Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.146 (S2) Iba


__ADS_3

Azam telah tiba di kantor polisi tempat ia bertugas. Setibanya di sana yang ia cari adalah Erika.


"Gino ..." panggil Azam.


"Ya, pak? "


"Kamu lihat Aipda Erika?" tanya Azam.


"Lihat, pak. Tadi Aipda Erika dipanggil AKBP Umar." sahut Gino.


"Oke, terima kasih."


Tak lama kemudian, Erika keluar dari ruangan AKBP Umar lalu duduk di kursinya.


"Ka ..." panggil Azam. Lalu ia duduk di kursi seberang meja Erika.


"Eh, Zam, ada apa? Tumben nih nyamperin gue, biasanya diemmm, cuekkk, dingin, udah kayak es balok." goda Erika sambil terkekeh.


Tapi yang digoda malah cuek seperti biasa. Ia hanya mendengarkan saja apa yang dikatakan Erika.


Erika menghela nafas, ia maklum, memang seperti inilah sifat Azam. Sejak pertama kali mengenal saat masa pendidikan hingga saat ini, tak pernah berubah. Teman pun hanya beberapa orang dan Erika adalah satu-satunya teman wanitanya.


"Heh, loe ini nggak ada selera humor sama sekali ya, Zam! Nggak berubah juga, gimana mau ketemu jodoh kalo sifat loe sedingin gini." Erika berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Loe sendiri, udah bersikap ramah, nggak dingin kayak gue, sampai sekarang belum dapat jodoh juga. " Skakmat Azam pada Erika dengan tangan bersedekap di dada. Erika mendengus saat mendengar ucapan sarkas Azam. Selalu saja ia dikalahkan oleh Azam. Azam itu jarang bersuara, tapi sekalinya berbicara bisa mematahkan ucapan lawannya.

__ADS_1


"Ck ... seenggaknya gue pernah pacaran, lah elo? Nggak pernah kan. Nah, kalau masalah jodoh, mungkin emang belum waktunya. Pinginnya sama si bos , CEO Angkasa, tapi dalam mimpi doang." ujar Erika sambil nyengir.


Azam geleng-geleng kepala. Yah, ia akui, siapa sih yang tidak takjub dengan sosok CEO dari Angkasa Grup itu, sudah kaya raya, sangat tampan, pintar, sukses, kalau mau dibilang paket komplit. Memang aura keluarga Angkasa itu tak diragukan lagi. Mampu menghipnotis setiap mata yang memandangnya.


"Oh ya, Ka, gue bisa minta bantuan loe?" ujar Azam. Erika mengernyitkan dahi. Tumben seorang Azam meminta bantuan. Bicara saja ia seperti enggan.


"Bantuan? Bantuan apa?"


"Loe bisa kasi gue nomor telepon CEO Angkasa itu?"


"Hah? Minta apa tadi loe bilang? Gue nggak salah dengar?"


Azam menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuk. "Bisa nggak? Gue ada perlu soalnya dengan dia." ujar Azam lagi.


"Tapi jelasin dulu buat apa? Gue nggak mau cari risiko, Zam? Dia bukan orang sembarangan." cetus Erika.


"Loe tau kan adik gue ditangkap?" ujar Azam pelan dan Erika mengangguk. "Korbannya itu dekat dengan tuan muda itu. Dia adik Angkat Anggi soalnya , loe tau kan Anggi? Loe kan pernah gantiin dia tempo hari. Perbuatan adik gue pun dapat digagalkan oleh dia sama anak buahnya. Nah, gue mau ngomong sama dia soalnya adik gue pingin banget ketemu dan minta maaf sama korbannya itu." jelas Azam pelan.


Erika manggut-manggut tanda mengerti.


"Oke, nanti nomornya gue kirim ke nomor loe. Masih pake nomor yang lama kan?" Azam mengangguk.


Lalu Erika tampak mengotak-atik ponselnya, tak butuh waktu lama suara pesan masuk terdengar dari ponsel Azam.


"Makasih ya, Ka." ucap Azam tulus seraya menyunggingkan senyum setelah melihat pesan masuk sebuah nomor telepon dari Erika.

__ADS_1


Erika seketika terpesona. Jarang-jarang bisa melihat senyum dari seorang Bripka Azam.


"Senyum loe ternyata manis banget, Zam. Pantesan aja loe jarang senyum, pasti takut cewek-cewek pada baper liat senyum loe kan, Zam." goda Erika.


Azam hanya tersenyum tipis, enggan meladeni candaan Erika. Lalu ia melenggangkan kaki hendak melihat keadaan adiknya.


"Bagaimana keadaan Kentaro, pak?" tanya Azam pada sipir yang bertugas menjaga lapas saat itu.


"Keadaannya masih seperti kemarin-kemarin, pak. Sering mual, muntah, lemas juga." terang sipir penjara.


"Baiklah, terima kasih ." ucap Azam. Lalu ia beranjak menemui sang adik.


"Ken ..." sapa Azam .


"Abang ..., sama siapa kemari?" tanya Kentaro sambil celingak celinguk, ia pikir kakaknya datang bersama ibunya.


"Sendirian, kenapa?"


Kentaro menghela nafas panjang. Padahal ia ingin meminta sesuatu pada ibunya.


"Bang, bisa tolong bilangin ke mama, besok buatin rujak buah. Banyakin mangga muda, ya bang." ujar Kentaro membuat Azam makin bingung. Mengapa tingkah laku adiknya persis seperti seorang wanita hamil? Aneh.


"Kamu aneh, Ken. Ya udah nanti bilang ke mama. Oh, ya kata sipir penjara kamu masih aja mual muntah? " Dan Kentaro pun mengangguk pasrah.


Azam menghela nafas kasar, "Nanti Abang bawa dokter kemari buat meriksa kamu. " pungkas Azam.

__ADS_1


Ia memang kecewa dengan perbuatan adiknya tapi ia tak bisa begitu saja mengacuhkannya. Apalagi saat melihat wajah pucat adiknya karena efek mual dan muntah, tentu ia merasa iba.


Tak lama kemudian, Azam keluar dari tempat itu. Lalu ia mencari tempat yang cukup sepi untuk menghubungi Aglian. Ia tak ingin apa yang dikatakannya, didengar oleh orang lain. Sebenarnya ia ingin sang mama saja yang bicara pada Aglian, tapi ia tak ingin membuat mamanya makin terbebani. Bersyukur, ternyata Aglian orang yang ramah. Ia memang berkata tak bisa memaafkan perbuatan Kentaro pada Luna, tapi ia akan membantu menanyakan perihal kesediaan Luna bertemu dengan Kentaro. Azam pun mengucapkan banyak terima kasih.


__ADS_2