sudah tak memiliki harta berharga lagi. Ia tak bisa memberikan keturunan pada suaminya, lalu bagaimana nasib pernikahannya kelak?


"Nggak... nggak mungkin. Itu nggak mungkin." ucap Adinda lirih, perlahan pandangan Adinda mulai menggelap, langit-langit seakan berputar-putar, matanya mencoba mengerjap berapa kali, namun pandangannya masih saja kabur, hingga semua benar-benar menggelap, seperti malam yang kelam, semua gelap, tak terlihat, Adinda pun jatuh tersungkur di lantai, tak berdaya.


"Din, Dinda, Adinda..." panggil Adam berkali-kali. "Ma, cepat panggil dokter!" teriak Adam panik. Lalu ia mengangkat tubuh Adinda untuk ia baringkan kembali ke atas ranjang.


.


.


.


.


"Assalamualaikum mama cantik." teriak ketiga buah hati Anggi


"Wa'alaikum salam. Eh kok tumben kalian bilang mama cantik, pasti ada yang ngajarin nih ya!" alis mata Anggi naik turun meminta jawaban


"Nggak kok ma, nggak ada yang ngajalin ya kan, bang!" ucap Kevin sambil menatap mata Damar


"Iya kok, ma. Kan emang mama cantik, iya kan om papa!" giliran Damar yang bicara sambil menatap Diwangga. Diwangga yang tadi hanya tersenyum sontak gelagapan, saat diajukan pertanyaan seperti itu.


"Om papa kenapa? Kepalanya cakit ya? Kok dipukul-pukul?" tanya Karin tapi Diwangga menggelengkan sambil tersenyum.


"Eh, tunggu-tunggu, kalian dari tadi bikin Mama bingung deh,om papa? Kalian..." ucap Anggi tapi belum sempat ia menyelesaikan ucapannya sudah dipotong Damar terlebih dahulu


"Iya ma, itu panggilan sayang kami untuk om Angga yang sekarang jadi om papa Angga." ucap Damar dengan cengiran khas yang menampilkan gigi ompongnya karena ada yang patah .


"Hah!" Anggi sontak terkejut


"Nggak apa-apa,kan ma!" ucap Damar


"Ndak pa-pa kan,ma!" perjelas Karin


"Huh." Anggi mendesah kasar, mau dilarang pun ia rasa percuma, walau ia belum dapat petunjuk pasti karena yang ia lihat di mimpinya masih tertutup cahaya, tapi ntah ia seperti mendapat keyakinan bahwa sosok dalam mimpinya itu adalah Diwangga. Tapi ia belum dapat memutuskan saat ini, ia takut berbuat kesalahan atau salah menduga. Biarkan mimpinya itu jadi rahasianya dulu, orang lain tak perlu tau, sampai wajah yang tertutup cahaya itu nampak dengan jelas, baru ia akan membuat keputusan.


"Iya kan, ma, Ndak papa donk, kan om papa udah mau jadi papa kami juga." ujar Kevin


Duar....


Makin terkejutlah Anggi dengan apa yang dilontarkan Kevin. Sebegitu berharapkah mereka menjadikan Diwangga sebagai ayah mereka padahal ayah kandung mereka sendiri masih ada. Apakah mereka sudah benar-benar tak peduli pada ayah kandung mereka sendiri. Ia bahkan baru sadar semenjak berpisah dengan Adam, anak-anaknya tampak tak peduli kemana dan dimana ayahnya itu. Hanya Karin yang pernah bertanya, itupun hanya satu kali, saat pertama kali keluar dari rumah penuh masal lalu itu, setelah itu, tak pernah sama sekali.


Mata Anggi sampai mengerjap berapa kali. Ia bahkan sampai menepuk pipinya sendiri, untuk mengetahui ini mimpikah? 'Eh sakit. Artinya ini bukan mimpi. Mereka sudah terang-terangan menginginkan mas Angga jadi papa mereka, apa permintaan mas Angga tempo hari harus aku jawab sekarang? Ah, jangan dulu.' Anggi menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Nanti saja, sampai pendar cahaya yang menutupi wajah sosok itu hilang dan menampakkan jelas siapa pria itu, baru aku akan menjawab.' gumamnya dalam hati

__ADS_1


"Ma..."


"Ma.. mama"


"Nggi..."


Damar, Karin, Kevin, dan Diwangga mencoba menyadarkan lamunan Anggi.


"Eh, maaf. Mama ngelamun, ya!" Anggi menjengit kaget lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal, salah tingkah karena ketahuan melamun.


"Kalian mandi dulu,gih! Udah sore, hmmm bau!" ucap Anggi mengalihkan pembicaraan sambil menutup hidung berpura-pura menahan bau.


"Siap, ma. Kami mandi dulu ya, om papa! Bye..." ucap mereka kompak


"Oke." Jawab Diwangga singkat


"Hai Nggi."


"Eh, iya mas! Silahkan duduk. Mau minum apa?"


"Minum apa aja, nggak masalah. Air putih pun rasanya manis kalo kamu yang kasi." ucap Diwangga sambil terkekeh


"Ia gombalannya receh banget. "ejek Anggi


"Lha, serius, aku bukan gombal lho! Mau air putih pun kalo kamu yang hidangin jadi ada manis-manisnya gitu." ucap Diwangga sambil mengulum senyum


"Emang Le mineral." cebik Anggi sambil berlalu ke dapur untuk mengambilkan air minum


"Mama." bisik Karin saat Anggi sedang sibuk membuat teh di dapur


"Eh, kok belum mandi?"


"Mandinya gampang, Ayin mau tanya dulu cama mama."


"Tanya apa? " Anggi penasaran


"Om papa Angga boleh kan jadi papa kami?" tiba-tiba Kevin dan Damar ikut nimbrung


"Emang kalian beneran mau om Angga jadi papa kalian?" tanya Anggi memastikan lalu ketiga buah hatinya mengiyakan


Anggi mendesah kasar, lalu menggaruk-garuk pelipisnya dengan ujung telunjuk "Nanti ya, mama pikirin dulu."


"Jangan lama-lama, ma mikilnya, ntal om papa diambil Olang lho, gimana. Kami cuma mau om papa Angga yang jadi papa kami." ucap Karin


"Iya ma, jangan lama-lama ya mikilnya. " timpal Kevin


"Trus papa Adam gimana? Kalian kan masih punya papa." Anggi mencoba menanyakan mereka tentang ayah kandung mereka. Bagaimana pun Adam tetap ayah kandung mereka.


"Ah, papa kan ndak cayang kami lagi ma, jadi kami cuma mau om papa Angga aja jadi papa kami. Titik." ucap Karin dengan tangan bersedekap, no debat.

__ADS_1


"Astaga, trio bocilku ini, punya bakat Mak comblang dari mana sih!" gumam Anggi sambil menepuk jidadnya sendiri


__ADS_2