Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.89 Hopeless


__ADS_3

Tak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai orang itu pun masuk ke suatu wilayah yang jauh dari kepadatan penduduk. Tempat yang sepi, di kelilingi banyak pohon, tampak menyeramkan.


Tubuh Adinda makin bergetar saat mobil itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan tu. Sepertinya bangunan itu bekas pabrik yang sudah lama ditinggalkan.


Peluh makin deras mengaliri dahi dan tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang karena menahan rasa takut yang kian meradang. Sekuat tenaga ia berpegangan pada salah satu sisi pintu saat pria tersebut turun dan membukakan pintu untuknya. Takut, ia benar-benar ketakutan.


"Cepat keluar!" titah pria itu dengan suara berat dan mengintimidasi.


Adinda menggeleng keras. Ia menolak. Ia tak mau. Ia takut.


"Tidak , aku tidak mau." tolaknya sambil meringis.


"Jangan uji kesabaranku, manis! Atau aku bisa berbuat kasar padamu." ancam pria itu.


Adinda terus menggeleng keras. "Lepaskan aku, pak. Aku mohon. Jangan sakiti aku!"


"Aku takkan menyakitimu kalau kau jadi gadis penurut!" ujarnya sambil menyeringai.


Air mata Adinda sudah benar-benar membasahi seluruh wajahnya. Wajah putihnya pun sudah seputih kapas, tak berwarna.


Kesabaran pria itu pun mulai habis. Dicengkeramnya lengan Adinda dan menariknya keluar dari dalam mobil. Adinda mencoba memberontak sekuat tenaga, tapi apalah daya, tenaganya tak mampu menyaingi tenaga lelaki itu.

__ADS_1


"Lepas! Lepaskan aku brengsek. Dasar lelaki bajingan, lepaskan aku!" pekik Adinda emosi bercampur rasa takut.


Pria itu hanya menyunggingkan senyum iblis ya. Ia tak peduli, ia tetap menarik paksa Adinda. Dengan sebelah tangannya, ia membuka pintu bekas pabrik itu lalu menyeret Adinda masuk ke dalamnya. Tak lupa ia menutup kembali pintunya.


Suasana yang pertama kali Adinda rasakan saat memasuki ruangan itu adalah lembab, sedikit gelap, hanya ada sebuah lampu berwarna oranye yang menjadi sumber pencahayaan ruangan itu. Aroma di dalamnya juga sedikit anyir , amis, dan ada aroma besi berkarat. Adinda bingung bagaimana mendeskripsikannya. Ruangan itu tampak mengerikan.


Adinda meringis kesakitan di pergelangan tangannya karena cengkraman itu sangat erat dan kuat. Tapi pria itu tak mempedulikan sama sekali. Mereka baru berhenti saat tiba di ruangan yang lebih luas dari ruangan sebelumnya. Di sini terdapat tumpukan kardus bekas dan banyak botol berhamburan yang sepertinya bekas minuman keras. Satu hal yang membuat Adinda makin tercekat, di sana ada banyak lelaki yang wajahnya sama menyeramkan seperti sopir taksi tadi.


Gleg...


Adinda kesulitan menelan salivanya saat ia melihat ada 3 pria yang menatapnya lapar. Sekuat tenaga ia berusaha kembali memberontak tapi tubuhnya justru limbung dan jatuh tersungkur di lantai yang dingin dengan sekali sentakan dari pria itu.


"Hohoho ... dapat makanan enak di mana nih bro?"


"Nggak ada yang ngikutin loe, kan!"


Ujar ketiga pria itu bergantian.


"Udah, enakan kita minum-minum dulu, baru setelahnya kita menyantap wanita itu! Fix gue yang pertama kan gue yang bawa." ucap sopir tadi menyeringai.


"Nggak masalah, asal sesudah loe puas , berikan dia sama kita-kita." sahut pria yang badannya lebih besar. Lalu mereka pun tergelak bersama, membuat Adinda kian memucat. Ingin ia kabur dari tempat itu, tapi kini tangan dan kakinya sudah diikat di sebuah kursi. Berteriak? Juga sudah ia lakukan, tapi percuma, suaranya sudah hampir hilang tapi bantuan tak kunjung datang, hanya tawa para bajingan itu saja yang menggema di telinganya. Adinda kini hanya bisa pasrah menghadapi keempat pria menyeramkan itu.

__ADS_1


.


.


.


"Ck, kemana sih perempuan itu sudah hampir malam belum pulang juga." rutuk Anton sambil menekan nomor Adinda di ponselnya tapi hanya suara operator saja yang terdengar.


Anton makin risau apalagi sekarang sudah hampir jam 9 malam. Walaupun mereka hidup bersama tanpa ikatan, tetap saja khawatir itu ada.


Sebenarnya, Anton bukanlah lelaki yang tak punya hati, terlepas dari kejahatannya pada Adam dan keluarganya, terkadang rasa bersalah masih sering menghampirinya, terutama pada wanita yang sudah 5 tahun ini mendampinginya. Semua salah mertuanya , itu pikirnya. Sebab bila mertuanya bisa mendidik anak-anaknya dengan baik dan tidak melakukan perbuatan yang menyakiti wanita yang pernah ada di hatinya, tentu ia takkan berbuat sampai sejauh itu. Bahkan saat ia menikahi Sulis pun ia masih dengan niat yang baik walau rasa cinta itu belum hadir, tapi setelah satu per satu tabur terkuak bagaimana cara ibu dan anak itu memperlakukan Anggi, setan dalam dirinya seakan bangkit meneriakinya agar berbuat hal-hal buruk untuk membalas orang-orang itu.


Anton terdiam memandangi foto-foto Sulis di sosial medianya. Tapi ada postingan terbaru yang membuat hati kecilnya terusik. Ada rasa bahagia dan sedih yang datang bersamaan. Sebuah foto hitam putih dengan sebuah bulatan kecil, sangat kecil dan ia tahu foto apa itu. Di bawahnya tertulis, 'Sehat ya ,nak! Kamu harus kuat. Mama menyayangimu.'


Seketika mata Anton memanas dan berkabut. Air mata pun turun tanpa dapat dicegah. Ia menjambak kuat rambutnya untuk menyalurkan rasa sakitnya. 'Mengapa baru sekarang? Mengapa harus sekarang? Di saat semua sudah tak mungkin lagi.' Ditatapnya lagi foto itu, 'Anakku. Kamu sehat-sehat ya di perut mama. Jangan nyusahin mama! Maaf papa tak bisa menemanimu.' lirihnya.


.


.


.

__ADS_1


Lanjut malam ya! 🤗


__ADS_2