Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.165 (S2) Pak Tua Kurang Ajar


__ADS_3

Pagi belum datang, hanya sahut-sahutan suara adzan yang mengalun merdu di telinga Azam yang sedang tertidur pulas di sofa. Perlahan, ia mengerjapkan mata lalu selalu mengarahkan arah pandangan ke arloji yang melingkar di lengannya.


Lalu ia pun bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian, ia pun keluar dari ruangan Erika, ia hendak pergi ke mushola rumah sakit, tetapi lebih dahulu ia menaikkan selimut Erika dan merapatkan pintu.


Setelah selesai, ia kembali ke ruangan kamar Erika. Baru saja Azam membalikkan badan, matanya langsung beradu pandang dengan Erika yang kini tengah melemparkan senyum manis kepadanya. Azam cukup terkejut saat melihat ternyata Erika sudah siuman.


"Kami udah sadar?" tanya Azam dan Erika mengangguk. Ya kali belum sadar, mata udah kebuka gini, batin Erika geli sendiri. "Ya udah, aku panggil dokter dulu, ya!" ujar Azam lalu ia menekan tombol yang ada di sisi kanan tempat tidur.


Tak lama kemudian, seorang dokter dan perawat pun datang memeriksa keadaan Erika.


"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Azam setelah dokter itu selesai memeriksa Erika.


"Keadaannya sudah lebih baik, tapi nona Erika tetap harus melakukan perawatan di rumah sakit ini kurang lebih selama seminggu sampai luka bekas tembaknya sudah jauh lebih baik." jelas dokter itu. Azam mengangguk paham lalu mengucapkan terima kasih kepada dokter dan perawat itu.


"Kamu nggak pulang dari semalam ya, Zam?" tanya Erika saat melihat yang pakai nasi pakaian kemarin.


Azam menunduk memperhatikan pakaian yang ia pakai lalu tersenyum sambil mengangguk.


Erika terkekeh geli sekaligus tak enak hati.


"Maaf ya, Zam, udah ngerepotin dan nyusahin kamu." ujar Erika tak enak hati dengan wajah pucatnya. Azam pun duduk di kursi tepat di samping ranjang, lalu ia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Erika membuat jantung Erika berdebar seketika.


"Kamu nggak ngerepotin dan nyusahin kok, justru aku berhutang nyawa sama kamu. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku nggak bisa berdiri di sini lagi temenin kamu." ujar Azam seraya menatap lekat mata Erika.

__ADS_1


Erika menggelengkan kepalanya, "Nggak, aku emang udah repotin kamu. Andai kamu nggak datang coba selamatan aku, pasti kamu nggak akan terlibat masalah ini. Aku udah gagal dalam misi. Karena kegagalanku, kamu hampir celaka. Maafin aku, ya Zam!" ujar Erika tulus. Tanpa sadar air matanya mengalir dari pelupuk matanya. Lalu Erika menutup wajahnya dengan kedua tangannya, malu karena Azam melihatnya saat menangis.


Azam terkesima melihat raut sendu Erika. Yang ia tahu, Erika itu usil, tomboy, nggak cengeng, tapi kini, ia melihat sosok lain dari diri Erika. Apakah ini sosok sebenarnya dari Erika? Sosok rapuh, lembut, dan .... cengeng?


Azam berdiri dari tempatnya lalu mendudukkan bokongnya di sisi ranjang. Ia menarik bahu Erika lalu mendekapnya erat. Ia seolah ingin menyalurkan kehangatan, kasih sayang, dan kekuatan pada Erika yang tengah rapuh.


"Kamu nggak gagal kok." ujar Azam menguatkan. "Kalau kamu gagal, aku pasti udah terluka. Justru sekarang, kamu yang jadi pahlawannya. You're like wonder woman." ujarnya sambil terkekeh membuat Erika tersenyum simpul.


Sejenak ia merasakan kenyamanan yang berbeda. Ia belum sadar akan posisinya saat ini. Ia tak sadar sedang dipeluk pujaan hatinya. Saat tersadar, wajah Erika memerah. Bolehkan ia menikmati pelukan ini sejenak? Kapan lagi coba bisa merasakannya? Aji mumpung sekaligus modus boleh kan! Gumamnya dalam hati. Bukannya melepaskan pelukan, Erika malah mengeratkan pelukan itu membuat Azam menegang.


Ia tak sadar kalau saat ini ia tengah memeluk Erika. Tadi itu hanya gerakan spontan saja. Namun, ia tak melepaskan pelukan itu. Biarlah, ia pun merasa nyaman. Modus pak Azam, ih!


...***...


Mengapa Derian bisa mendapatkan gelar tersebut karena selama ini Derian dikenal masyarakat sebagai orang yang dermawan, gemar mengadakan bakti sosial, gemar menyumbang panti asuhan dan panti jompo. Selain itu, Derian juga sering turun tangan sendiri mengulurkan bantuan untuk korban gempa bencana. Bagaimana orang-orang tak menyematkan julukan pengusaha berhati malaikat bila Derian bersikap sebaik itu di hadapan masyarakat. Tapi kini, semua orang sudah tau. Kebaikan Derian selama ini hanya kedok. Semua yang ditunjukkannya hanya sebuah kamuflase. Mereka pun kecewa apalagi saat tau cara kotor yang digunakan Derian untuk mendapatkan perusahaan itu. Mereka pun akhirnya beramai-ramai memberikan julukan setan berwajah malaikat kepada Derian. Sungguh julukan yang pas, bukan!


"Tuan, pihak kepolisian telah mendatangi Indomarco Coal TBK tapi Derian tidak ada. Di rumahnya juga tidak ada. Sepertinya dia kabur." lapor Robi pada Aglian yang kini sedang duduk bertopang dagu dengan kedua tangannya.


Aglian tampak berpikir keras, "Biarkan saja. Sehebat apa kemampuan pak tua itu untuk bersembunyi. Minta bantuan kepolisian untuk memblokir nama Derian Wijaya baik di bandara, stasiun kereta, pelabuhan, dan semua jalur transportasi lainnya agar ia tidak bisa kabur jauh-jauh." titah Aglian tegas dengan sorot mata tajamnya.


"Baik, tuan. Saya laksanakan segera." sahut Robi lalu ia pun permisi untuk melaksanakan tugasnya.


Tak berapa lama kemudian, Aglian kembali memanggil Robi untuk bersiap-siap. Robi hanya mengangguk patuh dan melaksanakan semua perintah Aglian . 'Enaknya jadi bos, eh!'

__ADS_1


Lagi-lagi terjadi kehebohan di Indomarco Coal TBK. Bagaimana tidak, perusahaan mereka telah didatangi 5 pria berjas hitam dan beberapa pengawalnya. Dan satu yang dari mereka sangat mencolok di mata semua karyawan. Berjalan paling depan, sosok gagah, tampan, dan berwibawa. Terlihat sekali ia pria yang sangat berkuasa. Di sisi kanannya juga ada seorang pria tampan yang juga terlihat sangat gagah, tegas, berwibawa. Sorot mata kedua orang itu bahkan mampu menghipnotis para karyawan wanita yang ada di perusahaan itu. Mereka jadi heboh sendiri menyaksikan 2 makhluk Tuhan paling tampan, seksi, dan keren itu.


Mereka adalah Aglian dan Diwangga, beserta asisten mereka masing-masing. Mereka memasuki gedung Indomarco Coal TBK dengan gagah. Tak lama, banyak pria berjas yang datang menyambut kedatangan mereka membuat karyawan makin bertanya-tanya siapa mereka. Lalu mereka digiring memasuki sebuah ruangan besar. Disana sudah berkumpul beberapa karyawan yang memiliki jabatan penting, pemegang saham, dan pihak dewan direksi.


Mereka pun menyambut Aglian dan Diwangga dengan penuh hormat.


"Selamat datang, tuan. Silahkan duduk." ucap salah satu dari mereka mewakili penyambutan dan mempersilakan tempat duduk di ujung meja, tempat duduk yang biasanya diduduki CEO mereka.


Aglian dan Diwangga pun duduk dengan cara yang anggun nan berwibawa. Aura kepemimpinan mereka sangat mendominasi membuat jajaran direksi, pemegang saham, dan karyawan bungkam.


"Selamat pagi menjelang siang." buka Aglian karena saat itu sudah pukul 10. "Mungkin sebagian dari kalian sudah tau siapa diri saya dan orang yang ada di sebelah saya ini, namun ada yang belum tau." ucap Aglian tegas. "Saya adalah Aglian Saputra Putra Angkasa yang kini menjadi pemilik saham terbesar perusahaan ini. Dan di sebelah saya adalah tuan Diwangga Yudhistira, selaku kuasa hukum saya sekaligus kuasa hukum istri saya, pemilik sah Indomarco Coal TBK. Seperti yang beredar atau mungkin dewan direksi yang telah lama berbakti ke perusahaan ini tau siapa pemilik sah perusahaan ini sebelum jatuh ke tangan Derian Wijaya. Beliau adalah Argadana Mahendra. Namun, sebelum beliau meninggal karena kecelakaan yang direkayasa oleh Derian Wijaya, beliau telah mewasiatkan perusahaan ini akan jatuh ke tangan putri satu-satunya bila ia telah genap berusia 19 tahun." jelas Aglian seraya menunjukkan bukti-bukti kepemilikan perusahaan atas nama Luciana Calista yang kini telah berganti nama menjadi Luna Calista.


"Namun, sebelum itu terjadi, untuk sementara perusahaan akan saya ambil alih. Namun, bukan berarti saya akan memimpin secara langsung. Untuk itu, nanti akan saya adakan pemilihan pemimpin baru. Tak perlu khawatir, pemilihan ini tidak berdasarkan saham terbesar, tetapi kualitas pekerjaan dan loyalitas. Untuk itu, semua yang ada di ruangan ini memiliki kesempatan yang sama untuk jadi pemimpin perusahaan ini mewakili saya. Saya sudah memiliki CV dan rekam jejak kalian selama bekerja baik di perusahaan ini maupun bukan. Jadi semoga kalian nanti dapat menerima hasilnya bila salah satu dari kalian sudah terpilih. Terima kasih atas perhatiannya." tegasnya lagi yang membuat semua mata terperangah tak percaya kalau mereka memiliki kesempatan yang sama. Yang lebih mencengangkan, ternyata Aglian sudah memegang rekam jejak mereka. Artinya, baik buruk pekerjaan mereka selama ini, CEO Angkasa Grup itu sudah mengetahuinya.


Tak lama kemudian, Aglian pun menutup pertemuan dadakan itu. Baru saja ia hendak melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia pun segera mengangkat panggilan itu. Seketika matanya membulat saat mendengar penuturan bawahannya. Emosinya seketika menggelegak bagai gunung meletus yang siap memuntahkan laharnya.


"Kurang ajar kau pak tua. Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka berdua. Akan aku habisi kau." geram Aglian.


...***...


...Numpang promo lagi ya akak-akak readers....


__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2