Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.67 Sayang


__ADS_3

Setelah mendapatkan pesan dari Sulis kalau rumah mereka dimasukki maling, Adam segera menemui ibunya di kamar perawatan untuk meminta izin pulang. Adam tak mengatakan kejadian sesungguhnya, ia hanya beralaskan ada yang harus diurus. Untungnya keadaan Bu Tatik sudah stabil, bahkan besok Bu Tatik sudah diizinkan pulang oleh dokter setelah melewati berbagai macam pemeriksaan.


Setibanya di rumah, Adam segera menemui Sulis untuk menanyakan kronologisnya.


"Lis, Sulis." panggil Adam saat ia sudah tiba di rumah dan segera berhambur memasuki rumahnya


"Iya mas." jawab Sulis lesu


"Bagaimana? Apa kamu tau siapa yang mencuri di rumah kita?" tanya Adam


"Sulis nggak tau, mas. Pas Sulis pulang posisi rumah masih terkunci seperti nggak ada apa-apa. Tapi waktu Sulis selesai mandi dan mau ambil pakaian, Sulis liat kotak perhiasan Sulis udah kebuka dan semuanya raib nggak bersisa. Uang tabungan Sulis juga nggak ada. Untung ATM Sulis ada di dompet, coba kalau di rumah juga, bisa-bisa semua habis nggak bersisa. hiks... hiks..." Sulis terisak saat mengingat semua perhiasan dan uangnya hilang.


"Jendela kamar kamu atau ruangan lain, ada yang kebuka nggak?"


"Nggak ada mas, semua terkunci dari dalam. Karena itu Sulis heran kok mereka bisa masuk, emang ada maling yang bisa tembus dinding jadi nggak perlu pake kunci lagi." gumam Sulis sambil terisak


"Itu nggak mungkin, Lis. Pasti yang mencuri punya kunci rumah ini."


"Tapi siapa mas? Yang punya kunci rumah ini kan cuma aku, mama, sama mas Adam, bahkan mas Anton pun nggak punya kunci rumah ini."


Adam tampak berfikir keras, awalnya ia curiga pada Anton, tapi menurut Sulis , Anton tidak memiliki kunci rumah, jadi bagaimana ia bisa masuk sedangkan semua pintu dan jendela terkunci sempurna. Padahal tanpa sepengetahuan mereka , Anton telah membuat kunci duplikat yang bisa ia manfaatkan sewaktu-waktu.


Lalu Adam melangkahkan kakinya menuju kamar sang mama. Ia melihat kamar mamanya masih terlihat rapi, namun saat matanya beralih ke lemari pakaian sang mama, ia tampak curiga sebab pintu lemari itu tak tertutup rapat. Adam pun mendekati lemari itu dan membukanya perlahan, lututnya seketika lemas. Ia sangat hafal isi lemari mamanya itu. Dapat ia lihat kotak perhiasan dan laci berisi uang yang sudah kosong. Lalu Adam menarik laci yang berisi surat-surat penting keluarga mereka, seperti sertifikat rumah dan surat kepemilikan tanah yang lokasinya tak jauh dari rumah mereka sudah raib dari dalamnya.


Kepala Adam pening seketika. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Namun yang lebih dominan adalah pikiran negatif. Kalau surat itu jatuh ke tangan orang lain, bisa saja rumah dan tanah mereka akan segera melayang berpindah tangan ke tangan orang lain dalam arti dijual. Lalu mereka akan kemana? Adam memang memiliki rumah, tapi rumah itu masih dalam masa cicilan alias belum lunas. Tapi tak ada jalan lain, bila tiba-tiba rumah ini berpindah tangan ke orang lain, terpaksa ia membopong mama dan adiknya ke rumahnya.


"Mas, apa perlu kita lapor polisi?" tanya Sulis


Adam nampak berpikir. "Mas juga bingung. Mas malas soalnya berurusan sama polisi."


"Tapi kan kita nggak mungkin diam aja mas. Yang ada malingnya keenakan."


"Ya udah, kita langsung buat laporan aja ke polisi. Syukur-syukur semua bisa balik, tapi minimal surat rumah ini. Soalnya ini rumah peninggalan almarhum papa." ucap Adam yang diangguki Sulis. Lalu mereka pun pergi membuat laporan ke kantor polisi.


.


.


.


"An, gimana , udah ditransfer uang rumah dan tanahnya?" tanya Adinda


"Siiip. Semua udah beres." ujar Anton sambil terkekeh senang

__ADS_1


"Tapi aman kan? Aku takut mereka lapor ke polisi soalnya."


"Tenang aja, kita pake makelar yang udah biasa berurusan dengan jual beli tanah sengketa dan hasil rampasan. Mereka ada backing di pihak kepolisian, asal duit lancar, urusan aman." ujar Anton bangga


"Kayaknya kamu udah biasa ngelakuin hal kayak gini, An?" Adinda memicingkan matanya


"Nggak ah, baru kali ini, suer! Itu pun karena aku benci keluarga mereka. Aku bisa karena aku nggak pernah pilih-pilih teman, jadi temanku banyak dari yang kerjaannya berseragam sampai yang ilegal." jelas Anton


"Kamu benci mereka karena menyakiti Anggi?"


Anton pun mengangguk


"Tapi kan aku jadi bagian mereka juga. Aku pun ada andil membuat wanita pujaan hatimu itu terluka."


"Tapi semua nggak akan terjadi kalau si sialan itu nggak menyambutmu dengan tangan terbuka, bukan. Belum lagi memang keluarga mereka dari awal udah jahat sama Anggi. Itu yang bikin aku makin benci mereka." ujar Anton dengan mata berapi-api memendam kebencian mendalam.


Sedangkan Adinda hanya bisa tercenung, memikirkan betapa beruntungnya jadi Anggi, walau ia dibuang oleh keluarga dan mantan suaminya, tapi dia memiliki orang-orang yang tulus mencintainya. Sedangkan ia tak memiliki itu sama sekali. Bahkan kedua orangtuanya pun tak mempedulikan keberadaannya. Semenjak kedua orang tuanya bercerai, mereka menelantarkan Adinda. Adinda pun ditampung dua orang paruh baya yang merupakan paman serta bibinya dari sebelah sang ayah yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya.


.


.


.


"Aku cuma jelasin ke dia untuk nggak ganggu anak-anak lagi. Dia sih marah, terus aku jelasin alasannya."


"Dia percaya?"


"Nggak tau deh! Cuma aku bilang, kalo nggak percaya tanya aja langsung sama dokter Aisyah. Nggak tau dia bakal nanyain beneran apa nggak." Tita hanya bergumam menyahuti penjelasan Raju


"Oh ya Ya, gimana kursus bakery kamu, lancar?" tanya Raju


Ya, karena Tita gemar membuat kue, akhirnya Anggi memasukkannya ke kursus cake and bakery. Berharap suatu hari nanti ilmunya berguna ntah Tita akan membuka toko cake and bakery sendiri atau tidak, Anggi serahkan kepada Tita. Tita pun menyambutnya dengan senang hati. Anggi memang sangat menyayangi adik-adiknya sehingga ia selalu mencoba memberikan yang terbaik untuk adik-adiknya itu.


"Alhamdulillah,Ju. Semua lancar dan menyenangkan. Apalagi chef-nya baik banget." ujar Tita sambil tersipu


Raju mengerutkan dahinya tak suka. Iya, dia tau siapa chef yang mengajari Tita sebab ia pernah melihatnya saat mengantarkan Tita ke tempat kursus . Chef-nya itu seorang laki-laki yang tampan sehingga tempat kursus itu selalu ramai peserta. Tapi sikap chef yang bernama Jason itu terlalu baik ke Tita dan Raju tak suka itu.


"Jangan terlalu dekat sama laki-laki, Ta termasuk itu chef tempatmu kursus. Kan kita nggak tau aslinya mereka kayak gimana. Aku cuma nggak mau terjadi apa-apa sama kamu." ucap Raju sambil pura-pura membaca buku.


Tita mengernyit heran dengan sikap Raju yang memang kerap overprotektif padanya. Namun tak pelak hal itu membuatnya tersenyum mendapat perhatian itu dari Raju.


"Kamu nggak usah khawatir, Ju. Aku pasti bisa jaga diri aku, kok. Thanks ya!" ucap Tita tulus

__ADS_1


"Untuk?" Raju mendongakkan kepalanya menghadap Tita


"Untuk perhatiannya." bisik Tita lalu ia berhambur masuk ke kamar mandi sambil terkekeh. Raju hanya bisa diam-diam mengulum senyum melihat tingkah malu-malu Tita.


"Assalamualaikum." ucap Anggi dan Diwangga saat memasuki ruang perawatan Karin dan Kevin.


"Wa'alaikum salam,mbak, om." jawab Tita dan Raju yang saat itu sudah kembali ke tempat duduk semula.


"Nih Ta, Ju, mbak tadi beliin kalian martabak keju kesukaan kalian. Kalian pasti lapar kan." ucap Anggi seraya menyerahkan bungkusan berisi 2 kotak martabak


"Makasih mbak." ucap Tita sambil menyambut bungkusan itu


"Karin dan Kevin udah makan kan, Ta?"


"Alhamdulillah udah mbak. "


"Nggak ada masalah kan selama mbak pergi?" tanya Anggi


"Mmm... tadi... "


"Tadi apa Ta, Ju?" potong Anggi penasaran


"Tadi ada mas Adam, mbak, kesini." ujar Raju pelan


"Hah! Mau ngapain dia? Kenapa dia bisa kesini?" tanya Anggi dengan nafas memburu. Ia takut hal serupa terjadi lagi pada anak-anaknya


Diwangga yang melihat dengan jelas ekspresi kegelisahan Anggi segera mengusap punggung Anggi untuk menenangkannya.


"Kami juga nggak tau mbak, tau-tau dia muncul dari balik pintu, jadi Raju dorong dia keluar. Untungnya Karin dan Kevin sudah tidur jadi mereka nggak liat mas Adam." jelas Tita


"Syukurlah. Tapi mbak masih takut kalau dia tiba-tiba muncul kayak tadi. Mbak khawatir..." ucap Anggi terpotong karena merasa lehernya tercekat


"Kamu yang tenang ya, Nggi. Jangan terlalu terbebani. Kalau kamu memang khawatir sama anak-anak, gimana kalau sementara mereka tinggal di rumah aku. Mama pasti senang." Diwangga mencoba memberi solusi.


"Tapi apa anak-anak mau? Lagipula aku nggak mau merepotkan mas dan mama."


"Mama pasti senang banget, sayang. Mereka kan akan jadi cucu mama. Anak-anak juga kan udah deket semua sama mama. Pasti mereka mau dengan senang hati tinggal di rumah mas." timpal Diwangga


Mata Anggi melotot sempurna. Bukan karena penjelasan Diwangga, tapi karena ada satu kata yang mampu membuat pipinya merona dan jantungnya berdebar seketika.


"Cie.. cie... udah sayang-sayangan aja." ledek Tita.


Diwangga yang baru menyadari ucapannya, seketika salah tingkah sendiri.

__ADS_1


"Mmm.. mas pulang dulu ya, Nggi." Diwangga mencoba menghindar. "Oh iya, jangan lupa, besok siang sesudah jemput si kembar, kita langsung fitting pakaian pengantin,ya!" tambah Diwangga lagi. Lalu ia pun mengucap salam dan beranjak dari sana dengan wajah merona karena ucapan spontannya.


__ADS_2