Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.105 (S2) CEO KEPO MODE ON


__ADS_3

Kebahagiaan sepertinya kini tengah menghujani keluarga besar Anggi dan Diwangga. Setelah mengetahui kehamilan Anggi, keluarga besar kompak mengadakan kumpul bersama sekalian selamatan di kediaman Anggi dan Diwangga. Bukan hanya ada Davindra, Ajeng, Aglian, Sofi, Suseno, dan anak-anak, tapi juga ada Stefani, Raju, Aji, Luna, Tita, dan Lia. Mereka merasa sangat bahagia sebab kurang lebih 8 bulan lagi, akan bertambah lagi 3 anggota baru di dalam keluarga tersebut.


Pun Damar, Karin, dan Kevin yang merasa sangat bahagia sebab mereka akan memiliki adik sekaligus 3 orang. Masing-masing mereka bahkan sudah mempersiapkan nama untuk calon adik-adik mereka, membuat para orang tua geleng-geleng kepala.


Saat ini mereka sedang berada di taman belakang. Mereka sedang pesta barbeque sambil bakar-bakar jagung. Mereka bergembira sambil bercanda ria.


"Hai, Lun." sapa Stefani.


"Eh, mbak Stefani. Aku panggil mbak Fani aja boleh?" Stefani hanya mengangguk tanda mengiyakan. "Mbak mau jagung bakar?" tawar Luna.


"Nggak Lun, makasih. Aku cuma pingin ngobrol-ngobrol aja bareng kamu." ucap Stefani dengan cengiran khasnya.


Stefani memang benar-benar cantik, bahkan Luna pun terkesiap saat melihat cengiran Stefani. 'Wajar aja mas Lian cinta banget sama mbak Fani, nggak senyum aja cantik, apalagi saat senyum, udah kayak artis Korea, bibeh!' gumam Luna dalam hati.


"Wuih, mau ngobrolin apa nih! Kalau obrolin masalah pekerjaan, mending jangan deh mbak, ora ngarti aku." ujar Luna sambil terkekeh membuat Stefani mau tak mau ikut terkekeh.


"Hai sayang." tiba-tiba Aglian datang mendekat.


"Eh, ya sayang. Ada apa, hm?" sahut Stefani.


"Gabung ngobrol sama mama, yuk!" ajak Aglian.


"Eh, aku ... aku mau nemenin Luna bakar jagung dulu." tolak Stefani halus.


"Udah ih, mbak Fani ikut mas Lian aja sana, temuin camer." tukas Luna dengan senyum jahilnya.


"Kamu ikut yuk Lun, temenin mbak." mohon Stefani sebab ia ntah ia sedikit merasa canggung padahal ia sudah biasa bertemu keluarga Aglian.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, sayang? Kok aneh kayak gini? " tukas Aglian dengan mengernyitkan dahi.


"Aku nggak papa, kok! Aneh dari mana? Perasaan kamu aja kali." elak Stefani.


"Ya udah, ikut aku sebentar, ada hal penting yang mau aku bicarain." ucap Aglian yang tanpa permisi segera menarik tangan Stefani agar mengikutinya.


Luna mencebik saat melihat Aglian pergi menarik tangan Stefani begitu saja tanpa menyapa apalagi permisi padanya.


'Gue udah kayak manekin aja, ada tapi nggak dianggap! Dasar nyebelin.' umpat Luna dalam hati seraya memoles margarin di jagung bakarnya. Namun karena sibuk mengumpat, ia tak sadar , ada jagung yang gosong.


"Woy Lun, ngelamun aja lu! Tuh, jagung loe gosong." sergah Aji saat melihat Luna malah melamun saat membakar jagung.


"Eh, aduh, yaaahhh, gosong kan!" kesal Luna dengan wajah cemberutnya.


"Lian, lepas, sakit!" Stefani meringis saat tangannya dicengkeram Aglian kuat.


Aglian menghembuskan nafasnya kasar seraya melepaskan cengkraman tangannya. Ia mengusap wajahnya untuk menetralkan rasa kesal dan beban pikiran yang beberapa hari ini mengusiknya. Lalu Aglian membalik badannya agar berhadapan dengan Stefani.


"Jelasin apa? Kamu kenapa sih?" tanya Stefani balik.


Aglian menggeram kesal. Betapa banyak pertanyaan yang bercokol di kepalanya saat ini. Tapi sepertinya, Stefani takkan mengutarakan lebih dulu ataupun bersikap jujur. Sungguh, pikirannya kalut saat ini. Berbagai spekulasi mampir di benaknya. Ia takut, bila sembarangan bicara dan menyakiti Stefani karena itu ia meminta kejujuran Stefani secara langsung.


"Banyak yang bisa loe jelasin, Stef. Stef, kita udah pacaran lama, bahkan gue udah janjiin mau nikahin loe setelah sodara gue ketemu, tapi kok aku ngerasa ada hal yang kamu rahasiain. Please, Stef, kalau ada sesuatu, kasih tau aku, biar aku nggak mikir macem-macem." ucap Aglian tegas dengan kedua tangan memegang pundak Stefani.


Stefani seketika memucat. Ia benar-benar kalut saat ini. Dari mana Aglian tau kalau ada sesuatu yang dia rahasiakan? Ah, ia lupa kalau Aglian sudah sangat mengenal dirinya. Aglian juga memiliki tingkat kepekaan yang tinggi jadi kalau ada sesuatu yang aneh, ia bisa dengan cepat merasakannya.


Stefani segera menggeleng kuat. Ia belum mampu, ah bahkan takkan pernah mampu menjelaskan rahasianya saat ini.

__ADS_1


"Sesuatu apa sih, sayang?" Stefani pura- berdecak kesal. "Kamu ini kenapa sih, sayang? Nggak usah mikir macem-macem deh." sergah Stefani sambil mengerucutkan bibirnya. Biasanya Aglian akan langsung lunak saat ia menggunakan ekspresi ini.


Tapi kali ini tidak, Aglian tampaknya tak mau melunak sedikit pun. Kesal karena Stefani sepertinya tetap pada pendiriannya yang tak mau menjelaskan apa yang ia sembunyikan, gegas Aglian membalik badan meninggalkan Stefani mematung di tempatnya.


'Maaf Lian, untuk saat ini aku tak mampu mengatakannya. Biarlah waktu yang menjawab semuanya.'


.


.


.


"Lun." panggil Aglian seraya mendudukkan bokongnya tepat di samping Luna yang menyantap jagung bakar sambil berchating ria dengan Kentaro.


Luna sontak menolehkan wajahnya ke arah Aglian. Tapi karena posisi duduk mereka yang terlalu dekat sebab kepala Aglian sedang sedikit menjorok ke arah ponsel Luna, wajah mereka pun hampir bersentuhan membuat Luna seketika membelalakkan matanya dan refleks menggeser duduknya hingga brukkk ... ia terjatuh ke bawah.


"Luna ..." seru Aglian terkejut saat melihat Luna terduduk di rerumputan.


Aglian gegas ikut turun hendak membantu Luna. Perlahan, ia membantu Luna berdiri dengan raut wajah khawatir.


"Kamu nggak papa, Lun?" tanya Aglian seraya memutar-mutar tubuh Luna , memeriksa apakah ada yang luka.


"Is, nggak usah lebay deh, mas! Luna nggak papa kok, cuma kaget aja. Sejak kapan sih, mas Lian duduk di samping Luna?" Luna memicingkan mata menatap Aglian.


"Sejak kamu cekikikan saat membaca pesan seseorang yang memanggilmu sayang." ucap Aglian , seketika mata Luna mendelik.


"Idih, ternyata seorang CEO Angkasa Grup bisa bertindak kepo juga, yah! CEO kepo mode on." ejek Luna.

__ADS_1


"CEO juga manusia, Lun. Punya rasa kepo itu wajar. Tapi aku juga heran sih, kok aku suka kepoin kamu ya!" ujarnya sambil terkekeh kemudian tangannya terulur mengacak rambut Luna yang sepanjang bahu membuatnya tampak menggemaskan. 'Bukan hanya kepo malah, aku bahkan bisa sedikit menenangkan gemuruh di hatiku yang tadi sempat memuncak hanya dengan sekedar bercanda denganmu, Luna Dinata. Thanks ya, Lun.' batin Aglian.


Di saat Aglian dan Luna tampak sibuk bertengkar tentang hal-hal yang tak penting, di sisi lain ada seseorang yang tersenyum miris saat melihat interaksi Luna dan Aglian. Bahkan tanpa sadar, air matanya mengalir membasahi pipinya, namun dengan segera ia usap dengan lengannya. Ia tak mau ada yang menyadari perasaannya saat ini.


__ADS_2