Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.126 (S2) Ada yang lagi jatuh cinta


__ADS_3

Bandar Udara Internasional Changi Singapura  merupakan salah satu bandar udara terbaik di dunia. Dan di sinilah dr. Alan berada, mendampingi Stefani dengan perangkat medis yang masih setia menempel di tubuhnya. Bukan hanya ia, Stevan, ayah Stefani, Melani, dan juga Stefano turut ikut serta sekaligus mendampingi sang putra kecilnya yang akan menjadi pendonor bagi kesembuhan sang kakak.


"Pa, kasian kak Fani, ya! Kak Fani pasti sembuh kan?" tanya Stefano saat melihat brankar yang digunakan untuk membawa Stefani di dorong oleh beberapa perawat yang sengaja di sewa Aglian untuk membantu merawat Stefani.


"Doakan saja ya, No. Papa juga berharap kakak bisa sembuh." sahut Steven sambil mengusap puncak kepala putranya yang tak lama lagi berusia 6 tahun.


"No, fotoin mama dong! Yang bagus, ya!" titah Melani pada Stefano seraya memberikan ponselnya, kemudian ia mulai berpose di Bandar Udara Internasional Changi Singapura, baik di tengah landasan maupun di dekat pesawat.


"Udah, Ma. Nih ..." ucap Stefano sambil mengembalikan ponsel mamanya.


"No, yang ini kurang bagus, ulangin lagi ya!" pinta Melani lagi.


"Udah dong, Ma. Kita harus segera masuk ke mobil, nanti kita ditinggalin gimana? Ini bukan Jakarta ataupun Surabaya lho. " Steven mengingatkan istrinya.


"Ah, papa, nggak bisa liat mama senang dikit, mulai deh ngomel." cerca Melani.


"Ma, tujuan kita ke sini bukan buat liburan, ingat!" Steven mengingatkan istrinya itu.


"Ya ya ya, ngerepotin aja anak gadis kamu itu " ketus Melani.


"Ma, kamu nggak usah ngomel ,ya! Kalau nggak ada Stefani, mana mungkin kamu bisa pake baju dan tas mewah kayak gitu, beli perhiasan, beli ponsel mahal, naik pesawat pribadi juga. Atau mama mau papa suruh pulang aja terus duit yang tuan Aglian kasih, papa balikin semua. Papa sebenarnya sampai sekarang nggak setuju mama ambil uang itu, bagaimana pun Stefani anak kandungku, darah dagingku, jadi sudah kewajiban ku membantu kesembuhannya." tegas Steven.


"Iya emang kewajiban kamu, tapi bukan kewajiban anak aku. Dan Stefani butuh bagian dari tubuh Stefano, anakku jadi wajar kalau aku mengambil uang itu sebagai imbalan." seru Melani tak terima saat mendengar suaminya ingin mengembalikan uang yang diberikan Aglian.


"Anakmu? Ingat Stefano nggak bakal ada di dunia ini tanpa bibit dari aku. Jadi nggak usah besar kepala karena Fano lahir dari rahimmu. Lagipula Fani itu juga putrimu, walau bukan lahir dari rahimmu, seharusnya kau sedikit iba akan nasib dan penyakitnya, bukannya bersenang-senang di atas penderitaannya." seru Steven. Emosinya rasanya sudah menggelegak ingin meledak, tapi ia coba kontrol karena ia sekarang sedang berada di mobil menuju rumah sakit.


"Udah ah, berisik! Ngomel mulu. Emang papa paling nggak suka liat mama senang." Melani mendelik kesal. Lalu ia mengalihkan perhatiannya pada ponsel di tangannya. Ia mengunggah beberapa foto yang sempat diambilnya di bandara tadi. Steven hanya bisa mengurut dada menghadapi sikap egois dan matrealistis istrinya itu.


Beruntung Stefano sudah tertidur saat mobil mulai melaju, sehingga ia tak perlu mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya itu.


...


Dr. Alan telah tiba di rumah sakit tempat dr. Samuel bekerja. Dengan sigap para perawat dari rumah sakit itu membantu menurunkan brankar Stefani dan membawanya menuju ruang UGD.


Dr. Samuel yang sudah siap segera memberikan instruksi kepada rekannya, para koas, dan perawat untuk bersiap untuk melakukan pengecekan alat vital. Sedangkan Stefano sudah mengikuti dokter lain untuk pengambilan sel induk darah yang bakal ditransplantasikan kepada Stefani. Dr. Alan tidak ikut berpartisipasi karena ia tidak memiliki wewenang di rumah sakit itu. Jadilah ia hanya menunggu di depan ruang UGD tempat Stefani menjalani pemeriksaan.


Setelah semua prosedur selesai, dr. Samuel mengatakan proses operasi akan dilakukan sekitar pukul 2 siang. Seperti biasa, dr. Alan tetap setia mendampingi Stefani menjalani setiap rangkaian pemeriksaan dan perawatan. Ia hanya akan beranjak saat sudah saatnya melaksanakan ibadah dan saat ingin ke kamar kecil.


'Ya Allah, berikanlah kelancaran dalam proses operasi ini. Berikanlah kesembuhan pada Stefani. Izinkanlah aku membahagiakannya sepanjang usianya. Aku mencintainya, Ya Allah. ' lirih dr. Alan seraya mengecup punggung tangan Stefani. Tanpa dr. Alan sadari, setitik air mata mengalir melalui ekor mata Stefani. Ia dapat mendengarkan setiap ucapan orang yang ada di sekitarnya, tapi matanya terasa berat untuk terbuka.


...


Di lain tempat, ada seorang pria yang sedang gelisah memikirkan kesehatan Stefani. Dalam hatinya, doa dan harapan tak kunjung hilang, selalu menggema agar Stefani diberi kekuatan dan kesembuhan dari Sang Maha Pencipta.

__ADS_1


'Ya Allah, lancarkanlah proses operasi Stefani. Berikanlah ia kesembuhan dan kesehatan agar ia bisa berkumpul bersama kami lagi.' lirih Aglian seraya menyandarkan punggung tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya.


...


Hari ini Luna tak memiliki jadwal pekerjaan apapun. Jadinya ia hanya uring-uringan di rumah karena tidak memiliki kegiatan. Kentaro juga sudah hampir 1 Minggu ini menghilang entah kemana. Sang manager pun tak tahu kemana ia pergi. Kentaro hanya izin ada urusan pribadi.


"Ta, Li, kalian mau kemana?" tanya Luna pada Tita dan Lia yang sudah tampil cantik. Ia yang awalnya sedang guling-guling pun segera mendudukkan tubuhnya menatap kedua saudari angkatnya itu.


Tita dan Lia saling menatap lalu mengalihkan pandangannya pada Luna.


"Ka ... kami mau ngemoll sekaligus nonton." ujar Lia kikuk.


"Ikut dong! Ih, kalian gitu ya, mau jalan nggak ngajak-ngajak lagi." omel Luna sambil cemberut.


"Bukannya nggak mau ngajak, Lun, tapi ... kami mau jalan bareng Raju dan Aji." ujar Tita yang ikutan kikuk.


"Heh, kalian jahara banget sih! Kalian mau jalan berempat, tapi nggak mau ajakin gue. Weis, tunggu, kalian jalan berempat, berpasangan-pasangan ? Atau jangan-jangan kalian ...." sahut Luna dengan wajah masam.


"Kalian apa?" potong Tita.


"Ehem ehem kayaknya ada yang ...." goda Luna pada Tita dan Lia.


"Ada yang apa? Nggak usah aneh-aneh deh kamu, Lun." sergah Lia gugup.


"Kami ... kami ..." Tita bingung ingin menjawab apa.


"Udah deh, kalo nggak mau jelasin, nggak papa, tapi ajakin gue dong! Masa' gue ditinggal." Rajuk Luna.


"Tapi ntar loe jangan bilang kayak jadi nyamuk ya!" ujar Lia sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Okey, nggak masalah kok. Dari pada ditinggal sendirian, udah kayak pak satpam." ujar Luna sambil terkekeh memamerkan deretan giginya yang putih.


Luna pun bergegas untuk bersiap-siap. Tak butuh waktu lama bagi Luna untuk bersiap-siap. Ia keluar kamar dengan mengenakan sweater berwarna putih, celana jeans biru pucat, dan sepatu kets berwarna putih dengan garis hitam di sisinya. Penampilan sederhana, namun tetap memukau mata.


Tin tin ...


Suara klakson mobil terdengar dari luar pagar. Ternyata Raju dan Aji sudah menunggu. Mereka akan pergi memakai mobil Anggi. Mobil itu memang dibiarkan dipegang oleh Raju untuk keperluan mereka maupun urusan toko.


Setelah mengunci semua pintu, Luna, Tita, dan Lia pun berjalan menuju mobil yang telah menunggu mereka. Raju dan Aji tampak mengernyitkan dahinya saat melihat kehadiran Luna yang turut serta berjalan bersama Tita dan Lia.


"Loe juga mau ikutan , Lun?" tanya Aji heran. Soalnya mereka rencananya hanya ingin jalan berempat. Sebab biasanya Luna sibuk bekerja jadi tak ada waktu untuk jalan bareng mereka.


"Kenapa? Nggak boleh?" Luna mendelik.

__ADS_1


"Hehehe ... boleh kok, boleh, siapa juga yang bilang nggak boleh. Ya kan, Ju?" Aji meminta bantuan Raju.


" Nggak masalah, tapi kalau jadi obat nyamuk, jangan ngambek ya!" ujar Raju sambil terkekeh.


"Huft, tadi Lia yang ngingetin gue kayak gitu, sekarang loe, Ju. Mentang-mentang, kalian lagi PDKT, eh jangan-jangan kalian udah jadian? Hmm ... " ujar Luna sambil memicingkan matanya. Membuat keempat orang itu menghela nafas panjang. "Tenang aja gue nggak bakal jadi nyamuk kok, tapi gue bakal jadi obatnya. hehehe ..." tambahnya lagi. "Udah ah, let's go, kita jalan!" seru Luna lagi.


Kelima orang itu pun berangkat. Rencananya mereka akan jalan-jalan sekaligus nonton di Angkasa Mall. Selama perjalanan, mereka lalui dengan hati riang gembira dan penuh canda tawa. Kelima orang tersebut memang sejak kecil sudah saling dekat satu sama lain. Walau kadang saling berdebat lalu bertengkar, tetapi mereka tak pernah sampai bermusuhan. Namun, siapa sangka ada dari mereka malah saling memiliki perasaan satu sama lain.


tring ...


Sebuah kesan masuk dari Aglian.


Aglian 💌[Mau kemana?]


Luna 💌[Angkasa Mall.]


Aglian 💌[Mau ditemenin?]


Luna 💌[Serius Mas mau ikutan? Nggak malu jalan sama ABG?]


Aglian 💌[Serius. Ngapain malu, Mas juga kan masih keliatan kayak ABG.]


Luna 💌[Iya, ABG tua.🤭]


Aglian 💌[Biarin tua, yang penting ngangenin.]


Luna 💌[Ngangenin siapa? ]


Aglian 💌[Yang lagi baca pesan.😉]


Uhuk uhuk uhuk ...


Tiba-tiba Luna tersedak saat menenggak air minum mineral yang dibawanya saat membaca pesan terakhir Aglian.


"Pelan-pelan kenapa sih, Lun? Makanya minum jangan sambil chating, jadinya baper terus tersedak kan!" decak Lia sambil menepuk punggung Luna.


'Kok Lia bisa tau sih! Kan dia nggak baca isi pesan gue! Semua kerjaan Mas Lian sih, bikin gue tersedak.' omel Luna dalam hati tapi bibirnya justru menyunggingkan senyum membuat Tita, Raju, Aji, dan Lia saling lirik seraya tersenyum. Mereka seakan saling bicara melalui isyarat mata, 'Ada yang lagi jatuh cinta tuh!'


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All. 🥰


__ADS_2