
Semakin hari sikap Adam ke Adinda makin berubah. Padahal usia pernikahan mereka belum mencapai satu tahun, tapi kerenggangan itu sudah mulai kentara.
Hampir setiap hari juga, saat Adam pergi bekerja, Anton mengunjungi Adinda. Bukan mengunjungi sebagai seorang ipar yang peduli pada ipar lainnya, tapi lebih ke untuk memuaskan dahaga nafsu terlarang yang mereka punya.
Walaupun Adinda belum bisa melakukan yang lebih intim lagi karena ia belum 40 hari dari masa operasi, minimal mereka bisa melakukan make out, yaitu penuntasan hasrat tanpa melakukan hal intim.
Seperti saat ini, di rumah Adam, tepatnya di kamarnya, di saat Adam sedang bekerja, Adinda justru membawa masuk Anton. Ia membantu Anton menuntaskan nafsu setannya. Suara desahan dan erangan Anton tampak memenuhi kamar itu. Adinda dengan senang hati melayaninya sebagai imbalan atas perhatian yang dicurahkan Anton padanya. Ia sangat senang saat melihat wajah penuh kepuasan yang tercetak jelas di wajah Anton.
Dddrttt...
"Arrgh.... siapa sih telepon, gangguin orang tidur aja." ucap Adinda yang masih asik bergelut mesra dalam dekapan tubuh polos Anton.
Diliriknya ponsel Anton yang berdering. Saat ia melihat siapa yang menelepon, ia segera mereject telepon itu. "Ish, dasar si gadis bodoh, gangguin orang tidur aja." desis Adinda saat tau yang menelepon Anton adalah Sulis.
tring... tring...tring...
"Aish, nggak suka liat orang tenang apa! An, bangun An, bangun bentar gih, nih tadi Sulis nelpon trus kirim pesan banyak banget. Udah di reject, malah kirim pesan banyak banget. Gangguin aja." desis Adinda kesal
"Udah, nggak usah kamu gubris. Sini,peluk!" Anton justru menyuruh Adinda menghiraukan telepon dan pesan Sulis. Ia malah kembali menarik Adinda ke dalam pelukannya dengan tubuh yang masih sama-sama polos. "Yang, berapa lama lagi biar kita bisa itu? Aku udah nggak tahan. Cuma nempel gini aja udah bangun lagi." bisik Anton di telinga Adinda, membuat tubuh Adinda menegang
"Sabar, 2 Minggu lagi udah bisa kok. Aku juga udah nggak sabar. Aku juga udah pingin banget kamu puasin." ucap Adinda tepat di depan wajah Anton. Lalu mereka kembali bergelut dengan bibir saling bertaut. Tak pernah mereka berpikir apa yang terjadi bila mereka ketahuan, yang ada di pikiran mereka hanyalah saling memuaskan gairah masing-masing.
.
__ADS_1
.
.
"Terima kasih ,Lian atas kerja samanya. Semoga kerja sama kita dapat terjalin dengan baik." ucap Anggi sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Aglian
"Sama-sama. Oh iya, untuk merayakan kerja sama ini, gimana kalau kita makan malam bersama?" tawar Aglian sambil menatap lekat wajah Anggi
Wajah Diwangga mulai masam, ada rasa takut dan khawatir kalau pria di hadapannya itu menaruh hati pada pujaan hatinya. Ingin melarang, tapi ia tak bisa. Ia serahkan semua pada Anggi. Ia yakin, Anggi adalah sosok yang setia dan memegang komitmen. Tak mungkin pujaan hatinya itu akan mengkhianatinya. Bila pun pria yang ada di hadapannya itu memang menaruh hati pada pujaan hatinya, ia tak berhak melarang. Toh urusan hati tak ada yang bisa mencegah bila tiba-tiba rasa itu tumbuh.
'Aku harus segera menghalalkan Anggi. Aku takkan membiarkan celah sedikitpun untuk orang lain masuk dan merebut milikku.' batin Diwangga
"Bentar ya, saya tanya Mas Angga dulu?" ucap Anggi membuat Aglian mengernyitkan dahinya
"Tanya dengan pengacaramu?" tanya Aglian balik
Aglian terhenyak mendengarnya. "Oh, maaf ,saya baru tau. Selamat kalau begitu. Saya tunggu undangannya." ucap Aglian tampak tulus. "Jadi bagaimana makan malamnya? Jika berkenan, tuan Diwangga juga bisa ikut bergabung untuk menemani Anggi."
Anggi menoleh menghadap Diwangga, seakan tau arti dari tatapan Anggi, Diwangga mengangguk sebagai ganti jawaban iya.
"Baiklah Lian, kabari kami kapan makan malam itu akan dilakukan. Tapi kalau untuk malam ini, kami tidak bisa karena kami ada urusan keluarga." jelas Anggi
"Tak masalah. Rencananya saya akan mengundang kalian tepat saat ulang ibu saya sekitar 2 Minggu lagi. Jadi kita bisa merayakannya bersama." ujar Aglian.
__ADS_1
Sebagai seorang pengacara tentu Diwangga bertanya-tanya sebab dari kalimat ajakan Aglian seperti terdapat sesuatu yang tersirat. Merayakannya bersama? Bukankah Anggi dan orang tuanya saja tidak saling mengenal, untuk apa merayakannya bersama? Banyak tanda tanya yang muncul dalam hati seorang Diwangga. Namun hal tersebut cukup ia yang menyadarinya. Ia tak mau membahasnya terlebih dahulu dengan Anggi. Ia tak mau Anggi terlalu banyak pikiran. Ia ingin Anggi hanya fokus pada anak-anak dan usahanya saja. Soal pernikahan pun ia takkan membebani. Yang pasti, ia akan memberikan yang terbaik untuk calon makmumnya itu.
"Baiklah kalau begitu, Anda bisa mengabari Anggi kapan dan dimana makan malam itu akan dilakukan, dengan senang hati saya akan turut datang." ujar Diwangga mewakili Anggi. "Kalau tak ada yang akan dibahas lagi, kami permisi. Ada yang mesti kami lakukan setelah ini." sambungnya
"Ya tidak ada lagi, sekali lagi. terima kasih. Sampai jumpa lagi." ucap Aglian sambil menatap Anggi dengan tatapan yang sukar diartikan
Lalu Anggi dan Diwangga keluar ruangan di antar Robi. Setelah keluar dari lift, Anggi dan Diwangga meminta Robi kembali saja ke ruangan Aglian sebab Anggi dan Diwangga masih ingin melihat-lihat kios yang akan dijadikan cabang Anggrek Fashion.
Saat sedang melihat-lihat di dalam kios, tiba-tiba tangan Anggi dicekal seseorang membuat Anggi cukup terkejut.
"Aarkh...." teriak Anggi membuat Diwangga yang berdiri tak jauh darinya sontak berlari mendekati Anggi.
"Lepaskan tanganmu dari tangan calon istriku!" bentak Diwangga saat melihat siapa yang mencengkram tangan Anggi hingga ia berteriak kaget. Tenggorokan Adam seketika tercekat saat mendengar apa yang diucapkan Diwangga. 'Calon istri? Apa dia calon suami Anggi?' batin Adam bermonolog
"Mas Adam." ucap Anggi saat ia melihat siapa yang mencengkram tangannya. "Lepasin tanganku,mas!" bentak Anggi sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan itu
Tapi bukannya melepaskan, Adam justru makin menguatkan cengkraman itu.
Tak rela pujaan hatinya disentuh pria lain apalagi disakiti seperti itu, Diwangga langsung mendekat dan mencengkram balik tangan Adam lalu memelintirnya membuat Adam memekik kesakitan hingga cengkraman itu pun terlepas.
"Kurang ajar. Jangan ikut campur, ini urusanku dengan Anggi." bentak Adam tak terima Diwangga ikut campur urusannya
"Tentu aku harus ikut campur karena kau menyakiti calon istriku dan aku juga tak rela tangan kotormu menyentuh Anggi walau seujung kuku." desis Diwangga
__ADS_1
"Cih, kau itu baru calon, tapi aku mantan suaminya. Aku yang lebih dulu menjamah tubuh Anggi hingga ia melahirkan anak-anak kami." desis Adam mencoba memprovokasi Diwangga
Diwangga tergelak mendengar apa yang diucapkan Adam. "Ya benar, kau memang lebih menang dariku ,karena kau yang lebih dahulu mendapatkan Anggi, tapi kau harus ingat, sekarang statusmu itu hanyalah mantan. Ingat MAN-TAN." tekan Diwangga menyeringai. "Oh iya, ada yang bilang buanglah mantan pada tempatnya. Itu artinya mantan itu ibarat sampah. Jadi tempatmu bukanlah di sisi Anggi lagi, tapi di... kau lebih tau bukan dimana tempatmu." sambung Diwangga lagi dengan smirk devilnya