Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.188 (S2) Pertemuan Si Emak dan Safa


__ADS_3

Robi tampak sedang serius mengetik ulang beberapa laporan dari bawahannya yang menurutnya masih berantakan. Tapi sudah 1 jam berlalu, namun apa yang diketiknya itu tak kunjung selesai, tau apa penyebabnya?


Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah Safa. Ya, dia dibayangi rasa bersalah hingga akhirnya ia beberapa kali melakukan kesalahan. Robi duduk dengan gelisah di kursinya dengan tangan sibuk memijit pelipisnya yang terasa pening akibat kurang tidur.


Robi pun berdiri dan berjalan ke arah ruangan Aglian, tujuannya adalah meminta nomor Safa, tapi di saat ia telah berdiri di ambang pintu, tiba-tiba egonya datang, mencegahnya untuk melakukan hal itu.


"Aish, gimana kalo pak bos banyak tanya buat apa aku minta nomor Safa, bisa jatuh harga diriku!" gumamnya pelan.


Lalu Robi pun kembali ke mejanya dan melanjutkan mengetik laporan tersebut hingga dering telepon kantor berbunyi.


"Iya, tuan, ada yang Anda butuhkan?" tanya Robi saat mendengar Aglian lah yang menelponnya.


"Bagaimana laporan divisi perencanaan? Apa sudah kau rapikan?" tanya Aglian.


"Sebentar lagi selesai tuan." jawab Robi singkat.


"Sebentar itu kapan? Dari tadi juga kau bilang begitu?" sergah Aglian.


"Maafkan saya tuan, beri saya waktu 15 menit lagi, saya pastikan akan segera selesai." ujar Robi. Lalu Aglian pun menutup panggilan teleponnya.


Seperti yang Robi katakan, 15 menit kemudian Robi datang ke ruang kerja Aglian dan menyerahkan laporan yang sudah ia revisi.


Baru 5 menit Aglian meneliti laporan tersebut, kerutan di dahinya nampak begitu jelas. Tentu itu bukan hal yang baik bagi Robi. Robi yang anti membuat kesalahan mendadak berkeringat dingin. Otaknya sibuk menduga-duga, kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga atasannya tersebut tampak sekali tidak puas.


"Maaf tuan apa ..."


"Robi ..." seru Aglian membuat kata-kata yang hendak diucapkan Robi tertelan lagi ke dalam kerongkongannya.


Wajah Robi tampak pias saat menatap manik tajam Aglian. Ia yakin sekali, kalau ia sudah membuat kesalahan fatal.


"I ...iya tuan. A ... ada apa?" tanya Robi terbata. Ia bahkan sampai menelan ludahnya sendiri akibat terlalu gugup.


"Sepertinya kau memang butuh liburan."


Robi mengerutkan keningnya, "Ma ... maksud tuan? Aku tidak dipecat kan? Apa aku sudah membuat kesalahan fatal?" tanya Robi takut-takut.


"Ya, kau memang sudah membuat kesalahan fatal." ucap Aglian seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya.


"Aku? Kesalahan apa tuan? Bisakah Anda memberitahukan saya kesalahan apa itu?" tanya Robi penasaran.


"Apa kau telah membuat kesalahan pada Safa?" tanya Aglian balik, mengabaikan pertanyaan yang diajukan Robi.


"Apa? Maksud Anda? Apa Safa melaporkan sesuatu pada Anda?" Robi kembali bertanya.


Aglian menatap tajam wajah Robi. Robi yang merasa berbuat kesalahan karena balik bertanya langsung menundukkan wajah.


"Dia tidak bicara apapun padaku."


Robi mengerutkan dahinya, "Kalau tidak mengapa Anda menanyakan apa saya sudah melakukan kesalahan fatal pada nona Safa?" tanya Robi seraya menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


Aglian mendengus mendengar pertanyaan Robi, "Lihat ini dan baca!" tunjuk Aglian pada beberapa bagian dari laporan yang ditunjuknya.


"Maafkan saya Safa,... maaf, ... Safa maafkan aku,... Safa,... Safa,...Safa ..."


Deg ...


Mata Robi membola seketika. Ia benar-benar tak menyadari kesalahannya. Mengapa ia malah mengetik nama Safa dan ucapan permintaan maaf hingga berkali-kali.


"Bisa jelaskan, apa yang sudah kau lakukan pada Safa?" tegas Aglian menuntut jawaban.


Gleg ...


"Saya ... saya ..."


"Saya apa?" tukas Aglian dengan mata memicing.


"Saya kemarin sudah meninggalkannya di pesta, tuan." jawabnya gugup.


Mata Aglian seketika melotot, "Bagaimana kau bisa meninggalkan seorang gadis sendirian di sebuah pesta , hah? Apa akal sehatmu telah musnah? Dia itu perempuan, dimana tanggung jawabmu sebagai seorang pria? Ck ... wajar saja kau jadi Jodi, jomblo abadi, menghargai seorang perempuan saja tidak bisa ." ejek Aglian.


Robi menunduk dalam mendengar ucapan Aglian, apa yang atasnya bilang itu memang benar.


"Apa kau sudah meminta maaf padanya?"


Robi menggeleng pelan, "Belum tuan."


"Astaga." Aglian menyugar rambutnya ke belakang. "Memangnya meminta maaf melalui laporan ini akan berguna baginya? Kau memang pintar dalam hal pekerjaan tapi bodoh dalam hal perempuan." Aglian menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan apa yang telah Robi lakukan.


"Jadi apa tuan?" Robi mendongak, menatap Aglian dengan wajah bingung.


Aglian menarik nafas dan menghembuskannya kasar, "Selesaikan laporan ini setelah itu pulanglah, selesaikan urusanmu. Aku tidak mau pekerjaan ku kacau karena sikap bodohmu itu." tegas Aglian.


"Baik, tuan. Laksanakan!" sahut Robi dengan wajah berbinar.


Robi pun mengambil lagi laporan tadi dan kembali ke ruangannya.


Sedangkan di ruangannya, Aglian terkekeh geli saat menyadari satu hal, "Ternyata Safa sudah berhasil menarik perhatiannya."


..."""...


"Mak,emak yakin mau ke pasar, kalau den Robi marah gimana?" tanya Juleha yang sering dipanggil Leha.


"Ya makanya kamu tutup mulut, jangan kasi tau. Mak pingin belanja."


"Kenapa nggak di supermarket aja Mak, pasti dibolehin deh sama den Robi." bujuk Juleha.


"Lah wong pinginnya ke pasar malah disuruh ke supermarket, kamu ini gimana sih, Jah. Udah kalau kamu ngg6mau temenin Mak, Mak pergi sendiri aja." kesal Si Emak.


"Bukan nggak mau temenin, Mak. Ya udah, oke, oke, Leha temenin deh." desah Leha frustasi.

__ADS_1


...***...


Hari sudah makin siang, teriknya matahari pun mulai terasa begitu membakar kulit. Uap panas dari jalan membuat Si Emak dan Juleha tak sanggup berjalan lagi sehingga mereka beristirahat di bawah pohon sambil meminum es dogan.


"Mak, sudah ini pulang ya! Semua yang Mak pingin udah dibeli juga kan." bujuk Juleha.


"Iya iya cerewet." desis Si Emak. "Si Ucup juga mana ini kok belum jemput juga. Leha, telepon Ucup sana! Tanya kok belum sampai juga ." titah Si Emak.


"Baik, Mak ." Lalu Juleha pun mencoba menghubungi Ucup.


"Mak, ban mobil mang Ucup kempes jadi sekarang sedang di bengkel. Bengkelnya ramai mungkin agak lama selesainya."


"Duh, Gusti. Ya udah, kita naik angkot aja dari sana." tunjuk Si Emak saat melihat jajaran angkot tak begitu jauh dari tempatnya.


Juleha pun mengangguk dan mengikuti langkah kaki si Emak tapi baru saja si Emak berjalan, tiba-tiba ada jambret yang menarik tas si Emak hingga si Emak hampir terjatuh. Beruntung, Juleha sigap dan Langsung menangkap tubuh si Emak hingga tidak terjatuh.


"Oalah, tas ku! Hei jambret sial*n, balikin tas ku." teriak Si Emak tapi jambret tersebut tak peduli. ia tetap melajukan motornya, namun tiba-tiba sebuah sepatu high heels mendarat tepat di atas kepalanya membuatnya kehilangan keseimbangan. dan terjatuh.


Tak lama kemudian seorang gadis turun dari mobil tanpa alas kaki mendekati jambret tersebut.


"Dasar, manusia nggak ada akhlak, udah jambret, yang dijambret orang tua juga, nggak punya malu ya kalian?" bentak gadis itu.


Lalu ia menarik paksa tas tersebut, namun jambret tersebut mencoba mempertahankan. Tak lama muncul orang-orang mengerumuni mereka, takut tertangkap, jambret itu langsung melepaskan tarikannya hingga tubuh gadis itu jatuh terjengkang di trotoar yang panas. Sedangkan jambret tersebut, kembali menaiki motornya dan pergi secepat mungkin dari sana.


"Awww ...! Sial*n." Safa meringis saat melihat siku dan telapak tangannya terluka. Saat akan berdiri, tubuhnya hampir terhuyung, ternyata pergelangan kakinya terkilir.


"Ya Allah, kok sial bener aku berapa hari ini!" desah Safa frustasi.


"Nduk, kamu nggak papa?" tanya Si Emak saat sudah berada di depan Safa. Ia membantu Safa berdiri.


"Saya nggak papa kok Bu. Ini bu, tasnya." ucap Safa seraya menyerahkan tas milik si Emak. Ya, yang menolong Si Emak adalah Safa .


Sedangkan di belakang Si Emak, Juleha lari tergopoh-gopoh, karena ia menelpon Robi terlebih dahulu. Ia khawatir, Robi marah bila tidak dikabari kalau ibunya baru saja di jambret.


"Ibu mau pulang? Mau Safa antar? Oh ya, nama saya Safa , Bu." ucap Safa seraya memperkenalkan diri.


"Panggil saja saya Emak, orang-orang suka panggil saya Si Emak. Emang nak Safa masih bisa mengemudikan mobilnya? Kakinya itu terkilir lho. Tangannya juga itu, ya ampuuuun ... Luka semua. Mak minta maaf ya nduk sudah buat kamu luka-luka gini." seru Si Emak merasa menyesal.


"Saya nggak papa kok, Mak. Yuk, saya sekalian antar pulang." ajak Safa.


Lalu mereka pun naik ke mobil Safa. Sambil meringis, Safa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar. Apalagi telapak tangannya terluka jadi ia tidak bisa menggenggam kemudi dengan baik Namun sebisa mungkin ia tutupi itu. Ia tidak mau membuat orang yang ditolongnya itu merasa tak enak hati .


...***...



...Masya Allah, terima kasih ya kak dukungannya. Nggak nyangka ada yg sampai dukung segitu banyak bintangnya. Tadi pas buka langsung scroll ke bawah kok nggak ada eh taunya udah nangkring di nomor 12. 😁🤭 Sekali lagi terima kasih ya kak. 🥰🥰🥰...


...***...

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2