Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.150 (S2) Meet Adinda


__ADS_3

Suasana Angkasa Mall hari itu cukup riuh lebih dari hari biasanya. Bahkan keriuhannya sama seperti menjelang hari raya. Tapi keriuhan itu lebih didominasi oleh orang dewasa sebab hari itu tengah diadakan pameran dan bazar hasil UMKM masyarakat.


Pameran dan bazar UMKM itu ada yang berubah hasil kuliner, produk fashion, produk kreatif, produk kecantikan dan kosmetik baik yang modern maupun tradisional, produk perlengkapan bayi, jasa foto dan video, serta produk perabot rumah tangga atau furniture.


Sepertinya pameran dan bazar hasil UMKM itu mampu menyedot antusiasme masyarakat luas. Terbukti ramainya pengunjung yang datang, baik yang hanya bertujuan untuk menyaksikan ada pula yang memang berminat untuk membeli barang incaran dan membeli apa yang kira-kira menarik perhatian mereka.


Saat sedang sibuk melihat-lihat beberapa produk hasil karya masyarakat yang dipamerkan, tiba-tiba mata Anggi bersirobok dengan mata seseorang yang pernah ia temui dulu. Dipandanginya orang itu dari atas kepala hingga ujung kaki, nampak sangat berbeda.


Begitu pun orang itu, ia turut memandangi Anggi dari ujung kaki hingga ke kepala. Penampilan mereka kini terbalik, bahkan Anggi tampak jauh lebih baik dan cantik. Orang itu sampai kesulitan menelan salivanya sendiri. Ia malu sekaligus takut.


"Kamu ..." ucap mereka bersamaan.


"Duh, Bu Anggi. Selamat datang di stan kami. Terima kasih sudah memberi kami kesempatan untuk mengenalkan hasil kreativitas kami dan memasarkannya." ucap seorang wanita paruh baya pada Anggi. Membuat perhatian dirinya akan keberadaan Adinda jadi teralihkan. Anggi pun mengangguk seraya tersenyum ke arah wanita paruh baya itu. "Oh ya Bu Anggi, perkenalkan, ini Adinda, dia juga salah satu anggota tim kami. Coba lihat ini!" tunjuknya pada salah satu boneka. "Ini terbuat dari kain perca. Sarung bantal ini juga sama. Dan semua produk yang berbahan dasar kain perca itu karya dari Adinda ini." ujar wanita paruh baya itu mengapresiasi hasil karya Adinda. Adinda hanya bisa tersenyum canggung saat wanita paruh baya di sampingnya itu tampak membanggakan hasil karya dirinya.


Anggi tampak menganggukkan kepala seraya tersenyum.


"Cukup menginspirasi jadi dengan begitu masyarakat bisa tau kalau limbah sisa kain juga bisa dimanfaatkan dan diolah menjadi berbagai macam barang yang bagus dan tentunya berguna." puji Anggi seraya tersenyum. Lalu Anggi izin untuk melihat hasil UMKM yang lainnya.


Baru saja Anggi melangkahkan kakinya menuju stan lainnya, tiba-tiba langkahnya dihentikan oleh oleh sebuah panggilan.


"Mbak Anggi, bisa kita bicara sebentar." ucap Adinda.


Anggi lantas menoleh, begitu pun sekretarisnya. Bahkan sekretaris Anggi tampak mengerutkan keningnya karena heran melihat Adinda yang tiba-tiba ingin bicara pada atasannya tersebut bahkan dengan memanggil dengan sebutan mbak.

__ADS_1


Ya, Mola tidak mengetahui perihal Adinda yang merupakan mantan istri Adam sebab selama ini ia bertugas di perusahaan Angkasa Grup sebagai sekretaris 2 setelah Stefani.


Anggi yang paham akan raut wajah Mola, hanya menganggukkan wajah, lalu Mola sedikit menjauh dari Anggi.


"Kau mau bicara apa?" tanya Anggi to do point.


"Bisa ke tempat yang tidak terlalu ramai, mbak! Disini terlalu berisik, yang ada pembicaraan kita nggak nyambung, malah orang lain yang curi dengar." ujar Adinda memberi saran.


Anggi yang paham, langsung mengajaknya duduk di kursi tempat ia duduk sebelumnya.


"Silahkan bicara, saya tidak bisa berlama-lama." ujar Anggi membuat Adinda mengerutkan kening. 'Sebenarnya siapa Anggi sebenarnya? Mengapa Bu Dina memanggilnya Bu Anggi. Bu Dina bahkan sepertinya sangat menghormati Anggi .' Dipandanginya wajah Anggi yang makin cantik, gayanya yang anggun, dan jangan lupa outfit yang Anggi pakai terlihat mewah dan mahal.


"Hai, kapan mau bicaranya? Saya nggak bisa lama-lama." ujar Anggi lagi membuat Adinda tersentak dari lamunannya.


"Ah, maaf mbak! Sebenarnya saya ... saya ... mau minta maaf sama mbak. Sebab saya sudah hadir dalam rumah tangga mbak dan mas Adam dan menghancurkannya. Sungguh saya sangat menyesal mbak . Saya mohon maafkan saya mbak. Saya mengakui saya sangat bersalah. Saya bukan hanya membuat rumah tangga mbak hancur, tapi juga membuat anak-anak mbak kehilangan kasih sayang orang tua yang lengkap." ucap Adinda tulus penuh rasa penyesalan. Bahkan tanpa sadar, air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya dan mengalir bebas menuruni pipi.


"Sudahlah, tak usah ungkit lagi kisah itu. Saya sudah memaafkan mu jauh sebelum kau meminta. Memang saya pernah sakit hati dan terluka karena hadirmu, tapi berkat hadirmu lah , saya bisa menemukan kebahagiaan yang jauh lebih besar dari yang bisa kamu bayangkan." ujar Anggi tulus. "Saya melihat sepertinya kamu telah berubah menjadi lebih baik. Terus pertahankan itu. Insya Allah, kebahagiaan mu pasti akan datang kepadamu." imbuhnya lagi.


Ya, memang Adinda terlihat jauh lebih baik. Baik dari tutur katanya maupun penampilannya yang sudah tertutup. Hanya, ia masih penasaran melihat cara berjalan Adinda yang pincang. Namun, ia tak mau banyak bertanya. Itu bukan ranahnya. Ia cukup berdoa semoga Adinda memang telah berubah dan tengah mencoba memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi.


"Sayang ..." panggil seseorang. Suara yang kini sangat familiar di telinga Anggi.


Anggi lantas menoleh dan tersenyum. Semua itu tak luput dari tatapan Adinda.

__ADS_1


"Sudah makan siang?" tanyanya


Anggi menggeleng.


"Hmm ... kamu nggak kasihan sama triple babies kita, hm? " tanya Diwangga seraya mengusap kepalanya. "Ayo, buruan ikut Mas makan!" ajaknya.


Ya, Diwangga lah yang menghampirinya.


Lalu Anggi pun berpamitan dengan Adinda dan beranjak dari sana.


'Ternyata dia udah nikah lagi. Semoga pernikahanmu kali ini langgeng dan bahagia.' doa Adinda tulus.


Adinda pun kembali ke tempatnya. Bu Dina segera menghampirinya.


"Nak, kamu kenal sama Bu Anggi itu?" tanya Bu Dina.


Adinda mengangguk, "Dia tetangga saya duku, Bu " dusta Adinda. Tak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya bahwa ia pernah jadi pelakor dan menghancurkan rumah tangga Anggi. Anggi saja tidak mengumbar aibnya, mana mungkin ia mengungkapkan semua.


Bu Dina hanya ber'oh ria.


"Bu, kok Bu Dina panggil dia Bu Anggi ya?" tanya Adinda. Ia memang tak tahu perkembangan dunia luar, baik dari layar televisi maupun sosial media miliknya.


"Bu Anggi itu anak pemilik perusahaan ini. Dia juga yang mewarisi semua Angkasa Mall baik pusat maupun cabang." jelas Bu Dina membuat Adinda membelalakkan matanya.

__ADS_1


...***...


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2