Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.53 Cemburu ? part II


__ADS_3

Hari beranjak siang, tapi mata Karin dan Kevin sepertinya masih asik terpejam. Mungkin karena efek obat yang disuntikkan melalui labu infus , tidur mereka pun menjadi sangat nyenyak dan nyaman.


Anggi dan Diwangga masih setia menemani Karin dan Kevin. Mata sayu Anggi cukup membuat Diwangga membatin akan lebih keras membahagiakan Anggi dan ketiga anaknya.


"Nggi, kamu mau makan apa? Ini sudah siang, biar aku keluar yang membelikan." tanya Diwangga karena jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat 35 menit, sudah saatnya mereka untuk makan.


"Bentar lagi aja mas, aku mau sholat Dzuhur dulu di mushola. Mas tadi udah sholat?" ujar Anggi sambil membenahi hijabnya yang sedikit miring


"Ya sudah, kamu sholat dulu gih, biar aku yang menemani si kembar." yang diangguki Anggi.


Anggi pun berjalan ke luar dari ruangan perawatan Karin dan Kevin menuju mushola rumah sakit. Setibanya di mushola, Anggi segera mengambil wudhu lalu mencari mukena yang biasa tersedia di mushola untuk jamaah yang tidak membawa perlengkapan sholat. Ia pun segera mengerjakan sholat 4 rakaat itu dengan khusyuk. Tak lupa selepas sholat, ia mendoakan orang tuanya yang ntah keberadaannya dimana lalu mendoakan anak-anaknya agar menjadi anak yang Sholeh dan sholehah, selalu sehat, dilindungi dimana pun berada.


Selepas sholat, Anggi berjalan hendak kembali ke ruangan perawatan anak-anaknya. Namun saat sedang dalam perjalanan, ia tak sengaja berpapasan dengan Aglian dan asisten pribadinya, Robi.


"Hai Anggi." sapa Aglian


"Eh, Lian. Hai juga." jawab Anggi tergagap karena terkejut


"Kamu sakit?" tanya Aglian


"Hah! Eh, tidak maksudku."


"Atau kau mau membesuk seseorang?"


"Bukan seseorang, tapi lebih tepatnya anak-anakku." ucap Anggi lirih


"Apa? Anak-anak? Apa anak-anakmu sakit?"


"Iya, anakku yang kembar, mereka sakit bersamaan ." jawab Anggi dengan nada gusar


"Sakit apa? Tidak parah kan?"


"Semoga tidak. " lirih Anggi. "Mereka demam tinggi karena itu aku bawa ke sini."


"Boleh aku menjenguk mereka?"


Anggi tampak menimbang. "Hmm... bolehlah. Mari, kita ke ruangan mereka." ajak Anggi


Anggi, Aglian , dan Robi pun berjalan menuju ruang perawatan Karin dan Kevin.


"Oh ya Lian, kamu ke rumah sakit mau ngapain? Kamu sakit? Atau jenguk orang sakit?" berondong Anggi


Aglian tampak tergelak. "Satu-satu bisa nanyanya? Bingung mau jawab yang mana dulu." ujar Aglian sambil terkekeh


"Oops, sorry! Jawab satu-satu gih!" jawab Anggi tergelak sambil menutup mulutnya

__ADS_1


"Aku nggak sakit kok, aku cuma besuk klien aku aja."


'Bohong, sebenarnya aku memang mau membesuk anak-anak kamu, Nggi, sekalian ingin melakukan rencanaku. Semoga mereka nggak apa-apa." batin Aglian


"Oh kirain kamu yang sakit." ucap Anggi sambil manggut-manggut


"Aku sehat kok. Tapi kok kamu ngira gitu?"


"Nggak tau, ngerasa aja. Muka kamu juga keliatan kurang fit."


"Aku perhatiin kamu juga gitu, kayak kurang fit juga. Jangan-jangan kamu sakit, Nggi?"


"Nggak ah, aku cuma agak pusing aja mungkin karena kelelahan sama kurang tidur. Soalnya panas Karin dan Kevin udah dari semalam. Jadi semalaman aku sibuk ngompres mereka ." tutur Anggi dengan senyum yang terlihat dipaksakan.


"Kamu kan seorang ibu, Nggi, anak-anak kamu juga lagi sakit, harusnya kamu jaga kesehatan juga, jangan sampai kamu juga ikutan sakit. Baiknya nanti kamu periksakan diri kamu juga, Nggi. Minimal demi anak-anak." saran Aglian


"Hmmm... saranmu kayaknya bener juga. Oke deh, demi anak-anak aku harus sehat. Aku bakal periksa juga nanti." ujar Anggi terkekeh penuh semangat


Saat sedang berjalan, Aglian mengeluarkan ponselnya. Lalu mengetikkan pesan yang ia kirimkan pada seseorang. Setelah pesan terkirim, tampak Aglian tersenyum senang. 'Semoga semua sesuai rencana.'


Setibanya di ruang perawatan Karin dan Kevin, Anggi mempersilakan Aglian dan Robi masuk. Diwangga yang masih duduk menemani Karin dan Kevin sontak menoleh terkejut. Ia sampai mengernyitkan dahi. 'Ngapain mereka di sini?'


"Mas, ini ada Lian dan Robi mau besuk anak-anak. Aku nggak sengaja ketemu mereka tadi waktu mau kesini."


"Hai bro." sapa Aglian sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman, bergantian dengan Robi.


Tak lama kemudian, Kevin dan Karin pun bangun setelah tertidur cukup lama.


"Sayang, kalian sudah bangun." ucap Anggi sambil tersenyum


"Ma, Ayin haus."


"Epin juga ma."


"Sini, Karin minum sama om papa, ya!" ujar Diwangga sambil membantu Karin duduk dan membantunya minum


"Kevin minum sama mama, ya!" Kevin pun mengangguk lalu Anggi pun mulai membantu Kevin minum


"Oh iya sayang, kenalin nih temen mama, yang ini om Lian kalau yang itu om Robi." ujar Anggi mengenalkan Aglian dan Robi pada Karin dan Kevin


"Hai cantik." sapa Aglian pada Karin, lalu beralih pada Kevin, "Hai ganteng, kenalin, nama om Aglian, kalian bisa panggil om , om Lian." ujar Aglian sambil mendekati Karin dan Kevin.


"Hai om ganteng." sahut Karin dan Kevin bersamaan


"Eh om kok wajahnya milip mama ya?" tanya Karin penasaran sambil menatap lekat wajah Aglian

__ADS_1


"Oh ya? Kata orang kalau ada laki-laki dan perempuan yang mirip itu artinya berjodoh lho." ujar Aglian menyeringai dengan mata memicing memperhatikan ekspresi wajah Diwangga.


Wajah Diwangga memerah dengan tangan mengepal yang ia sembunyikan di dalam saku celananya menahan kesal. Bagaimana seorang pria dengan mudahnya mengatakan kemiripan ia dengan Anggi artinya berjodoh. Tidak, itu tidak mungkin. Sejak awal ia yakin bahwa Anggi adalah jodohnya. Walau jalan mereka cukup berliku, ia yakin, sangat yakin bahwa Anggi Saraswati adalah jodohnya, pasangan hidupnya. Ingat, mirip belum tentu jodoh ,right?


"Jodoh itu apa om?" giliran yang bicara


"Jodoh itu ..... "


"Karin, Kevin , kalian makan dulu ya, sesudah itu minum obat biar kalian cepat sehat trus bisa pulang ke rumah." potong Anggi sambil tersenyum. Ia tak mau anaknya banyak bertanya yang jawabannya sulit dijelaskan. Apalagi perkataan Aglian tadi takutnya memicu kekesalan Diwangga.


"Iya, ma." sahut Karin dan Kevin


"Mas, kamu tadi mau beli makanan kan!" tanya Anggi pada Diwangga


"Kamu mau pesan apa, hmm?" tanya Diwangga


"Nasi ayam bakar aja mas, minumnya jus alpukat sama air mineral." jawab Anggi


"Oh, kalian belum makan siang ya? Saya juga soalnya. Gimana kalau saya saja yang pesankan. Saya bisa minta asisten saya ,Robi membelikannya." tawar Aglian


"Nggak usah, biar saya saja " tolak Diwangga


"Iya, Lian. Kami nggak mau merepotkan kalian."


"Nggak repot kok, kan kami juga belum makan." ujar Aglian. "Rob, pesankan nasi sesuai permintaan Anggi tadi, ya. Saya juga samakan saja." titahnya pada Robi.


"Baik tuan." jawab Robi


"Oh ya, Tuan Diwangga, kalau Anda mau menu apa?" tanya Aglian ramah


"Samakan saja dengan pesanan Anggi." sahut Diwangga datar


"Makasih Lian. Maaf ya Rob, sudah merepotkan." lirih Anggi


"Tidak apa-apa, Bu. Kalau begitu saya permisi." pamit Robi


"Oh ya mas, sesudah ini ,aku mau berobat dulu, ya. Kepalaku agak pusing dari semalam soalnya." ujar Anggi sambil menyuapi Karin dan Kevin makan


"Mau aku temani?" tawar Diwangga


"Nggak usah mas, mas temani saja anak-anak di sini." ujar Anggi dengan tersenyum manis


"Kalau kau mau menemaninya, silahkan. Saya bisa membantu menjaga anak-anak." tawar Aglian membuat Anggi dan Diwangga menoleh ke arahnya serentak.


"Nggak usah Lian, kau nggak mau lebih merepotkan kalian lagi." tolak Anggi halus

__ADS_1


"Nggak ada kata repot untukmu, Nggi . Apalagi aku juga suka anak-anak." ujar Aglian dengan tersenyum lebar


Hati Diwangga makin panas. Khawatir, iya dia memang khawatir. Ia khawatir melihat kedekatan Anggi dan Aglian. Bahkan kini tampaknya Aglian tengah berupaya mendekati calon anak-anaknya. Ah, otak pintar dan sikap tenang Diwangga tiba-tiba ambyar hanya karena sikap seorang Aglian dan Diwangga tak menyukai itu.


__ADS_2