Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.51 Si kembar sakit


__ADS_3

Pagi ini kediaman Anggi tengah disibukan oleh tangisan si kembar. Semalam saat menemani anak-anaknya makan, tiba-tiba Anggi menangkap sesuatu yang aneh pada anak-anaknya khususnya si kembar. Mereka tampak lesu dan tak bersemangat.


Lalu saat Anggi mengusap kepala Karin dan Kevin ,Anggi mengernyitkan dahinya. Ternyata suhu tubuh mereka lebih hangat dari biasanya. Takut anaknya benar-benar jatuh sakit, Anggi segera mengambil obat penurun panas Paracetamol dan diminumkannya pada Karin dan Kevin sesuai takaran.


Sepanjang malam Anggi gelisah sebab suhu tubuh si kembar bukannya turun malah meningkat. Ia sudah mengompres kepala Karin dan Kevin dengan air hangat tapi sepertinya tak memberikan efek yang berarti, jadilah kini, di pagi yang biasanya dihiasi canda tawa anak-anaknya, yang terjadi justru sebaliknya, tangis dan ringisan Karin dan Kevin memenuhi rumah itu membuat Anggi jadi luar biasa panik.


Saat Anggi sedang mengganti pakaian Kevin , tiba-tiba sering ponsel Anggi berbunyi, dibiarkannya saja ponselnya berbunyi hingga panggilan ke tiga kali karena ia ingin menyelesaikan memakaikan baju pada Kevin terlebih dahulu. Saat dering ke empat, barulah Anggi memeriksa siapa yang meneleponnya pagi itu. Saat sudah tau nomor siapa yang menghubunginya, segera Anggi mengangkat panggilan itu.


"Halo, assalamualaikum, mas." sapa Anggi pada Diwangga yang ada di seberang telepon


"Wa'alaikum salam ,Nggi. Kok lama banget angkat teleponnya, lagi sibuk?" tanya Diwangga lembut


"Itu..... "


"Mama.... hiks hiks hiks..."


Belum sempat Anggi menjawab pertanyaan Diwangga, suara tangis Karin menginterupsi pembicaraan Anggi dan Diwangga.


"Mas, nanti aja ya aku telepon lagi, si kembar sakit, mereka sedang rewel banget." ucap Anggi panik


Belum sempat Diwangga menanggapi omongan Anggi, Anggi sudah terlebih menutup sambungan telepon itu.


"SI kembar sakit? Aku harus segera kesana." panik Diwangga


Diwangga segera mengenakan jasnya. Tadi ia sudah rapi memakai kemeja putih, celana bahan hitam, dan dasi bermotif garis hitam putih. Tinggal memakai jasnya saja. Setelah meyakinkan penampilannya sudah rapi , Diwangga segera meraih kunci mobil yang tergantung di tempat biasa ia menggantungkan kunci-kunci kendaraannya. Ia berpikir akan membawa si kembar ke rumah sakit, jadi ia akan menggunakan mobil tipe SUV yang memiliki kabin cukup besar.


Diwangga segera keluar kamar dan taknlupa menutup rapat pintunya. Diwangga yang menuruni tangga dengan tergesa-gesa sontak membuat Bu Sofi dan Suseno heran. Tidak biasanya putranya bersikap seperti itu. Diwangga adalah sosok yang tenang. Lebih banyak diam , tak banyak bicara. Namun, pagi ini melihatnya berlarian menuruni tangga cukup membuat Bu Sofi dan Suseno penasaran.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Ngga kayak panik gitu sampai turun tangga aja berlarian kayak tergesa-gesa banget." tanya Bu Sofi penasaran


"Si kembar kayaknya sakit, ma. Tadi pas aku telepon Anggi aku dengar suara Karin nangis manggil Anggi. Aku mau kesana, aku takut terjadi apa-apa sama mereka." jelas Diwangga


Melihat sikap anaknya yang begitu peduli dan perhatian dengan anak-anak Anggi, membuat kedua orang tua Diwangga itu tersenyum simpul. Mereka senang akhirnya putra mereka menemukan kebahagiaannya. Mereka yakin dan percaya, kehadiran Anggi dan anak-anaknya dapat memberikan warna di hidup Diwangga yang monoton.


Jika selama ini kerjaan Diwangga sehari-hari hanya sibuk bekerja dari pagi hingga menjelang malam, dan begitu seterusnya tanpa berfikir soal kehadiran sosok wanita dalam hidupnya, tidak dengan sekarang. Dunianya makin semarak. Ia tidak hanya berpikir masalah pekerjaan, ia sudah mulai memikirkan masa depan dan kebahagiaan. Cinta sepertinya sudah benar-benar mengubah sosok Diwangga yang dingin dan kaku. Bahkan sekarang Diwangga lebih banyak tersenyum dan berbicara pada orang tuanya, tidak seperti dulu yang cenderung pasif, terlalu pendiam dan jarang tersenyum. Mereka sangat bersyukur Diwangga dapat menemukan cintanya pada sosok Anggi.


Tak peduli Anggi seorang janda yang memiliki 3 anak, yang penting anaknya bahagia. Apalagi Anggi memang wanita yang baik, lemah lembut, penyayang, dan sholehah, tentu itu sudah cukup untuk menjadi kriteria menantu idaman. Rasanya mereka sudah tak sabar menjadikan Anggi sebagai menantu di rumah itu. Rumah yang biasanya sunyi itu pasti akan sangat ramai dengan tawa canda cucu-cucu mereka nanti. Membayangkannya saja, Bu Sofi dan Suseno merasa sangat bahagia.


"Nggak sarapan dulu, Ngga?" tanya Suseno


"Nanti aja pa, aku mau mastiin keadaan Karin dan Kevin dulu." jawab Diwangga .


Segera ia mendekati kedua orang tuanya untuk menyalami sebelum ia pergi.


"Assalamualaikum ma, pa. Angga pergi dulu." pamit Diwangga


"Hati-hati di jalan, Ngga. Jangan ngebut-ngebut." pesan Bu Sofi yang dibalas oke oleh Diwangga.


Diwangga pun segera melajukan mobilnya menuju kediaman Anggi.


Tak butuh waktu lama, hanya dalam waktu 30 menit, mobil Diwangga telah terparkir rapi di halaman rumah Anggi. Ia bergegas turun dan mengucap salam yang dijawab oleh Tita yang kebetulan sedang menyapu teras.


"Dimana Anggi, Ta?" tanya Diwangga saat sudah berdiri di ruang tamu


"Ada di kamar Karin om, Karin demam dari semalam, Kevin juga."

__ADS_1


Mendengar hal itu, Diwangga bergegas menuju kamar Karin.


"Nggi." panggil Diwangga pelan , Anggi yang saat itu sedang mengusap kepala Karin dan Kevin bergantian sontak berhenti dan menoleh ke arah Diwangga


"Eh, mas Angga. Udah lama?" tanya Anggi sambil menyeka bulir air mata yang mengalir di sudut matanya


"Baru aja. Bagaimana keadaan anak-anak,Nggi?" tanya Diwangga, terlihat dari sorot matanya, Diwangga tampak sangat khawatir


Anggi tersenyum melihat betapa besar perhatian calon suamimu itu kepada putra dan putrinya.


"Hei, kok malah senyum-senyum? Baru nyadar kalo mas kamu ini tampan, heh?" tanya Diwangga dengan senyum usilnya berharap candaannya dapat sedikit menghibur Anggi


"Ish, GR banget kamu, mas ." jawab Anggi sambil terkekeh dan sebuah pukulan pelan pun mendarat ke bahu Diwangga


"Eits, udah berani KDRT kamu ya! Belum nikah aja sudah berani KDRT, apalagi udah nikah nanti, wah bisa babak belur mas mu ini. " canda Diwangga sambil pura-pura meringis kesakitan


"Iya, sekalian aku ajak anak-anak mukulin kamu tiap hari." ujar Anggi sambil memicingkan mata


"Owh, jangan. Kalau kamu mau ajak perang berdua aja aku sih nggak masalah." ujar Diwangga sambil mengulum senyum


"Mas, ngomongin apaan sih!" wajah Anggi merona merah menahan malu.


"Udah nggak sedih lagi?" tanya Diwangga kini dengan sorot mata hangat


Anggi mengangguk. "Makasih mas, kamu selalu bisa hibur aku." ujarnya sambil tersenyum


"Gimana keadaan si kembar?"

__ADS_1


"Badannya masih panas tinggi . Udah dikompres sama dikasi obat tapi masih aja. " ujar Anggi dengan raut wajah sendu


"Kita bawa ke rumah sakit aja ya biar dapat penanganan lebih baik." tawar Diwangga dan Anggi pun menyetujuinya


__ADS_2